Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Menjenguk Papa


__ADS_3

"Assalamu'alaikum..."


Tanpa menunggu jawaban,Dira masuk ke rumahnya. Sepi...


Tak terlihat Sonya mami tirinya ataupun Angel adik tirinya. Dira masuk ke dapur mencari Bi Asih.


"Bi...bibi..."


Dira melongok ke dapur tapi sepi...dan dia pun bergegas menuju kamar Bi Asih. Dilihatnya wanita yang mulai terlihat tua itu sedang menjalankan ibadah sholatnya. Dira duduk di pinggir ranjang Bi Asih,menunggu Bi Asih menyelesaikan ibadahnya.


"Bi..." panggil Dira setelah Bi Asih menyelesaikan sholatnya.


"Astaghfirullah...Non Dira? Kapan pulang?"


Dira tidak menjawab pertanyaan Bi Asih tapi dia segera menghambur ke pelukan Bi Asih yang bahkan belum sempat melepas mukenanya.


"Non kemana aja? Bibi khawatir,sudah seminggu lebih non nggak pulang..."


"Dira tidur di ruko bi"


"Ya Allah non...non sehat-sehat aja kan selama di sana?" Dira mengangguk.


"Tapi non agak kurusan..."


Bi Asih memandangi Dira ujung rambut hingga ujung kaki.


"Yang penting kan Dira sehat...Bibi nggak usah khawatir,Dira kan udah gedhe...udah dewasa..." Sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Bi Asih,membuat mata Bi Asih berkaca-kaca...antara terlalu senang dan terharu.


"Oya bi,rumah kok sepi...pada kemana?"


"Astaghfirullah bibi lupa bilang...Tuan tadi tiba-tiba pingsan terus Nyonya Sonya dan Non Angel di anter Joko menemani tuan ke rumah sakit lalu Ningsih sama Ujang,baru aja nyusul ke sana nganterin baju ganti..."


"Papa...papa kenapa bi...?"


"Kata dokter Andrian tuan terkena serangan jantung dan atas rujukan dokter Adrian,tuan di bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut..."


"Astaghfirullah...kalo gitu,Dira mau menyusul ke rumah sakit,Dira mau lihat kondisi papa... Di rumah sakit mana papa di rawat bi?"


"Rumah sakit Permata Hijau non,tempat dokter Adrian praktek sekarang..."


"Kalo gitu,Dira mau kesana..."


"Eh non tunggu dulu...non mau pergi sama siapa malam-malam?"


"Sama Sila dan temenku bi..."


Dira bergegas ke depan,Bi Asih pun melepas mukenanya dan melempar sembarangan lalu segera mengikuti anak majikannya itu. Tak lupa dia menyahut jaket Dira yang selama ini menemani tidur Bi Asih semenjak Dira meninggalkan rumahnya.


"Sil,papa gue masuk rumah sakit,anter gue kesana...gue nggak mau sampai terjadi apa-apa sama papa gue...hiks hiks hiks...Pak Hans tolong anterin saya ya pak...?" ucap Dira memohon sambil memegang erat tangan Hans.


"Iya...tapi jangan menangis,lebih baik kamu berdo'a semoga tidak terjadi apa-apa..." jawab Hans sambil tersenyum dan Dira pun menganggukkan kepalanya.


Sila pun ikut tersenyum melihat Dira yang tak melepas genggaman tangannya pada Hans.


Tiba-tiba,Bi Asih dengan tergopoh-gopoh mengejar Dira yang sudah mau masuk ke mobil.


"Non...non...tunggu...Ini jaket Non Dira,udara kali ini terasa dingin,jangan sampai non juga ikut sakit..."

__ADS_1


"Akh terimakasih ya bi...Dira pergi dulu..." Dira mencium pipi kanan Bi Asih seperti biasanya.


"Hati-hati ya non...tuan dan Non Sila,titip Non Dira ya..."


"Iya bi...bibi tenang aja ya..." ucap Sila mencoba menenangkan Bi Asih.


"Kalo begitu kami pamit berangkat dulu ya bi...Assalamu'alaikum..." tambah Hans.


"Wa'alaikumsalam..."


Hans memakaikan sabuk pengaman milik Dira lalu mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit.


🌹🌹🌹


Begitu mobil selesai di parkir,Dira pun berlari menuju resepsionis rumah sakit. Begitu tau kamar tempat papanya di rawat,Dira pun kembali melangkah dengan setengah berlari menuju kamar papanya yang ada di lantai dasar.


"Dira tunggu..." seru Hans karna Dira sampai melupakannya dan Sila yang menemaninya sejak tadi.


