
"Diraaa..." suara Hans menggema di seluruh ruangan. Dia tidak peduli jika suaranya akan terdengar oleh semua orang, walaupun beberapa menit yang lalu Hans menginginkan istrinya untuk tidak berteriak. Karena yang Hans rasakan saat ini adalah rasa cemas dan rasa takut... takut terjadi sesuatu pada istrinya. Hans segera mengangkat tubuh Dira ke kursi tamu.
"Bi... Bi Asih..." berulang Hans memanggil nama Bi Asih tapi sosok wanita tua pengasuh Dira itu tidak juga segera muncul. Namun bukannya Bi Asih yang datang tapi malah seorang laki-laki tiba-tiba masuk begitu saja dari pintu depan.
"Astaghfirullah Nitha..." teriaknya cemas seperti apa yang dirasakan Hans saat ini. Dia pun mendekati Dira tanpa menghiraukan keberadaan Hans di situ. Dan ketika tangannya hendak memegang tubuh Dira,Hans pun langsung mencegahnya.
"Stop...! Anda siapa dan mau apa?"
"Saya dokter Haris sahabat Nitha dan saat ini tentunya saya akan mengangkat tubuh Nitha untuk saya bawa ke mobil. Dia terkena serangan jantung dan harus segera di bawa ke rumah sakit sekarang juga..." jawab Haris.
"Serangan jantung? Biar saya saja yang angkat dia, saya suaminya..." ucap Hans yang langsung mengangkat tubuh istrinya.
"Pakai mobil saya saja yang sudah di luar,biar cepat..." Haris segera membuka pintu mobilnya agar Hans bisa membawa Dira masuk.
Selang beberapa menit setelah Hans dan Haris membawa Dira ke rumah sakit, Bi Asih datang bersama Hara. Rupanya tadi Bi Asih sengaja membawa pergi Hara membeli sarapan agar Dira dan Hans lebih leluasa berbicara.
"Assalamu'alaikum...kok sepi nek...?"
"Eh iya... pada kemana ya...?"
"Tapi mobil papa masih ada nek..."
"Iya... Assalamu'alaikum...neng... tuan? Sepi..."
Ketika Bi Asih sedang mengecek keberadaan Dira dan Hans, tiba-tiba ada suara seseorang laki-laki mengucap salam.
"Assalamu'alaikum...budhe..."
"Wa'alaikumsalam...eh kamu Ton? Tumben, ada apa Ton?" Rupanya Tono si tukang sayur ysng datang.
"Tadi saya lihat Mbak Nitha di gendong sama laki-laki ganteng masuk ke mobil pak dokter... Memangnya Neng Nitha kenapa budhe? Dan laki-laki ganteng itu siapa?"
"Walah yang benar Ton? Budhe malah nggak tahu Ton... Budhe sama Hara ini baru saja nyampe, habis beli bubur ayam di gang depan sana... Pas budhe masuk, pantesan rumah kok kosong nggak ada orang... Waduh Neng Nitha kenapa yo...?" gumam Bi Asih.
"Terus laki-laki itu siapa budhe?"
"Dia suaminya Neng Nitha... papanya Hara"
__ADS_1
"Ooo... pantesan ganteng..." Tono pun manggut-manggut mengerti.
"Neneeek...mama sama papa nggak ada...Hara mau mama sama papa nek..."
Tono mendekati Hara lalu berjongkok didepannya.
"Hai boss...mama lagi di bawa ke rumah sakit sama om dokter dan papanya boss kecil ..."
"Memang Om Tono tau,mama sakit apa?"
"Om Tono nggak tau pasti sih, tapi mungkin mama hanya kecapean...kan kemarin baru saja banyak kegiatan...boss kecil jangan kuatir, kan mama udah sama om dokter dan papanya boss kecil..."
"Panggil Hara saja Om Tono... Hara kan bukan boss...Hara nggak suka di panggil boss..."
"Oke-oke...bo...eh Hara..." ucap Tono sambil berdiri.
"Terus Hara pergi ke sekolahnya gimana nek.,. padahal kan mau di antar sama papa..."
"Sama nenek dong... papa kan lagi nemenin mama periksa... Makanya sekarang kita sarapan terus berangkat sekolah ya... siapa tau nanti pulangnya bisa dijemput mama sama papa..."
"Iya deh..." ucap Hara dengan wajah kecewa, setelah dia diam beberapa saat.
Begitu sampai di sebuah rumah sakit, Dira sudah di sambut oleh para perawat yang telah siap dengan membawa branker rumah sakit. Dengan sigap mereka pun lalu membawa Dira menuju ruang IGD.
"Maaf anda tunggu di sini saja, biar kami yang menangani..." ucap Haris menahan Hans masuk. Hans sebenarnya ingin menunggui Dira, tapi dia terpaksa menuruti perintah Haris karena prosedurnya memang seperti itu.
