Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Telepon


__ADS_3

Masih Di Malaysia


'Cklek...' Vera membuka pintu kamar dengan tergesa-gesa.


"Jes...coba tebak gue habis liat siapa?" tanya Vera yang sebenarnya dia sudah tau jawabannya. Nafasnya naik turun karna dia habis berlari-lari sepanjang koridor hotel.


"Mana gue tau...gue kan dari tadi cuma di kamar elu ini terus..." jawab Jessica cuek sambil masih membolak-balikkan lembar demi lembar majalah yang berada di pangkuannya.


'Bruk...' Vera menutup majalah yang tengah di lihat oleh Jessica sahabatnya.


"Huuh...lu nggak akan secuek ini jika lu tau orang yang gue liat tadi di lobby..." Vera menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur hotel.


"Heh... emang lu abis liat siapa siih...?" Jessica meletakkan majalah yang dilihatnya tadi kemudian mencoba bertanya pada Vera yang sepertinya sedikit kecewa dengan respon Jessica tadi.


"Akh nggak penting.,. gue tadi cuma liat Hans doang kok..." Kini giliran Vera yang menjawab acuh tak acuh pertanyaan Jessica sambil memainkan ponselnya.


"What? Gue nggak salah denger kan? Lu nggak sedang bo'ongin gue kan? Lu beneran liat Hans di sini? Lu nggak salah liat kan? Dia beneran Hans Hendra Saputra kekasih gue kan?" tanya Jessica sambil merebut ponsel yang berbeda di tangan Vera.


"Iih apaan sih lu? Tadi aja cuekin omongan gue... Lagian dia itu udah jadi mantan lu, bukan kekasih lu lagi..." omel Vera.


"Iya deh iya... maafin gue ya... Tapi perlu lu tau, gue belon mutusin Hans jadi dia belon jadi mantan gue dong..."


"Tapi lu udah nikah ma cowok lain dodol..."


"Tapi kan...? Akh sudahlah...sekarang lu ceritain aja deh soal lu liat Hans tadi..."


Vera kemudian bangun dari rebahannya lalu duduk di ranjang. Tapi baru saja Vera hendak bercerita, tiba-tiba ponsel Jessica berbunyi.


"Eh sorry...Kevin telpon..." ucap Jessica yang langsung mengangkat ponselnya.


📞 "Ya hallo ...?"


📞 "Maaf nyonya,ini sudah waktunya makan siang... Nyonya sudah di tunggu oleh Tuan Hendrik sebab setelah makan siang pukul dua waktunya Tuan Hendrik terapi..."


📞 "Hmm... kamu sudah di lobi?"


📞 "Iya nyonya..."


📞 "Tunggu...aku turun sekarang."


📞 "Siap nyonya..."


Jessica menutup ponselnya lalu memasukkannya ke dalam tas.


"Huuh obrolan kita sepertinya terpaksa kita pending dulu deh... gue kudu ngurusin si bayi tua dulu. Tar kalo udah beres gue WhatsApp lu ya..." ucap Jessica sedikit kesal.

__ADS_1


"Oke... jangan kuatir gue masih lama kok di sini... kita masih punya banyak waktu..." Vera berusaha menenangkan sahabatnya.


"Oya salam buat Sarah dan Anya ya... sampein maaf gue juga karna gue nggak bisa nemuin mereka sekarang..."


"Siap...siap... mereka pasti ngerti posisi lu saat ini..."


Setelah bercipika-cipiki, Jessica pun segera keluar kamar Vera dan segera turun. Jessica sudah tidak bisa berkutik jika Kevin yang notabene merupakan asisten pribadi suaminya berbicara, karna dalam lingkup di sekitar suaminya hanya dia yang masih belum bisa dia taklukkan. Dan justru dia yang masih menurut pada Kevin.


🌹🌹🌹


Di Indonesia


"Duuh bisa diperbaiki nggak sih Dit? Kok dari tadi nggak kelar-kelar sih..." tanya Dira nggak sabaran.


"Bisa...sabar dong...siapa suruh ceroboh... jadi aja ponselnya rusak." ucap Adit sambil memperbaiki ponsel Dira yang jatuh dan mati.


"Habisnya lu tadi ngagetin gue sih... Lu serius bisa Dit?"


"Aje gile...lu ngeraguin gue? Gue mahasiswa teknik elektro dan putra dari pemilik service center ponsel terbesar di kota ini Dira... masak ngerjain gini aja nggak bisa..."


"He he he... iya-iya... percaya deh gue...Tapi ngomong-ngomong yang punya usaha kan bokap lu ya,nape lu yang sombong... hadeehhh..."


