Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Kenapa dia lagi


__ADS_3

Matahari masih belum beranjak dari peraduannya,karna adzan subuh pun sepertinya masih lama akan berkumandang. Dira terlihat tengah khusyuk berdo'a setelah dia selesai menjalankan sholat di sepertiga malamnya,sementara Sila masih tenggelam dalam mimpinya.


Selesai menjalankan ibadahnya,Dira keluar kamar menuju dapur untuk membuat sarapan,sepertinya hatinya kini sudah menjadi lebih tenang setelah dia berkomunikasi dengan Tuhannya.


Sekitar satu jam,semua masakan Dira sudah tersusun rapi di meja makan yang biasa buat kumpul karyawan-karyawannya.


Sila masih belum bangun,padahal Dira sudah mandi dan bersembahyang subuh.


"Sil,bangun dong...udah hampir jam 6 tuh..." bisik Dira sambil menarik-narik pelan telinga Sila.


"Iyaaa bentar lagi...masih ngantuk ni..." ujar Sila. Tangannya kanannya menepis tangan Dira yang sejak tadi mengganggunya. Tapi bukannya berhenti,tangan Dira malah menarik telinga Sila lebih kuat.


"Heeh,lu mo sholat subuh jam berapa kalo jam segini belum bangun. Elu kan harus mandi juga...sarapan noh dah siap...ayo buru..." tangan Dira kini semakin aktif mengganggu Sila tidur,dari mulai menarik selimut,menarik kakinya sampai memencet hidung Sila.


"Iih Dira...lu mah kalo udah sehat terus mulai deh isengnya...Brisik lagi,ngomel-ngomel mlulu..."gerutu Sila.


"Masalahnya ini udah siang neng...belum mandi,belum sholat,belum dandan,kalo nggak bangun-bangun bakalan telat nanti...kita kan hari ini ada janji ketemuan sama Kak Anton..." ucap Dira mencoba mengingatkan.


"Eh iya...busyet,hampir aja gue lupa..." Sila pun segera bangun dan berlari ke kamar mandi.


"Gue tunggu di meja makan buat sarapan ya...?" teriak Dira.


"Iyaa..."


Setengah jam kemudian...


"Wah tumben mandi kilat..." ledek Dira.


"Lu ngebangunin gue nya telat sih..."


"Aje gile...gue ngebangunin lu dari tadi...lu nya aja yang males,pake ngatain gue brisik lagi..." omel Dira.


"Iye-iye...sori...yok berangkat sekarang? Takut kejebak macet di jalan..."


Mobil Honda CRV silver milik Sila pun meluncur membelah keramaian jalanan ibukota pagi itu. Kurang lebih 45 menit berkendara,mobil Sila pun memasuki halaman sebuah universitas ternama di ibukota.


"Gila...udah hampir jam 8...ayo kita cepet kita ke kantor Kak Anton,kita kan janjian jam 8 tepat..,"


Begitu keluar dari mobil keduanya pun setengah berlari,menuju ke kantor Anton di lantai 4 gedung di fakultas mereka yaitu Fakultas Ekonomi.


"Huft...untung kita nggak telat..." ucap Sila dengan nafas ngos-ngosan.


"Iya...tapiii..."

__ADS_1


"Tapi kenapa?"


"Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar ya...perasaanku jadi nggak enak...Apa Kak Anton bakal marahin kita ya..."


"Nggak usah mikir aneh-aneh deh...Kita kan nggak buat salah,kita juga nggak telat kok...Jadi nggak ada alasan Kak Anton buat marahin kita kan?" tanya Sila sambil mbenerin bajunya yang sedikit kusut dan juga membantu ngerapiin baju Dira.


"Iya juga sih..."


"Udah ah...ayo...kalo kita ngobrol terus di sini bisa jadi kenyataan tuh kekhawatiranmu...yok..."


Sila menarik tangan Dira menuju kantor Anton yang tinggal beberapa langkah.


'Tok tok tok...'


"Masuk..." sahut suara seorang laki-laki yang ada di dalam.


"Permisi kak..."


"Ya...silahkan duduk dulu sebentar..."