FLASH BACK ON
HANS POV
Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba melihat laki-laki yang mengaku sahabat istriku, bernama Haris itu masuk begitu saja ke rumah Bi Asih. Sepertinya dia sudah sangat terbiasa keluar masuk di rumah Bi Asih, membuat aku jadi penasaran, sebenarnya ada hubungan apa antara Dira dengan laki-laki yang bernama Haris ini, apakah betul hanya sebatas sahabat? Beberapa kali diam-diam ku perhatikan wajahnya dari pantulan cermin kaca sepion mobil, dan di sana kudapati raut wajah yang begitu khawatir, seolah menggambarkan jika dia sedang mencemaskan belahan jiwanya. Aku tiba-tiba jadi teringat laki-laki yang kemarin aku lihat lewat ponsel Hanna, ketika aku meminta Hanna mengarahkan ponselnya ke tempat Dira berada. Ah ya, aku baru ingat... jika laki-laki ini adalah laki-laki yang waktu itu ikut mendengarkan cerita Hara bersama Dira.
Mengingat kejadian itu, membuat rasa cemburu kini mulai memenuhi relung hatiku, aku pun kemudian mendekap erat tubuh Dira yang kini berada dalam pangkuanku, aku ingin memperlihatkan padanya bahwa Dira adalah milikku. Ku pandangi wajah cantik Dira yang sudah lima tahun lamanya tidak pernah bisa ku lihat, ku belai lembut wajahnya sembari merapikan beberapa helai rambut yang mengganggu pandanganku menikmati wajah cantik istriku.
Aku tersenyum penuh kemenangan dalam hatiku, ketika aku tau di sela-sela fokusnya mengemudi, diam-diam Haris mencuri pandang padaku yang tengah mengagumi kecantikan wajah istriku. Aku yakin sekali, dalam hatinya saat ini,dia tengah merasakan rasa cemburu padaku.
HARIS POV
__ADS_1
Aku baru saja pulang dari klinik karena dini hari tadi ada pasien yang mengalami pendarahan dan harus menjalani operasi caesar. Dan ketika mobilku tepat di depan rumah Nitha,aku dikejutkan oleh suara seorang laki-laki berteriak menyebut nama Dira,nama panggilan lain untuk Nitha. Aku pun buru-buru menepikan mobilku lalu bergegas masuk ke dalam rumah Nitha tanpa berpikir panjang lagi. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat tubuh Nitha tergulai lemas di kursi tamu dengan ditunggui oleh seorang laki-laki yang tampak bingung dan cemas.
Keterkejutanku tidak sampai di situ saja...aku lebih terkejut lagi ketika laki-laki yang menunggui Nitha itu menyebutkan bahwa dirinya adalah suami Nitha. Aku tidak pernah menyangka jika laki-laki itu berani muncul juga, laki-laki yang selama lima tahun telah menelantarkan Nitha dan Hara yang selama ini telah aku anggap seperti anakku sendiri. Terus terang, ada rasa kecewa di hati kecilku melihat dia kini benar-benar ada di sini. Karena aku pikir cerita Hara kemarin tentang papanya, hanyalah hayalannya saja.
Dan kini kami terjebak dalam situasi yang mengharuskan kami berada dalam satu mobil untuk mengantar Nitha ke rumah sakit. Entah ini memang sengaja dia lakukan atau hanya perasaanku saja tapi sikapnya saat ini seolah memperlihatkan bahwa dirinya lah yang berhak atas diri Nitha. Dia seolah memanas-manasi aku dan membuatku cemburu. Huuh...bikin muak aja..."
FLASH BACK OFF
Selang tiga puluh menit kemudian pintu IGD terbuka...Hans pun segera berdiri kemudian menghampiri seorang laki-laki yang berpakaian dokter tapi bukan Haris.
"Apa tuan yang bernama Hans?" tanya dokter itu.
"Iya dok... saya Hans... Bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Istri anda sudah siuman dan saat ini dalam keadaan baik, tapi untung cepat di bawa kemari sebab jika telat sedikit saja, maka akan bisa menjadi fatal akibatnya..."
"Akh syukur Alhamdulillah... Terimakasih dok..." Hans menjabat tangan dokter itu..."Selama ini saya tidak pernah tau jika istri saya mempunyai penyakit kelainan jantung dok... Sekarang apa saya boleh melihat keadaan istri saya?"
"Tentu silahkan...Tapi tolong jangan sampai membuat istri anda merasa tertekan ya..."
"Siap dok... O iya dok,apa dokter Haris masih ada di dalam?"
"Ooo beliau beberapa menit yang lalu sudah pulang lewat pintu samping, sesaat setelah istri anda siuman dan memanggil nama anda..." ucap dokter itu yang kemudian pergi meninggalkan Hans. Sementara Hans pun segera masuk untuk menemui istrinya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...