Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Akhirnya Dira Sadar Dari Koma


__ADS_3

'Cklek...'


Pintu ruang ICU tempat Dira di rawat terbuka,Sila masuk bersama Aditya yang kini telah menjadi calon suaminya.


"Assalamu'alaikum Dir... Gue ma Adit datang jenguk lu... Dir,lu kok jahat sih sama gue... Udah pergi nggak pamit, hampir setahun nggak ngabarin... eee... sekarang tau-tau ketemu dalam keadaan begini... Gue sedih tau... gue kangen sama lu... hiks hiks hiks...


Dir...bangun napa Dir... lu emang nggak kangen gue? Lu emang nggak capek tidur mlulu? Gue udah dua hari di sini, jauh-jauh gue ma Adit datang...malah di tinggal tidur..." Sila menggenggam tangan Dira lalu mengelus-elus punggung tangan Dira, sementara Adit mengusap bahu Sila untuk memberikan kekuatan. Tapi tiba-tiba saja timbul ide gila Sila buat memprovokasi Dira tentang Hans sebagai fisio terapi.


"Dir.. bangun dong...emang lu nggak pingin liat anak lu apa? Eh tau nggak Dir,anak lu itu ganteng banget... wajahnya mirip banget sama Kak Hans. Kalo sampai dia tau, pasti dia bahagia dan pastinya akan membawa anak lu pulang ke Jakarta. Nggak papa kan Dir kalo Kak Hans tau? Nggak papa juga kan kalo Kak Hans bawa pulang anak lu ke Jakarta? Toh lu nggak bisa ngerawat ini,lu kan males...udah dua hari cuma tidur aja... Jadi biar Kak Hans aja yang ngerawat anak lu, lagian dia pan bokapnya... Coba gue hubungi Kak Hans sekarang ya? Dia pasti seneng banget..." ucap Sila.


"Eh Sil,kamu apa-apaan sih? Dokter Haris memang menganjurkan kita buat tetap ngajak bicara Dira...tapi nggak memprovokasi juga dong..." Adit pun mencoba mengingatkan kekasihnya.


"Eh jangan salah ay...aku pernah baca di internet... ada sebuah artikel mengatakan bahwa cara memancing respon orang yang sedang koma itu tidak hanya dengan omongan yang baik-baik aja, tapi bisa juga dengan membicarakan orang yang tidak dia sukai atau orang yang selama ini membuat dia sakit hati. Ya memang kelihatannya memprovokasi tapi ini masuk kategori terapi..." jelas Sila yang sok tau...


"Iya deh iya... terserah kamu aja,asal jangan keterlaluan...kesian Dira nya..." ucap Adit.


"Ehem...ini ngingetinnya bukan karna masih cinta kan?" tanya Sila sedikit posesif.


"Astaghfirullah Sila... sempet-sempetnya kamu cemburu sama Dira, inget dia itu sahabat kita berdua... tidak hanya kamu, aku juga ingin dia segera sembuh biar bisa menyaksikan pernikahan kita nanti..." Adit geleng-geleng dibuatnya. "Aku keluar dulu aja deh...biar kamu lebih leluasa berbicara...biar kamu juga nggak punya pikiran yang macam-macam kalo aku tetap ada di sini..." ucap Aditya yang langsung melangkah keluar, dia sedikit kecewa dengan ucapan Sila barusan. Tapi baru saja Adit hendak membuka pintu ruang ICU, tangan kirinya di tahan oleh Sila. Dan nggak butuh waktu lama,Sila pun segera berdiri dan memeluk Aditya dari belakang.


"Ay, maafin aku...aku cuma becanda..." pinta Sila yang tau jika Aditya sedang merasa tersinggung oleh ledekannya.


"Candaanmu nggak tepat..." ucap Adit tanpa menoleh.


"Iya... makanya aku minta maaf...maafin ya..." ucap Sila merajuk.


"Kalian datang mau jenguk gue, apa mau pamer kemesraan sama gue?" suara parau Dira mengejutkan kedua sahabatnya yang sedang berpelukan. Sontak keduanya pun terkejut bukan kepalang mendengar suara itu dan tanpa menunggu lama keduanya segera mendekati ranjang Dira. Adit segera menekan tombol untuk memanggil dokter. Sementara Sila tersenyum sambil menangis haru melihat sahabatnya sudah bangun dari tidur panjangnya.


"Udah gue bilang dari dulu...lu jelek kalo mewek kayak gitu..." ucap Dira.


"Dira...hiks hiks hiks..." Sila segera menghambur memeluk Dira dan menghujani sahabatnya itu dengan ciuman berkali-kali sambil terus menangis haru. Sila berhenti menciumi Dira setelah dokter Haris datang untuk memeriksa keadaan Dira.


"Dokter Haris..." panggil Dira lirih masih dengan suara bak suara burung gagak karna dia habis tidur lama.


