Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Bersatu Kembali


__ADS_3

HARIS POV ON


Aku bahagia melihat Nitha sudah kembali sadar, tapi di balik rasa bahagiaku itu kemudian aku harus merasa kecewa ketika orang yang pertama Nitha sebut namanya adalah nama suaminya. Aku yang tadinya akan menghampirinya pun lantas mengurungkan niatku dan memilih untuk pulang. Terus terang aku merasa sangat kecewa dan sangat cemburu. Yah, walaupun aku telah menyetujui keinginan Nitha untuk hanya bersahabat saja denganku dan aku pun telah berusaha membunuh rasa cinta di hatiku untuknya, tapi ternyata tidak semudah itu aku sanggup melakukannya. Aku tau... Nitha pun selama ini juga berusaha mendekatkan aku dengan Sekar karena dia ingin aku cepat move on dari dia tapi kenyataannya itu justru membuat aku merasa sangat bersalah pada Sekar. Karena memang tidak bisa dipungkiri jika hatiku tetap tertinggal di hati Nitha. Dan saat ini ketika aku mengetahui kedatangan suami Nitha ke sini, entah kenapa aku merasa tersisih. Aku benar-benar cemburu pada laki-laki itu... karna dia adalah satu-satunya laki-laki yang bertahta di hati Nitha.


Akh br*******k... kenapa begitu beruntungnya laki-laki itu hingga bisa membuat Nitha mencintainya sebegitu dalamnya. Padahal jelas-jelas dia sudah memperlakukan Nitha begitu buruk dan melukai hatinya seperti itu, tapi kenapa Nitha masih menjaga cintanya hanya untuk laki-laki br*******k itu.


Ya Allah...aku harus bagaimana? Apakah pada akhirnya aku harus membohongi diri sendiri dengan pura-pura merasa baik-baik saja? Dan tidak salahkan aku jika aku mencoba menerima kehadiran Sekar dalam hidupku walau tanpa ada rasa cinta? Entahlah...


HARIS POV OFF


🌹🌹🌹


Sementara itu di rumah sakit...


Hans membuka pintu ruang IGD perlahan.


"Sayang..." panggilnya lirih.


"Duduklah sini mas... ada ya ng i ngin Dira bi carakan..." Dira memegangi dada kirinya yang masih terasa nyeri bila berbicara.


"Kamu jangan banyak bicara dulu...kita bahas semuanya nanti ya... Kamu harus sehat dulu..." Dira menggelengkan kepalanya.


"Ki..ta ha..rus bi..cara..." ucap Dira mulai tersengal-sengal.


"Sayang, please... jangan bicara dulu..." Netra Hans berkaca-kaca. "Sayang kenapa sih kamu tidak pernah bilang pada mas soal penyakit jantung ini? Mas ini kan suamimu... Kenapa bisa-bisanya mas baru tau sekarang, setelah keadaanmu bertambah parah? Kenapa mas kau buat seperti orang bodoh karena tidak mengetahui sama sekali tentang penyakit yang kamu derita selama ini? Sayang kenapa ada apa-apa selalu kamu pendam sendiri...? Astaghfirullah haladziim... mas jadi tambah merasa bersalah padamu... Maafkan mas ya..." Berkali-kali Hans menciumi punggung tangan Dira yang sedari tadi digenggamnya.


"Mas..." panggil Dira lirih setelah dia bisa mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Iya sayang..."


"Terimakasih ya mas, karena Mas Hans sudah mau datang menemui Hara..."


"Ngomong apa kamu ini...mas lah yang harusnya berterimakasih padamu karna kamu masih mengijinkan mas bertemu dengan kalian. Maaf mas terlambat menemukan kalian, maafkan juga semua kesalahan mas selama ini. Andai saja waktu bisa di putar ulang... mas tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dari sisi mas waktu itu... Maafkan mas ya sayang... mas janji, mulai saat ini mas tidak akan percaya kepada siapapun, karena mas hanya akan selalu percaya padamu dan mas juga berjanji akan selalu membahagiakanmu juga Hara... anak kita..."


"Tapi bagaimana jika waktuku sudah tidak lama lagi?" Dira diam sesaat lalu dengan sedikit menekan dada kirinya dia berkata..." Menikahlah dengan Jessica mas.. Dira ikhlas asal Mas Hans bahagia... bukankah hingga detik ini mas masih mencintainya kan?"


"Bicara apa kamu?!" teriak Hans sambil berdiri, dia seperti orang yang lepas kendali karena marah. Dira yang terkejut dengan teriakan Hans pun langsung memegang dada kirinya sambil meringis menahan sakit, kemudian Dira pun berusaha mengatur nafasnya yang seketika itu terasa sedikit sesak. Melihat keadaan istrinya, Hans pun langsung terlihat cemas dan segera meraih tombol darurat untuk memanggil dokter, tapi di cegah oleh Dira sambil menggelengkan kepalanya.


