
"Eh... bukannya itu mamanya anak yang berkelahi tadi ya...?"
"Iya itu mamanya Hara, tapi... apa yang disampingnya itu, si mas ganteng itu benar papanya Hara ya atau... jangan-jangan itu sugar daddy mamanya Hara?"
" Ha ha ha..." Mendengar ucapan salah seorang dari mereka maka terdengarlah tawa berjamaah dari mamud-mamud penggibah itu.
"Tapi bisa jadi tuh... pasalnya selama hampir setahun Hara bersekolah di sini, baru kali ini liat mamanya Hara terang-terangan bawa laki-laki... biasanya kan yang nganter Hara itu Pak Dokter Haris, keponakannya bu kepala sekolah"
"Tapi denger-denger pak dokter itu mau jadi mantunya pak kades..."
"Bisa jadi mamanya Hara patah hati, terus dia cari sugar daddy deh... secara dia kan orang ibukota, di sana tuh biasa kali seorang single parent punya gituan..."
"Kalo bener iya, berarti parah juga tuh mamanya Hara... nggak nyangka cantik-cantik kelakuannya kayak gitu.,." ucap salah satu dari mereka sambil mencibir karena melihat Dira sudah makin dekat.
Kasak kusuk pun makin menjadi di antara para wali murid itu, membuat Dira yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan mereka pun jadi panas dan emosi. Dira pun langsung berhenti tepat di depan para Penggibah itu.
"Maaf permisi... sebenarnya saya tidak ingin dan tidak perlu juga repot-repot mengklarifikasi tentang status saya. Tapi saya hanya kasihan pada ibu-ibu semua karena harus terpuruk dalam dosa besar dengan memfitnah saya apalagi sampai menyertakan nama dokter Haris..."
Cep...semua penggibah itu pun langsung diam tak berkutik.
"Laki-laki di samping saya ini adalah ayah anak saya, Hara Andika Saputra... suami sah saya. Saya menikah enam tahun yang lalu, sah secara hukum negara dan juga sah secara agama. Sedangkan dokter Haris adalah sahabat saya dari dulu sampai sekarang... tidak lebih dari itu... Saya harap setelah ini, ibu-ibu sekalian tidak perlu susah-susah menggibah tentang saya lagi... terimakasih..."
"Eh ada apa ini...?" tanya seorang wanita yang tadi sempat mengingatkan teman-temannya untuk tidak bergibah. "Lho Mas Hans... kok ada di sini?" tanyanya tiba-tiba setelah melihat Hans ada di situ. Melihat ada perempuan yang mengenal suaminya di sini, membuat Dira langsung pasang wajah masamnya.
"Eh Dian... anakmu sekolah di sini juga?"
"Iya mas... lha mas sendiri ada apa di sini?"
"Mau jemput anak juga..." jawab Hans sambil menarik pinggang Dira dan menempelkan ke tubuhnya.
"Lho... jadi mas ini...?"
"Iya... saya ayahnya Hara dan wanita cantik ini istri saya tercinta..." ucap Hans yang memaksa Dira tersenyum kepada Dian. "Dian ini istri sahabatku..."
"Masya Allah... senang bisa melihat Mas Hans dan Mbak Nitha bisa kembali lagi..." ucap Dian sambil menutup mulutnya karena merasa keceplosan.
"Iya... terimakasih..."
"Oya Mas Hans dan Mbak Nitha... saya atas nama teman-teman saya minta maaf atas kesalahpahaman kami..."
__ADS_1
"Oh iya... santai aja... Kalo gitu kami pamit dulu... mau ketemu ibu kepala sekolah dulu..." ucap Hans..."Mari semua...kami permisi dulu ya..." ucap Hans lagi kepada para penggibah... penggemar Hans.
Begitu Hans dan Dira berlalu, para penggibah itu pun segera menyerbu informasi tentang idola baru mereka kepada Dian.
"Udah deh... jangan gibah mlulu. Malu tuh sama hijabnya..." ucap Dian kepada teman-temannya.
"Tapi ini kan gibah baik... nggak papa dong..."
"Halah... itu mah cuma modus..." kata Dian yang akan melangkah pergi tapi di tahan oleh teman-temannya.
