Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Salah Faham


__ADS_3

Dira keluar dari kamar tidur Hans lalu menuruni tangga dengan malu-malu karna dia masih memakai piyama tidur. Sementara Hans justru begitu terpukau dengan penampilan Dira yang tampak natural pagi itu.


'Gila...kenapa aku semakin tergila-gila padanya...lihatlah dia tetap tampak begitu cantik walaupun hanya berbalut dengan piyama tidur" gumam Hans dalam hatinya.


"Kenapa hanya berdiri di situ? Kemarilah...kita sarapan dulu,setelah itu aku antar kamu pulang..." ucap Hans yang melihat Dira mematung di bibir tangga.


Tanpa bicara,Dira pun menghampiri meja makan. Matanya terbelalak heran melihat hidangan yang tersaji di meja makan.


"Kesinikan piringmu,kau mau sarapan apa? Biar aku ambilkan untukmu..."


"Eh...biar saya ambil sendiri pak..."


Hans terdiam...seperdetik kemudian dia menarik nafas dan membuang nafas perlahan. Tampak jelas raut wajahnya memperlihatkan wajah orsng yang sedang kecewa.


"Emm...bapak marah ya...? Maaf pak...saya benar-benar bisa ambil sendiri kok,bapak sudah banyak membantu saya. Dan saya juga sudah terlalu banyak menyusahkan bapak. Saya...saya hanya tidak mau merepotkan bapak terus..."


"Bapak...bapak...bapak terus...mau sampai kapan kamu panggil saya bapak hah? Telingaku sakit mendengar kamu panggil begitu Dira... Tidakkah ada panggilan yang lebih baik untukku dan lebih enak di dengar di telingaku? Aku bukan bapakmu..." protes Hans sambil cemberut.


'Hi hi hi...ternyata Pak Hans kalo marah terlihat lucu juga ya...wajah cemberutnya membuat dia terlihat begitu imut dan begitu tampan...' ucap Dira dalam hati.


'Eh...ngomong apaan sih aku ini? Iiih Dira...jangan sampai kamu tergoda dengan laki-laki yang hanya menganggapmu barang mainan.'


"Andira Zanitha Prasetya...! Kenapa diam? Bukannya menjawab tapi malah dari tadi senyum-senyum sendiri...Kamu mengejekku ya...? Kamu mengumpat padaku ya...?"


"Eh enggak pak...enggak...Iiih bapak kok tiba-tiba sensi sih,su'udzon lagi sama saya..."


Dira tampak gugup karna ucapan Hans membuyarkan lamunannya,sementara Hans melotot karna Dira masih saja memanggilnya 'bapak'.


"Kalo Dira nggak boleh panggil bapak,terus Dira harus..."


"Panggil 'mas'..." potong Hans.


Dira bengong antara kaget karna ucapannya di potong begitu saja oleh Hans dan bengong mendengar permintaan Hans.


"Iya...panggil aku 'mas',seperti waktu tadi malam kamu minta tolong padaku..." ucap Hans mempertegas keinginannya.


"Tapi kan..."


"Tidak ada tapi lagi...mulai sekarang kamu harus memanggilku 'mas'..."


"Harus? Mulai sekarang?" tanya Dira gagal paham.


Hans pun mengangguk dengan penuh percaya diri dan penuh kemenangan.


"Tapi nanti kalo di kampus bagaimana? Apa kata para mahasiswa-mahasiswi yang lain? Iih bapak eh mas ini kok sukanya maksa sih...nyebelin banget.... Kalo mereka tau,nanti pasti mereka membully Dira"


"Siapa yang akan membully kamu? Kamu itu kan senior di sana,siapa juniormu yang berani membullymu. Toh kamu juga nggak setiap hari ke kampus. Omongan orang mah nggak usah dihiraukan lah...Lagian mulai hari ini mas juga sudah tidak akan datang ke kampus lagi..."

__ADS_1


"Haah...! Kenapa begitu? Terus skripsi Dira bagaimana?"


"Kan ada Anton yang akan menjadi dosen pembimbingmu lagi... Atau diam-diam kamu lebih senang aku yang jadi dosen pembimbingmu ketimbang Si Anton ya..." goda Hans.


"Iiih GR...Dira mah malah tenang kalo dosen pembimbingnya Kak Anton ketimbang bapak eh mas. Tapi emang bisa gitu ya,gonta-ganti seenaknya? Lagian apa Kak Anton nya juga setuju?"


"Nggak ada yang nggak bisa jika Hans Hendra Saputra sudah punya mau,lagian dari awal kan perjanjiannya aku hanya jadi dosen sementara... Udah ah nggak usah banyak mikir...ayo sarapan dulu,keburu dingin nanti nasi gorengnya... Kalo kamu nggak mau aku ambilkan maka sekarang ambilkan aku sarapan karna mulai hari ini kamu harus belajar melayaniku,kan kamu calon istriku..." ucap Hans sambil senyum menyeringai.


