Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Draf Perjanjian


__ADS_3

Hans menatap lekat wajah Dira yang tengah memandang ke luar jendela ruang santai di lantai 2 itu.


"Dira...maafkan jika mas terlalu memaksamu. Semua ini mungkin karna mas begitu mengharapkanmu..."


Hans terdiam sesaat...


"Lalu apa langkahmu selanjutnya? Oya Dira...apakah penantian mas selama 3 hari ini sudah kamu dapatkan jawabannya?" tanya Hans.


Dira melihat ke arah Hans lalu mengangguk pelan. Binar bahagia penuh harap seketika tergambar di wajah Hans.


"Mas boleh tau jawabannya sekarang?" tanya Hans hati-hati. Dira kembali mengangguk.


"Setelah Dira bermunajat meminta petunjuk Allah selama 3 hari ini,Dira memutuskan untuk menerima pinangan Mas Hans..."


"Serius? Alhamdulillah..."


"Tapi tunggu dulu,jangan terlalu senang dulu..."


"Apa lagi? Apa ada syarat yang harus aku penuhi?"


"Tentu saja..."


"Katakan apa syaratnya...apapun itu asal kamu setuju menjadi istriku,InsyaAlloh aku akan berusaha untuk menjalaninya semampuku..."


Dira mengeluarkan secarik kertas yang rupanya telah dia persiapkan sebelumnya.


"Apa ini? Apa kamu mau kita hanya menikah kontrak? Dira...aku ingin kita menikah sekali untuk selamanya,bukan...bukan sebuah pernikahan kontrak. Aku mencintaimu dengan tulus Dira...kenapa...kenapa harus ada seperti ini?"


'Ya Allah apakah aku keterlaluan jika mengajukan syarat-syarat ini padanya? Lihatlah Mas Hans tiba-tiba menjadi gugup dan terlihat panik tapi kenapa kepanikannya itu justru membuat dia terlihat menggemaskan...hi hi hi...' gumam Dira sambil tertawa geli dalam hatinya.


"Mas baca dulu drafnya,baru mas bisa membuat kesimpulan. Saya menulis ini hanya untuk berjaga-jaga dan melindungi diri saya sendiri saja,sebab bagaimanapun juga saya belum begitu mengenal Mas Hans secara pribadi. Perkenalan dan kedekatan kita pun belum begitu lama jadi...pastinya akan ada banyak sifat yang belum muncul yang belum saya ketahui,begitu pun mas terhadap saya..."


Tak menunggu ucapan Dira selanjutnya dan tak butuh banyak bicara lagi,Hans pun segera mengambil selembar kertas itu dari tangan Dira. Hans membaca draf perjanjian itu dengan seksama.


'1. Harus merahasiakan pernikahan dan tidak mengadakan pesta pernikahan, 2. Boleh tidur sekamar tapi tidak tidur seranjang dan tidak melakukan hubungan intim sampai selesai wisuda, 3. Harus saling percaya dan memberi kebebasan pada pasangan dalam kurun waktu tertentu,setidaknya sampai selesai wisuda seperti poin nomer 2, 4. Selalu menjaga keharmonisan di depan keluarga, 5. Di larang memberi peluang masuknya pihak ketiga.

__ADS_1


Apa-apaan ini? Tapi kalau aku tidak mengabulkannya,aku takut dia akan pergi dari sisiku...dan aku nggak mau itu terjadi. Apapun syaratnya,setidaknya ini cuma sampai dia selesai wisuda. Selanjutnya pastinya kami akan menjadi pasangan normal yang sempurna...' gumam Hans dalam hati.


"Perjanjian ini berlaku hanya sampai kamu selesai wisuda aja kan?"


"InsyaAllah..."


"Kalau begitu,aku menyetujuinya..."


"Silahkan mas tanda tangan di atas materai..."


"Ini hanya perjanjian di antara kita kan? Ini juga bukan kawin kontrak kan? Kenapa harus pake tanda tangan di atas materai segala? Bukankah perjanjian ini juga hanya berlaku sampai kamu selesai wisuda saja?"


"Iya...memang benar semua yang mas bilang,tapi perjanjian tetaplah perjanjian...mau sebulan,dua bulan,tiga bulan atau pun bertaun taun lamanya saya ingin ini menjadi sebuah perjanjian yang sah dan harus ditepati,tanda tangan di atas materai itu hanya supaya perjanjian ini kuat,sehingga tidak akan ada itikad untuk melanggarnya..."


Hans membuang nafas kasar.