"Hai... sudah puas tidurnya?" tanya Haris dengan senyum manisnya. Dira membalas senyuman itu sambil mengangguk. "Aku periksa dulu ya..." Dira kembali mengangguk,lalu dokter Haris pun segera memeriksa keadaan Dira.


"Bagaimana keadaan Dira dok?" tanya Sila nggak sabaran.


"Dira?" Dokter Haris balik bertanya dengan sedikit heran.

__ADS_1


"Akh ya...kenalin dok...ini sahabat saya dari Jakarta dan itu calon suaminya. Kalau di Jakarta saya di panggil Dira..." jelas Dira sambil memperkenalkan kedua sahabatnya.


"Ooo...saya Haris yang membantu persalinan Nitha alias Dira kemarin... saya juga sahabat Nitha di sini..." ucap dokter Haris.


"Wah saya jadi ikut senang karna Dira eh Nitha sudah punya sahabat di sini... dokter lagi... Saya Sila dan ini calon suaminya saya..."


"Aditya..." ucap Adit sambil menjabat tangan Haris.


"Jadi ... bagaimana kondisi Nitha saat ini dok?" Sila mengulang pertanyaannya tadi


"Alhamdulillah...sejauh ini semuanya baik dan normal... Ini keajaiban, Nitha yang sudah dua hari dalam keadaan koma, bisa langsung membaik keadaannya... Mungkin ini semua terjadi karena kedatangan kalian berdua..." tutur Haris.


"Anak saya mana? Saya mau liat anak saya dok...dia baik-baik saja kan?" ucap Dira tiba-tiba dan langsung bangun dari tempat tidur.


"Eee...lu mau kemana?" Sila menahan Dira agar tidak turun dari tempat tidur.


"Kamu istirahat dulu...biarpun keadaanmu baik tapi kondisimu belum pulih benar..."


"Tapi saya mau liat anak saya dok..." rengek Dira.


"Biar suster yang bawa dia ke sini..." ucap Haris menenangkan Dira.


"Tentu saja...selain tampan, dia juga anak yang sehat dan kuat..."


"Alhamdulillah...Tapi susternya kok lama sih..."


"Mungkin sedang dimandiin...kan mau ketemu mamanya..."


"Sabar napa Dir..." celetuk Sila.


"Gue mau liat wajahnya Sil...gue mau peluk dia... Kok lama sih dok...saya ke sana aja ya..."


"Jangan ngeyel deh...lu aja belum pulih benar..."


"Sila mah... katanya kangen, tapi dari tadi bentakin gue mlulu deh..."


"Abis lu nya ngeyel sih.,." ucap Sila yang langsung memeluk Dira.


'Dira ternyata punya sisi manjanya juga jika sama orang terdekatnya...imut banget sih...jadi gemes liatnya..." gumam Haris dalam hati.

__ADS_1


"Na...tu anak lu Dir..." ucap Adit.


"Suster cepet bawa sini... Hai my baby boy..." sapa Dira pada bayinya. Dira menerima baby nya sambil berlinang air mata haru. Karna baru pertama kali Dira memegang baby maka dia sedikit kerepotan. Dan melihat Dira seperti kerepotan, dengan sigap dokter Haris segera membantu selayaknya suami siaga. Haris juga tanpa rasa canggung mengusap air mata Dira dengan tisu dan Dira pun seolah tidak peduli karna dia begitu antusias menimang putranya.


Sila dan Adit sampai terbengong-bengong melihatnya. Tapi kemudian dengan tiba-tiba Sila memperlihatkan rasa tidak sukanya karena melihat adegan itu.


"Eh maaf dok, apa dokter sudah selesai tugas ya...kok malah di sini terus..." ucap Sila ketus.


"Silaa..." panggil Aditya dengan lembut sekedar mengingatkan kekasihnya. "Maafkan kekasih saya dok, dia kalo ngomong suka rem blong...he he he..." ucap Adit lagi...


"Akh nggak papa... terimakasih udah diingetin, ini memang sudah waktunya saya tugas di poli...he he he... Kalo gitu saya permisi dulu..." pamit Haris tenang tanpa marah ataupun tersinggung.


"Lu kenapa sih Sil... nggak sopan tau cara ngomong lu tadi... dokter Haris kan cuma bantu gue..." bela Dira.


"Jangan bilang lu mulai tertarik dengan dokter Haris...ingat ya...lu masih menjadi istri sahnya Kak Hans..."


"Hei... dokter Haris sahabat gue,hanya sebatas sahabat... nggak lebih... Dan tanpa lu ingetin gue masih tau kalo gue masih punya suami. Walaupun suami gue udah nggak nganggep gue ada..."


"Lu..." Adit menahan Sila melanjutkan ucapannya...dan Sila pun menurutinya.



Dokter Haris


.


.


.


.


.


.


.


Lanjut...

__ADS_1


__ADS_2