"Ayo buru dong pak...Dira mau cepat ketemu papa..." ucapnya yang tanpa sadar menarik tangan Hans. Hans menoleh ke arah Sila dan Sila pun mengkibas-kibaskan tangannya tanda Hans di suruh mengikuti kemauan Dira dan menyuruh Hans duluan.


"Ayo pak...lama banget sih jalannya..." omel Dira yang seperti tengah melupakan keberadaan Sila.


"Iya...iya..."


"Nah itu kamar papa...Lho pak,Sila mana?" tanya Dira yang masih menggandeng tangan Hans.


"Dari tadi kita meninggalkan Sila jauh di belakang...soalnya kamu sepertinya sekarang sudah terbiasa menggandeng tanganku..." goda Hans sambil tersenyum dan melihat tangan Dira yang belum melepas tangannya.


Dira pun terkejut melihat tangannya yang menggandeng tangan Hans sedari tadi,cepat-cepat dia melepaskan tangan Hans.


"Nggak papa kok...di gandeng terus juga boleh..." goda Hans lagi.


"Nah ini kamar papa udah ketemu..."


Dira terlihat salah tingkah,dia sengaja mengabaikan ucapan Hans dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Hans pun tersenyum melihat tingkah Dira.


"Dira..." panggil seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya.


"Mami...papa?"


"Papa sudah tidak apa-apa,Alhamdulillah cepat ditangani oleh dokter-dokter profesional di sini. Sekarang papa sedang istirahat...kamu mau masuk?"


Dira mengangguk,dalam hatinya Dira sedikit heran dengan sikap maminya yang tiba-tiba saja menjadi baik.


"Dira,kamu tidak ingin mengenalkan mami dengan..." Sonya melirik sekilas ke arah Hans.


"Eh...ini Pak Hans,dosen Dira...Pak Hans kenalkan ini mami saya..."


"Hans..."


"Sonya,maminya Dira..."


'Hmm rupanya ini ibu tiri Dira...sepertinya baik tapi kebaikannya seolah tidak tulus...' gumam Hans dalam hati.


"Mami,Dira masuk dulu ya?"


"Masuklah...tapi jika papimu masih tidur,jangan ganggu istirahatnya..."

__ADS_1


"Iya mi...Pak Hans,saya tinggal sebentar ya..."


"Ya...masuklah,aku tunggu di sini..."


"Kita tunggu Dira di sana sambil duduk?"


"Mari tante silahkan..."


Hans mempersilahkan Sonya dengan sopan.


"Ooo jadi nak Hans ini dosen Dira? Kok sepertinya masih terlalu muda untuk menjadi dosen ya..." ucap Sonya sedikit menyelidik.


"Saya hanya dosen pembimbing skripsi Dira sementara tante...saya menggantikan teman saya yang sedang cuti..."


"Ooo...lalu aktifitas nak Hans kalau sedang tidak jadi dosen pembimbing apa?"


"Saya berwiraswasta tante..."


"Pengusaha?"


"Belum bisa di bilang begitu tante,saya masih usaha kecil-kecilan..."


"Ooo..."


Mendengar jawaban Hans,Sonya seperti sedikit kecewa. Mungkin dia berharap Dira bisa menggaet pengusaha kelas kakap,sehingga bisa membantu kondisi perusahaan suaminya saat ini.


"Oya nak Hans,sebagai dosen di kampus Dira,apa nak Hans mengenal Damar?"


"Saya tidak mengenal Damar secara personal tapi saya tau anaknya yang mana..."


"Apa nak Hans tau kalau Damar itu pacar Dira?"


'Hmm,apa maksud Tante Sonya ini ya...coba aku ikuti saja permainan katanya...' bathin Hans.


"Setau saya,mereka sudah putus..."


"Oya? Kok tante nggak pernah tau...Akh Dira,padahal mereka berpacaran sudah sejak SMA,kenapa harus putus. Dasar anak bodoh,apa kurangnya Damar coba...Damar itu anak orang kaya,orangtua Damar juga baik dan sangat menyayangi Dira. Nanti akan tante coba menanyakannya. Sayang sekali kan kalau harus putus di tengah jalan? Hampir 7 tahun lho mereka pacaran...sayang kan kalo nggak sampai pelaminan...Betul nggak nak Hans?"


"Ya itu menurut kita,tapi kita kan nggak tau penyebab Dira memutuskan hubungan mereka. Lagi pula bukannya hidup,mati,rejeki dan jodoh seseorang itu sudah di atur oleh Allah. Yang menikah sampai punya anak cucu aja ada yang berpisah,apalagi baru sekedar pacaran tante..."


Sonya seperti semakin tidak bersimpati dengan Hans,sementara Sila yang mengurungkan niatnya mendekat dan hanya melihat serta mendengar dari jarak yang tidak begitu jauh pun terkekeh sendiri.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2