"Dira tidak apa-apa mas... Dira sudah biasa begini..."


"Ya Allah... Dira...jangan pernah bikin mas merasa takut,mas sayang sekali padamu...mas tidak ingin terjadi sesuatu pada dirimu..." Hans menarik nafas dalam-dalam kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya sesaat..." Astaghfirullah haladziim Dira... dari mana datangnya ide konyol seperti itu? Mas tidak ingin kamu bicara seperti itu lagi... mas tidak ingin hidup bersama siapa-siapa...mas hanya ingin hidup bersamamu dan Hara anak kita,mas ingin kita bisa hidup bersama-sama lagi... Maafkan mas jika kejadian yang terjadi antara mas dengan Jessica di Malaysia waktu itu begitu melukai hatimu. Semua itu terjadi karena waktu itu mas terlalu emosi hingga mas begitu mudah terhasut oleh omongan Jessica dan bodohnya lagi, mas waktu itu bisa mempercainya begitu saja hingga mas menurut saja ketika dia mengajak mas pergi ke klub malam. Tapi demi Allah demi Rasulullah... kami tidak melakukan apa-apa di sana selain minum-minum, lagi pula kami waktu itu pergi tidak hanya berdua saja, tapi kami pergi berempat, kadang berlima ataupun berenam. Percayalah jika mas masih bisa menjaga kesucian rumah tangga kita sayang... Mas tidak pernah mengkhianati janji suci kita di depan Allah, penghulu dan keluarga kira. Mas berani bersumpah jika mas tidak pernah mencintai wanita lain manapun selain kamu sayang... kamu harus percaya itu..."


"Tapi... " Dira tidak mampu melanjutkan ucapannya... air matanya mengalir deras dari netranya tanpa bersuara, seolah menggambarkan betapa perihnya luka dihatinya. Hans pun hanya bisa menciumi tangan Dira... Sebenarnya Hans ingin memeluk erat istrinya tapi terhalang oleh selang infus dan selang pernafasan yang terpasang pada tubuh Dira.


"Serius?!" Dira mengangguk..." Jadi kita baikan ni...? Tinggal bersama lagi?" Dira kembali mengangguk..."Alhamdulillah... Ya Allah... Terimakasih sayang...terimakasih...pokoknya mas janji, mas akan selalu membahagiakanmu dan mas pun tidak akan menyalah gunakan kesempatan yang kamu berikan kepada mas... terimakasih sayang.,. terimakasih..." Hans langsung mencium kening istrinya. Senyuman bahagia mengembang di bibir keduanya dan kini tangan mereka pun saling bertaut, seolah tak ingin dilepaskan.


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam..." jawab keduanya.


"Papa..."


"Hai... lho kok nggak sekolah?"


"Hara tidak mau sekolah kalo tidak diantar sama tuan... Tadi waktu berpapasan dengan dokter Haris, dia juga menolak ketika akan di antar berangkat ke sekolah, padahal biasanya Hara paling suka jika berangkat sekolah di antar oleh dokter Haris..." ucap Bi Asih yang sengaja memanas-manasi Hans. Sebagai pengasuh Dira sejak kecil, Bi Asih memang selalu ingin melihat Dira bahagia dengan pilihannya tapi jika mengingat perlakuan Hans kepada Dira, membuat hati Bi Asih juga merasa sakitl. Dia ingin Hans tau jika tidak hanya dia yang mencintai Dira, karna ada banyak laki-laki di luar sana yang selama ini mencintai Dira dengan tulus... salah satunya adalah dokter Haris.

__ADS_1


"Oya? Memang Hara sering di antar sekolah sama om dokter?" tanya Hans kepada putranya.


"Iya dong... soalnya dianternya pake mobil,kaya teman-teman Hara yang tiap pagi di antar sekolah sama papanya" jawab Hara polos.


"Hara suka ya di antar sekolah sama om dokter?"


"Suka dong pa... tapi kalau di antar sekolah sama papa,Hara lebih suka lagi..."


Hans tersenyum penuh kemenangan... ternyata baru saja Hans bertemu dengan Hara, tapi kedatangannya sudah mampu menggeser kedudukan Haris di hati putranya itu. Sementara Dira meraih tangan Bi Asih lalu meletakkannya di pipinya. Dira tau banget jika ucapan Bi Asih tentang dokter Haris tadi memang sengaja Bi Asih katakan untuk memanas-manasi suaminya.


.


.


.


.


.


.


.


Lanjut...


Hola...maap ya... update nya telat melulu...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2