Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Dira Pingsan


__ADS_3

Dira menunggu Sila di depan ruang sidang dengan gelisah. Ada sedikit ketakutan jika Sila akan gagal karna Sila baru saja mengalami hal paling menyedihkan dalam hidupnya. Tak hanya itu,Dira juga merasa sedikit menyesal karna tadi dia meminta Sila menceritakan kembali kejadian itu padahal mereka akan menghadapi babak akhir dalam pendidikan perkuliahan mereka.


'Duh, kayaknya gue salah deh tadi minta Sila menceritakan tentang masalahnya dengan Doni. Gimana kalo itu membuat Sila jadi nggak bisa konsentrasi menghadapi sidang skripsi dengan baik... Kok Sila lama banget sih...' gumam Dira dengan perasaan bersalah.


'Cklek...' Tak berapa lama pintu ruang sidang terbuka... dan wajah kusut Sila menyembul dari sana...


'Duh, kejadian deh...' ucap Dira dalam hati.


"Gimana Sil? Sukses kan?"


Sila melangkah gontai mendekati Dira dengan masih memasang wajah kusutnya. Sila tau betul wajah cemas Dira menggambarkan rasa bersalahnya karna telah memaksanya bercerita tadi pagi.


"Siiill... gimana? Lu berhasil kan?" tanya Dira lagi.


"Yah, sepertinya gue..." Sila sengaja menggantung ucapannya untuk menggoda Dira.


"Sepertinya apa? Yang jelas dong kalo ngomong...gue jadi deg-degan ni..."


"Sepertinya... sepertinya... gue bisa wisuda bulan depan bareng elu...ha ha ha..." Sila tertawa terbahak-bahak karna merasa sukses menggoda sahabatnya.


"Serius? Serius kan lu?" tanya Dira yang masih terlihat syock.


"Serius lah... gue kan udah bilang... sekarang waktunya kita bangkit menuju masa depan yang cemerlang... Nggak perlu deh, sedih-sedih lagi... Yang sudah seharusnya berlalu biarlah berlalu... Gue yakin, gue pasti akan dapetin cowok yang 1000 kali lebih baik dari Doni..." ucap Sila bersungguh-sungguh.


"Jahat ih...lu ngerjain gue ya..." ucap Dira cemberut.


"Ha ha ha... maaf deh...abis lu tegang amat sih..."


"Tapi gue seneng Sil...lu cepet move on dari Doni... Ayo kita rayain kesuksesan kita ke cafe depan kampus yuk... sambil kita tunggu Adit..."


"Oke...lu yang traktir ya...?"


"Beres..."


"Dira awas...!!!" sebuah sepeda motor seperti sengaja ingin menyerempet Dira.


"Astaghfirullah..." tubuh Dira oleng seketika hingga hampir terjatuh, untung saja ada tangan kekar yang sigap menangkap tubuh Dira.


"Akh maaf..." ucap Dira gugup ketika tubuhnya di tangkap oleh seorang cowok.


"Nggak papa... untung saja aku sempet nangkap tubuhmu..." ujar cowok yang membantu Dira.


"Eh, terimakasih..." ucap Dira lagi.


Mendengar suara cowok yang sebagian wajahnya tertutup topi, yang telah menolong Dira, Sila dan Dira pun sedikit terkejut. Sebab keduanya sama-sama merasa tidak asing dengan suara itu. Dan benar saja...ketika cowok itu melepas topinya setelah membantu Dira berdiri,betapa terkejutnya mereka karna orang yang menolong Dira teryata tak lain adalah Damar.


"Damar?!" ucap Sila dan Dira bersamaan.

__ADS_1


"Hai lama nggak ketemu ya...apa kabarmu Dira?" tanya Damar berbasa-basi.


"Alhamdulillah selalu baik... terimakasih udah nolongin gue... Gue cabut dulu, semoga hari lu menyenangkan..."


Dira segera meraih tangan Sila dan mengajaknya untuk segera meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba Damar meraih sebelah tangan Dira untuk menahannya pergi.


"Eh, apa-apaan ini? Tolong hormati gue... sebab saat ini gue udah jadi istri orang..." ucap Dira sambil mengibaskan tangan Damar.


"Kamu ternyata masih segitu bencinya padaku ya, hingga sekarang... dalam ucapan panggilan pun kamu sudah berubah..."


"Maaf kalo lu nggak nyaman dengan situasi kita sekarang, gue hanya berusaha menjaga perasaan orang-orang yang gue sayang aja..."


