Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Pertemuan Hans Dengan Hara


__ADS_3

Hanna sangat bersemangat ingin segera menghubungi kakaknya. Tak menunggu waktu lama dia pun segera mengeluarkan ponsel dari saku jas almamaternya dan segera menekan tombol nomor ponsel kakaknya. Sementara Dira pamit pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya, Dira ingin memberi waktu Hara dan Hans untuk saling mengenal tanpa terganggu oleh kehadirannya.


'Tuut tuuut tuuut...'


Setelah menunggu beberapa saat, panggilan video call Hanna pun di terima.


"Hallo Assalamu'alaikum... sudah sampai tujuan dek..." sapa Hans dari sebrang sana sambil masih sibuk dengan pekerjaannya...


"Iya..."


"Maaf ya...kakak sambil kerja... gimana semuanya lancar kan?"


"Alhamdulillah..."


Wajah ganteng Hans masih belum menghadap ke layar ponsel Hanna karna dia masih sibuk mengoreksi pekerjaannya, sampai dia mendengar suara anak kecil yang bertanya pada Hanna di sebrang sana.


"Aunty... apa dia papanya Hara?" tanya Hara dengan polosnya.


Matanya mengerjap seolah tidak percaya jika kini dia telah benar-benar bertemu dengan papanya, membuat pandangan mata indahnya tak pernah lepas dari layar ponsel Hanna.


"Iya sayang..." jawab Hanna.


Mendengar percakapan Hanna dengan seorang anak kecil, Hans pun terkejut kemudian dia segera meletakkan penanya lalu mengalihkan pandangannya ke arah layar ponselnya.


"Si...siapa dia dek...? Apa dia...?" tanya Hans memastikan walaupun dia tadi sudah mendengar jawaban Hanna saat anak kecil itu bertanya. Hanna mengangguk sambil tersenyum...


"Iya kak... dia putramu..." Netra Hanna seketika memanas dan berkaca-kaca.


"Dia... dia benar putraku?" Hanna mengangguk, sementara Hans berkaca-kaca sambil memandangi putranya dari layar ponselnya.


"Sayang... panggilah papamu... bukankah selama ini kamu ingin bertemu dengan papamu? Katakan dan tanyakan apa saja yang ingin kamu tau dari papamu" bisik Hanna di telinga Hara. Hanna tau... dari pertama kali bertemu Hara beberapa menit yang lalu jika keponakannya itu adalah seorang anak yang cerdas. Dan Hanna juga yakin ada puluhan pertanyaan yang ingin dia tanyakan jika dia bertemu papanya. Hara melihat ke arah Hanna, Hanna mengangguk kemudian meletakkan ponselnya di atas meja lalu menyandarkannya pada dinding agar Hara lebih leluasa berinteraksi dengan papanya.


"Papa..." panggil Hara lirih.


"Iya sayang...ini papa... Siapa namamu sayang...?" Netra Hans berkaca-kaca melihat anaknya memanggilnya 'papa'... satu kata yang selama lima tahun ini dirindukannya.


"Hara papa..." ucap Hara malu-malu.


"Sebutkan nama lengkapmu sayang..." bisik Hanna.


"Hara Andika Saputra..."


"Nama yang bagus... " ucap Hans sambil tersenyum, ingin rasanya dia memeluk putranya yang sama ganteng dengannya.


"Kata mama... nama Hara adalah singkatan nama papa dan mama...."

__ADS_1


"Oya? Mama memang pintar memilih nama buat anak papa yang ganteng ini..." puji Hans.


"Papa..."


"Iya sayang..."


"Apa papa sayang Hara?"


"Tentu... kenapa Hara tanya begitu?" tanya Hans penasaran.


"Kalau papa sayang Hara,kenapa papa nggak pernah pulang? Apa karena Hara nakal?"


"Siapa yang bilang begitu?"


"Kata teman-teman Hara... Kata mereka, Hara nggak punya papa karena Hara nakal jadi nggak ada papa yang sayang sama Hara..." cerita Hara sambil menundukkan kepalanya.


'Ya Allah... sepertinya selama ini anakku kena bully oleh teman-temannya. Kasihan sekali kamu nak... semua ini adalah salah papa... maafkan papamu ini ya nak...' gumam Hans dalam hati.


"Itu tidak benar sayang...papa sayang sekali sama Hara..."


"Tapi kenapa papa nggak pernah pulang?"


"Papa kan kerja sayang..."


"Mama juga bilang begitu... tapi papanya teman-teman Hara juga pada kerja dan papa mereka tetap pulang. Kenapa papa nggak pulang? Apa karena tempat kerja papa jauh sekali seperti kata mama?"


