
Anita mengejar Amirah tapi tubuhnya sudah terlanjur hilang di balik pintu kamarnya.
"Kek...gimana nenek dan Mama Nita?" tanya Hanna yang sejak tadi hanya berdiam saja tanpa suara.
"Biarkan mereka selesaikan masalah mereka berdua,kamu anak kecil nggak usah ikut-ikut... Kamu di sini aja sama kakakmu ya,kakek tinggal dulu... Hans kakek ke ruang kerja kakek dulu...nanti kalo Tio datang suruh menyusul..." pamit Sasongko sambil mengusap lembut pucuk kepala cucu perempuannya itu lalu pergi meninggalkan kedua cucunya menuju ruang kerjanya.
"Iya kek..."
"Kak Hans...Kak Dira itu cantik?"
"Iya dong...dia adalah wanita tercantik setelah mama..."
"Mama Anita?"
"Bukanlah...mama kita...mama yang telah melahirkan kakak dan kamu. Mama Anitamu itu adalah adiknya mama...harusnya kamu manggil Mama Anitamu itu tante,sama dengan Kak Hans. Mama kita itu Mama Anika...bukan Mama Anita..."
"Hanna belum pernah bertemu dengan mama...Hanna hanya bisa liat wajah mama dari foto saja...makanya Hanna panggil tante Mama Anita. Lagian sejak dari kecil Mama Anita menyuruh Hanna memanggilnya begitu..."
"Nggak papa...yang penting Mama Anika selalu ada di hatimu dan juga namamu. Kau tau kan Anika Saputri adalah nama mama kandung kita..."
Hanna menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis lalu dia menyandarkan kepalanya ke bahu kakaknya,matanya menerawang jauh entah kemana. Mungkin dia sedang memikirkan seandainya mama dan papanya masih ada.
Hanna adalah adik Hans satu-satunya,dia lahir secara prematur sesaat setelah kecelakaan itu terjadi.
Ya...waktu terjadi kecelakaan itu,Anika mamanya Hans sedang hamil 7 bulan. Pada kecelakaan itu,Hendrawan papa Hans meninggal di tempat,sementara Anika yang masih bernafas pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat,tapi sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan setelah Anika melahirkan Hanna Anika Saputri melalui operasi caesar.
Setelah melihat bayi mungil nan cantik dan melihat kenyataan kedua orangtuanya meninggal,Hans yang tadinya tidak suka dan malu atas kehamilan mamanya pun berubah menjadi sangat menyayangi adiknya itu. Dan nama Hanna Anika Saputri adalah nama pemberian Hans kepada adiknya yang sengaja dibubuhi nama mamanya di belakangnya sebagai tanda sayangnya pada mamanya.
Hanna Anika Saputri
"Eh... kamu mau lihat foto Kak Dira enggak?"
Hans mencoba mengalihkan pembicaraan seputar mama mereka agar adiknya tidak sedih lagi.
"Mana?" tanya Hanna penuh antusias.
Hans pun dengan semangat memperlihatkan foto-foto Dira kepada adiknya dan Hanna pun sangat senang melihat foto-foto calon kakak iparnya itu.
"Liat...cantik beneran nggak?" goda Hanna.
"Nih...liat aja sendiri..."
__ADS_1
Mata Hanna seketika melebar demi melihat koleksi foto Dira calon kakak iparnya di ponsel Hans.
"Wow...Kak Dira memang bener-bener cantik...Eh tapi tunggu...kok wajahnya mirip dengan kakak yang pernah nolongin aku ya kak?"
"Nolongin kamu? Nolongin apa dan kapan itu terjadi?" tanya Hans beruntun karena kaget.
"Kejadiannya udah agak lama sih,ada mungkin setahun yang lalu..."
"Setahun yang lalu? Lama amat..."
Hanna mengangguk.
"Coba ceritain,kakak mau denger...kok kamu nggak mau cerita..."
"Kakak inget nggak kejadian waktu aku baru saja masuk SMA...waktu acara MOS? Waktu itu semua siswa kan diwajibkan naik angkot..."
"Hmm..."
Hanna lalu menceritakan kejadian setahun yang lalu,ketika dompet dan ponselnya di copet di angkot yang ditumpanginya. Padahal selain dia harus membayar angkot,dia juga hendak membeli bunga buat acara penutupan acara MOS di sekolah barunya. Dia sampe nangis karna dimaki-maki oleh kondektur angkot yang nggak percaya kalo dia sedang kecopetan. Kejadian itu terjadi di depan toko bunga milik Dira dan untungnya melihat kejadian itu Dira tidak tinggal diam. Dira membayar angkot itu 10 kali lipat ongkos angkot yang harus Hanna bayar. Dira lalu mengajak Hanna masuk dulu ke tokonya,memberi minum karna melihat Hanna tampak syock karna kecopetan dan juga ketakutan. Dan nggak sampai di situ saja...Dira juga memberikan bunga yang akan digunakan Hanna untuk penutupan MOS esok harinya secara gratis.
