
Takdir hidup, tidak pernah ada yang bisa menyangka. Perjalanan hidup Dira yang tak mudah selama lima tahun akibat kesalahan fahaman dengan suaminya, kini pun bisa berakhir dengan mudahnya....
Semua karna cinta...
Cintalah yang mempertemukan mereka kembali setelah lama berpisah...
Cintalah yang membesarkan hati mereka untuk saling memaafkan...
Dan cinta jugalah yang membimbing mereka untuk bersatu kembali.
🌹🌹🌹
Dira akhirnya sudah menyetujui untuk kembali pulang ke Jakarta, tapi dia meminta waktu pada Hans untuk menyelesaikan semua tanggungjawab yang pernah dipercayakan padanya.
"Menunda pulang ke Jakarta bukan karna berat meninggalkan seseorang kan?" tanya Hans sambil memeluk Dira dari belakang.
"Jangan mulai deh... katanya mau percaya..." jawab Dira yang sedang membereskan lemari bajunya. Dira memang sudah mulai memisahkan baju yang akan di bawa ke Jakarta dan baju yang akan dia tinggal di sini.
"Iya...iya... tapi mas kan takut kalau sampai kamu berpaling dari mas sayang..." Hans pun mulai iseng dengan menciumi telinga Dira karena sejak tadi merasa diabaikan.
"Lima tahun, emang belum bisa jadi bukti? Mas tuh... pisah sebentar aja udah tega main-main sama cewek-cewek." ucap Dira sedikit ketus..."Duh jangan iseng deh...geli tau..." Dira menghindari keisengan suaminya sambil masih tetap sibuk memilah-milah bajunya dan baju putranya.
"Jangan ungkit itu lagi dong sayang... mas kan udah minta maaf... Lagian mas nggak nakal sama mereka kok...mas berani sumpah demi Allah..." Hans pun melakukan pembelaan dengan sungguh-sungguh demi meyakinkan istrinya. Karena Hans memang sangat yakin bahwa dia selama lima tahun ini tidak pernah sekalipun menyentuh wanita lain.
"Iya deh percaya..." ucap Dira yang akan ngeloyor pergi begitu lepas dari pelukan suaminya.
"Eh mau kemana?" Dengan secepat kilat tangan Hans pun menarik tangan Dira hingga Dira jatuh ke pelukan Hans dan kali ini mereka saling berhadapan.
"Sayang... kamu nggak kangen sama mas? Lima tahun itu lama sekali lho...dan udah hampir seminggu mas di sini cuma di anggurin aja..." ucap Hans dengan senyum menyeringai.
"Tuh lihat udah jam berapa? Waktunya kita jemput Hara pulang sekolah...'cup'...ini masih siang mas... Lagi pula seminggu dari Hongkong? Mas di sini aja baru tiga hari..." Cepat-cepat Dira melepaskan diri dari pelukan suaminya, ketika Hans sedang terbengong-bengong karna mendapat ciuman bibir dari Dira.
"Manis... lagi dong..." pinta Hans yang merengek seperti baby.
"Huuh dasar mesum...ayo cepetan mas nanti Hara marah lho..." Dira pun segera merias wajahnya seperlunya di depan meja riasnya.
__ADS_1
"Mas ayo dong..." ucap Dira agak kesal melihat suaminya masih belum beranjak dari tempat tidur. "Baru antar jemput anak dua hari aja udah males..." Dira tampak bertambah kesal karena Hans malah memejamkan netranya, pura-pura tidur.
"Duh sepertinya Dira terpaksa minta tolong dokter Haris ni...semoga aja nggak sibuk..." ucap Dira sambil pura-pura mengetik pesan. Sementara Hans langsung bangun dari tidurnya begitu mendengar nama Haris di sebut oleh istrinya.
"Ayo kita berangkat sekarang..." ucap Hans yang langsung berjalan mendahului Dira menuju pintu kamar.
"Mas tunggu... dirapiin dulu dong penampilannya..." Kini giliran Dira yang menarik tangan Hans, membuat mereka kembali berhadapan. Hans memandang istrinya intens, membuat Dira yang tengah menyisir rambut Hans pun menjadi salah tingkah.
"Cantiknya istriku..." bisik Hans dan tanpa di komando lagi, tangan Hans pun segera menarik pinggang Dira ke dalam pelukannya.
"Harus dong...kan suaminya juga ganteng..." balas Dira dengan manja.
"Katanya mau jemput Hara..."
"Iya emang..." kata Dira dengan nada yang masih terdengar manja.
"Kalau mau jemput Hara jangan mancing-mancing dong...bisa jebol ni pertahanan mas kalo begini terus..." Hans melirik blouse Dira kancing atasnya lepas,membuat terlihat sesuatu yang berada didalamnya.
