
"Dira..." bisik Hans seperti baru tersadar dari situasi yang tengah membelenggunya. Hans pun kemudian mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi ponsel Dira tapi tidak ada jawaban karna ponselnya mati.
Hans pun kemudian keluar dari kamarnya dan dengan setengah berlari,dia turun menggunakan lift menuju lantai dasar. Sampai di sana Hans sudah tak mendapati sosok Dira istrinya,Hans justru bertemu dengan Harun yang ternyata belum pulang ke rumahnya.
"Selamat malam tuan..."
"Selamat malam pak cik..." jawabnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Tuan Hans mencari seseorang?"
"Apa Pak Cik Harun dari tadi di sini?" Harun mengangguk. "Apa pak cik ada lihat seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang sepunggung dengan berperawakan tinggi semampai?"
"Apa dia Nyonya Andira, istri anda tuan?"
"Pak cik kenal istri saya?"
"Bukannya Nyonya Andira masih ada di atas,di apartemen tuan? Tadi sekitar jam tujuh malam saye yang menjemput Nyonya Andira dari bandara lalu mengantar nyonya ke sini dan saye belum nampak nyonya keluar tuan..."
"Siapa yang suruh pak cik jemput istri saya dan kenapa pak cik tidak bilang sama saya kalau pak cik di suruh jemput istri saya...?" tanya Hans sedikit emosi.
"Maafkan saye tuan, bukan sengaje tapi itu perintah Tuan Alex, untuk tidak memberitahukan kedatangan Nyonya Andira kepada tuan,kata beliau surprise begitu... "
"Astaghfirullah..." ucap Hans beristighfar sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.
"Maaf tuan,apa sekarang nyonya sudah pergi lagi? Apa tuan bertengkar?" Hans menggelengkan kepalanya pelan.
"Iya pak cik...dia pergi tapi kami bahkan belum sempat bertemu pak cik...Dia keburu pergi sepertinya karna dia tengah kecewa dan salah faham sama saya...Ya Allah... saya yang salah dan sekarang kemana dia, mana hari sudah malam dan dia belum pernah datang ke sini pula, ponselnya pun dimatiin olehnya... Astaghfirullah haladziim suami macam apa aku ini..." Hans menutupi wajahnya dengan kedua tangannya seperti orang frustasi.
"Sabar tuan,saye pasti nak bantu tuan mencari nyonya...sekarang bagaimana kalau kite liat rekaman CCTV milik apartemen dulu saja tuan?" Harun menepuk bahu Hans pelan.
"Ah ya... kenapa saya tidak berfikir begitu sejak tadi..."
Keduanya pun kemudian pergi ke ruang keamanan apartemen. Setelah meminta ijin, mereka pun melihat rekaman CCTV tersebut. Tampak dengan jelas begitu Dira datang,dia berhenti di coffe shop yang berada di lantai tujuh, seperti sedang mendengarkan pembicaraan seseorang. Selang beberapa menit kemudian, dengan sedikit terhuyung dia berjalan ke arah kamar Hans...dua kali Dira mengetuk pintu, meletakkan amplop coklat lalu pergi dengan langkah terhuyung-huyung sambil menangis menuju lift menuju ke lantai dasar.
__ADS_1
Dan betapa terkejutnya Hans melihat rekaman CCTV itu karena sesampainya di lantai dasar Dira pingsan dan tampak di angkat oleh seorang sekuriti.
"Siapa nama sekuriti itu? Dia pasti tau keberadaan istri saya sekarang... Apa dia masih ada sekarang? Bisa tolong panggilkan dia saat ini juga?"
"Oh sekuriti itu namanya Hasan, die sudah pulang tuan...sebab seharusnya tugas Hasan ya di sini dan shiftnya sudah saye gantikan sekarang..."
"Ya Allah...nomer telpon...saya minta nomer telpon Hasan..."
"Tuan, apa tidak sebaiknya kite tanye dulu sama resepsionis apartemen, mereka pasti tau kejadian tadi..." saran Harun sambil mencoba menenangkan Hans.
"Ah iya...betul juga usulan pak cik...ayo kita ke sana..."
Sesampainya di meja resepsionis...
"Saye tau kejadian tadi tuan, tapi saye tak tau kemane tujuan istri anda setelah siuman. Tadinya kami nak bawa istri anda ke rumah sakit tapi beliau menolak. Beliau hanya minta tolong dipesankan taksi lalu pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada kami..." jelas petugas resepsionis..."Maaf tuan kami tidak tau kalau beliau istri tuan,sebab waktu kami tanya apa ada kerabat yang tinggal di sini, beliau menjawab bahwa ternyata seseorang yang beliau cari sudah pindah..."