"Terus...? Kamu sudah bilang terimakasih belum?" ucap Hans sambil membelai-belai rambut adik kesayangannya itu.
"Waktu kejadian itu sih udah,kakak itu juga meminjamkan ponselnya pada Hanna agar Hanna bisa menghubungi Mama Anita untuk menjemput Hanna. Kakak itu tidak mau menerima uang ganti dari Mama Anita,padahal kakak itu kan sudah keluar uang banyak..." kenang Hanna.
Hanna menggelengkan kepalanya.
"Hanna lupa..."
"Hanna mau bertemu dengan Kak Dira?"
"Mau-mau...kalau benar Kak Dira adalah kakak yang waktu itu...Hanna pasti akan 1000% setuju Kak Hans menikah dengannya..."
Hans tersenyum melihat tingkah adiknya.
"Bilang sama Tante Anita,besok Kak Hans yang akan jemput kamu. Kita ke rumah Kak Dira lalu ajak Kak Dira makan siang bersama..."
"Iya...yeaaa...Hanna mau punya kakak perempuaaannn..." teriaknya.
"Hush,jangan teriak-teriak,ini udah malam...sana tidur,besok jangan lupa ya...?"
"Iya...iih jadi nggak sabar pingin cepet siang..."
'Cup'
__ADS_1
"Selamat malam Kak Hans..." Hanna mencium pipi kakaknya lalu pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Anita.
Hans menjawab ucapan adiknya dengan senyuman,kemudian Hans pun melangkah menuju kamarnya melewati ruang kerja kakeknya. Dia sempat mengintip dari pintu ruangan kakeknya yang memang tidak di tutup,terlihat olehnya kakeknya yang sedang berbincang santai dengan Tio asistennya.
"Masuk aja Hans...ngintip-ngintip kayak anak kecil...nggak sopan itu..." teriak Sasongko dari dalam ruang kerjanya.
Hans pun nyengir kuda lalu masuk bergabung dengan Sasongko dan Tio.
"He he he...malem Om Tio..."
"Malem Hans...sini Hans,duduk sini..."
"Eh iya om...kok tadi Hans nggak denger atau nggak liat Om Tio masuk ya,padahal Hans tadi udah dapet pesen dari kakek buat menyambut Om Tio lho...he he he..."
"Laah kamu tadi lagi asik ngobrol sama Hanna,jadi om nggak mau ganggu,kalian kan akhir-akhir ini jarang ketemu kan? Makanya om tadi langsung masuk sini di antar Bik Supi...
Waah...ngomong-ngomong ada yang lagi bahagia ni... Akhirnya jadi juga nikah sama Dira? Selamat ya...semoga dimudahkan dan dilancarkan..."
"He he he...Aamiin...InsyaAlloh om..."
"Iya...tapi sempat ngambek tu dia sama aku Yo...ha ha ha..." kelakar Sasongko menggoda cucunya.
"Habis kakek juga kok yang cari masalah duluan...he he he... Gebetan cucunya mau di embat juga..."
"Hush...ngomong sembarangan...Na ini ni...contoh cucu yang nggak pernah perhatian sama kakeknya Yo...Harusnya kamu tu mikir,berapa usia kakek sekarang? Bisa bertahan hingga detik ini saja sudah bersyukur. Kakek hanya ingin menyelesaikan kewajiban kakek Hans...yaitu menikahkanmu,karna setelah kamu punya pendamping nanti berarti kakek sudah bisa menyerahkan semua tanggung jawab keluarga ini kepadamu. Kedepannya kamu tidak hanya harus melindungi anak dan istrimu,tapi kamu juga harus bisa menjaga tantemu dan adikmu selama dia belum berkeluarga..."
"Kakek sudah lelah...kakek dan nenek akan menikmati sisa hidup kami dengan lebih banyak beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah... Bersyukur lagi jika kami masih diberi kesempatan menimang cicit dari kamu..."
Malam semakin larut tapi obrolan tiga laki-laki berbeda generasi itu belum terlihat akan disudahi,mereka masih asik mengobrol sambil bercanda. Apalagi ketika Bik Supi mengantarkan minuman untuk mereka,dua cangkir teh jahe panas dan secangkir hot cappucino coffe kesukaan Hans,membuat mereka tak ingat waktu lagi.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...