Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Bertemu Jessica Lagi


__ADS_3

Hans dan Dira sudah berdiri di depan pintu ruang UKS.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..." jawab seorang perempuan dari dalam ruang UKS.


"Papa..." teriak Hara yang sudah bisa menghafal suara papanya. Dia pun segera berlari mendahului Bu Tanti yang hendak membukakan pintu.


"Hei jagoan papa..." sapa Hans yang langsung berjongkok menyambut pelukan putranya.


"Maaf Bu Tanti... ini suami saya... papanya Hara..." jelas Dira kepada ibu guru Hara. Hans pun mengangguk sambil tersenyum ke arah Bu Tanti yang seperti tengah terbengong-bengong nggak jelas.


"Ooo..." hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya. Bu Tanti guru termuda yang kebetulan masih jomblo itupun mengangguk canggung karena sejenak dia terpesona oleh ketampanan Hans.


"Maaf bu, apa kami boleh bertemu dengan Erik?" tanya Dira yang sedikit tidak nyaman melihat Bu Tanti yang tidak bisa menjaga pandangannya kepada suaminya.


"Oh tentu... tentu... silahkan masuk, anaknya sedang istirahat di dalam... Emm... kalo begitu... saya... saya tinggal dulu..." pamitnya dengan ucapan sedikit gugup. Bu Tanti pun kemudian segera pergi meninggalkan mereka.


'Ups malunya aku... sepertinya mamanya Hara tau jika aku sedikit terpesona melihat papanya Hara. Astaghfirullah haladziim... kenapa aku ini sampai tidak bisa menjaga pandanganku melihat ciptaan Allah yang begitu sempurna? Ya Allah... jiwa jombloku memberontak... Astaghfirullah haladziim... wajar nggak sih, jika ada rasa iri muncul demi melihat ciptaan sempurna-Mu itu ternyata sudah ada yang punya...' ucap Bu Tanti dalam hati. Berkali-kali dia beristighfar karena menyesali perbuatan konyolnya tadi.


🌹🌹🌹


"Assalamu'alaikum..." ucap Dira dengan lembut.


"Wa'alaikumsalam tante..." jawab Erik yang masih duduk di tempat tidur UKS.


"Erik... kenalin ini papaku... aku enggak bohong kan? Awas aja kalo kamu berani ngatain aku bohong lagi" ucap Hara yang masih sedikit emosi sambil memperkenalkan papanya.


"Iya... aku kan tadi udah bilang kalo kamu nggak pernah bohong... lagian kita kan udah baikan..." ucap Erik yang kemudian kembali menunduk.


"Ini masih sakit?" tanya Dira sambil mengusap pelan pipi Erik. Erik menggelengkan kepalanya tapi dia mengernyitkan keningnya seperti menahan sakit.


"Kalo masih sakit bilang aja sakit... nggak perlu takut..." Erik diam saja tapi matanya berkaca-kaca..." Maafkan Hara ya..." Erik mengangguk.


"Tapi ini sakitnya bukan karena pukulan Hara..." ucap Erik lirih.


"Oya? Tapi..." Dira tampak bingung dengan pernyataan Erik.


"Tadi pagi Erik di pukul sama Mas Darma..."

__ADS_1


"Siapa Mas Darma?" tanya Hans menjadi tertarik dengan cerita Erik.


"Mas Darma itu suami Mbak Rika... Mas Darma jahat, sukanya marah-marah sama Mbak Rika..." Hans dan Dira pun saling berpandangan tidak mengerti tapi netra mereka menangkap ada kesedihan yang mendalam terlihat dari sorot mata Erik yang berkaca-kaca tapi penuh dengan amarah yang terpendam.


"O iya, tadi tante punya coklat lho... Erik mau?" ucap Dira berusaha mengalihkan pembicaraan agar Erik tidak lagi sedih. Dan lagi-lagi Erik cuma menganggukkan kepalanya.


"Hara juga mau ma..." rengek Hara yang merasa diabaikan oleh mamanya sejak tadi.


"Iya sayang... ini coklat buat anak mama tersayang... Jangan berkelahi lagi ya nak... bersahabatlah kalian dengan baik..." Dira mencium pipi Hara, Dira tau persis jika Hara sedikit cemburu melihat dia seolah mengabaikannya.


"Terimakasih mama, Hara janji akan selalu patuh sama mama dan Hara juga janji untuk tidak berkelahi lagi..."


"Good boy..." ucap Hans sambil mengacak rambut Hara.


"Hei pa... papa merusak rambutku... nanti Hara jadi nggak keren lagi..." ucap Hara cemberut sambil menata kembali rambutnya yang berantakan karena ulah papanya. Dan mendengar ucapan Hara itu pun membuat Dira, Hans dan Erik tertawa terbahak-bahak.


Sedang asiknya mengobrol, mereka berempat dikejutkan oleh suara ketukan pintu.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...." jawab Hans dan Dira sambil menoleh ke arah pintu.


"Hans?!"


"Mamiii..." panggil Erik.


"Mami?!" ucap Hans dan Dira bersamaan..."Jadi Erik ini...?" tanya Hans mengambang.


"Ya...Erik memang putraku dengan Mas Hendrik..."


"Kok Erik bisa berada di sini? Bukankah kamu sudah menikah dengan orang Malaysia?" tanya Hans yang membuat Dira merasa tidak suka.


"Hmm... ternyata ada yang masih suka ngepoin kabar sang mantan pacar rupanya..." gumam Dira yang masih terdengar oleh Hans yang berada di sampingnya, membuat Hans menjadi gugup.


