
Adit duduk di sofa ruang tamu ruko sambil memainkan ponselnya. Dia berusaha bersikap setenang mungkin agar Dira tidak curiga,Adit sudah berencana akan bertanya langsung setelah Dira ada didepannya.
'Cklek...' Dira pun akhirnya keluar dari kamarnya.
"Duh sorry ya Dit... gue jadi nyuekin elu deh..." ucap Dira sambil memberikan jus buah kemasan yang diambilnya dari lemari pendingin. "Nih... Agni kok sampai lupa bikinin lu minum..."
"Alah santai aja kali... Makasih ya..." Adit menerima jus buah kemasan yang diberikan oleh Dira. "Oya... duduk sini Dir,lu utang penjelasan tentang arti kata yang tertulis di ponselmu tadi...apa dan siapa orang yang lu tulis kontaknya dengan kata 'HUSBAND'...?" tanya Adit to the point.
"Hmm...apa selama ini Sila belum cerita ke elu?"
"Ooo... jadi Sila udah tau? Dan kalian sengaja merahasiakannya dari gue? Bagus... kalian memang sahabat-sahabat yang baik"
"Bukan gitu....tapi..."
"Pokoknya gue harus dengar semua yang selama ini lu dan Sila sembunyikan dari gue dari lu sendiri... sekarang!" ucap Adit sedikit emosi.
"Oke-oke... santai dong... Gue cerita sekarang, oke..."
Adit mengangguk dan Dira pun akhirnya menceritakan semua kejadian yang dia alami hingga akhirnya dia kini telah berstatus sebagai istri Hans. Walaupun begitu, Dira tidak menceritakan tentang kejadian yang terjadi di awal dia bertemu dengan Hans suaminya. Selain dia ingin mengubur cerita kelam itu dalam-dalam,dia juga ingin menjaga nama baik Hans yang kini telah menjadi suaminya.
🌹🌹🌹
Di Malaysia
Pagi yang cerah di Negeri Jiran Malaysia, secerah hati Hans yang semalam sebelum tidur kembali di telpon oleh Dira istrinya tercinta.
📞 "Assalamu'alaikum sayang... sudah bangun kan?"
📞 "Wa'alaikumsalam mas... Alhamdulillah sudah dari tadi dong..."
📞 "Alhamdulillah, istriku memang cantik dan rajin.."
📞 "Gombal..."
📞 " Oya sayang... maaf ya, sepertinya seharian ini kita tidak bisa telponan atau sekedar WhatsApp-an. Soalnya jadwal mas hari ini padat banget,ini aja mas udah dalam perjalanan menuju tempat meeting..,"
📞 "Sepagi ini...?!"
📞 "Iya...tapi di sini kan udah pukul tujuh pagi sayang... Memangnya kenapa kok sekaget itu... nggak percaya? Khawatir aku macem-macem?"
📞 "Nggak gitu juga tapi kan jam segitu juga termasuk masih pagi untuk meeting kan mas...Oya mas udah sarapan?"
📞 "Belum...ini meetingnya sekalian breakfast kok,mulai khawatir ya..."
📞 "Jangan GR deh...Ya udah selamat meeting, yang penting mas jangan lupa makan dan istirahat yang cukup... Jaga kesehatan slalu..."
__ADS_1
📞 "Kamu memangnya nggak papa ya kalo seharian nggak komunikasi sama aku?"
📞 "Mas kan kerja...bukan liburan... Udah deh,mas tenang aja kerja di sana...Dira di sini juga nggak ngapa-ngapain selain fokus sama sidang skripsi dan wisuda..."
📞 "Hmm oke... jangan salah gunakan kepercayaan mas padamu ya... Assalamu'alaikum..."
📞 "Insyaallah Dira amanah... Wa'alaikumsalam..."
'Hmm... mengobrol dengan Dira semakin hari semakin terasa menyenangkan, sepertinya perlahan hatinya sudah mulai bisa menerima kehadiranku. Sikap manisnya membuat aku selalu merasa rindu... Ya... walaupun kadang masih ada sikap dingin yang sesekali diperlihatkan, tapi mungkin ini adalah ujian buatku agar aku bisa sedikit bersabar lagi menghadapinya..." gumam Hans dalam hati.
🌹🌹🌹
Sementara itu di hotel tempat Vera menginap yang kebetulan satu hotel dengan Hans, Jessica sudah berkunjung ke kamar Vera pagi-pagi.
'Tok tok tok...'
"Ver...? Gue masuk ya..."
"Ya...masuk aja kali..." jawab Vera yang tidak terlihat batang hidungnya.
"Lho lu lagi ngapain? Katanya lu di sini masih lama tapi kok udah main packing-packing baju...Lu mau ninggalin gue?" tanya Jessica sedikit kecewa melihat sahabatnya berkemas tanpa memberitahu dia sebelumnya.
