Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Ternyata Kakek


__ADS_3

Angel keluar dari kantor polisi dengan perasaan sedih dan hancur. Matanya sembam seperti orang yang kelamaan menangis. Dia tidak pernah menyangka segitu marahnya Damar ketika mengetahui jika Angel telah menampar Dira. Kata-kata yang Damar ucapkan pada Angel pun begitu menyakitkan hati Angel,seolah selama ini tidak pernah ada cinta di hati Damar untuk Angel.


'Apa sebenarnya yang ada dipikiran Kak Damar saat ini? Apakah dia masih mencintai Kak Dira? Kenapa dia masih saja membela Kak Dira yang jelas-jelas sudah memenjarakannya? Bahkan dia malah memarahiku habis-habisan ketika dia tau dari orangtuanya jika aku telah menampar Kak Dira. Padahal aku hanya membelanya...tapi...Kak Damar telah membuatku kecewa...' ucap Angel sedih di dalam hati.


Angel melangkah gontai menuju mobilnya,kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman kantor polisi itu dengan perasaan kacau.


🌹🌹🌹


Rumah Keluarga Sasongko.


Hans memarkir mobilnya sembarangan sesaat setelah satpam di rumah besar itu membukakan pintu gerbang. Dengan langkah panjang dia pun segera masuk tanpa salam ke dalam rumah itu.


"Kakek...nenek..." teriaknya memanggil kakek dan neneknya. Suaranya yang lantang sampai menggema di seluruh sudut rumah besar itu.


"Mana kakek dan nenek?" tanya Hans pada salah satu asisten rumah tangganya.


"Tu...tuan besar pergi dengan asistennya,ka..kalau nyonya besar ada di kebun anggreknya tuan muda..." jawab Lasmi sedikit ketakutan.


Hans pun segera melangkah menuju kebun belakang rumah keluarga Sasongko Saputra itu. Dan benar saja,dari kejauhan tampak neneknya...seorang wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang sudah tidak muda lagi. Beliau tampak asik merawat bunga-bunga anggrek kesayangannya.


"Nenek..." teriak Hans sambil mendekat.


Wanita yang masih cantik di usia 70 tahunan itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Masih ingat jalan ke sini kamu rupanya Hans? Mana salammu Hans?" tegur Amirah pada cucunya.


"Tentu saja masih dong nek...he he he...Assalamu'alaikum..." ucap Hans sambil memeluk neneknya dari belakang lalu mencium pucuk kepala neneknya.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Amirah sambil tersenyum.


Hans pun lalu mengambil alat berkebun yang di pegang neneknya dan meletakkannya di meja.


"Berkebunnya nanti lagi ya...Hans mau bicara serius sama nenek..."


Hans membantu membereskan peralatan berkebun neneknya,kemudian dia pun membantu neneknya melepaskan sarung tangan yang masih di pakai neneknya itu.


Setelah itu kemudian Hans memapah neneknya untuk di ajak duduk di teras belakang rumahnya.


"Nek..." Hans seperti ragu-ragu untuk menanyakan pertanyaan yang ingin sekali ditanyakannya.

__ADS_1


"Apa? Kamu ini lama nggak pulang,pulang-pulang selalu mengganggu kesenangan nenek..." gerutu Nenek Amirah.


Hans hanya nyengir kuda...merangkul neneknya lalu mencium pipi neneknya.


Setelah kehilangan kedua orangtuanya sekaligus ketika dia masih remaja,memang membuat Hans dan Hanna adiknya yang waktu itu baru saja lahir begitu dekat dengan kakek neneknya. Hans sangat menyayangi neneknya,seumur hidupnya dia selalu menjadi anak yang patuh kepada kakek dan neneknya. Hans tidak pernah membantah apalagi menyakiti hati mereka. Maka dari itu Hans tau betul,jika pertanyaan yang akan ditanyakan pada neneknya itu sudah pasti akan melukai perasaan Amirah. Karena walaupun mereka sudah tidak muda lagi tapi selama ini,sepengelihatan Hans kakeknya begitu menyayangi neneknya,begitu pun sebaliknya. Dan berita tentang pinangan Kakek Sasongko kepada Dira,pasti akan terasa begitu menyakitkan bagi neneknya.


"Kamu ini mau tanya apa Hans? Kok malah melamun lho..." ucap Amirah membuyarkan lamunan cucunya.


Bukannya menjawab,Hans malah merebahkan tubuhnya dengan kepala yang berada di pangkuan neneknya. Amarah menggebu-gebu yang dia bawa dari rumah sakit tadi,luruh semua setelah melihat wajah neneknya yang selalu menyejukkan hatinya.


