
Hans sangat terkejut membaca pesan dari Alex tentang sikap Jessica yang berubah--ubah. 'Waspada saja dan jaga adik gue baik-baik, ingat penyakit jantung Dira jangan sampai kambuh. Gue percayakan semuanya ke elu bro...' Begitu pesan Alex di akhir obrolan WhatsApp Hans dan Alex. Hans sangat geram mengetahui sikap Jessica ternyata masih belum berubah. Dia menyesal mengiyakan keinginan Dira untuk membantu Jessica melawan Rico, sampai mengijinkan Jessica tinggal di rumahnya.
"Mas... lho kok belum mandi sih... Ditinggal ngurusin anak-anak dari tadi, kirain udah mandi." omel Dira sambil membersihkan wajahnya di depan meja riasnya. Hans berdiri dari duduknya tapi bukannya pergi ke kamar mandi malah membungkukkan badannya, memeluk Dira dari belakang dan merebahkan kepalanya di bahu Dira.
"Iih...apaan sih mas... kenapa?" Dira menghentikan aktivitasnya lalu berdiri agar posisi badan suaminya tidak membungkuk. Sementara Hans tidak melepaskan pelukannya, seolah takut ditinggalkan oleh Dira.
"Maas... kenapa?" Dira membalikkan badannya hingga kini mereka saling berhadapan, tapi Hans tetap diam sambil memeluk Dira.
"Maas..." panggil Dira dengan lembut.
"Jangan pernah tinggalin aku lagi ya... Apapun yang terjadi, tetaplah disisiku.,." bisik Hans sambil mencium pucuk kepala Dira.
"Iih mas kenapa sih? Siapa juga yang mau ninggalin Mas Hans... yang ada mas tuh yang banyak penggemarnya. Saking banyaknya penggemar, bisa-bisa mas nanti jadi ngelupain istri deh." ucap Dira manja.
"InsyaAllah mas tidak tergoyahkan oleh siapapun. Kamu harus percaya sama mas ya...?"
"Iih Mas Hans kok tiba-tiba ngomongnya aneh sih... Jangan bikin Dira takut dong..." Dira mengeratkan pelukannya pada Hans.
"Takut kenapa? Takut kehilangan mas ya?" Dira mengangguk sambil membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Alhamdulillah... istriku sudah benar-benar cinta sama aku...he he he..." goda Hans.
"Nggak lucu... ayuk ah mandi..."
"Eh serius ni ngajak mandi berdua?" ucap Hans semangat. Dira mengangguk.
"Tapi mandi aja ya... jangan macem-macem... kita kan belum sholat Dzuhur..."
"O iya... tapi kalo habis mandi dan sholat, boleh kan macem-macem?" Dira mencubit perut six pack suaminya.
"Aauuww... jahat amat sih sama suaminya..."
"Biarin... dasar om-om mesum..."
Setelah selesai sholat, Hans pun berbaring mengistirahatkan tubuhnya sehabis berjalan-jalan dengan putra mereka. Sementara Dira baru saja masuk kamar setelah menengok Hara di kamarnya.
"Hara dan Erik sudah nyenyak tidurnya?" tanya Hans.
"Sudah mas... sepertinya mereka kecapekan..." Dira pun mendekati suaminya dan kemudian berbaring di samping Hans.
"Sayang..."
"Iya mas..."
"Tidakkah ada yang ingin kamu ceritakan pada mas?" tanya Hans sambil menyelipkan tangannya ke pinggang Dira lalu menarik Dira ke dalam dekapannya.
"Cerita...? Tentang apa?" ucap Dira balik bertanya.
"Entahlah... cerita tentang apa saja...tentang perasaanmu bertemu dengan papamu, mamimu, Angel atau...dengan Damar mungkin..."
'Deg... Astaghfirullah..! Kenapa Mas Hans tiba-tiba bertanya seperti itu? Apa sebenarnya Mas Hans sudah tau kejadian antara aku dan Damar di dapur tadi ya? Tapi Mas Hans pura-pura tidak tau karena menunggu kejujuranku? Aduh, aku harus mulai dari mana nih?' gumam Dira dalam hati.
"Kok diem? Mas nggak boleh tau ya... ya sudah, kita tidur aja..." Hans merapatkan tubuh istrinya seolah benar-benar takut kehilangan dirinya.
"Mas..."
__ADS_1
"Hmm..." jawab Hans sambil memejamkan matanya pura-pura tidur.
"Emm mas... kalau... kalau Dira cerita, Mas Hans jangan marah ya...?"
"Cerita tentang apa dulu?"
"Ya tentang yang mas tanyain tadi..."
"Yang mana?" tanya Hans pura-pura tidak tau.
"Maass... serius dong..." Dira mendorong tubuh suaminya dengan wajah di tekuk karna kesal dan merasa dipermainkan oleh suaminya.
"Oke-oke...mas janji nggak akan marah dan akan mendengarkan secara seksama tapi jangan jauh-jauh dong... Mas itu nggak bisa jauh-jauh darimu...sini dong..."
"Gombal..." Dira kembali mendekati suaminya dan kembali berada dalam pelukan hangat suaminya.
"Jadi tadi waktu Mami Sonya menceritakan tentang ngidamnya Angel, tiba-tiba Dira merasa sedih. Dira jadi ingat saat Dira mengandung Hara dulu... ketika Dira kepingin apa-apa, Dira harus menahan karena tidak ada suami Dira di sisi Dira seperti Angel..." Dira diam sejenak, sementara Hans mengeratkan pelukannya sambil mencium pucuk kepala Dira.
"Maafin mas yang tidak pernah ada di saat kamu butuh mas ya..." sesal Hans yang di jawab Dira dengan anggukan.