Sila masuk terlebih dulu,sementara Dira mengekor dibelakangnya sambil terus memegang tangan Sila. Bahkan ketika mereka duduk pun,Dira tidak mau melepas pegangan tangannya. Entah kenapa jantungnya masih saja berdegup kencang. Tak berapa lama kemudian Anton keluar dari ruang arsip dan duduk di depan mereka,Sila dan Dira pun tersenyum sambil berjabat tangan.


"O ya,ada sesuatu yang ingin saya sampaikan pada kalian berdua,tapi sebelumnya saya ingin membahas sedikit tentang skripsi yang tengah kalian susun saat ini..." ucap Anton serius.


Sila pun akhirnya ikut serius mendengarkan semua penuturan Anton tapi tidak dengan Dira. Karna sejak dia masuk ke ruangan Anton,ada rasa tidak nyaman dihatinya membuat netranya pun menyapu setiap sudut ruangan itu,dia benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Dia merasa ada seseorang yang tengah memperhatikannya. Dan benar saja,tiba-tiba netranya menangkap sesosok bayangan cowok di ruang arsip mahasiswa yang pintunya terbuat dari kaca hitam tempat Anton tadi keluar.


"Ada apa Dira?" tanya Anton ketika melihat Dira berkali-kali memandang ke arah ruang arsip mahasiswa.


"Eh maaf,nggak ada apa-apa kak...Dira hanya merasa seperti melihat bayangan orang di ruangan itu..." tunjuknya.


'Hadeh Hans,begitu nggak sabarannya sih lu buat ngelihat gadis pujaan lu..." gerutu Anton dalam hati. Anton pun lalu mengetik sebuah pesan kepada Hans.


📤 "Br*******k lu,tahan dikit napa sih,gue takut Dira curiga,tar rencana kita bisa buyar. Lu keluar ruangan gue dulu dech lewat pintu samping,terus ketuk pintu depan..."


📥 "He he he...oke..."


"Emang ada siapa sih kak di ruang arsip?" tanya Sila.


"Nggak ada siapa-siapa kok selain kita di sini...Dira salah liat kali..."


"Nggak mungkin kak...Dira liat dengan jelas kok..."


"Akh sudahlah,lebih baik kita bahas dulu sedikit skripsi kalian, ya...minimal sampai satu bab selesai. Sebab dalam

__ADS_1


beberapa hari ke depan untuk sementara saya nggak bisa ngedampingi kalian..."


"Maksudnya kak?"


"Iya...mulai besok pagi saya mau ambil cuti karna ada kepentingan keluarga,makanya hari ini kita bahas dulu satu bab biar pengganti saya nanti nggak terlalu repot...mengikutinya..."


"Terus pengganti kakak siapa?"


"Ada tamen saya...nanti saya kenalin..."


'Tok tok tok...'


Baru saja Anton selesai bicara,terdengar suara pintu di ketuk.


"Masuk..."


Sila yang menengok ke arah pintu pun terkesiap melihat sosok Hans berdiri di pintu. Hans menempelkan telunjuk kanannya memberi kode Sila untuk diam. Sementara Dira dengan cueknya asik mengutak atik laptopnya.


"Eee...Dira-Sila...perkenalkan ini teman saya yang akan menggantikan saya sebagai dosen pembimbing kalian..."


Sila pun langsung berdiri untuk bersalaman,sedangkan Dira memastikan datanya tersimpan dulu,baru berdiri. Dan betapa terkejutnya Dira ketika dia membalikkan badan dan mengetahui siapakah sosok yang diperkenalkan oleh Anton sebagai penggantinya. Dira berdiri mematung melihat sosok yang tak ingin dia lihat lagi itu,kini justru tengah berdiri di hadapannya.


"Hai...Hans..." Hans memajukan tangannya mengajak Dira berjabat tangan.


"Dira" Dira menjabat tangan Hans sekilas lalu kembali duduk dengan cueknya.


'Ya Tuhan...kenapa harus dia lagi?' bathinnya.


Entah kenapa jantungnya kembali berdegup dengan kencang. Ingin rasanya dia memaki orang dihadapannya itu tapi bibirnya seolah terkunci dengan sendirinya. Ingin menangis karna ketika melihat dia lagi,tiba-tiba ingatannya kembali ke peristiwa malam itu tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri juga pada Sila bahwa dia akan kuat dan tidak akan menangis lagi.


'Ya Tuhan...kuatkan hatiku...' bisiknya dalam hati.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2