Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Penculikan Felisha


__ADS_3

Felisha tampak berjalan dengan buru-buru. Awalnya dia lega karena hingga hari ini tidak ada pergerakan apapun dari pihak Hans. Semuanya tampak begitu normal, hingga beberapa menit yang lalu ketika dia masuk di sebuah mall,dia merasa ada orang yang mengikutinya. Untuk itu dia selalu berusaha berada di tempat keramaian karena menurutnya akan lebih aman jika dia berada di sana. Dia tidak tau saja, bahwa mall yang dimasukinya itu merupakan salah satu mall milik keluarga Hans.


"Akh sial...gue kebelet buang air kecil lagi..." ucapnya sambil celingukan mencari seseorang yang sejak tadi menguntitnya. 'Eh... sepertinya semua aman-aman saja. Apa memang sejak tadi sebenarnya aman-aman saja? Gue mungkin hanya terlalu parno atau mungkin ini efek karena gue terlalu banyak baca novel direktif ya...he he he...' gumamnya dalam hati sambil terkekeh geli. Dan akhirnya dia pun melangkahkan kakinya dengan tenang menuju toilet mall tersebut.


Suasana toilet memang tampak sepi, hanya ada seorang mbak-mbak cleaning service yang memang bertugas menjaga kebersihan toilet. Felisha pun jadi bisa membuang nafas lega, karena menurut dia keadaan di situ semuanya aman. Begitu Feli masuk toilet, mbak-mbak cleaning service penjaga toilet itu langsung mengirim pesan kepada seseorang.


Keluar dari toilet... entah kenapa tiba-tiba Felisha merasa sedikit takut, apalagi mbak-mbak cleaning service penjaga toilet, sudah tidak ada di tempat dia duduk tadi. Tapi kemudian buru-buru dia menepis perasaan itu dan segera melangkah keluar. Sesampainya di luar toilet, Felisha langsung didekati oleh dua orang laki-laki berbadan tinggi besar dengan memakai baju casual, jaket jeans dan memakai masker.


"Eh kalian siapa ya..." kata Feli ketika kedua orang itu menggandeng tangannya di kiri dan di kanan.


"Jangan banyak bicara dan jangan coba-coba berteriak, jika ingin selamat..." ucap salah satu dari mereka dengan menempelkan sebuah benda seperti sebuah pistol menurut perkiraan Feli di pinggang kanannya. Dan karena takut, akhirnya Feli memilih untuk diam.


Sampai di mobil, mata Felisha di tutup dengan sehelai kain. Dan ketika setengah perjalanan, tiba-tiba mereka berhenti untuk berganti kendaraan, sekedar berjaga-jaga agar tidak bisa di lacak oleh pihak lain. Feli tampak mendengus kesal karena dia tadi sudah menghafalkan nomer plat mobil dan jenis mobil yang pertama dia naiki.


"Lu semua sebenarnya siapa sih. Kita nggak saling kenal, kenapa kalian giniin gue?" tanya Feli sambil berusaha membuka ikatan tangannya.


"Brisik lu... gue bilang diem..." bentak salah seorang dari mereka.


"Gue cuma penasaran, karena gue nggak merasa kenal kalian... Kalo gitu gue mo tau, siapa yang menyuruh kalian dan mo dibawa kemana gue sekarang?"


"Brisik banget sih lu..." bentak orang yang satu lagi.


"Nih,lakban aja mulutnya itu..." terdengar suara berbeda dari temannya yang lain.


"Eh jangan dong... iye-iye gue diem..." Nyali Feli seketika langsung ciut mendengar jika bibir sexy nya akan di lakban.

__ADS_1


'Busyet deh... gue perawatan bibir mahal-mahal di luar negeri, mau main lakban aja. Mending gue diem ajalah, pasrah mau di bawa kemana, yang penting gue nggak diapa-apain...' bathin Felisha.


Mobil berhenti di sebuah gudang lalu Feli pun di bawa ke sebuah ruangan kemudian tubuhnya di ikat pada kursi yang didudukinya. Feli masih saja diam, dia benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada tubuhnya jika dia berulah lagi. Ya... demi ingin mendapatkan Hans, dia telah mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk melakukan perawatan dan serangkaian operasi plastik untuk mempercantik dirinya.


"Heh lu liat nggak, cewek ini cantik juga ya... sexy lagi, ukuran asetnya juga bikin naluri kelaki-lakian gue jadi tergoda..." ucap salah seorang dari penculik itu.


