Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Cemburu Nggak Jelas


__ADS_3

Rombongan Hans sudah sampai kota Jogja. Tak hanya Hans, Hara, Dira, Hanna dan Bi Asih tapi Amirah dan Anita beserta suaminya yang kebetulan sedang ada urusan di Jogja juga masuk dalam deretan rombongan Hans.


Setelah semalaman beristirahat, pagi ini adalah waktunya mereka pergi ke acara resepsi pernikahan dokter Haris dan Sekar.


Hans memandang takjub Dira yang kini ada dihadapannya, netranya tidak berkedip memperhatikan penampilan istrinya itu.


"Kamu akan berpenampilan seperti ini di pesta pernikahan dokter Haris?" Sebuah pertanyaan bodoh terlontar dari mulut Hans demi melihat istrinya yang tampak begitu mempesona.


"Iya... memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilan Dira?" Dira kemudian melihat penampilannya di cermin. "Gaunku tertutup... riasanku minimalis, tidak mencolok kan? Jadi dimana yang salah? Atau gaun ini tidak cocok buat Dira ya?" tanyanya bingung. Hans masih bengong hingga tidak memperhatikan ucapan istrinya.


"Akh iya... pasti gaun ini yang tidak cocok dengan Dira... ini gaun pilihan Hanna. Dari awal Dira ragu membeli gaun ini, harganya terlalu mahal tapi entah kenapa Dira langsung suka ketika Hanna menunjuknya. Tidak cocok ya mas... tapi gimana dong... Dira nggak bawa gaun yang lain..." ucapnya sedih. Hans masih diam tak menanggapi ucapan Dira tapi tiba-tiba sebuah ciuman membungkam bibir Dira yang sejak tadi terus mengomel hingga Dira hampir kehabisan nafas.


"Emmhh... mas... apaan sih? Nggak lucu deh..." Dira mendorong pelan tubuh suaminya ke belakang."Mas ini kenapa sih? Kalau mas nggak suka Dira pakai baju ini ya sudah. Kita nggak usah berangkat juga nggak papa..." Dira marah dengan perlakuan suaminya tadi, dia hendak melepaskan gaun yang melekat di tubuhnya tapi Hans menahannya. Hans tiba-tiba memeluk erat tubuh istrinya.


"Maafkan mas sayang... melihatmu begitu cantik, tiba-tiba membuat mas cemburu..." ucap Hans lirih di telinga Dira.


"Ngaco... jangan mengada-ada deh... emang mas cemburu sama siapa?"


"Ya sama para laki-laki di luar sana yang menatap wajahmu..."


"Astaghfirullah haladziim... istighfar... Dira saja bahkan belum keluar melewati pintu kamar, lalu laki-laki mana yang menatap wajah Dira..."


"Tapi nanti kita kan bakal keluar, otomatis akan ada puluhan, ratusan atau bahkan ribuan pasang mata yang akan menatap wajah cantikmu ini..."


"Kalo gitu lebih baik kita di kamar saja, nggak usah jadi pergi ke pesta resepsinya dokter Haris..." Dira duduk di pinggir ranjang hotel sambil cemberut.


"Dimana-mana, kalo ada orang cemberut itu biasanya terlihat jelek... tapi kalo istriku kok terlihat imut dan menggemaskan ya..."


"N g g a k l u c u..." ucap Dira yang kembali akan membuka gaun yang dipakainya.


"Eee...mau ngapain kok mau lepas baju...mau ngajak kuda-kudaan ya? He he he... Jangan ngambek dong... masak gitu aja jadi marah beneran ih..."


"Maunya mas apa sih?" kata Dira kesal karena merasa telah dipermainkan oleh suaminya.


"Maunya mas ya berangkat ke resepsi pernikahan dokter Haris dan Sekar dong. Resepsinya kan di hotel ini... masak kita yang ngasih tempat malah kita nggak datang..."


"Kalo maunya gitu, kenapa dari tadi rese... Buru siap-siap, acaranya sebentar lagi akan di mulai" omel Dira ketus sambil membenahi riasannya yang sempat di buat berantakan oleh orang yang cemburu nggak jelas... yaitu Hans suaminya.

__ADS_1


"He he he..." Hans hanya bisa nyengir kuda karena omelan Dira. "Udah dong make up nya, jangan terlalu cantik... nanti mas hilang akal lagi karena cemburu..." gerutu Hans melihat istrinya membenahi riasannya dan menjadi jauh lebih cantik lagi.


"Apaan sih... nggak usah lebay deh. Riasan Dira ini hanya biasa-biasa aja, ini bukan riasan MUA yang profesional... Lagian mas kan tau, kalo Dira juga nggak suka pakai make up yang tebel..." ucap Dira yang telah menyelesaikan pekerjaannya. "Kita keluar sekarang?" tanyanya dengan masih duduk di depan cermin menunggu aba-aba dari suaminya.


"Akh... kenapa kamu cantik banget... rasanya nggak rela menerima kenyataan jika kecantikanmu nanti akan di nikmati banyak orang..." Hans meletakkan kepalanya di bahu Dira sambil menatap wajah istrinya dari pantulan cermin.


"Udah deh jangan drama lagi... Hara, Hanna dan Bi Asih pasti sudah menunggu kita..."


Hans dan Dira akhirnya memasuki aula tempat resepsi pernikahan dokter Haris di gelar dengan diikuti Bi Asih, Hanna dan Hara. Dan tepat seperti dugaan Hans... begitu mereka masuk ke aula, semua mata tertuju pada mereka. Lebih tepatnya kepada Dira yang berpenampilan begitu sempurna...


