Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Rencana Jessica


__ADS_3

Di Malaysia


Kesehatan Tuan Hendrik sedikit mengkhawatirkan, untuk itu Tuan Hendrik terpaksa harus masuk ke ruang ICU dan tidak boleh ditunggui. Sementara Kevin asisten pribadi Tuan Hendrik sebelumnya tengah di titah oleh Tuan Hendrik pulang ke Indonesia,guna menstabilkan kondisi perusahaan yang sedang bermasalah di sana. Hal ini jelas sangat menguntungkan Jessica,karna kini dia bisa bebas melancarkan rencananya untuk merusak keharmonisan rumah tangga Hans dan Dira.


"Wah tak di sangka Tuhan memberi kelancaran dan kemudahan pada gue buat menjalankan rencana gue...Oh thanks God..." ucap Jessica setengah teriak di dalam apartemennya.


Jessica sudah duduk di lobby hotel tempat Hans menginap. Menurut orang kepercayaannya yang menguntit kegiatan Hans, hari ini Hans akan pulang cepat. Dan benar saja, tak perlu menunggu lama...Hans pun muncul bersama Sarah dan Anya sahabat Jessica yang juga menginap di hotel itu.


"Hai gaes..." sapa Jessica dengan memasang tampang sok manisnya.


"Hai Jess... udah nyampe aja ih..." ucap Sarah.


"Jadi kita pergi malam ini kan?" tanya Jessica sambil melirik ke arah Hans yang cuek bebek nggak merespon keberadaan Jessica di situ.


"Jadi dong..." jawab Anya.


"Hai Hans..." sapa Jessica.


"Hai..." jawab Hans singkat. "Em Sarah... Anya...aku duluan ya..." ucap Hans pamit dengan kedua temannya, tanpa pamit dengan Jessica, lalu berjalan menjauh dari semuanya tanpa menunggu jawaban dari Sarah ataupun Anya.


Jessica pun segera bergerak dengan rencananya. Dia memberi kode kepada kedua sahabatnya yang mengisyaratkan jika dia akan mengikuti Hans. Sarah dan Anya pun udah langsung tau maksud Jessica dan keduanya pun mengacungkan jempol mereka tanda setuju.


'Tok tok tok...'


"Room service..." ucap Jessica berbohong.


"Tunggu... tapi saya tidak pe..." ucapan Hans terhenti ketika melihat siapa yang kini berada di hadapannya.


"Sorry gue bohong... soalnya lu pasti tidak akan mau buka pintu kalo tau gue yang datang..." ucap Jessica yang langsung nyelonong masuk kamar Hans.


"Eh,lu mau apa ke sini? Keluar... keluar deh..." Hans mengusir Jessica dengan nada masih bisa di bilang halus.


"Jangan gitu Hans... ada sesuatu yang ingin gue kasih tau ke elu..."


"Aku nggak mau berurusan apa-apa lagi denganmu...Dan dii antara kita sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan... Please... aku nggak mau ada ribut-ribut di sini jadi tolong kamu cepat keluar..." ucap Hans masih penuh dengan kesabaran.


"Gue tau lu udah menikah dengan dia...si bocil itu..."

__ADS_1


"Dia punya nama... namanya Dira... Bagus kalo kamu udah tau, sekarang Dira memang sudah menjadi istriku...Karna kamu sudah tau kalo aku sudah menikah, jadi seharusnya kamu segera keluar dari kamarku. Kamu tidak mau di anggap orang sebagai pelakor kan?" tegas Hans, dibukanya pintu kamar hotel itu lebar-lebar dan memberi kode pada Sila untuk keluar.


"Huuh... gue yakin,lu akan menahan gue jika lu tau sesuatu yang gue bawa tentang istri lu tercinta itu..." pancing Jessica.


"Sesuatu apa? Kamu jangan mencoba menebar fitnah..."


"Hansku sayang...gue tau, jika istri kecil lu itu dulu mati-matian nolak lu jadi suaminya...Tapi kini tiba-tiba dia setuju dan menerima untuk menjadi istri lu. Menurutmu...jika bukan Karna uang dan fasilitas yang lu kasih ke dia... lalu karna apa?"


"Apa maksudmu bicara seperti itu?"


"Baru saja menikah...lalu di tinggal pergi dinas ke luar negeri... Apa lu yakin istri lu di sana setia? Atau justru sedang bersenang-senang dengan laki-laki lain mungkin?"


"Dira nggak seperti itu! Jangan samakan dia dengan kamu! Aku tidak mau mendengar omong kosong mu lagi... keluar dari kamarku sebelum aku panggilkan sekuriti hotel..." ucap Hans yang mulai terprovokasi oleh omongan-omongan Jessica.


