Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Kewalahan Menghadapi Hara


__ADS_3

Hans masih belum bisa percaya jika putranya menanyakan sesuatu yang biasanya hanya akan ditanyakan oleh orang dewasa.


"Kok papa malah bengong sih? Kakak nungguin jawaban papa ni..." ucap Hata nggak sabaran. Hans tersenyum karena dia seperti melihat potret dirinya di masa lalu pada putranya ini. Hans kemudian mendekati putranya... perlahan dia mulai menjelaskan apa yang telah terjadi tapi tentunya tidak semua diceritakan oleh Hans secara gamblang. Hans tidak menceritakan masalah Feli, dia tidak mau meracuni pikiran putranya dengan rasa benci dan dendam. Dia hanya mengatakan jika mamanya terpeleset di kamar mandi, hingga mamanya terpaksa harus kehilangan calon adiknya.


"Jadi Hara gagal dong jadi kakak..." ucap Hara tertunduk sedih. Hans segera meraih tubuh putranya lalu membawa ke pangkuannya.


"Bukan gagal, hanya saja Allah belum memberikan waktu buat Hara menjadi seorang kakak sekarang..."


"Yaaa... padahal Hara sudah seneng banget mau jadi kakak kaya papa..." ucapnya sedih. Hans terharu mendengar ucapan putranya, dia tidak pernah menyangka jika ternyata antusiasnya Hara untuk menjadi kakak karena Hara ingin seperti dia. Hans mengusap lembut rambut putranya.


"Terus kapan dong Hara jadi kakaknya?" tanyanya lagi.


"Nanti kalo semua urusan pekerjaan papa selesai dan Hara mengijinkan papa mama berlibur berdua, pasti Hara akan cepat jadi kakak lagi." jawab Hans ngasal, dia berharap Hara berhenti bertanya, karena Hans sudah mulai kewalahan menanggapi pertanyaan-pertanyaan Hara yang sangat kritis. Tapi rupanya jawaban Hans tadi, justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Hara justru kembali bertanya kepada papanya karena dia merasa bingung dengan jawaban papanya itu.


"Kenapa begitu pa?" tanya Hara bingung.


"Ya memang begitu, kan biar mama nggak sedih lagi, mama harus di ajak liburan biar kembali bahagia... Na... kalo mama bahagia, pasti mama akan cepat punya adik bayi... jadi Hara bisa jadi kakak lagi deh... he he he..." Hans pun terkekeh sendiri.


"Tapi kenapa kakak nggak boleh ikut?"


"Bukan nggak boleh ikut, tapi kakak kan harus sekolah dan belum libur... jadi pergi sama kakaknya kan harus nunggu kakak libur dong..."


"Kalo gitu kenapa liburannya nggak nunggu kakak libur sekolah aja...?" tanya Hara yang semakin kritis dalam melontarkan pertanyaan.


'Busyet... putraku ini benar-benar cerdas... semakin lama pertanyaannya semakin membuat aku terpojok... hadeeeh...' gumam Hans dalam hati yang diam-diam mengakui kecerdasan putranya.


"Kenapa pa... kan kakak juga pingin ikut liburan juga... Apa kakak nggak boleh ikut ya?" tanya Hara lagi yang merasa belum mendapat jawaban dari papanya.


"Kalau papa dan mama liburannya nunggu kakak libur sekolah, kan masih lama. Padahal mama sedihnya sekarang, mama butuh liburannya sekarang-sekarang ini. Jadi mama liburan sama papa dulu berdua, na...nanti kalo kakak sudah libur sekolah, papa dan mama akan liburan lagi barengan sama kakak... gimana?" Hans menarik nafas lega karena bisa memberi jawaban yang menurutnya sudah cukup memuaskan.


Hara manggut-manggut seolah paham dengan apa yang diutarakan oleh papanya.


"Oya, kakak tau nggak, besok Sabtu kita juga akan liburan ke Jogja lho.., tapi memang nggak akan lama... karena kita hanya akan mendatangi pernikahan dokter Haris saja. Tapi kan lumayan tuh... apalagi kita perginya rame-rame, pasti seru..." ucap Hans mengalihkan perhatian putranya dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah semakin membuat Hans bingung menjawabnya.


"Oya?" Hans mengangguk sambil tersenyum. "Horeee... kita liburan ke Jogja... Makasih ya pa... kok papa tau kalo kakak kangen Jogja..."teriak Hara bahagia, sementara Hans membuang nafas panjang karena merasa lega.


Tiba-tiba...'Tok tok tok...' terdengar suara pintu ruang kerja Hans di ketuk.

__ADS_1


"Mas...? Mas dan Hara disitukah?"


"Iya sayang... masuklah...?"


"Mamaaaa..." Hara segera menghambur ke pelukan mamanya.


"Kakak... mama mencari-cari kakak lho dari tadi... katanya mau nyambut papa pulang kerja, tapi kok nggak nongol-nongol... ee... nggak taunya dua-duanya di sini... Ada apa sih, kok nggak langsung ke belakang tapi malah pada sembunyi di sini..." Hans hendak menjawab tapi Hara langsung mencegahnya.


