
Suasana kamar VVIP rumah sakit,malam itu tiba-tiba menjadi hening. Sonya dan Angel duduk di sofa,sementara Dira yang tadinya berdiri kini duduk di samping Hans dengan tangan Hans yang terus menggenggam tangan Dira. Membuat iri semua orang yang melihatnya. Tak lama berselang,Hans pun mulai menceritakan secara rinci kejadian malam itu.
"Saya memang sudah melakukan sebuah kesalahan besar,tapi saya bukan pengecut atau pecundang. Setelah kejadian malam itu,paginya saya mengecek CCTV di pusat keamanan apartemen dan begitu saya tau wanita itu Dira,semakin kuatlah keinginan saya untuk mempertanggungjawabkan perbuatan saya. Karna sebenarnya sudah sejak 5 tahun yang lalu saya diam-diam telah jatuh cinta pada Dira...Untuk itu dalam kesempatan ini,saya memohon pada Pak Pras agar sudi kiranya mengijinkan saya untuk menikahi Dira"
"Pak Hans ngaco ih..." ucap Dira sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Hans. Tapi semakin Dira meronta,semakin erat pula genggaman tangan Hans.
"Tunggu...lalu bagaimana hingga akhirnya nak Hans bisa menjadi dosen pembimbing Dira?" tanya Pras heran.
"Itu adalah salah satu usaha saya untuk mengejar Dira pak karna dari awal putri bapak selalu menolak pertanggungjawaban saya padanya dan kebetulan Anton yang menjadi dosen pembimbing Dira adalah teman saya..."
"Jadi itu hanya akal-akalan bapak,hingga tiba-tiba bapak bisa menjadi dosen pembimbing saya menggantikan Kak Anton? Dasar penipu..."
Dira melotot sambil terus berusaha melepaskan genggaman tangan Hans,walaupun itu sia-sia. Sementara Hans hanya tersenyum manis padanya.
"Pa,Dira nggak mau menikah dengan penipu macam dia..."
"Saya berjanji,jika bapak sudi mengijinkan saya menikahi putri bapak,saya bersedia membantu dan menjadi investor terbesar di perusahaan bapak,supaya perusahaan bapak bisa bangkit kembali... Dan saya berjanji untuk memberikan kehidupan yang layak serta akan selalu membahagiakan putri bapak"
"Maksud bapak ini apa? Pak Hans sudah gila ya...bisa-bisanya bapak memohon seperti itu kepada papa saya,tanpa meminta pendapat saya terlebih dahulu... Segitu yakinnya bapak mau menikahi saya tanpa bertanya kepada saya,apa saya mau menikah dengan bapak...apa sebegitu tidak berharganya pendapat saya?"
Entah kenapa emosi Dira tiba-tiba kembali meluap-luap kepada Hans,kebenciannya kepada Hans seolah tersulut kembali. Padahal beberapa menit yang lalu,ketika dia mencemaskan keadaan papanya,dia jelas-jelas membutuhkan keberadaan Hans.
'Akh,cewek ini bener-bener menguji kesabaranku...Dira memang susah di tebak kemauannya...' gumam Hans.
"Dasar kakak ini bodoh dan tidak tau diri,kenapa kakak bisa-bisanya menolak Kak Hans yang jelas-jelas ingin bertanggungjawab pada kakak...Bukankah itu akan merugikan kakak sendiri...atau jangan-jangan kakak masih mengharapkan Kak Damar?" ucap Angel.
"Terserah apa katamu yang pasti ini bukan urusanmu...Masalah Damar,aku sudah resmi putus dengan dia...Puas kan kamu mendengarnya..."
'Sial...niat gue ingin mempermalukan Kak Dira di depan Kak Hans,justru gue sendiri yang yang dibikin keki sama dia. Lagian Kak Hans ini bodoh amat sih,jelas-jelas Kak Dira menolak tapi kenapa dia dengan gigih masih berusaha mengejarnya. Kenapa nggak cari yang pasti-pasti aja...toh dia nggak dirugikan ini...Dasar duo manusia bodah...' gumam Angel dalam hati.
Dira menghentakkan tangan Hans yang sudah mengendorkan pegangannya lalu ngeloyor pergi tanpa permisi meninggalkan kamar inap papanya.
"Dira...!!!"
Dira tak lagi menghiraukan panggilan papanya dan Hans secara bersamaan. Sedetik kemudian terdengar suara ketukan pintu,seorang suster mengingatkan jika pasien sudah waktunya istirahat. Dan keluarga yang diperbolehkan menunggu pasien hanya seorang saja,jadi keluarga yang lain di minta pulang.