"Karena Dira sudah tidak kuat mendengar cerita mami, Dira pun pura-pura pamit untuk membuatkan anak-anak susu. Dan ketika Dira sedang membuat susu di dapur, Dira bertemu Damar..."
"Cukup..." Hans memotong cerita Dira.
"Tapi mas... cerita Dira belum selesai..."
"Mas sudah tidak ingin mendengar lagi..."
"Tapi mas harus tau ceritanya sampai selesai..." Hans menggelengkan kepalanya.
"Mas sudah tau semuanya... mas hanya menunggu kamu bercerita jujur pada mas, yang harusnya tanpa mas minta..." Dira membuka bibirnya untuk bicara tapi Hans tak membiarkan itu dan serangan selanjutnya pun dilancarkan oleh Hans karena dia sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi. Dira pun akhirnya pasrah dengan perlakuan suaminya, bahkan kini dia pun mulai ter*******ng dengan sentuhan lembut suaminya hingga Dira pun mulai mengimbanginya.
🌹🌹🌹
Entah sudah berapa kali mereka melakukan penyatuan diri, yang pasti ketika kumandang adzan Ashar terdengar, pergulatan mereka pun telah selesai. Mereka berdua pun segera membersihkan diri kemudian menjalankan kewajiban mereka kepada Tuhan mereka.
'Tok tok tok...'
"Mama... hiks hiks hiks..." panggil Hara bersama dengan suara tangisnya.
"Akh ya sayang...tunggu..." Dira pun buru-buru membuka pintu dengan masih mengenakan mukenanya. Sementara Hara pun langsung menghambur ke pelukan Dira sambil masih menangis.
"Hei... kenapa jagoan mama kok menangis...?" Hara tidak menjawab tapi hanya memeluk Dira dengan erat.
"Kenapa sayang...ada apa?" tanya Dira lagi.
"Mama...Hara nggak suka maminya Erik, Hara nggak mau Tante Jessica tinggal di rumah ini... hiks hiks hiks..."
"Lho kenapa kok tiba-tiba Hara bilang begitu? Bukankah Tante Jessica baik sama Hara...? Sayang sama Hara seperti mama sayang sama Erik...?" tanya Dira bingung melihat putranya menangis terus dan tidak mau berhenti.
Hans baru saja dari ruang kerjanya ikut bingung ketika masuk ke kamarnya dan melihat putranya menangis tersedu-sedu.
"Hara kenapa sayang?"
"Nggak tau mas... tiba-tiba saja dia mengetuk pintu kamar dan begitu masuk langsung begini..."
__ADS_1
Mendengar suara papanya, Hara pun kemudian berpindah menghambur ke pelukan papanya.
"Hiks hiks hiks...papa... hiks hiks hiks..." Hara memeluk Hans dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya lagi.
"Iya sayang..." Hans menggendong putranya sambil menciuminya.
"Hara kenapa nak... jangan bikin mama sama papa bingung dong..." ucap Dira dengan lembut sambil mengelus rambut Hara.
"Dengar sayang... anak laki-laki nggak boleh menangis... Sekarang Hara duduk dan berhenti nangisnya, lalu ceritakan pada mama dan papa... ada apa. Biar mama dan papa nggak bingung..." Hara mengangguk, tangisnya pun mulai mereda... kemudian Hans menurunkan Hara dari gendongannya dan mendudukkan putranya di tempat tidurnya.
"Minum dulu sayang..." Dira pun membantu Hara minum.
"Udah lega?" tanya Hans...Hara mengangguk. "Sekarang Hara cerita sama mama dan papa...ada apa sebenarnya..."
"Hara nggak suka sama maminya Erik... maminya Erik jahat pa..." ucap Hara sambil menundukkan kepala.
"Kenapa Hara bicara begitu? Hara mimpi?" tanya Hans, tapi Hara menggelengkan kepalanya. Hans dan Dira pun saling berpandangan bingung tidak mengerti.
"Kalau Hara tidak bermimpi lalu apa alasan Hara bicara begitu?"
"Kata Tante Jessica, Tante Jessica mau ambil papa... Tante Jessica mau rebut papa dari mama dan Hara, biar selamanya Hara nggak punya papa...hiks hiks hiks... Hara nggak mau pa... Hara mau punya papa dan mama selama-lamanya.... hiks hiks hiks..."
'Br*******k... benar kata Alex, Jessica memang tidak pernah berubah dan tidak akan berhenti mengejar aku. Berani-beraninya dia meneror anakku...' bathin Hans.
"Mas, apa maksud Kak Jessica bilang begitu?" tanya Dira sambil mengelus-elus kepala Hara yang direbahkan dipangkuannya.
"Mas tidak tau, nanti biar mas tanya... kamu jangan banyak pikiran ya..." Hans membelai rambut Dira lalu dia berjongkok di depan putranya yang kini sudah bangun dari pangkuan mamanya.
"Dengar sayang, sampai kapanpun Papa Hans dan Mama Dira adalah papa dan mamanya Hara. Tidak ada satu orang pun yang akan mengambil kami dari sisi Hara. Jadi Hara nggak perlu takut tentang hal itu.... oke?!" Hara mengangguk. "Dan papa yakin Tante Jessica itu cuma bercanda... nggak beneran mau ambil papa dari mama dan Hara. Lagian papa juga nggak akan mau, karna papa sayangnya kan sama mama dan Hara... Jadi Hara jangan nangis lagi ya..." Hara kembali mengangguk.
"Janji ya pa..."
"Iya sayang..." Hans memeluk putranya. "Sekarang Hara main sama Erik sana..." Hara menggeleng.
"Mau sama mama... nanti boboknya juga mau sama mama dan papa... Boleh kan?"
"Tentu saja boleh..."
Hans membuang nafas kasar, dia nggak habis pikir dengan ulah Jessica pada putranya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1