Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Kedatangan Hanna


__ADS_3

Selama perjalanan pulang menuju rumah mereka, Dira tertidur dengan pulas. Padahal kambing guling yang diinginkan Dira sejak tadi pun belum disentuh olehnya. Hans menarik nafas panjang sambil menatap wajah istrinya yang kini sudah berada di atas tempat tidur mereka. Dira benar-benar tertidur dengan pulas, sampai-sampai ketika Hans mengganti bajunya pun, Dira tidak terbangun. Setelah menyelimuti tubuh istrinya, Hans pun turun untuk menyambangi putranya yang masih bermain di bawah.


"Pa, mama mana?" tanya Hara.


"Mama sedang istirahat sayang...mama kecapean jadi langsung tidur... Memangnya kenapa? Hara kangen sama mama?" Hara mengangguk sambil mendekati papanya yang tengah membentangkan kedua tangannya. Hans kemudian mendudukkan putranya dalam pangkuannya sambil menciuminya.


"Loh Hara kok main sendiri, Erik mana?"


"Sudah pergi sama maminya..."


"Kemana?" Hara menggelengkan kepalanya pelan.


"Tadi waktu papa dan mama belum pulang Aunty Hanna pulang..."


"Oya... sekarang aunty mana?"


"Paling juga tidur, soalnya tadi habis main sama Hara dan Erik... Tapi waktu tiba-tiba maminya Erik datang, dan aunty melihat maminya Erik... Aunty Hanna langsung marah-marah dan akhirnya mereka pun bertengkar... terus Aunty Hanna mengusir maminya Erik, makanya maminya Erik dan Erik pun terus pergi. Papa... Hara memang nggak suka sama maminya Erik tapi Hara senang bisa punya teman main kayak Erik." ucap Hara tertunduk sedih.


"Waktu Aunty Hanna datang dan marah-marah sama maminya Erik, Nenek Asih kemana?"


"Ada di sini pa... Nenek Asih megangin tangan aunty seperti ini pa..." Hara memegang tangan Hans mempraktekkan apa yang dilihatnya. "Terus Nenek Asih bilang...'Non, kita tunggu tuan datang saja...' tapi aunty keburu nggak mau liat muka maminya Erik katanya,jadi mereka pun langsung pergi..." Hara terlihat begitu sedih menceritakan kejadian yang dilihatnya. Hans pun kemudian memeluk putranya dengan erat sambil menciumi pucuk kepalanya.


"Pa... kenapa Erik mesti ikut pergi sama maminya? Erik kan masih boleh tinggal di sini aja kan pa, nggak usah ikut maminya pergi. Toh maminya Erik itu jahat dan Erik pun nggak suka sama maminya pa. Erik sering dicubitin lengannya sama maminya sampai biru-biru, padahal Erik nggak sedang melakukan kesalahan apa-apa... kasian kan pa."


"Erik bilang begitu?" tanya Hans memastikan dan Hara pun mengangguk. "Apa Hara pernah lihat atau setidaknya lihat bekas cubitan maminya Erik?"


"Kalau Erik pas di cubit, Hara nggak liat tapi kalau bekas cubitannya Hara liat."


'Benar-benar sakit jiwa Jessica itu...' bathin Hans.


"Sebentar lagi kan mau makan malam, Hara bisa tolong papa panggilin Aunty Hanna? Suruh Aunty Hanna temuin papa di ruang kerja papa ya..."


"Siap boss..." ucap Hara sambil tangannya hormat kepada papanya, membuat Hans tersenyum geli melihatnya.


"Terimakasih..."


"Sama-sama boss" Hara langsung balik badan kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamar aunty nya. Dan ketika dia melewati kamar tidur orang tuanya, Hara berhenti sejenak. Tangan mungilnya hendak memegang handel pintu tapi terlihat ragu-ragu dan pada akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke kamar tidur aunty nya.