Menyadari pandangan suaminya, Dira pun segera mendorong tubuh suaminya.
"Apa itu omes?" tanya Hans bingung.
"Hadeehh memang susah ngomong sama om-om mah... Omes itu otak mesum...om..." ucap Dira yang setengah berlari... buru-buru keluar kamar karena takut tubuhnya kembali di raih oleh Hans. Hingga dia hampir menabrak Bi Asih yang baru saja dari luar.
"Aduh neng... hati-hati dong... Neng Nitha ini kan baru saja sembuh, kok udah lari-lari kayak anak kecil saja..." ucap Bi Asih yang kaget karena hampir tertabrak Dira.
"Aduuuh...maaf ya Bi Asih sayang...'cup'..." ucap Dira sambil mencium pipi kiri Bi Asih, membuat Bi Asih tersenyum sambil menggelengkan kepalanya..."Mas Hans tuh...iseng terus..." ucapnya lagi sambil tersenyum bahagia lalu ngeloyor keluar.
"Maasss buru...keburu Hara keluar kelas..." teriak Dira seperti anak kecil... "Bi Asih Dira sama Mas Hans pergi jemput Hara dulu ya..." bisiknya ke Bi Asih yang geleng-geleng melihat tingkah Dira.
Ya... wajah bahagia memang terlihat nyata dari wajah cantik Dira, semenjak dia memutuskan untuk kembali bersama suaminya. Hal inilah yang kini membuat Bi Asih merasa lega melihatnya. Walaupun sebenarnya Bi Asih belum bisa yakin seutuhnya kepada Hans. Tapi paling tidak melihat Dira kembali ceria, sudah lebih dari cukup membuat dirinya juga ikut bahagia. Dira sudah menunggu Hans di depan rumah sambil membalas chat dari Sekar. Sementara Hans baru keluar dari kamar dan berpamitan kepada Bi Asih.
"Bi, kami mau menjemput Hara dulu..." pamit Hans dengan sopan. Walaupun Bi Asih hanya berstatus sebagai ART tapi Hans sedari dulu memang begitu menghormati Bi Asih, karena Bi Asih adalah pengasuh Dira sejak kecil dan selama lima tahun terakhir ini Bi Asih juga ikut mengasuh putranya.
"Iya tuan... jaga dan bahagiakan mereka dengan baik tuan... Jangan kecewakan mereka jika tuan tidak ingin kehilangan mereka untuk kedua kalinya..."
__ADS_1
"InsyaAllah bi... saya berangkat dulu..." jawab Hans dengan senyum tulus untuk bisa meyakinkan Bi Asih dan Bi Asih pun membalas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Hayo ketauan... chat sama siapa tuh...'cup'...?" Sebuah ciuman mendarat di pipi mulus Dira, buah keisengan suaminya.
"Ih si om kepo genit..." ledek Dira.
Hans pun berjalan ke arah mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya yang masih sibuk membalas chat dari Sekar dan Agni. Sesampainya di dalam mobil, Dira masih juga belum selesai dengan chattingannya membuat Hans merasa diabaikan. Dan dengan sedikit kesal, Hans pun memakaikan sabuk pengaman pada Dira. 'Cup' Sebuah ciuman kembali menyerang Dira tetapi kali ini, Hans mendaratkan ciumannya di bibir Dira dan sedikit dimainkan oleh Hans di sana, membuat Dira terpancing untuk meresponnya.
"Kena lu..." bisik Hans pada Dira yang langsung melepaskan ciumannya karena Dira sudah kehabisan nafas.
"Iih... nggak lucu deh... Mas Hans iseng mlulu... nyebelin..." ucap Dira manja sambil memukul lengan Hans kemudian mendorong pelan tubuh suaminya.
"Halah... iseng-iseng tapi suka kan... ha ha ha..." ledek Hans menggoda istrinya sambil mulai menggerakkan mobil Pajero Sport miliknya.
"Huuh GR..." ucap Dira sambil menjebihkan bibirnya.
"Iih... minta lagi nih?" Hans pun memiringkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Dira sambil melirik ke depan karna dia sudah melajukan mobilnya di jalanan desa.
"Iih... jangan ganggu deh, awas tuh fokus ke jalan aja..." Dira mendorong bahu Hans.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi melihat kemesraan mereka sambil mengepalkan tangannya dengan perasaan yang kacau karena hatinya terbakar api cemburu. Sepasang mata itu adalah sepasang mata milik dokter Haris. Awalnya dia akan mengantar berkas dari Pak Kades, tapi ternyata dia harus melihat pemandangan yang menyakiti hatinya. Walaupun dia tau jika Dira atau Nitha sedari dulu tidak mungkin dimilikinya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...