
Hans kini merasa lega dan bahagia,apalagi restu dari kakek neneknya pun sudah dia terima.
'Rebut hatinya jangan pake lama,kalau kau tak ingin menyesal karna ada orang lain yang lebih dulu memilikinya...' titah kakeknya kemarin sore.
'Kalau dia masih saja menolakmu dan dia tak mau mengatakan alasannya,jangan cuma menunggu kabar dari orang suruhanmu. Kamu harus berinisiatif untuk mencari tau sendiri penyebabnya...' imbuh neneknya.
Pesan dari kakek dan neneknya itulah yang kini mulai menyulutkan semangat dalam hati Hans untuk terus mengejar cinta Dira. Baginya Dira memang wanita istimewa yang pantas diperjuangkannya.
🌹🌹🌹
Di Kantor Polisi
Semalaman Dira sudah merenung dan sholat malam untuk memantapkan pilihannya. Dan pagi ini memang sudah direncanakan olehnya untuk mencabut berkas tuntutan kepada Damar atas dasar hubungan baik dan kemanusiaan. Hal ini tentu saja di sambut baik oleh kedua orangtua Damar dan juga Damar pastinya.
Dan kini...Dira bersama kedua orangtua Damar sedang menunggu Damar keluar dari dalam ruang tahanan.
Selang beberapa saat Damar keluar dengan wajah bahagia,apalagi ketika dia melihat Dira ada bersama kedua orangtuanya. Damar pun segera menyambangi mereka dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
"Dira...terimakasih..."
Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Damar ketika melihat Dira,wanita yang hingga detik ini masih memenuhi relung hatinya. Ingin rasanya Damar segera menarik Dira dalam pelukannya,tetapi jika mengingat banyaknya kesalahan yang telah dia perbuat...membuat Damar malu walaupun hanya untuk sekedar berbicara lebih pada Dira.
"Sama-sama..."
"Ma...pa...maaf...bolehkah Dira bicara berdua sebentar dengan Damar?" pinta Dira dengan sopan.
"Akh ya...tentu...tentu saja boleh...mama dan papa tau,pasti ada banyak hal yang perlu kalian bicarakan. Biar kami tunggu di luar ya..." ucap Ningsih sambil bercipika cipiki dengan Dira.
"Terimakasih ma..."
Ningsih tersenyum sambil mengangguk lalu keluar bersama suaminya...meninggalkan Damar dan Dira berdua.
"Kita duduk di sana saja yang dekat dengan taman..."
Dira pun mengekor di belakang Damar menuju taman yang masih ada di lingkungan kantor polisi.
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Damar setelah mereka duduk di bangku dekat taman.
Dira menarik nafas panjang lalu melepaskannya perlahan,seolah sedang mengumpulkan tenaga. Sementara Damar terus menatap wajah wanita pujaannya itu.
"Damar...kamu harus tau jika saat ini aku memaafkanmu hingga mau mencabut laporanku,semata-mata karna rasa hormat serta rasa sayangku kepada Mama Ningsih dan Papa Tris. Jadi setelah masalah ini selesai,aku berharap kita bisa saling menghormati serta saling menghargai pilihan hidup masing-masing. Aku tidak ingin kejadian kemarin kedepannya akan terulang lagi. Jaga dan cintai adikku dengan tulus karna aku tau,sejak dulu dia sangat mencintaimu... Jangan kecewakan dan jangan sakiti dia,karna seburuk apa pun perlakuannya padaku,dia tetaplah adikku..."
"Aku tau...kamu memang wanita yang baik Dira. Kamu masih sempat memikirkan adikmu yang bahkan selama ini tidak pernah menganggapmu sebagai kakaknya. InsyaAlloh aku akan memenuhi permintaanmu walaupun mungkin aku ini adalah orang yang tidak tau malu. Karna sejujurnya aku masih sangat mencintaimu dan masih mengharapkanmu. Maafkan aku jika selama ini aku telah menyakiti hatimu Dira dan terimakasih karna kau pernah hadir dalam hidupku...Dan terimakasih juga buat hari ini...karna berkat kemurahan hatimu aku kini bisa menghirup udara kebebasan"
__ADS_1
"Jangan berlebihan,aku melakukan semua ini karna apa,kamu sudah tau alasannya. Aku harap semoga kedepannya kita bisa mempunyai hidup yang lebih baik dan lebih bahagia dengan pasangan kita masing-masing...aku pulang dulu..."
"Tungguuu...ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu..."
"Apa?"
"Apa betul kamu akan menikah dengan Pak Hans?"