Hans tersenyum mengamati tingkah laku putranya dari bawah. Hara memang tidak pernah berpisah dengan Dira selain ketika dia sekolah, jadi Hans tau persis perasaan Hara yang seharian ini tidak bertemu dengan mamanya. Rasa rindu ingin bertemu pasti besar, tapi sepertinya dia ingat ucapan Hans jika mamanya sedang istirahat jadi dia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu kamar tidur orang tuanya.


Kamar tidur Hans dan kamar tidur Hara sebenarnya memang bersebelahan. Karna semenjak mengetahui keberadaan Dira dan putranya, Hans mengubah ruang kerjanya dulu menjadi kamar putranya dan memindahkan ruang kerjanya ke lantai dasar bersebelahan dengan ruang tamu.


📞 "Lex, ada kabar tentang keberadaan Jessica saat ini? Aku dapat aduan dari Hara jika Jessica tadi sore bertengkar dengan Hanna yang baru pulang dari KKN, dan Hanna sudah mengusir Jessica dan anaknya dari rumah kami...."


📞 "Lu tanya gitu bukan karena lu masih peduli dan khawatir jika mereka terlantar di jalanan kan..."


📞 "Bukan begitu, aku hanya tidak ingin ada rumor yang tidak enak di dengar saja, sebab dia sempat bertengkar dengan adikku... Aku nggak mau dia memutar balikkan fakta hingga membuat ketegangan di antara aku dan Dira saja...."


📞 "Hmm..."


📞 "Hmm...? Maksudnya...? Bisa menjawab lebih jelas Tuan Alexander?"


📞 "Sabar dong... gue baru ngecek pesan yang masuk dari anak buah gue ni..."


📞 "Owh... oke...kalo gitu aku tunggu laporan lengkapmu nanti sehabis makan malam ya..."

__ADS_1


📞 "Oke siap boss..."


Hans menutup telponnya bersamaan dengan adanya ketukan pintu ruang kerjanya.


"Assalamu'alaikum kak..."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh... welcome back to home adikku sayang..." Hans membentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan adiknya tercinta. Dan tak butuh waktu lama Hanna pun langsung menghambur ke pelukan hangat kakaknya.


"I miss you my brother..."


"Miss you too..."


Hara yang sedari tadi mengikuti Hanna, hanya berdiri mematung melihat Hanna yang tengah berpelukan dengan papanya.


"Hai sayang... kenapa bengong aja di situ...? Sini dong..." panggil Hans melihat putranya diam mematung di pintu. Hara berjalan pelan mendekati papanya lalu duduk di pangkuan Hans sambil terus melihat Hanna intens sampai tidak berkedip.


"Hei boy... kok kamu ngeliatin aunty seperti itu? Why...?" tanya Hanna yang di buat salah tingkah oleh pandangan keponakannya itu.


"Aunty tidak akan ngambil papanya Hara dari mama dan Hara kan?" celoteh polos Hara yang langsung memeluk papanya.


"What...? Ha ha ha..." Hanna tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan keponakannya itu. "No... enggak dong sayang... tapi Papa Hans ini kakaknya aunty jadi Papa Hans juga punya aunty jadi kita sama-sama memiliki Papa Hans... Hara mau berbagi papa sama Aunty Hanna kan?" Hara mengangguk ragu.


"Asal papanya jangan di bawa pergi ya aunty? Jadi kita bareng-bareng punya Papa Hans ya...sama mama juga..."


"Iya dong..."


"Yeaa... sekarang papa jadi miliknya orang banyak..." teriak Hara.


"Maas... ada siapa..."


"Mama...."


"Hei... jagoan mama di sini..."


"Iya ma... mama seharian kemana aja... Hara kangen tauuk..."


"Oya... mama juga kangen Hara..."


"Kalo Hanna juga kangen boleh nggak?" sela Hanna.


"Hei Hanna.,. kapan datang?"


"Tadi siang kak... Hara, Aunty Hanna boleh kangen dan sayang Mama Dira juga kan?"