"Oke-oke...Mas Hans itu sahabat suamiku, dia itu adalah seorang CEO sebuah perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang. Papanya Hara itu orang yang tajir mlintir tapi sangat baik dan sangat mencintai istri juga anaknya. Proyek Mall baru di Jalan Solo yang sedang dikerjakan oleh suamiku itu juga salah satu miliknya... Pokoknya stop bergibah deh... pada siapa aja, dari pada tar kalian malu sendiri, karena apa yang kalian lihat dan apa yang kalian bicarakan itu... lebih banyak salahnya ketimbang benernya. Dah ah... aku mau ke apotek depan dulu..." ucap Dian yang langsung melarikan diri dari teman-temannya. Sementara teman-temannya masih terbengong-bengong demi mendengar kenyataan bahwa Hara dan Nitha adalah anak dan istri seorang CEO yang tajir mlintir, tapi mereka mau hidup sederhana di desa yang walaupun sudah maju namun terletak di daerah yang terhitung terpencil.
🌹🌹🌹
Hans dan Dira berjalan masih dengan tangan yang saling bertautan, seperti sepasang remaja yang saling cinta dan tak ingin terpisahkan. Kemesraan mereka pun jadi menarik perhatian setiap orang yang berpapasan dengan mereka.
"Assalamu'alaikum... Selamat siang Bu Ita..." sapa Dira ketika melihat Bu Ita keluar dari ruang kepala sekolah.
"Wa'...alaikum...salam... Bu Nitha..." ucap gurunya Hara dengan sedikit terbata-bata karena melihat Dira datang bersama seorang laki-laki tapi bukan Haris keponakannya. "Iniii...?" tanya Bu Ita sambil menunjuk Hans dengan ibu jarinya.
"Ah ya...ini suami saya bu, papanya Hara..." ucap Dira menjelaskan.
"Ooo... senang bisa berkenalan dengan anda tuaaan...."
'Yah... jodoh memang rahasia Allah. Papanya Hara ini memang tampan dan terlihat mapan. Jika dibandingkan dengan Haris, dia memang tidak ada apa-apanya... walaupun Haris adalah seorang dokter. Pantas saja Nitha tidak bisa berpaling dari suaminya ini... Yah semoga keponakanku bisa cepat menemukan jodohnya... Aamiin Yaa Robb...' bathin Bu Ita.
"O iya maaf bu... apa kelas Hara sudah pulang?" tanya Dira.
"Oh seharusnya memang masih tiga puluh menit lagi baru kelas Hara selesai, tapi sejak jam istirahat tadi Hara sudah tidak ikut pelajaran..."
"Lho memangnya Hara kenapa bu? Hara baik-baik saja kan..." tanya Dira memotong penjelasan Bu Ita.
"Tidak ada apa-apa... Hara Alhamdulillah baik-baik saja, hanya saja tadi Hara berkelahi lagi..." jawab Bu Ita lirih.
"Astaghfirullah haladziim..." Dira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Apa penyebabnya sama bu?"
"Iya..."
"Dengan siapa dia berkelahi bu?"
__ADS_1
"Erik... tapi kali ini sepertinya Hara sangat emosi..."
Bu Ita pun kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi antara Erik dan Hara tadi.
"Astaghfirullah haladziim..." Dira kembali beristighfar setelah mendengar cerita Bu Ita sambil menitikkan air mata. Dia tidak menyangka putranya akan melindunginya sedemikian rupa dari hinaan orang lain. Hans langsung meraih tangan Dira untuk menguatkan istrinya.
"Sekarang Hara nya ada di mana bu... Bisa kami bertemu Hara?" tanya Hans.
"Mereka berdua ada di ruang UKS pak... "
"Apa mereka berdua baik-baik saja? Dan apakah mereka tidak akan berkelahi lagi bu?" tanya Hans khawatir.
"Oh Alhamdulillah mereka berdua baik-baik saja, hanya Erik ada sedikit memar di pipinya karena bogem mentah dari Hara. Tapi mereka sudah berbaikan kok... mereka sudah saling memaafkan..."
"Alhamdulillah..." ucap Hans..."Kamu dengar kan sayang... mereka berdua sudah baikan..." Dira mengangguk sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
"Bo... boleh kami menemui mereka bu...?" tanya Dira.
"Tentu saja boleh... mungkin ini justru momen yang tepat untuk membuktikan perkataan Hara pada temannya. Semoga setelah tau kalo Hara benar-benar punya papa, membuat teman-teman Hara berhenti membully Hara..."
"Semoga... Maafkan Hara ya bu... Dia selalu menyusahkan para pengajar di sini..." ucap Dira sambil memegang kedua tangan Bu Ita.
"Hara anak yang pintar dan cerdas... Dia hanya tidak suka dikatain pembohong dan hanya ingin melindungi mamanya. Bersyukurlah kepada Allah... bapak dan ibu mempunyai putra sepintar dan secerdas Hara..."
"InsyaAllah... terimakasih bu..."
Hans dan Dira pun segera menyambangi putra mereka di ruang UKS.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...