"Aku tidak tau...tapi yang pasti,aku masih harus menyelesaikan kewajiban dan cita-citaku dulu yaitu lulus S1 dengan predikat lulusan terbaik..."
"Akh ya...aku masih ingat impianmu itu dan aku yakin kamu pasti bisa meraihnya tapi apakah kamu mencintai Pak Hans?"
"Maaf sepertinya itu bukan urusanmu lagi. Saat ini kita sudah punya kehidupan masing-masing yang tidak saling berhubungan. Fokuslah pada masa depanmu bersama Angel,perlakukan dia seperti dia selalu memperlakukanmu dengan segenap rasa sayang dan cintanya... Permisi..."
Dira pergi tanpa menoleh lagi,masih ada rasa sesak di dadanya karna bagaimana pun juga Damar pernah begitu lama memenuhi relung hatinya. Sementara itu,tanpa mereka sadari ternyata sejak awal mereka mengobrol tadi,ada sepasang mata yang kini basah oleh air mata haru. Dan sepasang mata itu adalah sepasang mata milik Angel.
Ya...semalam selesai menjalankan sholat malam,Dira memberitahukan pada Angel bahwa hari ini Dira akan membebaskan Damar karna Dira akan mencabut laporan tuntutannya.
'Maafkan aku kak,harusnya aku tau jika sebenarnya kamu sangat menyayangiku...hiks hiks hiks...'gumam Angel.
Begitu Dira pergi,Angel pun keluar dari persembunyiannya.
"Kak Damar..."
"Maafkan Angel kak...hiks hiks hiks..." ucapnya sambil menangis tersedu.
"Kakak juga minta maaf ya...kemarin sudah membuatmu kecewa,padahal kau hanya ingin membela kakak tapi kakak malah marahin kamu habis-habisan..."
"Angel yang salah...Angel juga sudah jahat sama Kak Dira,padahal teryata Kak Dira begitu baik pada Angel...hiks hiks hiks..."
"Sudahlah jangan menangis lagi...Yang penting kedepannya Angel harus baik dan sayang sama Kak Dira,aku pun juga akan seperti itu dengannya..."
"Apa Kak Damar akan tinggalin Angel untuk Kak Dira?" tanya Angel sambil menatap Damar dengan mata yang basah.
Damar tersenyum lalu memegang wajah Angel dengan kedua tangannya. Kedua ibu jarinya mengusap butiran kristal yang tak mau berhenti mengalir.
"Memangnya kau mengharapkan aku begitu?"
Angel menggeleng pelan dan Damar pun kembali menarik Angel dalam pelukannya.
"Gadis bodoh...apa saja yang kamu lakukan tadi saat bersembunyi? Apa kau tidak mendengar kalau kami telah berpisah? Bukankah kedepannya aku harus baik dan sayang sama Dira sebagai kakak ipar?"
Angel melepaskan pelukan Damar dan menatap Damar dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanyanya penuh antusias.
"Iya...setelah kamu lulus SMA dan aku lulus sarjana...aku akan segera meminangmu..."
"Serius?" Damar mengangguk.
"Tapi papa mama Kak Damar bagaimana?"
"Awalnya mereka memang menentang hubungan kita,karna setau mereka aku dan Dira masih berhubungan. Tapi pada akhirnya mereka kini menyetujuinya,setelah Dira memberi pengertian pada mereka agar mau menerimamu sebagai menantu..."
Angel terdiam dan terlihat murung,entah apa namanya yang dia rasakan saat ini. Sedih,bahagia dan perasaan bersalah campur aduk dalam pikirannya.
"Lho kok malah jadi bengong...? Kamu nggak bahagia ya?"
"Bahagia...bahagia sekali...Angel cuma nggak nyangka Kak Dira telah berkorban banyak hanya demi kebahagiaan Angel adik yang tidak pernah mengakuinya sebagai kakak,bahkan adik yang selalu tega menyakitinya...hiks hiks hiks..."
"Sudahlah...bersyukur kita memiliki orang dekat seperti dia...Sudah jangan nangis lagi,ayo kita keluar...papa dan mama sudah menunggu..."
"Iya..."
Mereka pun akhirnya keluar dari kantor polisi itu,sementara Dira tak mampu menahan air matanya menyaksikan dan mendengarkan adegan serta obrolan mereka. Ada rasa nyeri di dada ketika Damar menjanjikan sebuah pernikahan kepada Angel. Walaupun itu memang harapannya tapi tak bisa dipungkiri jika hatinya terasa sangat sakit.
"Cemburu ya..."
Dira menoleh ke sumber suara.
"Kamu...?!"
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1