
Angel menimang-nimang kado ulang tahun untuk Dira dari suaminya itu.
"Akhirnya..." gumam Angel.
"Sekarang kamu sudah tau kan... jika kakak tidak pernah berbohong padamu. Kamu nggak usah khawatir, seujung kuku pun kakak tidak pernah punya keinginan untuk merebut suamimu. Karena apa yang mau sudah kamu dapat, sebaiknya kamu pulang..."
"Sombong sekali... Kak Dira ngusir gue?"
"Bukan ngusir tapi kakak ingin istirahat..."
"Lu nggak ingin tau bentuk pin impian lu itu bagaimana jadinya?"
"Pin itu sudah lama tidak menjadi impianku lagi, jadi aku tidak berminat untuk melihatnya..."
"Tapi kalo kartu ucapan yang ada didalamnya? Apa lu nggak ingin tau apa yang di tulis laki gue buat lu? Gue aja penasaran loh..."
"Sudahlah dek, kakak rasa lebih baik sekarang kamu segera pulang saja atau mungkin pergi ke toko perhiasan untuk menjual pin itu sesuai keinginanmu... Sungguh kakak tidak berminat melihat wujud pin itu, apalagi mengetahui tulisan yang ada di dalam kartu ucapan itu. Dan saran kakak, sebaiknya kamu pun tidak perlu membacanya, jika kamu tidak ingin sakit hati..."
"Cih, sombong amat sih lu... belum tentu Kak Damar itu memberikan kata-kata romantis untuk lu... atau jangan-jangan lu ya yang ngarep Kak Damar memberikan kata-kata romantis buat lu? Asal lu tau aja... Kak Damar memberikan kado ini hanya bertujuan untuk menepati janjinya dulu, yang baru sempat dia wujudkan sekarang. Gue yakin kok kalo Kak Damar sudah move on kok dari lu... Apa yang dilakukan kali ini hanya wujud dari sifatnya yang gentleman..." ucap Angel bangga.
"Terserah apa kata kamu, sebagai seorang kakak...aku hanya mengkhawatirkanmu. Jangan sampai isi tulisan dalam kartu itu bisa mempengaruhi kesehatanmu dan bayimu..."
Angel tidak menghiraukan ucapan kakaknya, demi rasa penasarannya dia membuka bungkus kado itu dengan kasar. Dira dan Bi Asih yang duduk di berhadapan dengan Angel hanya bisa diam dan saling berpandangan.
"Nih jika lu pingin liat pinnya... sebagai adik yang baik, gue masih berbaik hati mau memperlihatkan wujud dari impian lu dulu... eh, impian kalian kali ya... tapi dulu...he he he. Nih coba lu perhatiin, bentuknya sama persis dengan keinginan lu kan... Pin ini memang cantik sekali, pantas Kak Damar sampai menghabiskan ratusan juta untuk membuatnya... Impian lu tinggi juga ya..." sindir Angel sambil memperhatikan pin itu tapi Dira hanya diam saja. Dia bahkan sejak tadi tidak berkeming sedikit pun dari tempat duduknya. Dira tetap tenang sambil memperhatikan polah tingkah adiknya, yang sebenarnya membuatnya bingung karena dia tidak tau apa maksud dari semua kelakuannya.
"Nah ini dia kartu ucapannya... Akan gue bacain buat lu..." Angel diam sejenak, matanya melotot begitu membuka kartu itu. Tiba-tiba badannya bergetar hebat seolah menahan amarah... keringat dingin pun mulai membasahi kening Angel dan 'bruuk'... Angel tiba-tiba jatuh pingsan di sofa.
"Astaghfirullah haladziim...bi... tolong jaga dia dulu ya...Dira panggil Mas Hans..." Bi Asih mengangguk kemudian membaringkan tubuh Angel dengan benar. Sementara Hans yang sedari tadi memantau istrinya pun langsung menghubungi dokter Ariesta dan segera berlari menghampiri istrinya.
"Mas... hiks..." Hans langsung memeluk istrinya.
"Tenang sayang jangan terlalu cemas, ingat saat ini kamu juga sedang mengandung...dokter Ariesta sedang menuju ke sini..." Hans membelai rambut istrinya.
"Tadi Dira sudah menyuruhnya pulang, bukan bermaksud ngusir tapi ini yang Dira takutkan. Dira juga sudah bilang kalo Dira nggak ingin liat isi kado itu, apalagi tulisan yang ada di kartu ucapannya... hiks hiks hiks... Tapi Angel nggak mau denger... hiks hiks hiks... Dokter Ariesta mana mas... kok lama sekali... Angel gimana mas?"
"Sabar dong sayang, jangan cemas,ingat kandunganmu... Nah itu dia dokter Ariesta datang..."
"Tolong adik saya dok... dia pingsan..."
__ADS_1
"Iya...iya... sabar ya... biar saya periksa dulu..."
Dokter Ariesta pun segera memeriksa keadaan Angel dengan teliti.
