
Hans hendak menerobos masuk ke toilet,tapi dia segera sadar bahwa toilet pria dan wanita di resto itu di pisah. Beruntung ada seorang karyawan cleaning service keluar dari toilet wanita.
"Permisi mbak..."
"Ya..."
"Maaf saya mau tanya,apa di dalam tadi mbak bertemu dengan orang ini?"
Hans memperlihatkan foto Dira yang dia jadikan walpapper di ponselnya.
"Maaf tuan,saat ini di dalam toilet kosong tidak ada orang,saya baru saja membersihkannya... Kalau mbak ini,tadi sebelum saya masuk,beliau baru saja keluar dari toilet terus keluar resto lewat pintu samping tuan..." jelas karyawan claening service itu.
"Apa???" teriak Hans membuat karyawan cleaning service itu kaget dan ketakutan.
"Eh maaf...maafkan saya mbak...saya tidak bermaksud mengagetkan dan menakuti mbak. Tapi saya hanya terkejut mendengar tunangan saya pergi tanpa pamit dulu kepada saya. Emm sekali lagi maaf ya mbak...Saya berterimakasih atas keterangan mbak kepada saya dan sebagai tanda terimakasih saya,juga sebagai permintaan maaf saya ini ada sedikit rejeki untuk mbak..."
Hans memberikan dua lembar uang ratusan pada karyawan cleaning service itu yang pastinya langsung di terima oleh karyawan cleaning service itu sambil mengucapankan terimakasih yang berulang-ulang. Setelah itu Hans pun kemudian kembali menuju meja makannya. Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat di meja makannya ada Jessica yang sedang mengobrol dengan Hanna. Dilihat dari pandangan netranya,Hanna seperti kurang menyambut baik kehadiran Jessica di sana,namun Jessica nampak tidak peduli seperti biasanya.
'Akh Dira...apa kamu tadi melihat pemandangan ini? Dan pemandangan inikah yang membuat kamu pergi meninggalkan acara makan siang kita?'gumam Hans.
"Lho kak...Kak Diranya mana?" tanya Hanna begitu melihat kakaknya datang sendirian.
"Hai Hans..." sapa Jessica semanis mungkin yang ternyata diabaikan oleh Hans. Hans hanya melirik Jessica sekilas dari sudut netranya.
"Oya Hans,aku tadi kebetulan sedang metting sama klien di sini terus liat Hanna sendirian jadi langsung aku samperin deh..." ucap Jessica lagi yang tetap tidak ditanggapi oleh Hans.
"Hanna,kita pulang sekarang..." ucap Hans yang tidak menghiraukan pertanyaan adiknya tadi juga kata-kata yang diucapkan Jessica,tangan kanannya mengambil tas milik Dira yang tertinggal di kursi.
"Eh...kalian mau kemana? Dan itu tas siapa? Kok..."
"Bukan urusanmu..." jawab Hans dengan acuh tak acuh.
"Hans tunggu..."
Jessica menahan Hans pergi dengan memegang tangannya,tapi dengan cepat Hans mengkibaskan tangan Jessica dengan kasar.
"Hans...sebegitu bencikah kamu padaku saat ini? Atau ini semua karna kedekatanmu akhir-akhir ini dengan perempuan itu?"
"Pikir sendiri pake otakmu jika otakmu itu masih berfungsi dengan baik. Dan jangan kau limpahkan kesalahanmu pada orang lain...satu lagi,perempuan itu punya nama...Andira Zanitha Prasetya,calon istriku. Jangan coba-coba kamu sentuh dia dengan keegoisanmu jika kau tak ingin menanggung akibatnya nanti..." ucap Hans sambil mengacungkan jari telunjuknya ke dahi Jessica.
"Kau mengancamku Hans? Sejak kapan kau bisa berbicara sekasar itu Hans? Apalagi kepadaku? Sungguh,aku kini benar-benar seperti tidak mengenalimu lagi..."
"Apa kamu pikir aku masih mau mengenalmu atau di kenal olehmu setelah apa yang telah kau lakukan padaku? Dasar perempuan tidak tau malu..."
Hans pun segera membalikkan badan lalu menggandeng tangan adik kesayangannya itu pergi meninggalkan tempat itu setelah membayar pesanannya di kasir.
"Kak...Kak Diranya pulang duluan ya?" tanya Hanna lebih hati-hati setelah Hans mulai melajukan mobilnya.
"Iya..." jawab Hans singkat sambil membelai rambut adiknya.
