
Selesai wisuda,Dira pulang di antar oleh Alex dan keluarganya.
"Maaf kak,tiket dan paspor serta visa Dira udah beres?" tanya Dira kepada Alex.
"Udah dek...lu tinggal berangkat aja penerbangan sore nanti..."
"Makasih kak..."
"Sama-sama..."
"Dira... kamu benar-benar sudah siap bertemu dengan Hans kan?" Dira mengangguk pelan..."Berkas-berkas bukti dari dokter Ariesta juga jangan sampai lupa..." Tiara mengingatkan.
"Iya kak..." jawab Dira singkat.
"Huuh....lu kok nggak bilang sebelumnya sih kali lu mau ke Malaysia...Kalo lu bilang dari awal, gue kan bisa urus paspor dan visa gue terus gue temenin lu ke sana..." ucap Sila kesal.
"Hush... kamu kan ada acara sendiri dengan keluarga Adit dan ini adalah acara terpenting dalam hidup kamu..." ucap Tiara mengingatkan Sila..."Lagi pula,Dira ke sana kan mau nemuin suaminya...emang kamu mau tar dijadiin obat nyamuk sama Hans dan Dira?"
"Wuih ogah bingit..."
"Na itu sadar...tar kalo mereka mesra-mesraan,lu kepingin lagi...ya nggak pa...ha ha ha..." Goda Tiara sambil mengusap tengkuk suaminya, Alex hanya tersenyum kecil sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Ih Kakak...Dira ke sana kan mau nyelesein masalah bukan mau mesra-mesraan.,." ucap Dira.
"Hmm...bener juga kata Kak Tiara...bisa jadi kambing congek gue nanti, mending sama Adit... gue bisa mesra-mesraan sendiri sama dia...ha ha ha..." kelakar Sila.
"Huu... dasar otak mesum, baru juga mau dikenalin sama keluarga Adit,otak lu udah kemana-mana pikirannya..." Dira menonyor kepala Sila pelan dengan jari telunjuknya lalu memandang ke arah jalan..."Lho kak,..kita salah jalan loh. Aku pulang ke ruko,bukan ke rumah kakek... jalan ini bukannya menuju ke rumah kakek kan?" tanya Dira.
"Iya...ada yang menunggumu di sana..." jawab Alex.
"Oya? Siapa? Mas Hans kah? Siapa kak? Pasti dia...Dira yakin Mas Hans nggak akan marah lama-lama,Mas Hans hanya salah faham,iya kan? Mas Hans pasti akan menjemput Dira...iya kan Kak Alex?" tanya Dira penuh antusias, dalam hatinya dia benar-benar berharap suaminya akan datang menjemputnya untuk di ajak ke Malaysia sembari berbulan madu. Alex hanya diam tidak menjawab, karna dia juga tidak tau harus menjawab bagaimana... Sementara Dira yang tadinya terlihat murung, tiba-tiba terlihat bahagia, mungkin dia memang mengira suaminya yang datang.
Mobil Alex sudah memasuki halaman rumah keluarga besar Saputra, rumah yang begitu besar dan berhalaman luas itu tampak sepi.
"Kak, siapa sebenarnya yang menunggu Dira? Kok rumah terlihat sepi-sepi aja...?" tanya Dira heran.
"Kalian masuk aja dulu...aku ada telpon penting dari klien ni..."
"Jangan lama-lama ya pa..." kata Tiara kepada suaminya yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Alex.
Dira, Sila, Tiara dan Alika pun segera masuk ke dalam rumah, dan...
"Surprise..." teriak semua orang di dalam rumah.
__ADS_1
"Kakek, nenek,tante, Hanna... semuanya kapan datang? Dira kangeeen..." Dira memeluk satu per satu keluarganya yang baru datang dari liburan dan yang terakhir Dira memeluk papanya.
"Selamat ya sayang, akhirnya kamu berhasil mewujudkan cita-citamu... Terimakasih telah menjadi anak yang membanggakan... Papa kangen sekali sama kamu..."
"Iya pa... hiks hiks hiks..." Dira menangis haru.
"Hans mana?" tanya Sasongko memecah keheningan.
"Mas Hans...."
"Masih di Malaysia kek, proyek di sana butuh pantauan khusus jadi dia tidak bisa pulang...sore ini Dira yang akan bertolak ke Malaysia untuk menyusul Hans..." jelas Alex panjang lebar untuk menutupi kebingungan Dira yang tak tau harus menjawab pertanyaan kakeknya.
"Betul gitu Dira?" tanya Sasongko kepada Dira.
"Iya kek, Kak Alex sudah menyiapkan segalanya..." jawab Dira.
"Huuh anak itu... kadang suka berbuat seenaknya... Dira maafin suamimu ya?"
"Tentu kek..."
"Yaaa...baru juga ketemu..." ucap Hanna cemberut sambil memeluk Dira dari belakang.
"Iih...kakak nggak lama kok, tunggu aja, nanti kakak akan cepat pulang..."
