
FLASH BACK ON
HANS POV
Hatiku tiba-tiba saja merasa tidak nyaman ketika Angel menyuruh suaminya menaruh kue bawaan mereka ke piring. Otakku langsung menangkap jika piring itu pasti ada di dapur, sementara saat ini Dira pun berada di dapur, jadi sudah bisa dipastikan mereka pasti akan bertemu. Ya Allah, rasa cemburuku mulai terusik. Ingin rasanya segera menyusul Dira ke dapur, tapi dengan alasan apa? Sementara sejak tadi Angel yang berada di depanku nyerocos terus, tidak berhenti-henti. Untung saja tidak lama kemudian kedua mertuaku segera datang, jadi ada alasan aku untuk pamit ke toilet sebentar.
Letak toilet bersebelahan dengan dapur, dan untuk mengetahui apa yang terjadi jika mereka bertemu, tidak mungkin aku pergi ke toilet, karena pasti akan ketahuan. Untuk itu aku memilih untuk berdiri di dekat dapur saja. Dari tempat aku berdiri, aku melihat dengan jelas apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Aku tidak tau apa yang sedang Dira rasakan saat ini, secara rasa cinta di antara mereka lebih lama terpupuk di hati mereka masing-masing dibandingkan denganku. Terus terang hatiku menjadi gelisah dan sangat cemburu mendengar pengakuan Damar, tapi seketika hatiku menjadi lega... aku begitu puas mendengar ucapan yang keluar dari bibir Dira dalam menanggapi ucapan Damar padanya.
Aku tau kejadian ini sudah pasti akan membuat Dira menjadi tidak nyaman, begitu pun denganku... ingin rasanya aku pukul mulut Damar yang berani mengucap cinta pada istriku, tapi bagaimana pun aku harus bisa lebih bijak menghadapi masalah yang menyangkut Dira. Aku tidak ingin dia marah, lalu pergi meninggalkan aku lagi.
Aku pun buru-buru kembali ke ruang tengah begitu melihat Dira pergi meninggalkan Damar.
FLASH BACK OFF
Mobil Hans sudah mulai melaju di jalanan ibukota yang selalu macet. Tapi Dira lebih banyak diam, bahkan ketika Hara bertanya sesuatu pun dia tampak begitu gugup menjawabnya. Sudah bisa dipastikan itu karena dia sedang melamun.
"Pa... boleh nggak kalo kita jalan-jalan ke mall dulu? Hara sama Erik kan belum pernah jalan-jalan di mall..." ucap Hara dengan wajah memohon.
"Boleh saja... tapi coba tanya mama dulu deh..."
"Mama mah dari tadi nggak merhatiin Hara pa...mama melamun mlulu..." gerutu Hara.
"Sayang..." Hans menyentuh tangan Dira.
"Eh iya mas..." jawab Dira gugup.
"Kamu tidak apa-apa kan? Apa kamu Nggak enak badan?"
"Enggak mas,aku baik-baik saja... Memangnya kenapa?"
"Hara ngajak jalan-jalan ke mall dulu..." Dira menoleh ke arah putranya.
"Iya... kita jalan-jalan dulu..." ucap Dira sambil tersenyum.
"Yeaaa... kita jalan-jalan Rik... terimakasih ya ma..."
__ADS_1
"Iya sayang..."
Mobil pun segera diarahkan oleh Hans menuju mall terbesar di ibukota. Dia begitu bersemangat melihat istrinya yang sudah mulai tersenyum.
🌹🌹🌹
Di Rumah Hans
Setelah sarapan bersama Jessica, Alex dan Handoyo mulai membahas langkah-langkah penting untuk memecahkan masalah hak waris peninggalan Tuan Hendrik atas nama Erik. Dan menurut Handoyo berdasarkan bukti-bukti yang dimiliki oleh Jessica, sudah lebih dari cukup baginya untuk menggugat hak waris untuk Erik.
"Sebenarnya dengan bukti-bukti yang Bu Jessica miliki ini, sudah lebih dari cukup untuk melakukan gugatan terhadap Tuan Rico. Sebab di sini ada bukti surat nikah asli dan juga tes DNA yang menunjukkan bahwa Erik adalah putra kandung Tuan Hendrik yang sah secara bukti biologis ataupun sah secara hukum. Tapi alangkah baiknya Ibu Jessica melakukan jalan damai dulu... melakukan pendekatan terhadap Tuan Rico, jadi tidak perlu langsung lewat jalur hukum. Karena jika lewat jalur hukum masalah ini bisa berlarut-larut dan akan memakan waktu yang cukup lama. Ibu Jessica hanya akan merugi... rugi waktu, rugi tenaga dan juga rugi biaya..." jelas Handoyo.
"Kenapa bapak bicara begitu? Bukankah seharusnya bapak senang jika saya memakai jalur hukum ya? Jika saya mengambil keputusan untuk lewat jalur hukum, otomatis saya memakai jasa bapak kan? Dan itu berarti bapak mendapat bayaran dari saya... Ooo... atau diam-diam bapak takut jika saya tidak mampu bayar bapak?" tanya Jessica dengan sombongnya.
