
FLASHBACK ON
"Sumpah demi Allah kak...saya tidak tau perginya Mbak Dira dan Bi Asih kemana... Bahkan saya malah tidak tau kalau Mbak Dira sudah pulang dari Malaysia" ucap Agni. "Waktu saya sampai ruko...ruko sudah sepi,Bi Asih sudah tidak ada... Waktu saya tanya sekuriti komplek, mereka bilang liat Mbak Dira dan Bi Asih pergi tergesa-gesa naik taksi sambil bawa-bawa koper. Saya hubungi nomer ponselnya nggak aktif,tapi dia meninggalkan surat ini untuk saya di meja makan dan menitipkan ini untuk disampaikan ke Kak Hans...." ucap Agni lagi sambil menyerahkan 'Blackcard' milik Hans dan sebuah kotak berisi semua perhiasan yang pernah diberikan Hans kepada Dira.
'Astaghfirullah haladziim...semarah itukah Dira padaku...Hingga semua barang yang pernah aku berikan dikembalikannya lagi padaku...' gumamnya dalam hati...
"Agni... Boleh aku tau isi suratnya?" tanya Hans.
"Boleh kak...ini..."
Hans pun segera membuka surat Agni dari istrinya itu.
Dear : Agni
Agni, maaf mbak nggak bisa menemuimu. Mbak Dira dan Bi Asih pamit ya... mungkin dalam waktu yang panjang kita tidak bisa bertemu dahulu.
Semua urusan ruko, mbak serahkan padamu. Soal uang penghasilan,kamu bisa langsung transfer ke rekening mbak setelah kamu potong semua biaya operasional ruko.
Selain itu,mbak juga mau minta tolong... Tolong kembalikan barang-barang ini kepada yang punya yaitu Mas Hans... sampaikan terimakasih Mbak Dira padanya karna pernah meminjamkan semua ini pada mbak dan sampaikan juga maaf Mbak Dira karna mbak tidak punya kesempatan untuk mengembalikannya sendiri kepadanya.
Tak lupa terimakasih untukmu karna selama ini kamu sudah banyak membantu mbak,dan maaf jika kedepannya mungkin mbak akan banyak merepotkanmu.
Salam sayang selalu
Dira
Hans terduduk lemas setelah selesai membaca surat Dira yang diberikan pada Agni.
"Agni... Ini suratnya dan untuk barang-barang ini,taruh saja di dalam kamar Dira setelah itu kunci pintunya, dan selanjutnya simpan baik-baik kuncinya..." titah Hans.
"Maaf kak, apa tidak sebaiknya kakak saja yang simpan kuncinya? Agni takut nanti kalau hilang bagaimana?"
"Dira sangat percaya padamu...itu pasti karna kamu orang yang bertanggung jawab dan bisa di percaya..." ucap Hans enteng. "Aku pulang dulu,kasih tau aku jika Dira menghubungimu..." titah Hans lagi.
"InsyaAllah kak..."
Hans pun kemudian pergi dengan perasaan yang tidak karuan.
__ADS_1
FLASHBACK OFF
🌹🌹🌹
Hans tampak kusut karna tiap malam tidak bisa tidur. Dia sengaja memilih kembali tinggal di apartemennya untuk menghindari banyaknya pertanyaan dari orang rumah, terutama kakek dan neneknya yang selama ini begitu menyayangi Dira.
Seminggu berlalu semenjak kepergian Dira dari sisi Hans, ternyata telah mampu merubah sifat dan sikap Hans selama ini. Hans yang selama ini di kenal sebagai seorang CEO yang ramah dan hangat...kini berubah menjadi CEO kebanyakan yang angkuh dan dingin. Hans sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari Dira tapi seminggu berlalu masih belum juga membuahkan hasil. Di sisi lain... hingga detik ini dia belum punya keberanian untuk memberitahukan peristiwa kepergian Dira kepada keluarganya maupun keluarga Dira. Yang mereka tau, pastinya Hans dan Dira baik-baik saja.
"Seminggu sudah berlalu,mau sampai kapan lu akan terus diam dan menyembunyikan hal yang sebenarnya kepada keluarga besar lu...?" tanya Alex suatu hari.
"Entah..."
"Mungkinkah Dira saat ini tinggal di rumah Bi Asih?" tanya Alex.
"Eh bisa jadi...tapi rumah Bi Asih di mana? Bi Asih itu kan bukan orang sini... dan jika kita ingin tau rumah Bi Asih, otomatis kita harus memberitahukan keadaan yang sebenarnya dulu kepada keluarga Dira... Aku masih belum menemukan cara untuk menyampaikan kejadian ini kepada keluarga Dira."
"Tunggu boss, gimana kalau kita ajak Tuan Prasetyo,mertua lu itu makan siang bareng... Dengan begitu hanya dia yang akan tau tentang kepergian Dira, walaupun resikonya lu pasti bakal dimarahi habis-habisan oleh Tuan Prasetyo... Tapi setidaknya jika hanya beliau yang tau, semua masih aman..."