"Apa itu berarti kamu sudah bisa menerima kehadiran Hans sebagai suamimu? Kamu sudah mencintainya?" tanya Damar seolah tidak percaya jika Dira sekarang telah begitu mudah berpaling darinya.


"Udah deh...lu kan sekarang udah punya Angel... udah mau nikah pula. Jadi sekarang, tolong hargai Dira untuk menjaga jarak dengan lu. Setidaknya sebentar lagi Dira ini akan menjadi kakak ipar elu lho..." Sila pun akhirnya ikut angkat bicara..."Ayo Dir, gue udah laper..." Kini: gantian Sila yang menarik tangan Dira lalu sesegera mungkin mengajak Dira pergi.


Sila tau betul apa yang ada di dalam hati Dira...Sila yakin masih ada sisa cinta di hati Dira untuk Damar. Makanya Sila segera mengajak Dira keluar dari situasi canggung yang tengah terjadi di antara mereka.


Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin disampaikan Damar pada Dira tapi sepertinya kesempatan itu sudah tidak ada. Kini Damar hanya bisa memandang kepergian Dira yang mulai menjauh.


🌹🌹🌹


Di Cafe.


Aditya melambaikan tangan ke arah Dira dan Sila sambil berjalan mendekati kedua sahabatnya itu.


"Huft... lega rasanya... Alhamdulillah semuanya aman dan lancar...Lu sendiri gimana?" jawab Sila yang kemudian balik nanya.


"Alhamdulillah gue juga sukses lulus sidang skripsi... Waah kalo gitu kita bisa lulus bareng dan wisuda bareng ya..." ucap Adit yang tampak bahagia.


"Insyaallah Dit.... Eh Dir,lu kok tiba-tiba kelihatan pucet gitu,..lu sakit? Apa gara-gara tadi ketemu Damar?" tanya Sila.


"Ketemu Damar? Kapan dan dimana? Dia bikin ulah lagi?" tanya Adit... "Lu nggak papa kan Dir? Bener lho... muka lu pucet banget..." ucap Adit ikut khawatir.


"Nggak tau nih tiba-tiba kepala gue pusing dan badan gue lemes...perut gue juga terasa nggak enak banget..." Dira memijit-mijit keningnya..."Gue ke toilet sebentar deh..."


"Gue anter..." Sila pun ikut bangkit dari tempat duduknya.


"Nggak usah... nggak usah... gue bisa sendiri kok" tolak Dira...tapi baru beberapa langkah Dira berjalan...'Bruukk' Dira tergeletak di lantai dan langsung pingsan.


"Diraa..." teriak Sila..."Angkat dan kita bawa ke rumah sakit sekarang Dit..." titah Sila.


Seketika cafe pun gaduh... Dengan sigap, Adit pun mengangkat tubuh Dira lalu membawanya ke mobil Sila.


"Mana kuncinya,biar gue yang nyetir...lu temenin Dira di belakang..." ucap Adit yang langsung mengemudikan mobil Sila dengan kecepatan yang sedikit kencang.


"Hati-hati Dit.. kenceng boleh tapi jangan ngebut..." ucap Sila sedikit cemas.

__ADS_1


"Tenang aja...gue tau..."


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat.


"Suster tolong..." teriak Sila cemas,tapi tak seorang perawat pun tampak keluar.


"Biar gue angkat sampai dalam aja Sil..." ucap Adit nggak sabaran...Sila pun mengangguk cepat.


Melihat Adit mengangkat Dira,baru beberapa perawat keluar sambil mendorong tempat tidur pasien.


"Silahkan mas dan mbaknya tunggu di luar dan mengurus administrasi aja dulu,biar kami yang menangani kondisi pasien."


"Baik suster... tolong berikan yang terbaik buat sahabat kami..."


"Tentu...kami akan berbuat semaksimal mungkin..."


Seketika ruang IGD pun tertutup.


"Ayo Dit...kita urus administrasinya dulu..." ajak Sila.


"Elu jaga Dira aja di sini,biar gue yang ngurusin administrasinya.."


"Oke..."


Sila duduk dengan gelisah di depan ruang IGD.


'Kak Hans... gue harus ngasih tau ke Kak Hans...' Sila mengeluarkan ponselnya...'Tapi kata Dira tadi pagi, seharian ini Kak Hans sibuk dan nggak bisa di ganggu... Duh gimana nih...? Akh lebih baik gue urus Dira nya dulu aja deh...' gumamnya dalam hati.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Terimakasih tak terhingga untuk para reader yang masih setia mengikuti cerita Author...


Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan like, komen, vote N giftnya yaaaa...

__ADS_1


Hatur nuhun...🙏🙏🙏


__ADS_2