Melihat situasi yang sesuai dengan prediksinya, Hans pun menggenggam erat tangan istrinya..."Jangan jauh-jauh dariku.." bisiknya ke telinga Dira dengan penuh penekanan menunjukkan betapa posesifnya dia.


"Memangnya Dira mau kemana kalau nggak berada di sisi mas?" tanya Dira dengan nada yang masih kesal.


"Aduh ini Bu Nitha to... lama nggak ketemu, tambah cantik aja... Jadi pangling..." sapa Bu Ita guru Hara yang masih saudara dokter Haris. Bu Ita memang orangnya sangat ramah, beliau pun tidak lupa mengangguk sopan ke arah Hans yang sejak masuk aula tidak mau jauh-jauh dari istrinya.


"Iya bu... apa kabar? Ibu sehat-sehat saja kan?"


"Alhamdulillah... ya sehat-sehatnya orang tua... Lho ini Hara mana? Apa nggak di ajak?"


"Ada bu...itu dia sedang sama aunty nya dan Intan. Alhamdulillah ya bu, akhirnya dokter Haris ketemu jodohnya juga..."


"Sama-sama bu... Selama ini dokter Haris juga banyak membantu istri dan anak saya di saat mereka menghadapi masa-masa sulit mereka di sini, jadi sudah selayaknya saya memberikan semua ini sebagai tanda terimakasih saya..." Perbincangan mereka pun berlanjut hangat, hingga tanpa sengaja Hans melihat Haris yang sedang memandang Dira hingga tak berkedip. Padahal tangannya saat itu sedang bersalaman dengan tamu-tamunya.


'Dasar dokter br*******k, bisa-bisanya dia memperhatikan bini orang, sementara bini dia sendiri ada di sampingnya. Bini yang baru tiga jam yang lalu dinikahinya. Dasar dokter tak beretika... untung bini gue gaunnya tertutup, na kalo gaun bini gue terbuka kayak para tamu wanita kebanyakan? Bisa-bisa dia lari nubruk bini gue...' geram Hans dalam hatinya. Seperdetik kemudian Hans menggeser posisi berdirinya agar bisa menutupi pandangan mata Haris kepada Dira. Tapi entah karena dia terlalu emosi atau karena dia salah makan, tiba-tiba saja tubuhnya lemas, perutnya terasa seperti di remas-remas, Hans pun mendekati telinga Dira dan berbisik...


"Sayang... pulang yuk?" ucapnya lirih dan sedikit tersengal.


"Pulang?" tanya Dira bingung... Hans pun mengangguk cepat. "Pulang ke Jakarta?" tanyanya lagi yang belum paham maksud suaminya.


"Pulang ke Jakarta nya besok Minggu sore, sekarang pulang ke kamar dulu... kok tiba-tiba kepala mas pusing banget ya... huuk..." Tiba-tiba saja perut Hans merasa mual, perutnya terasa seperti di aduk-aduk... hingga membuat Hans ingin muntah....


"Astaghfirullah... mas nggak papa? Kok wajah mas tiba-tiba pucat? Emm... Dira bilang Hanna dulu kalo kita duluan ke atas."


"Nanti di WhatsApp aja kalo kita sudah di kamar...huuk..." Perut Hans tiba-tiba terasa mual kembali dan tanpa menunggu Dira, dia pun segera keluar aula untuk mencari toilet umum terdekat.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Acara resepsi sudah selesai dan berjalan lancar. Haris dan istrinya masuk ke kamar President suite untuk memeriksa keadaan Hans yang kini terbaring lemas di tempat tidur.


"Lho kok kamu yang mau meriksa aku? Emangnya aku wanita hamil?"


"Memangnya menurutmu aku tidak bisa memeriksa pasien lain, selain para ibu hamil?" ucap Haris yang tadi telah di buat keki saat dia memandang Dira. Walaupun semua itu memang haknya Hans untuk menghalangi laki-laki lain memandang istrinya.


Haris mulai memeriksa kondisi Hans, tapi menurut Haris... Hans sehat dan tidak menderita sakit apa-apa.


"Tuh kan... ku bilang apa? Jelas-jelas aku merasakan lemas, pusing dan mual-mual... tapi dia bilang aku sehat. Panggil dokter spesialis penyakit dalam terbaik di kota ini..." titah Hans arogan.


"Maas... jangan begitu..." Dira mencoba mengingatkan. Namun tidak lama kemudian Hans merasakan mual-mual lagi dan segera berlari ke toilet kamar


"Hoek hoek hoek..." Hans memuntahkan semua isi perutnya.


"Mas...mas...buka pintunya...mas kenapa..." Netra Dira mulai berair karena mencemaskan keadaan suaminya.


Dira memapah suaminya ke tempat tidur lalu memberikan segelas air putih hangat.


"Dok, bagaimana bisa tidak apa-apa jika Mas Hans sedari tadi begini... tolong lakukan sesuatu dok..." ucap Dira cemas, tapi bukannya memberi solusi, dokter Haris malah tersenyum sambil memberikan sebuah testpack kepada Dira.


"Kapan kamu terakhir datang bulan?" Dira menggeleng pelan antara bingung dan lupa.


"Aku lupa... tapi seingatku bulan ini harusnya aku sudah dapat tapi..."


"Ceklah dengan benda di tanganmu itu..." titah Haris yang membuat seisi kamar saling berpandangan karena bingung. Sementara Dira tidak mau menunggu lama lagi, dia pun segera masuk ke dalam toilet.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2