
Angel langsung menyambangi Dira yang berdiri di teras rumahnya.
"Kak Dira... gue butuh bicara berdua sama lu..." ucap Angel tanpa basa-basi.
"Masuklah dulu..."
"Kita ngobrol di gazebo sana aja..." ucap Angel sambil berjalan menuju gazebo tanpa menunggu persetujuan Dira.
"Mau bicara soal apa...? Segitu pentingkah hingga pagi-pagi begini kamu datang sendirian ke sini..."
"Bicara soal Kak Damar..."
"Bicara soal Damar? Kamu nggak salah bicara soal Damar sama aku?" Dira memberikan air mineral dari lemari pendingin yang tersedia di gazebo kepada adiknya..." Minumlah dulu..." Angel pun menerimanya lalu meminum air mineral itu.
"Tidak ada yang salah, karena setiap masalah yang terjadi antara gue dan laki gue selalu ada hubungannya sama elu..."
"Angel... kakak sudah lama tidak pernah berhubungan dengan suamimu.,. Jauuuh sebelum kalian menikah. Kakak sudah memutus hubungan yang pernah terjadi di antara kami, begitu Kak Dira tau dia menjalin hubungan dengan kamu... Jadi jika ada masalah apapun yang terjadi di antara kalian, pastinya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Kak Dira..."
"Tapi masalah ini jelas berhubungan dengan lu kak..."
"Masalah apa lagi?"
"Lu hari ini ulang tahun kan?"
"Iya... lalu...?"
"Lu pasti sudah bertemu dengan Kak Damar dan sudah terima kado dari Kak Damar kan?"
"Kado? Kado apa? Sudah ku bilang dek, aku terakhir bertemu dengan dia ya saat dia datang ke sini bersamamu dan juga papa mami..."
"Jangan coba-coba bohong kak, kemarin sore dia pergi menemui elu kan? Orang suruhan gue mengatakan Kak Damar datang ke rumah ini. Ngaku aja deh, daripada nanti gue laporin ke Kak Hans suami kakak... Gue yakin dia pasti marah besar jika tau istrinya tercinta diam-diam bertemu dengan mantan pacarnya... bahkan menerima kado ulang tahun dari mantan pacarnya itu..."
"Demi Allah demi Rasulullah, Kak Dira tidak bertemu dengan suamimu... apalagi menerima kado dari suamimu itu. Lagian apa sih isi kado itu, sampai-sampai kamu yang sedang dalam kondisi hamil besar seperti ini menyempatkan datang ke rumah kakak pagi-pagi...?"
"Nih gambar isi kado itu... ini pin impian kakak kan...? Lebih tepatnya impian kalian berdua dulu kan?"
Dira melihat sketsa pin yang pernah dia gambar tujuh tahun yang lalu. Ingatannya pun seperti di tarik ke masa lalu ketika dia masih berhubungan dengan Damar.
FLASH BACK ON
__ADS_1
"Sayang coba liat gambar pin yang ku buat...bagus tidak?" ucap Dira suatu ketika kepada Damar. Dira menunjukkan gambar sebuah pin dengan bentuk hati dan terdapat inisial nama mereka berdua ditengahnya.
"Cantik sekali sayang... seperti yang menggambar..he he he..." goda Damar.
"Gombal...dasar perayu... Oya sayang... gimana kalo kita nabung untuk mewujudkan gambar ini? Kalo sudah jadi, aku ingin pin ini sebagai salah satu seserahan di pernikahan kita nanti..."
"Sayang... kamu tau nggak sih, kalo yang namanya seserahan itu adalah hadiah dari pengantin pria kepada pengantin wanita. Apa kata orang kalo seserahan yang ku berikan untukmu hasil dari patungan... Malu-maluin aja..." ucap Damar sambil mengusap rambut Dira yang panjang dan hitam legam itu.
"Iya Dira tau... tapi asal kita diam, kan nggak bakalan ada yang tau... Lagi pula aku tuh ingin di tengah sini sama di pinggir sini diberi deretan berlian asli... kan berlian itu sebagai simbol abadinya cinta kita sayang... Tapi berlian itu kan mahal, makanya aku ingin kita patungan buat mewujudkan impianku itu..."
"Sayang, aku ini laki-laki... aku pasti akan berusaha mewujudkan impianmu itu seorang sendiri, tanpa bantuan orang lain, apalagi bantuanmu... Tapi seandainya tidak bisa terwujud saat kita menikah nanti, tidak apa-apa kan?" Dira mengangguk sambil tersenyum.
"Terimakasih..."
FLASH BACK OFF
"Kakak sudah ingat kan sekarang?" Dira terdiam..."Asal kakak tau... demi mewujudkan janji Kak Damar kepada Kak Dira, Kak Damar telah menghabiskan uang sebesar seratus juta, untuk pembuatan pin impian kakak itu... Seratus juta itu uang yang sangat besar bagi kami kak, apalagi sebentar lagi gue akan lahiran dan uang itu sangat gue butuhin buat persalinan gue nanti..." Angel diam sesaat... "Makanya gue butuh pin itu untuk gue jual lagi, sebagai persiapan persalinan gue nanti. Jadi gue mohon... tolong kembalikan pin itu sama gue, toh pin itu sudah tidak ada manfaatnya lagi untuk kakak kan?"
