
Jam di ponsel Hans menunjukkan waktu pukul 8 malam ketika dia sampai di rumah. Hari ini dia memang telat pulang karna ada metting dadakan bersama seorang klien.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam tuan..."
"Lho kok Bi Asih...Dira mana? Katanya tadi nungguin buat makan malam...apa dia belum pulang?" tanya Hans sambil celingukan mencari sosok istrinya.
"Setelah pulang dari kampus,nyonya sedari tadi ada di rumah tuan,tidak pergi kemana-mana..."
"Eh iya,maksud saya...tadi nyonya pulang ke rumah jam berapa?"
"Pulang dari kampus tuan?"
"Iya pulang dari kampus bibi...kan tadi kata Bi Asih,Dira nggak pergi kemana-mana selain ke kampus..."
"Ooh iya...maaf tuan...Tadi nyonya pulang pukul 4 sore..."
'Hmm...berarti waktu dia di antar Adit tadi,nggak berapa lama dia pulang...dan waktu dia mengirim pesan pun berarti dia sudah berada di rumah...' gumamnya dalam hati.
"Ooo...Dira sudah makan bi?"
"Belum tuan,katanya menunggu tuan pulang baru mau makan. Nyonya hari ini memasak semuanya sendiri,sepertinya nyonya ingin memberi tuan kejutan tapi sayang tuan pulangnya agak malam..."
"Hmm...sekarang Dira dimana?"
"Ada di kamar tuan...tadi katanya mau nunggu tuan pulang,sambil rebahan di kamar tapi sepertinya nyonya ketiduran sampai-sampai tidak mendengar kedatangan tuan..."
"Oke...makasih Bi Asih,saya ke kamar dulu..."
"Iya tuan..."
Bi Asih membungkukan badannya dengan hormat kepada Hans,lalu melangkah menuju dapur. Tapi belum juga sampai dapur,Hans sudah memanggilnya kembali.
"Oya Bi Asih..."
"Saya tuan..." ucap Bi Asih menghentikan langkahnya.
"Bisa minta tolong panasin masakan Dira? Saya mau mandi dulu,nanti saya turun lagi sama Dira untuk makan..."
"Baik tuan..."
"Terimakasih ya bi..."
"Sama-sama tuan..."
__ADS_1
Hans memang seorang majikan yang berkepribadian sopan dan hangat. Dia sangat menghargai setiap jerih payah pekerja-pekerjanya,apalagi terhadap Bi Asih yang nota bene pengasuh istrinya sejak kecil...Hans tidak hanya menghargai tapi juga menghormati dan memperlakukan Bi Asih selayaknya orang tuanya sendiri. Seperti halnya Dira yang juga memperlakukan Bi Asih seperti itu.
Bi Asih pun merasa sangat bersyukur melihat Dira mempunyai seorang suami yang begitu sabar dan sangat mencintai Dira.
🌹🌹🌹
Hans berdiri di depan pintu kamarnya,sepi...tak terdengar ada aktifitas apapun. Berarti benar kata Bi Asih,kemungkinan Dira ketiduran. Dengan perlahan Hans membuka pintu kamarnya...ya...Dira memang tengah tertidur di sofa yang berada di kamarnya dengan sebuah buku terletak di dadanya.
Perlahan Hans menaruh tas kerjanya,kemudian mendekati Dira. Sambil berjongkok di samping sofa,Hans memandangi istrinya yang tengah tertidur lelap.
'Kamu cantik sekali Dira...aku sayang sekali padamu...' gumamnya sambil menyingkirkan sebagian rambut yang berada di wajah istrinya itu.
Sedetik kemudian tiba-tiba netra Hans tertuju pada buku yang berada di dada Dira...'Istri Sholehah Yang Di Ridhoi Allah'...sebuah judul buku yang membuat Hans tergelitik ingin mengetahui isinya. Hans tersenyum melihat bab dalam buku itu yang tengah di baca oleh Dira...'Kiat menjadi istri yang ikhlas'...
'Hmm..apakah sebenarnya kamu sudah mulai menerimaku?'
Hans memperlihatkan senyum kemenangannya,dia pun mendekati wajah istrinya bermaksud ingin mencium kening Dira. Namun tiba-tiba tubuh Dira menggeliat dengan matanya sedikit terbuka. Dan di saat bersamaan netranya menangkap sesosok bayangan laki-laki dengan wajah yang hanya beberapa senti di depan wajahnya,seketika netra Dira terbelalak dan dia pun segera duduk bangun dari tidurnya. Melihat reaksi Dira,Hans pun ikut terkejut.
"Eeh...mas mau apa?" ucap Dira dengan kedua tangan yang disilangkan didadanya.
"Mau apa? Apa mencium kening pun aku tak boleh? Bukankah dalam draf perjanjian kita tidak tertulis tidak boleh mencium kening? Aku ini suamimu Dira...aku bukan orang lain. Kita berdua sudah terikat janji sah,secara hukum maupun secara agsma..." ucap Hans yang mulai menjauh untuk pergi ke kamar mandi.