Hans memberikan piringnya pada Dira,Dira pun melotot demi mendengar ucapan Hans yang tampak begitu yakin,sambil menerima piring yang diberikan oleh Hans.


"Dasar tukang maksa,tukang perintah dan sukanya seenaknya sendiri...nyebelin..." gerutu Dira sambil melayani Hans.


"Bagaimana rasa masakanku?" tanya Hans ketika melihat Dira memasukkan suapan pertamanya.


"Lumayan..."


'Gila...ini mah sebenarnya nggak lumayan lagi tapi uenaaaakkk banget. Nggak nyangka ih,Mas Hans pinter masak nasi goreng...' ucap Dira dalam hati.


"Kamu suka masakanku?"


"Lumayan..."


"Lumayan...lumayan...nggak ada jawaban lain apa...?"


"Iyaaa suka..."


"Ngaco..."


"Kok ngaco? Aku serius Dira...aku serius mencintaimu...Aku juga serius mau meminangmu"


Dira hanya diam tak menjawab,namun tiba-tiba saja ponsel Hans berbunyi. Dan setelah melihat sebuah nama di layarnya,Hans pun menyudahi sarapannya lalu minta ijin untuk mengangkat panggilan ponselnya agak menjauh dari Dira. Dira hanya mengangguk cuek nggak mau tau,tapi sekilas tadi dia lihat tertulis di layar nama 'Jesica'. Entah kenapa ada rasa nyesek ketika membaca tulisan tadi,tapi Dira tak mau terbawa suasana makanya untuk menghibur diri Dira pun mulai membereskan meja makan. Mencuci piring dan gelas yang habis di pakai dan membereskan dapur yang sedikit berantakan. Diam-diam Hans menelpon sambil memperhatikan kegiatan Dira di dapur.


'Akh suasana seperti ini,seperti suasana rumah sepasang suami istri...' gumam Hans.


"Pak eh mas Dira mau ke apartemen Sila dulu ya?"


"Mau ngapain?"


"Mau pinjem baju ganti,masak Dira pulang pake baju tidur..."


"Siapa juga yang suruh kamu pulang pake baju tidur... Tapi kamu nggak harus pinjem Sila,tuh ada baju buatmu di tas hitam itu,ganti sana..."


"Ini baju siapa? Punya pacar bapak eh mas ya?"


"Ngaco...pacar yang mana? Itu baju baru tau..."


"Oh...baju baru yang tadinya mau buat pacar mas nggak jadi?"

__ADS_1


"Aduh Dira...nggak ada pacar-pacaran. Baju itu aku beli buat kamu di butik temanku..."


"Kok bisa...ini masih jam 7 lebih dikit loh,emang ada butik 24 jam? Ogah ah...ini pasti baju untuk cewek itu,Dira mau pinjam baju Sila aja"


Dira segera akan keluar tapi dihalangi oleh Hans.


"Iih minggir ih...Dira mau ke apartemen Sila..."


"Eeh tunggu...kamu cemburu ya?"


"Idiih cemburu apaan? Emang Dira siapanya mas? Jelas enggaklah...Dira itu cuma nggak suka sama cewek itu aja... Dan lagi,sebaiknya mulai sekarang memang kita harus jaga jarak,sebab kemarin Dira sudah janji sama mbaknya itu kalo Dira nggak akan dekat-dekat sama mas. Makasih mas udah sering nolongin Dira." ucap Dira sambil melangkah mendekati pintu.


"O ya,mbaknya itu namanya Jesica kan? Orang yang tadi telepon dan orang yang namanya mas sebut malam itu..."


'Brak' Dira menutup pintu setengah di banting,membuat Hans kaget bukan kepalang. Hans akan mengejar Dira tapi ponselnya berbunyi lagi,rupanya dari kepolisian yang meminta Hans untuk menjadi saksi atas tindak pidana Damar malam itu.


Selasai menjawab telpon,Hans bergegas ke apartemen Alex.


'Tok tok tok...'


"Eh ada apa Hans? Alex udah berangkat ke kantor tuh barusan..." ucap Tiara waktu membukakan pintu.


"Aku nggak cari Alex...aku cari Dira..."


"Dira? Selepas ganti baju tadi dia langsung pergi,tadinya mau di ajak bareng sama Alex tapi nggak mau."


"Apa Dira bilang mau kemana? Pergi sama Sila?"


"Enggak,Sila pergi sama Vina dari pagi. Katanya Dira mau pulang"


Hans langsung pergi tanpa pamit pada Tiara,senentara Tiara pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2