"Aku memang sudah tidak butuh pin itu, tapi demi Allah, aku tidak pernah menerima kado itu dek... Apalagi sore kemarin kebetulan aku juga tidak ada di rumah, aku sedang di rumah sakit bersama suamiku... Jadi apa yang harus aku kembalikan?"
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Bi Asih berjalan mendatangi mereka dengan membawa sesuatu.
"Bi Asih mau kemana? " tanya Hans yang baru saja keluar dari ruang kerjanya..."Emm... dan itu yang Bi Asih sembunyikan itu apa?" tanya Hans lagi.
"Ini...ini... ini kado ulang tahun Neng Dira tuan?" jawab Bi Asih gugup.
"Kado dari Bi Asih?"
"Bukan tuan... ini kado dari Den Damar yang sedang ditanyakan oleh Non Angel..."
"Maksudnya? Tolong Bi Asih ceritakan dulu kepada saya sebelum Bi Asih keluar menemui mereka..."
"Ta... tapi tuan janji jangan marah kepada Neng Dira ya... Kalau pun tuan marah, marahlah kepada saya saja..."
"Cerita saja... saya tidak akan marah kepada siapa-siapa... saya janji bi..." Hans berusaha meyakinkan wanita tua yang selama ini selalu setia mendampingi istrinya itu. Setelah Bi Asih yakin dengan ucapan tuannya, Bi Asih pun mulai bercerita, jika ketika Hans dan Dira belum pulang, Damar datang ke sini bermaksud ingin bertemu dengan Dira untuk mengucapkan sekalian memberikan kado ulang tahun darinya. Sayangnya Dira tidak di tempat, makanya kemudian Damar menitipkan kado itu padanya. Damar juga mengatakan jika kado ini sangat istimewa bagi Dira jadi Bi Asih harus memberikannya langsung kepada Dira.
"Kenapa Bi Asih tidak memberikan kado itu kepada Dira? Apa Bi Asih di beri tau apa isi kado ini?" Bi Asih mengangguk.
"Saya yakin Neng Dira sudah tidak peduli dengan isi kado ini biarpun menurut Den Damar harganya sangat mahal, tapi alasan saya tidak memberikan kado ini karena saya tidak ingin kado ini akan memicu pertengkaran antara tuan dan Neng Dira. Percayalah tuan, Neng Dira sekarang sudah sangat mencintai tuan, walaupun mereka sebelumnya lama berhubungan tapi saya berani menjamin jika cinta Neng Dira hanya untuk tuan..." Bi Asih terus berusaha meyakinkan tuannya, membuat Hans tersenyum melihat usahanya itu.
__ADS_1
"Saya tau bi, Bi Asih tidak usah khawatir... Saya pun begitu mencintai Dira, Dira dan anak-anak adalah nyawa saya..."
"Terimakasih tuan..." Air mata haru Bi Asih pun tak bisa dibendungnya lagi.
"Sudahlah sekarang Bi Asih pergilah temui Dira dan Angel... saya akan memantau dari dalam rumah saja sebab sejak tadi sebenarnya saya juga telah memantau mereka dari ruang kerja saya..." ucap Hans sambil mengusap bahu wanita tua itu. Bi Asih tersenyum lalu mengangguk hormat kepada tuannya itu.
Bi Asih sudah berada di depan gazebo ketika Angel terlihat mendesak Dira untuk mengembalikan kado itu.
"Maaf Non Angel... Bi Asih menyela... Neng Dira kemarin memang tidak bertemu dengan Den Damar..."
"Atas dasar apa Bi Asih bicara begitu? Bi Asih mau melindungi Kak Dira?"
"Bukan begitu non, tapi memang kemarin yang bertemu dan dititipin oleh Den Damar kado adalah Bi Asih..." Angel melirik sinis ke arah Bi Asih. Dilihatnya Bi Asih dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi pada akhirnya mata Angel fokus kepada benda yang ada di tangan Bi Asih.
"Oya... Hmm... apa kado yang di tangan Bi Asih itu kado dari suami saya?" tanya Angel dengan menekankan kata 'suami saya' di depan kakaknya. Sementara Dira hanya diam saja, tidak memberi respon sedikit pun.
"Iya non, ini kado dari Den Damar. Masih utuh... belum di buka, karena kado ini pun belum saya sampaikan kepada Neng Dira..."
Angel pun langsung menyambar kado yang berada di tangan Bi Asih tanpa menunggu Bi Asih menyerahkannya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Terimakasih untuk yang masih setia menunggu kelanjutan cerita Author ini
Ayo dong tinggalkan jejakmu lewat like,komen, vote N giftmu...
__ADS_1
Ditunggu ya.... Terimakasih...😘😘😘