"Habisnya lu sih yang cari gara-gara...he he he...Nah jadi deh...eh busyet... banyak banget panggilan masuk...'HUSBAND'... suami?" ucap Adit terkejut. "Maksudnya apa ni?"


"Eeh..." Dira segera merebut ponselnya dari tangan Adit. "Jangan kepo deh..."


"Eh Dir,lu belon jawab pertanyaan gue tadi lho...Kok malah jadi bengong... gue masih nunggu jawaban lu ni..." ucap Adit yang tiba-tiba merasa dicuekin Dira.


"Eh iya... tapi gue jawabnya entar-entar aja ya? Gue mau telpon dulu... penting nih..." Dira pun langsung ngeloyor pergi ke kamarnya tanpa menghiraukan Adit yang terbengong-bengong melihat tingkah sahabatnya itu.


'Tuuut...tuuut...'


📞 "Hmm hallo...?"


📞 "Assalamualaikum mas..."


📞 "Wa'alaikumsalam... Hmm...masih inget telpon ya...?"


📞 "Maaf...mas marah ya...?"


📞 "Menurutmu...?"


📞 "Maaf... ponsel Dira tadi nggak sengaja terjatuh terus mati... Tapi untung ada Adit datang ke ruko jadi diperbaiki sama dia... dia kan pinter memperbaiki ponsel mas, biarpun agak lama tapi akhirnya sekarang Dira bisa telpon mas deh..."


Dira bercerita panjang lebar dan memuji-muji kepintaran Adit dalam memperbaiki ponsel kepada Hans. Dira tidak sadar ada hati yang sedang bergemuruh karna terbakar api cemburu di sebrang sana.

__ADS_1


📞 "Mas...kok diam sih..."


📞 "Hmm... Sudah selesai pujianmu sama cowok lain? Kau saja tidak pernah memuji suamimu ini seantusias itu... Apa tujuan kamu telpon itu hanya ingin memamerkan kepandaian Adit saja? Kamu tidak ingin tau kabarku? Kalo begitu aku tutup saja telponnya... tidak ada gunanya..."


📞 "Eeeh jangan...Dira nggak bermaksud begitu..."


📞 "Lalu maksudnya apa? Suami baru pergi beberapa jam saja sudah ngundang cowok lain ke rumah..."


📞 "Eh Dira nggak ngundang Adit kok,dia yang datang sendiri...mas jangan asal nuduh dong...Lagian Dira sekarang di ruko, bukan di rumah tauu..."


📞 "Lalu apa tujuannya dia datang ke ruko? Dan kamu, kenapa baru aku tinggal sebentar sudah langsung pergi meninggalkan rumah? Apa jangan-jangan kalian janjian ya?"


📞 "Iih mas ngawur aja deh...tadi itu ketika mas pergi,Agni telpon ngabarin kalo ada barang datang sekaligus ada tagihan juga...jadi Dira langsung ke ruko. Sedangkan Adit datang hanya karna lewat terus mampir,jadi nggak janjian sama sekali..."


Dira dan Hans pun melanjutkan perbincangan jarak jauh mereka dengan percakapan yang terasa semakin hangat. Hingga Dira melupakan keberadaan Adit di rukonya.


Dira juga tidak sadar jika saat ini, Adit sedang memasang telinga mendengarkan semua pembicaraan Dira dan Hans. Tapi... walaupun Dira tidak tau jika Adit menguping percakapannya dengan Hans, Dira cukup cerdik dengan tidak pernah menyebutkan nama suaminya. Hal itu membuat Adit semakin penasaran, dengan siapa Dira berkomunikasi saat ini.


📞 "Udah dulu ya mas...Dira mau bantu Agni dulu..."


📞 "Bantu Agni apa mau berduaan dengan Adit?"


📞 "Ish... jangan curigaan mlulu deh...Dira tau batasan kok... Assalamualaikum..."


📞 "Wa'alaikumsalam..."


Sebenarnya Hans belum merasa puas berkomunikasi dengan Dira, walaupun sudah satu jam mereka mengobrol. Tapi uluk salam sebagai tanda mengakhiri percakapan yang diucapkan oleh Dira,tak urung di jawab juga.


Sementara di luar kamar Dira, Adit buru-buru menjauh dari pintu kamar setelah mendengar Dira mengakhiri obrolannya. Rasa ingin tahunya semakin besar setelah mendengar obrolan mereka via telpon tadi. Mungkinkah yang di telpon Dira itu orang yang nama kontaknya 'HUSBAND'? Dan apakah itu berarti Dira memang telah menikah? Tapi jika iya...Dira menikah dengan siapa? Kenapa dia tidak pernah cerita tentang pernikahannya?


Sejuta tanya berkecambuk dalam hati Adit, yang tidak sabar lagi untuk ditanyakan pada Dira...


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut


__ADS_2