"Iya sayang,...iya... semua yang mama bilang itu benar..." Air mata Hans akhirnya meleleh juga... dia tak menyangka anaknya begitu pintarnya. Dan dia juga nggak menyangka, jika Dira begitu bijak dalam menceritakan posisinya saat ini sebagai seorang papa, membuat Hara tidak membenci dirinya.


"Papa... kenapa papa nangis? Papa sedih karena Hara nakal ya?" tanya Hara sambil kembali menunduk.


"Kenapa Hara bilang begitu sayang, papa menangis karena bahagia... papa juga bangga punya anak sepintar Hara... Kenapa Hara selalu bilang Hara nakal? Apa mama bilang begitu? Memangnya apa yang telah Hara lakukan?" tanya Hans penasaran.


"Bukan mama tapi teman-teman Hara dan mama-mama mereka... karena Hara suka berkelahi..."


"Apa...Hara suka berkelahi? Kenapa?" tanya Hans kaget.


"Teman-teman Hara suka ngatain Hara pembohong ketika Hara cerita soal papa dan mama mereka suka ngomongin mama, katanya mama pelakor dan wanita nggak bener... bahkan mereka ngatain Hara anak haram..." Hara mengadu pada papanya,anak sekecil itu pun mampu menceritakan rincian kejadian yang pernah dia alami. Hans benar-benar terkagum-kagum melihat putranya itu.


"Hara mengadu sama mama?" Hara mengangguk. "Apa kata mama sayang?"


"Mama hanya menangis sambil memeluk Hara...terus mama bilang..."Maafin mama..." gitu pa..." Hans kembali tak bisa berkata-kata, hanya deretan penyesalan karena telah mengabaikan istri dan anaknya yang muncul di benaknya.


"Papa... bisakah besok papa pulang ke rumah? Terus kalo sudah pulang...maukah papa anter Hara ke sekolah? Hara mau kasih tau sama teman-teman Hara dan mama-mama mereka kalau selama ini Hara nggak pernah bohong. Hara benar-benar punya papa seperti kata mama dan mama bukan pelakor dan perempuan nggak bener..."


"Tentu-tentu... hari ini juga papa berangkat pulang, agar besok pagi papa bisa anter Hara sekolah ya..."

__ADS_1


"Serius pa? Janji ya pa...yeaa... papa Hara mau pulang..." teriak Hara bahagia. Wajahnya yang sedari tadi tampak murung pun seketika berubah menjadi ceria. Hans sampai tidak bisa berkata-kata lagi.,.. dia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum, karena dia pun merasakan hal yang sama yaitu bahagia. Hara berlari menyambangi mamanya yang tengah bekerja, meninggalkan Hanna dan Hans yang belum menutup video call nya.


"Jadi kakak akan datang ke sini?" tanya Hanna.


"Pasti... sekarang juga kakak berangkat, kirim alamat dan shareloknya ya dek..."


"Siap...!"


"Tapi... sebelum kamu tutup telpon,kakak ingin bertemu dengan Kak Dira mu... bisakah kamu berikan ponselmu padanya?" tanya Hans memohon.


"Maaf kak...Kak Dira belum mau ketemu kakak, tadi dia mengijinkan Hara ketemu kakak tapi Kak Dira nya langsung pamit pergi kerja..."


"Kerja? Memang dia kerja apa di sana?" tanya Hans.


"Kak Dira di sini sebagai ketua koperasi dan UMKM desa..."


"Dia memang hebat...bisa kamu arahkan ponselmu agar kakak bisa lihat dia walau dari jarak jauh?" Hanna mengangguk, kemudian mengarahkan ponselnya ke arah Dira berada.


Tampak dari pandangan Hans,Dira seperti sedang mendengarkan Hara bercerita... mungkin Hara saat ini sedang menceritakan dirinya. Senyum mengembang dari bibir Hans melihat pemandangan itu, tapi senyum Hans menghilang ketika tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampiri mereka. Hara terlihat begitu akrab dengan laki-laki itu, demikian juga dengan Dira. Tangan Hans mengepal erat karena hatinya kini diselimuti rasa cemburu.


"Dek, kakak akan berangkat sekarang juga... Assalamu'alaikum..." Hans menutup obrolan video call dengan adiknya tanpa menunggu adiknya menjawab salam darinya.


"Eh... Wa'alaikumsalam..." jawab Hanna kaget melihat tingkah kakaknya. Hanna kemudian menoleh ke arah kakak iparnya...


'Hufh...pantas saja Kak Hans bersikap seperti tadi... pasti karena melihat Hara dan Kak Dira bersama dengan dokter Haris... Dasar cowok cemburuan...' Hanna pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung


Maaf telat update soalnya lagi nggak enak badan...


Terimakasih masih tetap sabar menanti...🙏🙏🙏

__ADS_1


Yok tinggalkan jejakmu lewat like, komen, vote N untuk Author...


__ADS_2