__ADS_1
"Nak Hans,bagaimana jika kita lanjutkan perbincangan kita malam ini,besok siang lagi..."
"Iya pak...kalo begitu saya pamit dulu,sampai bertemu besok siang...Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
"Dira benar-benar keterlaluan,kalau bertindak dan berbicara suka seenaknya sendiri...
Oya pi,apa papi yakin perusahaan Hans itu benar-benar besar? Apakah perusahaannya akan benar-benar bisa membantu perusahaan kita bangkit lagi?"
"Entahlah...dia memang termasuk baru di komunitas para pembisnis. Ada yang bilang dia satu-satunya pewaris tunggal sebuah perusahaan besar yang bergerak di multi bisnis. Kita berdo'a saja semoga apa yang diucapkan Hans itu benar dan yang pasti Dira mau menerima niat baik Hans..."
"Huuh mami ini,pegang ponsel mahal buat apa kalo nggak pernah lihat berita di internet? Kak Hans itu orang hebat,baru 2 tahun menjadi CEO,bisnis yang diwariskan kakeknya sudah semakin berkembang. Sekarang dia mulai merambah di dunia pendidikan dan kesehatan...Udah ah,Angel pulang dulu...Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
🌹🌹🌹
"Dira...Dira...tunggu gue dong..."
Sila yang tengah duduk di cafetaria di halaman rumah sakit itu,berterik-teriak memanggil nama Dira. Tapi yang di panggil tak mendengarkan bahkan langsung melesat dengan sebuah taksi. Sila mendengus kesal,kemudian tak berapa lama Hans keluar dari rumah sakit sambil berlari.
"Baru aja naik taksi...Kak Hans kira-kira,apa dia marah padaku ya?"
"Memangnya kenapa?"
"Tadi dia berlari dari dalam rumah sakit dan waktu ku panggil dia nggak nengok. Dira malah langsung menuju ke pintu gerbang rumah sakit lalu naik taksi yang kebetulan menurunkan penumpang di depan rumah sakit tanpa menghiraukan aku..."
"Mungkin dia hanya tidak mendengarkan panggilanmu saja dan dikiranya kamu sudah pulang dari tadi... Sudahlah jangan dipikirkan,kamu tunggu di sini dulu...aku ambil mobil dulu terus aku antar kamu pulang,setelah itu aku akan ke ruko Dira untuk memastikan kalo dia aman di rumahnya..."
"Memang ada yang mengancam Dira?"
"Enggak sih tapi entahlah...tiba-tiba perasaanku nggak enak aja..."
"Semoga tidak terjadi apa-apa...tapi jika kakak ingin memastikan dia aman,juga nggak ada salahnya. Tolong jaga sahabatku ya kak..."
__ADS_1
"Pasti...kamu nggak usah khawatir. Aku ke parkiran dulu ya..."
"Siap...aku tunggu di sini..."
Hans mengacungkan jempolnya...dia pun kemudian melangkah untuk mengambil mobilnya. Sementara itu tanpa sepengetahuan Sila...Angel telah berdiri di dekatnya. Dan begitu mobil Hans berhenti untuk menjemput Sila,dengan tidak tau malunya,Angel langsung mendahului Sila lalu duduk di kursi depan di sebelah Hans. Hans pun terkejut ketika dia menegakkan badannya karna habis menunduk untuk mengambil ponselnya yang jatuh di dekat kakinya.
"Lho...kok kamu...Sila mana?"
"Aku di sini kak...dasar bocil br*******k...main srobot aja..." ucap Sila kesal.
"Hei,hati-hati kalo ngomong ya...Kak Hans ini calon kakak ipar gue,jadi wajar dong kalo gue duduk di sini. Lu itu kan cuma numpang...yang sopan dong"
"Emang elu apa namanya kalo nggak numpang?"
"Kan udah gue bilang,Kak Hans itu calon kakak ipar gue,jadi gue otomatis keluarga Kak Hans lah..."
"Kakak ipar tu kalo kakak lu mau dinikahi...lha ini...dia aja nolak..."
"Kalau Kak Dira menolak...ya gue aja yang gantiin..."
"Tuh kan...bener-bener bocil br*******k...tukang tikung,tukang ngerebut milik orang. Apa Damar masih belum cukup buat lu? Dasar cewek serakah!"
Angel hendak membalas omongan Sila,tapi Hans menahan,sementara Sila tersenyum penuh kemenangan sambil memasang earphone nya untuk mendengarkan musik.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...