"Tekanan darahnya tinggi sekali... sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja... Bisa tolong bawa ke mobil saya?" Hans langsung memerintahkan supir pribadinya dan satpam untuk membantu dokter Ariesta.
"Dira temani Angel ya mas...?"
"Tidak... kita bawa mobil sendiri aja..."
"Tapi..." Dira tidak melanjutkan ucapannya karena melihat sorot mata Hans yang tajam menandakan bahwa dia tidak bisa di bantah lagi.
"Neng Dira kan juga sedang hamil... biar Bi Asih saja..." Dira akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah.
"Titip Angel ya bi..."
"Iya neng..."
Sampai di rumah sakit, Pras dan Sonya sudah menunggu. Sementara Angel segera di bawa masuk ke ruang IGD.
"Apa yang terjadi dengan adikmu sayang..." tanya Pras. Dira pun kemudian menceritakan semua yang terjadi di rumahnya tadi sambil sesekali terisak. Hans yang berada di samping Dira pun kemudian memeluk istrinya yang terus menerus menyalahkan diri sendiri.
"Maafkan Dira mi... Dira tidak bisa menjaga Angel. Tapi demi Allah Dira sudah mengingatkan Angel, tapi Angel nya yang nggak mau denger...hiks hiks hiks..."
"Bagaimana dengan suami dan mertuanya mi?" tanya Hans.
"Damar sudah mami kabari, tapi dia sedang di luar kota, jadi nanti sore mungkin baru bisa sampai. Kalau mertua Angel, paling sebentar lagi sampai...." jelas Sonya.
Tak berapa lama Tris dan Ningsih, orang tua Damar datang. Setelah bersalaman dengan besannya, Tris langsung mengobrol dengan Pras tapi Ningsih malah langsung menyambangi Dira.
"Apa kabar sayang?" tanya Ningsih. "Masya Allah... kamu juga tengah mengandung lagi?" Dira mengangguk sambil tersenyum. "Yang ketiga ya..."
"Iya ma..." Dira memang sudah terbiasa memanggil papa dan mama kepada orang tua Damar. Sementara Hans terlihat cemberut, dia seolah tidak rela jika Dira masih memanggil mama dan papa kepada orang tua Damar. Sedangkan Sonya pun terlihat tidak suka kepada besannya karena lebih memilih menanyakan kabar Dira terlebih dahulu di banding menanyakan kabar Angel yang jelas-jelas sedang terkena musibah.
"Sehat-sehat selalu ya sayang, mama do'akan semoga semuanya lancar sampai persalinan... Mama mau ke mamimu dulu ya..."
"Iya ma... terimakasih..." Ningsih pun langsung menghampiri besannya setelah mengangguk hormat ke arah Hans. Hans pun tersenyum terpaksa.
"Mama... mama... masih ngarep sama anaknya ya..." sungut Hans berbisik.
__ADS_1
"Maaass..." tegur Dira mengingatkan, takut ucapan Hans terdengar Ningsih.
"Angel udah banyak yang nungguin,kayanya kita pulang aja deh sayang..."
"Tapi..."
"Aku libur karna pingin berduaan, bukan malah nungguin istri orang..."
"Tapi..."
"Kalo kamu mau nungguin adikmu yang kurang ajar itu, ya silahkan... Aku mau pulang..." Hans pun kemudian langsung berpamitan kepada Pras dan Sonya, juga kepada orang tua Damar. Dan pada akhirnya Dira pun mengikuti suaminya.
"Mas kok gitu sih... terus Bi Asih gimana?"
"Nanti di jemput Jono..." ucap Hans sambil berjalan dengan langkah panjangnya.
"Mas... Mas Hans... tunggu dong..." panggil Dira setengah berteriak. Entah karna tidak mendengar atau pura-pura tidak mendengar, tapi Hans terus melangkah. Sampai akhirnya Dira justru menghentikan langkahnya karena merasa tak sanggup lagi menjajari langkah suaminya.
Hans menoleh lalu menghampiri istrinya, dan tanpa banyak basa-basi Hans pun langsung menggendong istrinya ala bridal style sampai-sampai menjadi perhatian banyak orang.
"Mas, Dira cuma minta di tunggu... bukan di gendong..." Hans terus melangkah dalam diam... "Mas, malu diliatin banyak orang... bisa minta turun nggak?" tanya Dira hati-hati.
"Kamu bisa nggak usah mikirin orang lain dan hanya mikirin suamimu aja nggak?"
"Maksudnya?"
"Cepat ambil kunci mobil di saku T-shirt ku lalu pencet tombol yang tengah..." Dira tidak berani banyak bicara lagi, dia hanya bisa menuruti perintah suaminya saja. Begitu tombol di pencet, pintu mobil pun terbuka dengan sendirinya. Hans lalu mendudukkan Dira pelan dan memakaikan sabuk pengaman, kemudian dia segera duduk di kursi kemudi tanpa bicara sepatah kata pun.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...