"Apa mas tengah mengeluh? Menyesal? Ato marah?"
"Tidak ketiga-tiganya. Aku hanya mengatakan kenyataan yang sebenarnya... Akh sudahlah,aku mau mandi terus makan...kau juga belum makan kan?"
"Maaf..." ucap Dira lirih.
"Yaah..." jawab Hans singkat dan sedetik kemudian Hans pun langsung kembali membalikkan badannya.
Dira membantu Bi Asih menyiapkan meja makan,setelah sebelumnya menyispkan baju ganti untuk suaminya.
Hans turun dengan wajah sumringah,berkali-kali dia tersenyum sambil memandangi kaos yang dipakainya. Kaos oblong berwarna biru tua yang bertuliskan 'HUSBAND' yang ternyata couple dengan kaos Dira yang berwarna biru muda dengan tulisan 'WIFE'.
"Kapan kamu beli kaos ini? Kok aku baru tau?"
"Dua hari yang lalu...norak ya? Ganti aja deh kalo nggak suka,sebenarnya tadi Dira ragu menyiapkan kaos itu...soalnya pasti mas risih dengan tulisan yang ada di kaos itu ya. Akh habis makan akan Dira siapkan baju gantinya..."
"Sok tau kamu...aku suka kok sama baju ini,aku juga suka pakek baju ini,apalagi couple sama kamu dan tulisan ini...tidak ada yang salah kan? Aku memang seorang suami dan kamu seorang istri...istriku... Nyonya Hans..." ucap Hans dengan tatapan menggoda. Sementara Dira tertunduk malu.
"Kesinikan piring mas biar Dira ambilin makan malamnya..." ucap Dira mengalihkan pembicaraan. Hans pun memberikan piringnya kemudian mulai menikmati makan malamnya.
"Kata Bi Asih,makan malam ini kamu yang masak ya...?"
"Iya...memangnya kenapa? Nggak enak ya...maaf...kalo gitu jangan di makan lagi...Dira akan suruh Pak Mus untuk masak masakan yang lain buat mas...Stop! jangan di makan lagi..."
__ADS_1
"Hei Dira...kamu ini kenapa? Kenapa sedari tadi sikapmu begitu aneh? Masakan ini enak kok,bahkan lebih enak dari masakan Pak Mus... Aku suka..."
"Maaf...Dira hanya takut,apa yang Dira lakukan tidak sesuai dengan kesukaan mas..."
"Hmm...sudahlah,jangan terlalu banyak berfikir yang nggak penting... Oya,sampai dimana skripsimu?" tanya Hans mencoba mencairkan suasana.
"Alhamdulillah udah selesai dan tidak perlu di revisi ulang,kata Kak Anton minggu depan Dira sudah bisa sidang skripsi dan sebulan kemudian jika tidak ada halangan,InsyaAlloh Dira sudah bisa di wisuda..."
"Waah bagus dong... Aku yakin kamu pasti akan menjadi lulusan terbaik tahun ini..."
"Aamiin...semoga... Terimakasih atas dukungan dan pengertiannya ya mas..."
"Sama-sama... Oya selesai makan kamu istirahat duluan aja,aku masih di sini menunggu Alex mengantar berkas kontrak perjanjian dengan klienku di Malaysia dan sepertinya besok pagi juga aku akan bertolak ke Malaysia..."
"Apa? Besok pagi mas akan pergi ke Malaysia? Kok mas nggak bilang sih kalo mau ke luar negri,Dira kan harus beresin baju-baju mas yang mau di bawa ke sana dulu... Kalo dadakan gini bagaimana dong" omel Dira sambil cemberut lucu.
"Eh kamu nggak usah kuatir,Desi sekertarisku sudah mrmpersiapkan semuanya,lagian baju-bajuku kan sebagian besar masih di apartemen..."
"Ooo...Desi...Desi sekertaris mas itu,dia punya kunci apartemen mas ya?" tanya Dira terlihat kecewa dan Hans tau itu.
"Alex yang punya kuncinya dan Desi pun menyiapkan baju juga ditungguin oleh Alex. Dan sekarang aku nunggu Alex karna dia mau nganter berkas dan koperku..." jawab Hans sambil tersenyum.
"Sama Desi juga?" Hans kembali tersenyum mendengar pertanyaan Dira yang seperti sedang cemburu.
"Enggak dong...Desi langsung pulang,dia kan di tunggu anak dan suaminya di rumah... Kenapa? Cemburu ya..." goda Hans.
"Idih...siapa yang cemburu...Dira kan cuma tanya aja...GR...huuh" ucap Dira sambil membalikkan badan menuju kamar tidurnya di lantai atas untuk beristirahat. Dan untuk kesekian kalinya,Hans tampak tersenyum penuh kemenangan melihat Dira yang mulai memberi sinyal positif.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut.,,
Terimakasih masih setia mengikuti ceritaku...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak like,komen,vote N gift nya ya...🙏🙏🙏