"Huuhhf...oke deh,terserah saja apa maumu..."


Hans mengambil pulpen yang disodorkan oleh Dira lalu membubuhkan tanda tangannya di atas materai sesuai keinginan Dira.


🌹🌹🌹


Kediaman Keluarga Sasongko Saputra


Keluarga Hans berkumpul di ruang tengah sehabis makan malam bersama. Kakek Sasongko Saputra,Nenek Amirah,Anita tante Hans dan Hanna adik Hans.


Hans menceritakan kesepakatan yang sudah di capai dengan Dira. Hans juga menyampaikan bahwa mereka berdua tidak ingin mengadakan pesta pernikahan mewah dan lebih memilih pernikahan sederhana antar keluarga dan teman terdekat saja. Belum lagi Hans mengatakan alasannya,Anita sang tante sudah memotong omongan Hans karna merasa keberatan dengan pernikahan sederhana yang Hans dan Dira inginkan.


"Apa??? Yang benar saja Hans...! Pernikahanmu adalah pernikahan seorang ceo perusahaan terbesar di kota ini Hans bukan pernikahan orang biasa...kamu punya banyak rekan bisnis dan juga relasi bisnis yang harus di undang. Pernikahanmu sudah seharusnya menjadi pernikahan terbesar dan termewah di kota ini,tapi kenapa hanya akan di gelar secara rahasia dan sederhana? Ada apa sih dengan perempuan ini...sok amat... Dimana-mana seorang wanita itu selalu memimpikan sebuah pernikahan yang megah dan mewah. Apalagi dia bakal menikah dengan seorang pewaris tunggal 'SS' Grup,harusnya dia bangga akan hal itu... Jangan-jangan dia cuma pura-pura sederhana tapi sebenarnya dia akan mengeruk kekayaanmu pelan-pelan..." ucap Anita.


"Diam kamu Anita...Mama rasa sudah cukup kamu berbicara..." hardik Amirah.


"Tapi maaa..."


"Kamu sudah berbicara panjang lebar,memotong penjelasan Hans sementara Hans belum selesai mengutarakan alasannya...Sudah umur tapi tidak tau etika kesopanan... Lanjutkan penjelasanmu Hans"

__ADS_1


"Iya nek..."


Hans kemudian menjelaskan alasan kenapa Dira meminta pernikahan mereka di gelar secara rahasia dan sederhana. Pertama karna Dira masih belum menyelesaikan kuliahnya hingga menjadi sarjana,keduanya Dira tidak mau akan ada rumor menyeruak bahwa ayahnya telah menjual Dira pada Hans demi keberlangsungan perusahaannya,Dira juga tidak mau jika rumor itu akan mempengaruhi nama baik keluarga Sasongko Saputra dan yang ketiga karena mereka belum lama dekat jadi mereka masih butuh banyak penyesuaian.


Anita sudah akan angkat bicara lagi tapi Amirah meletakan jari telunjuknya pada bibir memberi kode untuk diam karna Sasongko hendak berbicara.


"Dira memang anak yang baik dan pintar,dia tidak silau dengan harta kekayaan yang kita miliki. Dia cukup cerdas untuk mengetahui situasi dan posisinya. Kau tidak salah pilih Hans,kakek dan nenek mendukungmu...seminggu lagi kakek kan datang melamarnya untukmu..."


"Halah jangan langsung percaya begitu saja dong pa...siapa tau Dira ini tak beda dari Jessika dulu...Dia pura-pura lugu dan polos tapi dibalik semua itu,tante yakin dia hanya mengincar kekayaanmu..."


"Jangan ungkit masa lalu lagi tan dan jangan pernah bandingkan Dira dengan Jessica karna sifat Dira tidak seburuk sifat Jessica..." bela Hans.


"Yah semoga saja...tapi menurut tante,kamu itu terlalu baik dan terlalu polos dalam urusan wanita. Jadi kamu gampang di tipu dan dimanfaatkaan..."


"Cukup Anita jangan suka menganggap bahwa semua wanita itu matre seperti kamu,memandang segala sesuatu hanya dari materi saja. Perlu kamu tau,mama dulu juga bukan datang dari keluarga kaya,sampai papamu yang anak seorang konglomerat mau mempersunting mama. Jadi jika kau terus-terusan bersikap seperti itu,sama saja kamu telah menghina mama kandungmu sendiri..."


"Mama kok gitu...ma,maafin Anita ma..."


Amirah tak menghiraukan ucapan anaknya,dia kemudian pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya sambil menangis.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2