__ADS_1
"Apa Kak Dira marah melihat Hanna mengobrol dengan Kak Jessica? Maafin Hanna ya kak? Hanna tadi juga merasa nggak suka kok ketika Kak Jessica datang,tapi..."
"Sudahlah...jangan terlalu banyak berfikir,Kak Diramu tidak sepicik itu...Kakak anter kamu pulang ya? Lain waktu kita pergi sama-sama lagi"
"Janji ya..."
Hans mengangguk sambil mengusap lembut pucuk kepala Hanna.
🌹🌹🌹
FLASHBACK ON
Dira berlari keluar dari mall itu. Sesampainya di luar,dia celingukan mencari tumpangan sambil tangannya merogoh saku celana jeansnya.
'Akh Alhamdulillah...' gumamnya sambil mengeluarkan selembar uang ratusan dari saku celananya.
Baru saja dia hendak mencari transpotasi,seorang lelaki paruh baya menghampirinya dengan sepeda motornya.
"Ojek neng?"
"Eh iya pak...apakah bisa bapak antar saya ke TPU di Jalan Brawijaya?" tanya Dira.
"Bisa neng...neng mau ziarah ke makam siang-siang begini?" tanya bapak itu sambil mengamati wajah Dira yang ada bekas tamparannya.
"Iya pak,saya kangen mama saya..."
"Oh...mari naik neng,ini helmnya..."
Sampai di tempat tujuan,Dira memberikan uang seratus ribu yang dia temukan di saku celananya tadi.
"Ini pak..."
"Waduh neng...maaf bapak nggak ada kembaliannya,sebab dari pagi bapak baru narik sekali..."
"Kalo nggak ada kembaliannya nggak papa pak...buat bapak saja..."
"Tapi neng ini terlalu banyak...ongkosnya cuma dua puluh ribu saja..."
"Nggak papa pak,saya ikhlas kok...terimalah..."
Bapak itupun mengambil uang seratus ribu itu dari tangan Dira.
"Terimakasih neng..."
"Saya yang harusnya berterimakasih,karna saya sudah di antar bertemu mama saya..."
Dira pun kemudian membalikkan badannya menuju makam mamanya.
FLASHBACK OFF
__ADS_1
Dira sampai di pelataran makam mamanya,hatinya terasa sakit,melebihi rasa sakit akibat tamparan Jessica tadi.
"Mama...kenapa seberat ini hidupku tanpa mama disisiku....hiks hiks hiks..."
"Dira hanya ingin membantu papa,Dira hanya ingin berbakti pada papa,Dira hanya ingin mempertahankan perusahaan yang telah mama dan papa rintis dulu agar tidak bangkrut. Tapi kenapa Dira harus diperlakukan sehina ini ma...hiks hiks hiks..."
Setelah puas berkeluh kesah,setelah selesai mendo'akan mamanya,Dira pun kemudian melangkah pergi meninggalkan makam mamanya. Dan dengan langkah gontai Dira berjalan menunduk sambil mengusap sisa air mata yang tadi menetes di pipi yang terkena tamparan Jessica tadi.
"Neng...neng..."
Dira menoleh ke arah sumber suara setelah celingukan mencari orang lain yang mungkin ada di sekitarnya. Dan betapa terkejutnya dia ketika melihat bapak tukang ojek tadi masih menunggunya di bawah pohon akasia di dekat pintu masuk makam.
"Bapak masih di sini?" tanya Dira heran.
"Di daerah sini susah cari angkutan neng...biar saya antar neng..."
"Saya Dira pak...panggil saya Dira..."
"Akh saya Solihun...biar saya antar Neng Dira sampai rumah...mari neng...ini helmnya"
"Oh terimakasih pak...kalo begitu tolong antar saya ke Jalan Pattimura ya pak" ucap Dira yang langsung membonceng di belakang Solihun sesaat setelah dia memakai helmnya.
Sekitar 30 menit,mereka pun sampai ke ruko tempat tinggal Dira. Selain mengucapkan terimakasih,Dira pun menawarkan kepada Solihun untuk mampir ke rukonya.
"Terimakasih neng...lain waktu saja,saya mau kembali narik..." tolak Solihun dengan sopan.
Dira pun berjalan menuju rukonya,dilihatnya mobil Pajero Sport milik Hans terparkir di depan rukonya.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Hai para reader semua...terimakasih masih setia membaca karya-karya Author yang masih jauh dari kata sempurna.
Jangan lupa kasih dukunganmu agar Author lebih semangat dalam menulis karya ya...
Like,coment,vote dan gift mu Author tunggu selalu...
__ADS_1
Terimakasih...🙏🙏🙏