"Yeee...mama kepo... Nggak ada apa-apa kok ma... hanya sedikit urusan laki-laki..." ucap Hara sambil mengelus-elus punggung tangan Dira lalu menciumnya. Dira dan Hans tersenyum geli dibuatnya.


"Hmm oke kalo mau main rahasia-rahasiaan... tapi sekarang sudah sore, waktunya kakak mandi, sebentar lagi Bu Siti datang, hari ini kan jadwal kakak belajar ngaji? Buru sana mandi sama Nenek Asih..."


"Ah iya, ini kan hari Kamis ya... Oke deh ma... kakak mandi sekarang... Papa, jaga rahasia kita..." pesan Hara... Hans hanya menjawab dengan acungan jempol dan tersenyum pada putranya. Seperdetik kemudian Hara pun langsung menghilang dari pandangan netra kedua orang tuanya.


"Sayang... kenapa berdiri di situ? Sini... duduk sini..." Hans menepuk sofa yang tengah dia duduki.


"Mas tadi dari mana? Kok pergi nggak bangunin Dira dulu..." tanya Dira dengan bibir cemberut sambil mendekati suaminya.


"Kan mas udah pamit mau nyelesein masalah sebentar... dan benar cuma sebentar kan?" Hans menarik tubuh Dira ke dalam pelukannya.


"Tapi mas nggak bilang mau kemana? Istri baru sembuh udah ditinggal-tinggal..."


"Mas melaporkan Feli ke kantor polisi? Apa nggak terlalu berlebihan ya mas?"


"Apanya yang berlebihan? Gara-gara dia kamu jadi terluka... dan gara-gara dia juga, kita telah kehilangan calon bayi kita... Kalau tidak ada hukum di negara ini, ingin rasanya aku menghilangkan nyawanya sebagai ganti nyawa calon bayi kita..." ucap Hans sedikit terbawa emosi. Dira terdiam, dia tertunduk sedih dan tanpa sadar air matanya menetes di tangan Hans yang tengah memeluk Dira dari belakang.


"Sayang... kamu menangis?" tanya Hans sambil membalikkan tubuh istrinya.


"Kenapa?" tanyanya lagi dengan lembut sambil menghapus air mata Dira yang menetes di pipi.


"Maafkan Dira mas... Dira tidak bisa menjaga calon bayi kita dengan baik... hiks hiks hiks... Dira ibu yang ceroboh... Dira nggak hati-hati... hiks hiks hiks..." Dira semakin terisak mengingat kejadian dua hari yang lalu. Hans segera memeluk istrinya.


"Sayang... jangan bicara seperti itu lagi... Mas nggak pernah menyalahkan kamu. Semua ini adalah takdir, jangan menyalahkan dirimu sendiri terus menerus..." Hans mencoba menenangkan istrinya.


"Jangan menangis lagi... semuanya sudah berakhir... Feli sudah mendapatkan hukumannya, walaupun belum masuk ke meja hijau tapi mas pastikan dia tidak akan lolos dari jeratan hukum... Jangan lagi bersedih dan selalu menyalakan dirimu sendiri oke?" Dira mengangguk pelan, tangisnya pun mulai mereda. "Hapus air matamu, jangan sampai Hara melihatmu menangis lagi... Kamu tau, putra kita itu terlalu cerdas untuk dibohongi. Dan rasa ingin taunya terlalu besar,hingga mas sering kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya..." Dira tersenyum melihat curhatan suaminya.


"Naa...gitu dong...kalo senyum kan cantik..."

__ADS_1


"Gombal..." ucap Dira tersipu.


"Sayang, ada baiknya saat ini, kita fokus pada Hara dulu. Jangan sampai rasa sedihmu itu membuat Hara menjadi merasa terabaikan..." Dira menatap suaminya intens... kedua tangannya menyakup wajah Hans lalu mencium bibir suaminya itu sekilas.


"Terimakasih mas..."


"Sama-sama sayang... Oya, bagaimana rencana kita ke Jogja?"


"Mas mau, menghadiri pernikahan dokter Haris?" tanya Dira yang tiba-tiba menjadi bersemangat.


"Duh segitu bahagianya yang mau menghadiri pernikahan mantan..." goda Hans.


"Maas... dia bukan mantan Dira. Di antara kami tidak pernah ada hubungan apa-apa. Dira hanya menghargai dokter Haris karena dokter Haris telah banyak membantu Dira dan Hara..."


"Iya...mas tau sayang, maafin mas ya...Mas cuma bercanda..." ucap Hans sambil memeluk dan mencium pucuk kepala Dira.


"Bercandanya nggak lucu..." gerutu Dira manja.


"He he he...iya... kan mas udah minta maaf..." Hans terkekeh sendiri, kemudian dia kembali mencium pucuk kepala Dira yang tengah merajuk.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Hai... jangan lupa like, komen, vote N giftnya ya...

__ADS_1


Terimakasih...🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2