"Maaf bu,bukan begitu tapi suka tidak suka antara Tuan Rico dan Erik ini kan ada hubungan darah, mereka ini kakak adik satu bapak, jadi untuk kedepannya besar kemungkinan mereka ini akan saling membutuhkan. Kalau kita bisa selesaikan dengan damai, InsyaAllah semuanya akan lebih enak jalannya... gitu bu..."
"Dengar ya pak, bapak tidak usah banyak menasehati saya. Perlu bapak tau.. saya ini beberapa waktu yang lalu sudah pernah mendatangi Rico di rumahnya tapi tanggapannya sangat tidak menyenangkan. Bahkan ucapannya itu sangat merendahkan dan menghina saya. Dan perlu bapak tau juga jika yang meminta tes DNA atas nama Erik itu adalah Rico tapi setelah hasil tes itu keluar, justru dia sendiri yang tidak mau mengakui hasilnya. Dia menuduh jika hasil tes DNA itu adalah hasil rekayasa saya karena saya ingin menguasai harta warisan papanya... Terus terang saya sakit hati pak, makanya saya akan menuntut Rico secara hukum, karena saya ini istri sah Tuan Hendrik... saya bukan istri simpanan dan Erik itu anak sah Tuan Hendrik... papanya Rico." ucap Jessica penuh emosi.
"Oke... oke... tapi dalam sebuah gugatan, sebelum kita memasuki tahap terakhir yaitu sidang, tetap akan ada tahap mediasi. Fungsi mediasi ini adalah untuk mencari jalan damai, jadi nantinya ibu akan tetap akan bertemu dengan Tuan Rico...."
Jessica diam sesaat untuk mencerna dan mempertimbangkan apa yang dikemukakan oleh Handoyo. Sementara Alex yang duduk tak jauh dari mereka, masih sibuk sendiri... berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan tugas kantornya.
"Oke kalo begitu saya minta waktu untuk mempelajari kasus ini sekaligus menyusun rencana selanjutnya..."
"Pak Handoyo tidak perlu buru-buru, saya akan sabar menunggu..."
"Kalo gitu saya permisi dulu Bu Jessica... Pak Alex... Assalamu'alaikum..." pamit Handoyo. Dalam hati Handoyo sedikit heran dengan sikap Jessica, sebab biasanya klien-kliennya selalu minta kasusnya dipercepat tapi Jessica justri seolah-olah ingin memperpanjang kasus yang sedang dihadapinya.
"Jess, bisa bicara sebentar?" tanya Alex setelah melihat Jessica akan ngeloyor pergi.
"Mo bicara apa lu?"
"Duduk aja dulu... lagian lu mo kemana sih?"
"Gue mo pergi kemana... bukan urusan lu... Cepet gih mo ngomong apa?" ucap Jessica ketus sambil duduk di hadapan Alex.
'Hmm... dasar rubah betina... dia memang tidak berubah. Sepertinya dia hanya kelihatan baik di depan Hans dan Dira saja...' gumam Alex dalam hati.
__ADS_1
"Eh malah bengong... buruan lu mau ngomong apa?"
"Hmm... lu ini sebenarnya maunya apa?" tanya Alex.
"Maksudnya 'maunya apa' itu apa ya? Lu kan udah tau, gue mau memperjuangkan hak anak gue... memperjuangkan harta warisan untuk Erik dari Almarhum bokapnya..."
"Tapi kenapa harus datang ke rumah ini? Padahal menurut Pak Handoyo, semua bukti-bukti yang lu punya itu sudah cukup valid... cukup untuk membuktikan pada Rico bahwa benar Erik adalah salah satu adiknya yang punya hak atas harta warisan peninggalan Tuan Hendrik, papa mereka seperti halnya putra Tuan Hendrik yang lain. Jadi untuk apa lu justru bertele-tele meminta Pak Handoyo memprosesnya secara hukum?"
"Sori Lex, gue rasa ini semua bukan urusan lu. Dan lagi bukannya lu udah denger kalo gue udah pernah mendatangi rumah Rico, tapi ujung-ujungnya dia malah ngehina gue habis-habisan..."
"Lu bohong Jessica... kejadiannya tidak seperti itu. Lu sebenarnya belum pernah menemui Rico..."
"Jangan sok tau deh lu... Alex... Alex... segitu nggak sukanya lu liat Hans bantu gue, sampai lu sibuk fitnah gue..."
"Gue ngomong berdasarkan bukti... tapi bukti itu akan gue bawa nanti ke hadapan Hans dan Dira, biar mereka tau bahwa orang yang mereka bantu itu belum berubah tapi dia adalah seekor rubah..." ucap Alex sedikit emosi. "Satu yang perlu kamu catat... jangan coba-coba mengganggu rumah tangga Hans dan Dira, karena gue nggak akan tinggal diam..."
"Terserah lu mo bilang apa, gue nggak peduli... yang penting Hans dan Dira masih percaya sama gue..."
Jessica pun kemudian berdiri dan segera meninggalkan Alex seorang diri.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Hai... jangan lupa tinggalkan jejakmu ya
__ADS_1
Like, komen, vote N giftmu Author tunggu...
Terimakasih...😘😘😘