'Hmm...bagus pancingan gue sepertinya berhasil. Hans sudah mulai terlihat emosi...' bathin Jessica.


"Sayang, jangan dulu emosi... sekarang buka blokiran nomer gue di ponsel lu... biar gue kirim bukti yang gue punya tentang sepak terjang istri lu ketika jauh dari elu..."


Jessica mengeluarkan ponselnya, begitu juga dengan Hans. Bahkan Hans seolah seperti orang yang terhipnotis hingga dia menuruti kata-kata Jessica untuk membuka blokiran nomer ponsel Jessica di ponselnya. Jessica pun tersenyum penuh kemenangan.


"Sudah... mana bukti yang kamu ucapkan tadi..."


"Aku tidak ada waktu... Kirim segera apa yang kamu ucapkan tadi jika memang benar ada atau jangan-jangan sebenarnya semua ini hanya akal-akalan mu semata?" ucap Hans mencoba memancing emosi Jessica sekalian untuk mengalihkan permintaan Jessica yang tidak masuk akal menurut Hans.


"Lu akan menyesal jika melihat foto dan video tentang istri lu Hans. Dia tak sebaik dan tak selugu yang lu bayangkan selama ini..."


Jessica mengusap ponselnya lalu mengirimkan beberapa foto dan sebuah video ketika Dira berada di rumah sakit, yang dikirimkan oleh orang suruhan Jessica yang menguntit Dira hampir 24 jam.


"Sudah gue kirim... Lihat dan lu perhatikan betul-betul cewek yang ada dalam foto dan video itu... istri lu bukan... Gue pergi dulu... selamat menikmati kemesraan istri lu dengan cowok lain..."


Jessica melenggang keluar kamar Hans dengan senyum sinis penuh kemenangan.


Sepeninggal Jessica,Hans mulai membuka beberapa foto yang dikirim Jessica ke ponselnya. Netra Hans terbelalak melihat foto-foto itu yang memang benar itu adalah foto istrinya bersama dengan laki-laki lain. Apalagi ketika Hans melihat foto Dira yang sedang di peluk oleh Damar. Seketika itu juga darah Hans mendidih karna terbakar api cemburu. Belum lagi Hans melihat video yang juga dikirimkan oleh Jessica,Hans sudah terlanjur melempar ponsel yang harganya puluhan juta itu, hingga hancur berkeping-keping.


"Haaa... br******k... Kenapa kamu juga bohongi aku...Dira...?!"


Hans kemudian berjalan menuju nakas di samping tempat tidurnya,lalu menelpon room service untuk minta diantarkan sebotol anggur terbaik ke kamarnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹


Di Indonesia


"Sil, menurut lu, apakah gue harus mengabarkan berita tentang kehamilan gue kepada Mas Hans sekarang juga?" tanya Dira sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Menurut gue lebih cepat akan lebih baik... Gue yakin Kak Hans pasti akan sangat senang mendengar kabar gembira ini..."


"Tapi... kenapa tiba-tiba hati gue seperti ragu buat memberitahukan kabar ini pada Mas Hans ya Sil? Gue takut kalo Mas Hans nantinya tidak percaya jika ini adalah anaknya,sebab kami benar-benar baru sekali itu melakukan hubungan suami istri..."


"Dira...Kak Hans itu sayang banget sama elu,dan dia pun tau cewek seperti apa yang kini telah menjadi istrinya. Jadi percaya deh sama gue,Kak Hans tidak akan mungkin berfikiran seperti itu..." Dira terdiam, kemudian...


"Apa sebaiknya nunggu kalo sudah satu bulan aja ya?"


"Mau sekarang atau nanti,apa salahnya? Kan ada gue,ada Adit dan yang paling penting ada dokter Ariesta yang jelas-jelas berkompeten di bidangnya, sebagai saksi kehamilan lu... Jadi apa yang harus lu takutin?" tanya Sila.


"Tau ah...tapi gue bener-bener tidak PD untuk menyampaikan berita ini sekarang kepada Mas Hans..."


"Oke-oke... kapan saja lu mau menyampaikan pada Kak Hans dan lu butuh teman,lu tau... gue selalu ada buat lu... Sekarang lu istirahat dulu deh...biar lu tenang..."


"Lu tidur sini ya... temenin gue..." pinta Dira.


"Iya... tidurlah dulu, gue ada di sini..."


Dira pun patuh pada Sila dan Sila pun kemudian menyelimuti tubuh Dira.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Lanjut...


__ADS_2