"Eh...sayang..." Mendengar gumaman istrinya Hans menjadi canggung dan tidak bisa berkata-kata lagi...


"Ceritanya panjang... Alhamdulillah kita bisa bertemu lagi di sini, maukah kalian mendengarkan kisahku? Bagaimana kalau kita sekalian makan siang di kafe ujung jalan itu...? Di sana juga ada tempat bermain untuk anak--anak. Anggaplah ini sebagai permintaan maaf ku kepada kalian, terutama padamu Dira..." bujuk Jessica penuh harap. Hans pun memandang Dira seolah menyerahkan jawaban permintaan Jessica kepada Dira tapi Dira hanya diam saja, sampai terdengar suara Erik dan Hara berteriak kegirangan karena mereka akan pergi makan siang bersama.


"Yea... terimakasih mami... Hara kita akan pergi bersama lho... pasti akan menyenangkan..." teriak Erik bersamaan dengan bunyi bel tanda pulang sekolah. Dan demi melihat kegirangan putranya karna bisa makan sekaligus main bersama temannya, akhirnya Dira pun menyetujuinya.

__ADS_1


Mobil Hans memasuki halaman kafe, setelah mobil terparkir... Hans sekeluarga di tambah dengan Jessica dan Erik pun segera turun.


Tak menunggu lama setelah pesanan mereka datang, mereka pun kemudian menikmati hidangan makan siang itu. Dan di sela makan itulah Jessica bercerita tentang asal-usul Erik. Dia juga bercerita tentang kenyataan bahwa suami barunya tidak mau menerima kehadiran Erik, itulah sebabnya kemudian Jessica menitipkan anaknya kepada Rika, baby sitter Erik untuk di rawat di tempat asalnya yaitu kota ini. Jessica percaya kepada Rika karena Rika orangnya baik, penyayang dan jujur, tapi sayang... suaminya tidak begitu. Uang yang di transfer oleh Jessica sebagai gajinya dikuasai oleh Darma suami Rika, bahkan uang untuk kebutuhan Erik pun dimintanya, semua hanya untuk menuruti kesenangannya yaitu berjudi. Setelah bercerita panjang lebar, pada akhirnya Jessica mengutarakan keinginan Jessica untuk meminta tolong pada Hans demi mendapatkan hak warisan dari Tuan Hendrik, karena semua warisan kekayaan Tuan Hendrik saat ini berada di tangan anak Tuan Hendrik dari istri pertamanya.


Dira merasa iba akan jalan hidup Erik, tapi membiarkan Hans dan Jessica berinteraksi kembali.... apakah tidak akan menimbulkan masalah baru nantinya.


"Aduh maaf sebelumnya, tapi aku kan bukan pengacara atau praktisi hukum semacamnya... jadi aku tidak bisa membantumu..." tolak Hans langsung ketika Jessica mengutarakan niatnya untuk meminta tolong padanya. Dia tidak ingin membebani pikiran istrinya dengan sebuah prasangka buruk kepadanya.


"Tapi setidaknya dengan kekuasaanmu, kamu kan bisa mencarikan alternatif orang yang mungkin akan bisa menolongku..." Jessica terus saja mengiba mengharapkan bantuan dari Hans. "Please Hans... demi persahabatan kita... please Dira ijinkan suamimu membantuku, ini semua aku lakukan semata-mata hanya untuk masa depan Erik."


"Emm... maaf sebelumnya, tapi...apa kamu yakin jika Erik itu putra Alm. Tuan Hendrik?" tanya Dira mencoba menyelidiki kemungkinan Erik adalah putra orang lain.


"Sayang... apa maksudmu?" tanya Hans yang mulai menangkap gelagat istrinya yang mulai mencurigainya.


"Maaf mas... tapi usia Erik sama dengan usia Hara... dan waktu kesalahpahaman kita terjadi, kalian sedang bersama di negeri seberang... bukan bermaksud su'udzon tapi..." Hans meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya lalu mencium pucuk kepala Dira. Mendengar perkataan Dira, Hans pun langsung tanggap dengan arah pembicaraan istrinya, begitu pun dengan Jessica.


"Sebelumnya aku minta maaf atas terjadinya kesalahpahaman di antara kalian dahulu. Jujur waktu itu memang terbersit dalam otakku untuk menjebak Hans dengan kehadiran anak yang sedang ku kandung ini, tapi kenyataannya Hans benar-benar membentengi dirinya dengan baik, hingga dia tidak pernah bisa aku raih lagi. Dia sangat mencintaimu Dira. Dan masalah Erik... aku punya bukti yang otentik bahwa Erik adalah anak kandung Mas Hendrik, suamiku waktu itu... Aku punya hasil tes DNA dari beberapa tempat, karena aku tau sifat anak tiri ku yang licik itu..." jelas Jessica kepada Dira.


"Kamu sudah dengar sendiri kan sayang... aku tidak pernah selingkuh dengan Jessica atau dengan siapapun. Aku cuma mau kamu..." ucap Hans sambil mencium pipi istrinya berkali-kali sampai Dira merasa risih sendiri, karena Hans melakukan itu di depan Jessica.


Melihat kemesraan Hans kepada Dira, sebenarnya membuat Jessica sangat cemburu, tapi kini dia hanya bisa menyesali kebodohannya waktu itu... yang melepaskan Hans begitu saja demi harta.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Maaf... maaf sekali telat update lagi dan belum bisa update panjang...

__ADS_1


Terimakasih untuk para Reader yang masih setia menunggu kelanjutan cerita Author...🙏🙏🙏


__ADS_2