"Ide bagus...! Masalah dimarahi itu urusan belakangan, kalo gitu aku akan kirim pesan sekarang juga." ucap Hans girang.
"Dasar menantu nggak sopan,lu dateng ke sana dong...masak mau ngajak makan siang mertua kok di kirimin WhatsApp... hadeehhh..."
"Hadeehh ampun deh boss...lu kemanain otak lu yang ber-IQ tinggi itu? Lu kan bisa pura-pura habis metting sama klien terus lewat kantor mertua lu,terus keinget ngajak makan siang bareng sambil ngobrol-ngobrol...gitu... Huuh...gitu aja kudu di kasih tau..." ucap Alex sambil tepuk jidat. Sementara Hans hanya tersenyum nyengir kuda.
Siang harinya,Hans benar-benar melakukan apa yang diusulkan oleh Alex kemarin. Sekitar pukul setengah satu, begitu selesai sholat dzuhur,Hans bergegas menuju ke kantor papa mertuanya yaitu Prasetyo.
"Hai Hans,papa tadi awalnya tidak percaya waktu di beritahu oleh sekretaris papa jika kamu di sini... Ada apa ini kok tumben? Apa ada yang bisa papa bantu?" tanya Prasetyo dengan ramah.
"Nggak ada apa-apa sih pa...tadi saya habis metting dengan klien terus pulangnya lewat sini... karena kebetulan saya belum makan siang lalu saya mampir, siapa tau papa juga belum makan siang. Saya pingin makan siang bareng papa... boleh kan pa?" ucap Hans berbasa-basi.
"Tentu saja boleh, kebetulan papa memang belum makan siang ni... Ayo kita mau makan di mana?" tanya Prasetyo penuh antusias. Hubungan antara keluarga Dira dan keluarga Hans memang semakin membaik semenjak Hans dan Dira menikah apalagi setelah Tuan Sasongko, kakek Hans mengajak umroh dan berlibur bersama. Sikap keluarga Dira kepada Dira pun juga semakin membaik.
🌹🌹🌹
Mobil sedan mewah yang ditumpangi Hans dan mertuanya memasuki sebuah restoran terkenal di ibukota.
"Sudah lama papa tidak makan di restoran ini...lama sekali, sepertinya semenjak mamanya Dira meninggal dunia. Dulu ini adalah restoran favorite Dewi. Baru kali ini lagi papa pergi makan di restoran ini,bersamamu. Apakah ini juga restoran favorite mu Hans...? Apa Dira pernah kamu ajak ke sini?"
__ADS_1
"Saya belum sempat mengajak Dira ke sini pa... mungkin lain waktu..."
"Ah ya...ya...kalo dia di ajak ke sini,pasti dia akan senang sekali. Dia paling suka iga bakar yang ada di restoran ini. Dulu...tiap makan iga bakar,pasti sampai belepotan kemana-mana karna dia tidak pernah mau disuapin mamanya..." kenang Prasetyo.
"Dira kecil pasti lucu ya pa?"
"Iya...lucu dan pinter..."
"Semoga buah hati kami nanti seperti mamanya..." ucap Hans tanpa sadar.
"Semoga...eh tapi ngomong-ngomong apa papa sudah akan mendapat cucu dari kalian?"
"InsyaAllah pa tapi...."
"Tapi apa Hans? Ada apa sebenarnya? Papa merasa sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan kepada papa..."
"Sebelumnya saya minta maaf pa, karena apa yang terjadi antara saya dan Dira adalah kesalahan saya... Memang benar pa, sebenarnya saya dan Dira memang sedang dalam masalah. Ada kesalahan fahaman yang membuat saat ini Dira meninggalkan saya pa... Dan sudah seminggu ini saya mencari Dira tidak ketemu pa... maafkan saya pa, saya tidak bisa menjaga Dira dengan baik..."
Hans pun pada akhirnya menceritakan semua yang terjadi antara dia dan Dira. Dia juga meminta agar papa mertuanya itu mau merahasiakan hal ini untuk sementara dari kakek dan neneknya. Di akhir ceritanya,Hans pun meminta alamat Bi Asih,karna menurut runtutan peristiwanya kemungkinan besar Dira pergi ke kampung halaman Bi Asih.
"Setau papa,Bi Asih itu orang Yogyakarta bagian utara sebab menurut ceritanya dulu,anak dan suaminya meninggal dunia saat terjadi erupsi Gunung Merapi. Tapi tepatnya di desa apa, papa tidak tau. Dewi... mamanya Dira yang pernah pergi ke sana,itu pun sebelum kami menikah... Jadi maaf,papa nggak bisa bantu... tapi jika kamu mau cari,coba carilah ke daerah sana..." ucap Prasetyo.
Hans tak bisa berkata-kata lagi... Kalau boleh memilih, dia nggak papa dimarahin habis-habisan tapi endingnya dia tau keberadaan istrinya daripada sekarang... Prasetyo memang tidak memarahinya tapi dia tidak mendapatkan petunjuk apa-apa tentang keberadaan Dira.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...