"Kamu itu sudah dewasa Hans,bahkan kamu ini udah om-om...tapi kok tingkahmu kok masih kayak anak kecil. Kamu lagi jatuh cinta ya? Siapa dia? Siapa namanya? Rumahnya dimana dan anak siapa?" tanya Amirah dengan penuh semangat.


"Ish...apaan sih nek...?!"


"Hans...sejak kepergian kedua orangtuamu 17 tahun yang lalu,nenek yang selalu disisimu. Bahkan ketika mamamu masih hidup pun,kamu tidak pernah lepas dari pengawasan nenek. Makanya nenek hafal betul kebiasaan dan tingkah lakumu..."


"Idih nenek sok tau ah..." jawab Hans sambil memainkan ponselnya.


"Ha ha ha...sok tau dari mana? Beberapa tahun yang lalu,saat kamu SMA dan jatuh cinta untuk pertama kalinya,tingkah kamu juga seperti ini... Waktu itu dari pertama bertemu cewekmu aja nenek sudah tidak suka tapi demi kebahagiaanmu,nenek pun terpaksa mengiyakannya. Dan sekarang kenyataannya...walaupun kalian sanggup bertahan berhubungan begitu lama,tapi pada kenyataannya...cewekmu itu tak lebih dari seorang cewek yang mata duitan..."


"Ih jangan diungkit-ungkit lagi cerita itu napa nek..." ucap Hans merajuk seperti anak kecil.


"Apa benar tebakan nenek,jika kamu saat ini sedang jatuh cinta,Hans?" lanjut Amirah.


Hans bangun dari rebahannya...


"Iya...tapi...cinta Hans sepertinya bertepuk sebelah tangan. Semuanya menjadi rumit karna pertemuan kami berawal dari sebuah kesalahan. Tepatnya itu kesalahan Hans..."


"Akh...nenekmu ini sudah tua Hans...ceritakan semua dengan rinci semuanya pada nenek,jangan berbelit-belit..." titah Amirah.


Hans pun menceritakan masalah percintaannya yang begitu rumit pada neneknya secara terinci hingga tak terlewatkan satu peristiwa pun. Dari mulai awal pertemuannya sampai ketika Dira menolak pertanggungjawaban darinya,termasuk ketika Dira lebih memilih pinangan seorang pengusaha tua di banding pinangannya.


"Ha ha ha...kau kalah dengan pesona pengusaha tua itu?"


Hans diam saja ketika dia ditertawakan oleh Amirah,neneknya.


"Apa nenek tau siapa pengusaha tua yang meminang Dira itu...?" tanya Hans dengan nada kesal karna telah ditertawakan oleh neneknya.


"Memangnya siapa orang itu?" tanya Amirah cuek. Hans tertunduk,lalu menarik nafas pelan.

__ADS_1


"Dia adalah kakek..." ucap Hans lirih nyaris tidak terdengar.


Dia sangat berhati-hati karna takut neneknya terkejut mendengar suaminya meminang seorang gadis. Tapi di luar dugaan justru Hans yang di buat bingung melihat reaksi neneknya yang tetap saja masih tertawa seperti tadi tanpa ada rasa sedih,marah ataupun terkejut sedikit pun.


"Nenek tidak terkejut ataupun marah mendengar pengusaha tua itu kakek?"


Amirah menggeleng sambil memelankan suara tawanya.


"Kamu syock karna baru kali ini kamu di tolak cewek kan Hans? Karna biasanya kamu yang akan dikejar-kejar oleh mereka. Dan yang bikin kamu lebih syock lagi karna ternyata pesonamu kalah dengan pesona kakekmu...ha ha ha..."


Amirah kembali menertawakan cucunya.


"Nenek tidak marah dikhianati kakek? Nenek nggak sedih mendengar kakek meminang seorang wanita?"


Amirah menggelengkan kepalanya untuk kesekian kalinya demi menjawab pertanyaan cucu kesayangannya itu.


"Tapi kenapa nek? Kakek sudah mengkhianati kita...kenapa nenek diam saja. Dan setelah nenek tau bahwa wanita yang akan di pinang kakek itu wanita yang Hans suka,apa nenek juga masih akan diam saja?"


Amirah mengangguk sambil tersenyum.


"Gila...!!! Apa nenek sudah tidak menyayangi kakek dan menyayangi Hans lagi...? Ayolah nek,berbuat sesuatu...cegah niat kakek untuk meminang Dira...Hans sangat mencintai Dira nek,Hans nggak mau kehilangan Dira. Kalau sampai kakek tetap menikah dengan Dira,Hans tidak akan menikah seumur hidup dengan wanita manapun..." ucap Hans yang hendak beranjak pergi karna terlalu kesal dengan sikap neneknya tapi tangannya di tahan oleh Amirah.


"Kalau kau laki-laki...rebut dong Dira dari kakekmu..." ucap Amirah sambil tersenyum.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2