"Sorry Jess, bukannya gue mau ninggalin elu tapi semalam Desi sepupu gue ngabarin kalo bokap dan nyokap gue kecelakaan mobil kemarin sore dan sebagai anak tunggal, gue harus pulang buat ngerawat mereka..."
"Astaga... terus keadaan orang tua lu gimana?"
"Bayi tua itu juga lagi pergi meeting pagi-pagi tadi makanya gue bisa ke sini, gue mo tau kelanjutan cerita lu kemarin tentang Hans tapi sampe sini lu malah mo pergi. Lu berangkat jam berapa sih?" ucap Jessica sambil duduk di ujung ranjang hotel.
"Jam sepuluh... masih ada waktu sedikit buat cerita sama lu..."
"Bagus kalo gitu..."
Selesai packing baju-bajunya,Vera pun kemudian duduk di samping Jessica. Sepersekian detik kemudian dia mulai menceritakan semua yang dia ketahui tentang Hans. Tentang kenapa bisa Hans ada di Negeri Jiran Malaysia ini dan juga tentang pernikahan Hans yang ternyata belum diketahui oleh Jessica.
"Lu tau semua ini dari siapa? Lu yakin sumber beritanya akurat?" tanya Jessica tak percaya mendengar Hans menikah.
"Desi sekertaris Hans itu kan sepupu gue...dia yang cerita semuanya sama gue."
"Tapi jika benar Hans menikah,kenapa tidak ada kabar beritanya? Bahkan laki gue yang notabene relasi bisnisnya pun tidak di beri undangan..."
"Menurut Desi,istri Hans yang masih belum mau dipublikasikan sebab dia masih kuliah. Nanti kalo kuliahnya sudah selesai, mungkin baru akan di gelar pesta resepsinya..."
"Tunggu-tunggu...lu bilang istri Hans masih kuliah? Berarti masih muda dong....?" tanya Jessica sambil mengingat-ingat sesuatu.
"Ya iyalah... Desi bilang, istri Hans itu sahabat adiknya Alex..." jawab Vera.
__ADS_1
"What?! Berarti cewek itu...ya berarti cewek itu..." gumam Jessica.
"Cewek yang mana?" tanya Vera bingung.
"Hmm dasar kelinci kecil busuk... kecil-kecil sudah berani berbohong. Dasar munafik dan licik..." omel Jessica tanpa menghiraukan pertanyaan Vera, tiba-tiba...
"Ver,lu mau pulang ke Indonesia kan? Sesampai di sana tolong tanyain dan cariin informasi tentang istrinya Hans lewat Desi sebanyak-banyaknya ya? Dan satu lagi...tolong mintain juga fotonya? Gue pingin pastiin dugaan gue."
"Iya-iya... tapi ini cewek, cewek yang mana? Emang lu kenal?" tanya Vera penasaran.
"Pokoknya cariin informasi dulu karna gue juga belum yakin dengan dugaan gue..."
"Terus kalo bener cewek itu yang jadi istri Hans,lu mau ngapain?"
"Itu urusan gue... yang pasti gue mau kasih dia perhitungan karna dia berani bo'ongin gue..." ucap Jessica berapi-api.
"Udah deh Jess,relain aja Hans untuk wanita lain, dia juga berhak mendapatkan kebahagiaan biarpun tidak bersamamu...Toh lu juga udah berkeluarga,di tambah lagi kata lu Hans juga sudah terang-terangan menolak elu..."
"Tapi Hans satu-satunya laki-laki yang gue cinta dan gue yakin, dia nolak gue waktu itu bukan karna sudah tidak cinta tapi karna dia masih sakit hati sama gue. Lagian lu kan tau apa alasan gue dulu ninggalin dia kan?"
Vera tak mau menjawab pertanyaan Jessica karna dia tak mau berdebat lebih banyak dengan sahabatnya. Vera melirik jam tangannya, lalu...
"Gue bantu lu cari informasi tentang istri Hans tapi cukup sampai di situ saja. Lu sahabat gue tapi Hans juga temen gue. Gue nggak mau ikut terlibat jauh dalam masalah kalian. Sekarang gue harus ke bandara, gue nggak mau sampe ketinggalan pesawat..."
"Janji ya...?!" pinta Jessica.
"Gue usahain sebisa gue... Gue pamit ya... Jaga diri lu baik-baik..." pamit Vera.
"Gue anter lu..."
"Thank you...tapi nggak usah. Gue udah di anter sama supir hotel..." tolak Vera dengan halus.
Mereka pun akhirnya berpisah Vera berangkat ke bandara sementara Jessica pun pergi ke sebuah cafe untuk menenangkan kegalauan hatinya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Lanjut...