"Boleh dong... kita kan sudah temenan..." teriak Hara penuh semangat.


"Bukan karena sudah temenan sayang... tapi kita kan satu keluarga, jadi harus saling menyayangi dan saling kangen kalo lama nggak ketemu..."


"Ooo...gitu ya ma..."


"Iya sayang..." ucap Dira lembut sambil menowel ujung hidung putranya yang mancung.


"Lho pada ngumpul di sini... ayo kita makan... makan malam sudah siap..." ucap Bi Asih.


"Yeaa ayo kita makan... Ayo kita makan nek, Hara sudah lapar... Ayo aunty..." Hara pun kemudian menggandeng sebelah tangan Bi Asih dan sebelah lagi tangan Hanna menuju meja makan untuk makan malam bersama, meninggalkan papa dan mamanya.

__ADS_1


"Udah enakan badanmu sayang?" tanya Hans sambil menarik pinggang istrinya lalu mencium bibirnya dengan lembut. Dira mengangguk sambil tersenyum "Hmm...harum, kamu udah mandi lagi?" Dira kembali mengangguk.


"Dira kan memang belum mandi, bangun tidur tadi badan terasa lengket semua..."


"Oiya... tadi kamu langsung tertidur begitu masuk mobil, sampai nggak tau pas beli kambing guling..."


"Kambing guling? Mas beli kambing guling?" tanya Dira.


"Loh, bukannya kamu yang minta kan sayang? Katanya kamu tadi pingin makan kambing guling..." Dira menggerakkan kepalanya.


"Enggak... Dira kan nggak pernah doyan daging kambing dari kecil... tanya Bi Asih deh kalo nggak percaya..."


'Astaghfirullah haladziim... bukannya dia tadi yang minta, hanya di tinggal tidur saja kok terus lupa keinginannya sebelum tidur. Duh, kamu kenapa sih sayang?'


"Mas nggak percaya? Ayo deh kita tanya Bi Asih sekarang..." Dira segera menarik tangan suaminya untuk bertemu Bi Asih.


"Bi Asih..." Bi Asih yang sedang meladeni Hara dan Hanna pun menoleh ke arah Dira yang memanggil namanya.


"Iya Neng..."


"Bener nggak kalo Dira itu dari kecil nggak pernah suka sama daging kambing?"


"Iya memang Neng Dira sejak kecil tidak pernah doyan masakan yang berbau daging kambing, tuan"


"Tapi bi... tadi sore Dira itu minta dibelikan kambing guling... Kalau bukan dia yang minta tidak mungkin saya belikan, soalnya saya juga nggak doyan dengan makanan olahan dari daging kambing..." ucap Hans meyakinkan Bi Asih.


"Tapi Dira juga nggak doyan, iih sekarang Dira rasanya...." Dira segera menjauh dari meja makan dan segera berlari ke kamar mandi yang berada di ruang kerja Hans dan...'hoek hoek hoek...' terdengar suara Dira sedang muntah-muntah. Hans yang mengejar istrinya pun jadi cemas melihat keadaan istrinya.


"Sayang... kamu kenapa? Are you okay?"


"Ya... Dira nggak papa mas... Dira hanya sedikit pusing..."


Hans mengusap sisa muntahan yang tertinggal di bibir Dira dengan tisu, begitu pun dengan keringat dingin yang mengucur di keningnya.


"Minum air putih hangat dulu, Bi Asih bisa minta tolong panggilkan dokter Harun? Saya khawatir sekali, soalnya Dira sudah dua kali begini..."


"Maaf tuan, bukankah dokter Harun itu dokter penyakit dalam ya..."


"Iya... memangnya kenapa? Bukankah sama saja..." Bi Asih tersenyum penuh arti.


"Melihat gelagat Neng Dira yang aneh, yang dibutuhkan Neng Dira bukan dokter Harun, tapi mungkin dokter Ariesta..."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2