"Hei Hana...Kak Dira mu itu mau nyusul suaminya...biarkan mereka liburan sambil bulan madu... kita kan juga habis liburan..." ucap Amirah.
"Eh iya...ayo ceritanya kita lanjutkan di meja makan,tuh Pak Mus sudah masak begitu banyak untuk kita." ajak Amirah yang akhirnya diikuti oleh semua tamunya, hanya Alex yang kembali ke luar rumah untuk menelpon seseorang.
📞 "Hallo..."
📞 "Yaaa..." jawab Hans sambil menguap malas.
📞 "Bre******k lu Hans, nggak nyangka gue... bisa-bisanya lu perlakukan Dira seperti ini... Lu nggak liat betapa sedihnya dia tadi ketika Dira memberi sambutan di mimbar dan betapa gembiranya dia ketika gue mengatakan bahwa ada yang menunggunya, dia menyangka itu elu. Hans...Hans...lu denger kata-kata gue kan?" tanya Alex penuh emosi.
📞 "Iya...iya...aku dengar..." jawab Hans sambil kembali menguap.
📞 "Lu baru bangun tidur ya? Jam berapa ini? Ini udah tengah hari Hans...lu nggak berangkat kerja ya....?"
📞 "Iya... semaleman aku nemenin Jessica dan teman-temannya minum-minum di klub malam...Lagi stress dia..."
📞 "Jessica??? Kalian mabuk berdua?"
📞 "Iya Jessica...kita memang mabuk tapi nggak berdua. Ada Sarah dan Anya..."
__ADS_1
📞 "Lu...lu nggak tidur dengan Jessica kan?"
📞 "Enggaklah...tapi mungkin jika semalam tidak ada Pak Cik Harun, sopir pribadiku selama di sini,aku bisa salah masuk kamar karna Jessica menggiring aku ke kamar apartemennya...ha ha ha...modus aja dia..." Hans terkekeh sendiri, sepertinya pengaruh alkohol belum sepenuhnya hilang.
📞 "Kamar apartemen? Bukannya lu tinggal di hotel?"
📞 "Aku beli apartemen di sini,siapa tau aku akan menetap di sini..."
📞 "Maksud lu? Lalu bagaimana dengan perusahaan lu di sini? Dan bagaimana juga dengan Dira?"
📞 "Perusahaan aku percayakan padamu dan mertuamu, mungkin sekali-sekali aku akan datang sambil menengok keluargaku di sana. Tapi masalah Dira..." Hans diam sesaat "Masalah Dira sepertinya aku masih butuh waktu untuk sendiri dan berfikir,mempertimbangkan antara bukti dan pembelaan. Tapi kamu nggak perlu khawatir, aku pasti akan menyelesaikannya nanti, tunggu sampai aku bisa berdamai dengan kenyataan..."
📞 "Br*******k lu... sumpah demi Allah, nggak peduli lu boss gue,kalo hari ini lu ada di hadapan gue,lu pasti udah habis gue pukulin. Karna walaupun Dira itu bukan adik kandung gue tapi dia sudah seperti adik gue sendiri,jadi gue pasti akan pasang badan buat Dira dan jika lu nyakitin dia, berarti lu berhadapan dengan gue. Gue pikir waktu lu nyuruh gue cari tau keadaan Dira,lu sudah bisa percaya pada Dira,tapi nyatanya? Dasar br*******k! Asal lu tau Hans janin yang ada dalam kandungan Dira itu adalah anak lu,kalo hingga detik ini lu masih belum percaya atau pun tidak mau percaya... jangan salahkan siapapun jika suatu saat nanti lu kehilangan mereka."
'Klik...' Alex menyudahi telponnya agar dia tidak terpancing emosinya lebih dalam.
"Astaghfirullah haladziim..." Alex mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan.
"Pa...ada apa?" tanya Tiara yang datang tiba-tiba.
"Allahuakbar...bikin kaget aja ma... Sejak kapan mama di situ? Kayak hantu aja... nggak kedenger langkahnya... Alika mana?"
"Sejak papa marah-marah sama boss papa... Alika sama kakek neneknya. Kenapa pa? Apa Hans tetap tidak percaya pada pembelaan Dira pa?" tanya Tiara khawatir..."Lalu gimana dong pa? Apa kita suruh Dira batalin kepergiannya ke Malaysia aja ya pa? Kasian kalo nanti sampai di sana,Hans tetap tidak mau percaya..." ucap Tiara dengan sedih.
"Tidak perlu kak...!" Alex dan Tiara terkejut lalu keduanya menoleh ke belakang.." Perjalanaku tidak perlu dibatalkan, aku akan hadapi apapun yang akan terjadi sesampainya aku di sana..." ucap Dira dengan tegas.
"Tapi..."
"Kak Tiara tidak perlu khawatir, bukankah kata kakak aku harus kuat untuk dia?" ucap Dira sambil mengelus perutnya.
Tiara mengangguk kemudian dia memeluk Dira sambil menangis tanpa suara.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...