"Iya... tapi gue heran, kok si boss nggak tertarik ya sama dia... kalo gue yang digandrungi, sudah pasti akan langsung gue tubruk dan tidak akan gue biarin dia turun dari ranjang gue...ha ha ha..." kelakar seseorang dari mereka yang kemudian diikuti tawa teman-temannya.


"Tapi jangan salah, nyonya kita lebih cantik alami, apalagi beliau begitu baik hingga aura kecantikannya lebih terpancar nyata... Lu liat aja dia... penampilan cewek bohay ini sudah banyak plastiknya daripada aslinya...ha ha ha..."


"Betul juga sih... tapi gue jadi pingin ngicipin tuh bibir dan onohnya dia yang terbuat dari plastik itu...ha ha ha..."


"Heh jangan macem-macem ya... gue teriak ni..." ucap Feli yang sejak tadi hanya terdiam sambil mencoba mencerna obrolan mereka.


"Teriak saja... lu tau, kita sekarang ini berada jauh dari kota. Penduduk di sekitar sini juga jauh dari tempat ini...Ini tempat terpencil cantik..." ucap salah seorang dari penculik itu menakut-nakuti sambil menyentuh dagu Felisha.


"Huh mulut cewek ini ternyata memang busuk dan sombong. Pantes boss jijik liatnya, cewek murahan yang sok bermartabat... Gue aja lama-lama jadi eneg juga..."


"Br*******k kalian semua, orang-orang rendahan berani-beraninya menghina gue. Kalian ini suruhan siapa sih... gue jadi penasaran..."


Felisha masih marah-marah dan bersumpah serapah ke anak buah Alex, sementara semua anak buah Alex hanya diam saja karena boss-boss mereka sudah berada di ruangan itu.


"Heh kacung... kenapa kalian diam dan tidak menjawab pertanyaan gue? Siapa yang nyuruh kalian nyulik gue..." teriak Felisha. Alex memberi kode kepada anak buahnya untuk membuka penutup mata Felisha.


"Aku yang menyuruh mereka..." ucap Hans berbarengan dengan dibukanya kain penutup mata Dira.

__ADS_1


"Kak Hans?" tanya Feli seolah tidak pernah melakukan kesalahan.


"Iya aku... Kau sekarang sudah tau kan? Terus kamu mau apa? Masih mau membayar dua kali lipat bayaran mereka...silahkan tanya berapa aku membayar mereka tiap bulannya... Bram, aku bayar kalian berapa tiap bulannya? Kasih tau perempuan sombong ini, yang ingin membayar kalian dua kali lipat..." titah Hans kepada anak buah Alex.


"Siap boss...dua puluh lima juta rupiah per orang boss..." jawab Bram.


"Bagaimana Feli? Masih berminat dengan anak buah Alex?" Feli menggelengkan kepalanya pelan.


"Ta... tapi kenapa kakak bisa melakukan semua ini padaku? Bukankah Kak Hans dan Kak Alex adalah teman baik Kak Vera kakakku? Kenapa kakak berdua tega melakukan ini padaku... hiks hiks hiks... Apalagi Kak Hans harus tau jika sudah lama aku memendam rasa cinta untukmu... hiks hiks hiks..." ucap Feli dengan tidak tau malunya sambil mengeluarkan air mata buayanya. Hans pun duduk di hadapan Feli sambil tersenyum sinis padanya.


"Apa Kak Hans tidak percaya dengan ucapanku? Kakak tau... dari sejak kakak SMA dan sering mengerjakan tugas dirumahku, aku sudah mulai mencintai kakak. Tapi waktu itu aku hanya mampu memendam rasa itu, karena kakak telah menjadi milik Kak Jessica. Berjalannya waktu, ketika aku mendengar kakak sudah putus dengan Kak Jessica, aku yang saat itu melanjutkan kuliah S2 di luar negeri pun langsung pulang ke Indonesia. Tapi sayang sesampainya aku di sini, aku mendengar kabar jika kakak telah menikah. Namun aku sedikit punya harapan ketika aku mendengar kabar jika istri kakak kabur meninggalkan kakak entah kemana. Sampai akhirnya aku bisa masuk ke perusahaan kakak." Feli terdiam, sementara Hans dan yang lainnya juga masih diam mendengarkan curhatan Feli. "Kak, kenapa kakak tidak pernah sedikitpun melihatku, menghargai keberadaanku... Kenapa kakak masih mau menerima istri kakak yang jelas-jelas telah meninggalkan kakak begitu lama? Lihat aku kak... aku begitu setia menantimu, sedangkan dia istri kakak... apa kakak yakin selama lima tahun berpisah, dia tidak pernah berpaling kepada pria lain?" Feli mencoba memprovokasi Hans yang hanya diam sejak tadi.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2