"Ya Allah... kemana aku harus mencari kamu Dira... Pak Cik Harun,ayo kita keliling kota mencari Dira...pak cik mau anter saya kan? Nanti saya akan kasih bonus untuk pak cik..." ucap Hans gusar.
"Tenang saje tuan, tanpa di kasih bonus pun saye nak bantu tuan mencari nyonya... kasian nyonya sendirian di luar sana..."
Hans dan Harun pun menyusuri setiap sudut kota Kuala Lumpur,Hans juga turun mobil menanyakan pada orang-orang sambil memperlihatkan foto Dira tapi hasilnya nihil. Bahkan hingga tengah malam,Dira tidak ketemu juga.
Sementara itu Jessica sedang uring-uringan nggak karuan,mengetahui kamar Hans kosong dan Hans tidak mau mengangkat telponnya.
"Iih... kemana sih Hans ini...di telpon juga nggak bisa lagi... udah dua jam di tunggu sampe gue ketiduran belum balik-balik juga..."
"Terus gimana ni...dah tengah malam lagi...apa malem ini dibatalin aja...?" tanya Sarah.
"Eh jangan... malem ini kan malem terakhir kita di sini..." ucap Anya.
"Iya sih...tapi... gimana ni Jess? Apa kita pergi tanpa Hans aja?" tanya Sarah.
"Emm...ya udah kita berangkat aja deh...keburu pagi nih..." jawab Jessica...tapi tiba-tiba netra Jessica melihat amplop berwarna coklat yang tergeletak di meja, membuat Jessica kepo ingin tahu.
__ADS_1
"Eh tunggu... amplop apa nih..." Baru saja Jessica hendak menyentuh amplop itu, sebuah tangan kekar menyambarnya.
"Jangan suka sentuh barang yang bukan milikmu..." hardik Hans begitu sampai apartemennya."Oya Jess, sini kembalikan kunci apartemenku..."
"Maksudnya apa ini? Bukankah elu udah kasih kunci itu sama gue...mana bisa tiba-tiba lu main minta gitu aja..." ucap Jessica keberatan.
"Memang kenapa nggak bisa? Bukankah itu kunci apartemen aku...mau aku kasih apa mau aku minta,ya suka-suka aku dong... sini kembalikan..." pinta Hans.
"Lu abis dari mana sih Hans? Lu kesambet di jalan tadi ya? Kok tiba-tiba lu berubah seratus delapan puluh derajat sama gue..." tanya Jessica mencoba menahan amarah.
"Itu bukan urusanmu... sekarang lebih baik kalian keluar semua... Aku lagi ingin sendiri..." Hans mendorong Jessica agar keluar dari apartemennya.
"Tapi bukannya kita malam ini sudah sepakat mau clubing bareng kan?" tanya Jessica yang belum mau menyerah untuk merayu Hans agar mau ikut dia dan teman-temannya.
"Sudah ku bilang aku mau sendiri...apa kamu sudah tidak mengerti bahasa Indonesia yang baik? Pergilah Jess... jangan sampai aku khilaf dan berbuat kasar padamu..." ucap Hans.
Sarah dan Anya pun berusaha menarik pelan tangan Jessica agar mau di ajak keluar dari apartemen Hans. Dan dengan wajah yang tampak kesal akhirnya Jessica pun mengalah lalu mengikuti langkah kedua temannya.
Hans menghempaskan tubuhnya ke sofa, setelah menutup dan mengunci pintu apartemennya. Hans pun mulai membuka amplop berwarna coklat itu dan kemudian mengeluarkan satu per satu lembaran-lembaran kertas yang ada di dalamnya. Tiba-tiba netranya tertuju pada selembar foto USG...di situ tertera jelas nama istrinya Ny. Andira Hans Saputra dan tertera pula dengan jelas usia kandungan Dira 1bulan 5 hari. Hans meraba foto itu..."Anakku... Di lihat dari usia kandungan Dira, dia memang benar-benar anakku...Ya Allah...apa yang telah aku lakukan pada Dira? Untuk kesekian kalinya aku selalu melakukan sebuah kesalahan...hiks hiks hiks...Dira, maafkan aku..."
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut...