Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Fitnah


__ADS_3

"Mas Hans...Mas Hans...Mas Haaaans... jangan tinggalin Dira... jangan tinggalin Dira....hiks hiks hiks... " teriak Dira dalam tidurnya. Sila yang tengah tidur lelap di samping Dira pun terbangun dari tidurnya karna terkejut oleh teriakan Dira, sementara mata Dira tetap terpejam.


"Dira... Dira...bangun,.."


Sila mencoba untuk membangunkan Dira, tapi Dira seolah tengah di jerat oleh mimpi buruknya hingga dia begitu sulit terbangun. Netra Dira terus mengeluarkan air mata dan keringat dingin pun membasahi tubuhnya, sementara bibirnya terus memanggil nama suaminya. Sila bingung melihat keadaan sahabatnya itu.


"Dira... bangun... Istighfar... Astaghfirullah haladziim..." bisik Sila beberapa kali yang akhirnya mampu menyadarkan Dira dari mimpinya. Dira langsung memeluk Sila dengan erat tapi dia masih histeris sambil menangis sejadi-jadinya.


"Mas Hans pergi Sila...Mas Hans ninggalin gue...Mas Hans nggak sayang sama gue lagi... Dia nggak percaya gue mengandung anaknya... hiks hiks hiks..." ucap Dira yang ternyata belum sepenuhnya sadar dari mimpinya.


"Astaghfirullah Dira...sadar...!" teriak Sila yang bingung tak tau harus berbuat apa agar bisa menyadarkan sahabatnya itu. Sila melepas pelukan Dira... lalu mencengkeram kedua bahu Dira dan mengguncang-guncangkan bahu Dira dengan keras. Tapi Dira masih terus histeris, sampai akhirnya sebuah tamparan keras melayang dan mendarat di pipi mulus Dira.


Dira pun tersentak kaget hingga akhirnya Dira tersadar,lalu membuka matanya dan akhirnya dia tidak histeris lagi. Sila memandang wajah Dira dan mengelus bekas tamparan di pipi Dira. Dira terdiam,hanya tetesan air matanya yang tak dapat berhenti mengalir. Sila jadi merasa bersalah melihat keadaan Dira lalu Sila pun memeluk Dira sambil ikut menangis.


"Maaf... maafin gue... hiks hiks hiks...gue nggak tau bagaimana cara membuat lu sadar..." bisik Sila di telinga Dira..."Lu mimpi apa?" tanya Sila kemudian sambil melepaskan pelukannya.


Dira masih terdiam,Sila membimbing Dira agar bersandar di sandaran tempat tidur, kemudian Sila mengambilkan segelas air putih yang ada di nakas.


"Minumlah dulu..." titahnya.


"Sil..."


"Ya... ada apa?"


"Menurut lu... apakah Mas Hans akan ninggalin gue jika dia tau kalo gue hamil?" tanya Dira sambil mengelus perutnya.


"Lu ngomong apaan sih...dari kemarin omongan lu ngaco mlulu..." Sila meraih kedua tangan Dira..."Denger ya...di dunia ini tidak ada orang yang sangat mencintai elu, sebesar Kak Hans. Lu harusnya tau, betapa sabarnya dan betapa gigihnya perjuangan Kak Hans demi mendapatkan elu... bahkan dia tidak pernah peduli dengan semua syarat tidak masuk akal yang lu ajuin padanya.... Jika Kak Hans mendengar lu mengandung anaknya,dia pasti akan sangat bahagia... Jadi lu jangan takut lagi untuk menyampaikan kabar gembira ini padanya..."


"Tapi...gue seperti punya firasat buruk yang bertolak belakang dengan semua ucapan lu itu...Dan mimpi buruk yang datang dalam tidur gue, seolah seperti nyata. Gue takut Sil... sangat takut. Hubungan kami baru saja mengalami kemajuan...gue sedikit demi sedikit mulai merasa nyaman berada disisinya. Dan kepergian Mas Hans dinas ke luar negeri pun mulai membuat gue kangen. Gue berharap kedepannya hati gue bisa semakin terbuka untuk menerima Mas Hans dalam hidup gue..." Dira menutup wajahnya dengan kedua tangannya..."Astaghfirullah haladziim..." desisnya.


"Gue nggak mau bersu'udzon tapi rasa takut karna kehadiran dia yang tiba-tiba, selalu menghantui pikiran gue... Dia terlalu cepat hadir di antara kami..."


"Sholatlah... minta petunjuk dan perlindungan kepada Allah... Ayo gue temenin, kita berdo'a bersama-sama... lalu kita tidur lagi... Ini masih malem tau..."


"Iya..." jawab Dira singkat sambil mengelus pipinya yang masih terasa sakit.

__ADS_1


"Masih sakit ya..." Dira mengangguk "Maaf ya... tangan gue tadi reflek mampir ke situ..."


Dira tersenyum sambil mengangguk pelan. Keduanya pun kemudian secara bergantian mengambil air wudhu dan sholat malam bersama.


🌹🌹🌹


Di Malaysia


Hans membuka matanya dengan malas sambil memijit-mijit keningnya karna terasa pusing. Namun sedetik kemudian matanya terbelalak kaget melihat kondisi kamarnya yang berantakan bak kapal pecah. Dua botol anggur kosong tergeletak di meja dan puing-puing ponsel miliknya yang dia lempar semalam berserakan di lantai kamarnya.


'Astaghfirullah... apa yang sudah terjadi semalam?' gumamnya dalam hati.


Kemudian dengan langkah terhuyung, Hans menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelahnya dia pun menelepon bagian room service hotel untuk membereskan kamarnya.


Setelah kamarnya dipastikan beres,Hans yang sudah siap pergi ke proyek pun segera turun ke bawah.


"Selamat pagi tuan..." sapa Harun sopir pribadi Hans selama tinggal di Malaysia.


"Selamat pagi pak cik..." jawab Hans dengan sopan.


"Kemane agenda kita hari ini, tuan?"


"Tentu saje bisa tuan... dengan senang hati..."


"Oke kalo gitu, kita berangkat sekarang..."


"Siap tuan... laksanakan..." ucap Harun sambil berdiri tegap dengan tangan pada posisi hormat. Hans pun tersenyum kecil melihat tingkah sopirnya itu.


Selesai mengunjungi proyek,Hans minta diantarkan ke sebuah mall terbesar di daerah ibukota Malaysia yaitu Kuala Lumpur.


"Loh kenapa pak cik masuk mobil lagi? Saya kan tadi sudah bilang minta pak cik temani saya jalan-jalan kan?"


"Iya tuan tapi saye temani tuan sampai sini je... Sebab kalo liat banyak barang bagus,saye suka berangan..."


"Jangankan cuma berangan...beli juga boleh...Ayo kita masuk, nanti kalo ada yang pak cik suka dan pak cik butuh,kita beli..."

__ADS_1


"Itu dia tuan,mana saye punya duit?"


"Sudah nggak perlu banyak alasan...kita masuk sekarang,saya yang akan belanjakan..."


"Seriuskah tuan?"


"Memang saya terlihat bercanda? Ayo kita masuk..."


Mereka pun segera masuk ke mall itu... Dan hampir seharian mereka menyusuri setiap toko yang ada, sampai akhirnya Hans memutuskan untuk makan di sebuah resto yang terdapat di mall itu.


Menjelang sore,Hans sampai di kamarnya. Diambilnya ponsel yang baru dia beli dan sengaja tidak dia aktifkan. Dia pingin tau apa yang akan dilakukan Dira jika seharian ponsel miliknya tidak aktif.


'Cengklung cengklung cengklung...' suara puluhan bahkan mungkin ratusan pesan masuk ke nomernya. Dan panggilan masuk pun teryata tak kalah banyaknya, diantaranya panggilan dari nomer ponsel Dira yang sejak beberapa hari terakhir ini selalu menghubungi via video call.


Hans menarik nafas panjang sambil tersenyum sinis. Dia tidak langsung menghubungi istrinya yang mungkin sedari tadi mengkhawatirkan keadaannya tapi dia lebih tertarik dan penasaran dengan video kiriman dari ponsel Jessica kemarin sore.


Jantung Hans seperti berhenti berdetak, melihat Dira yang dibopong Adit masuk ke mobil. Tak terlihat Sila di video itu karna memang video itu sudah di edit sedemikian rupa hingga tampak hanya ada Adit dan Dira. Tak hanya sampai di situ, rekaman suara ketika Sila dan Adit berbicara dengan dokter Ariesta pun hanya terdengar suara Adit saja.


Tubuh Hans seketika bergetar hebat menahan amarah dalam hatinya...


"Astaghfirullah haladziim...apa dugaanku selama ini benar? Apakah bayi yang dikandungnya itu hasil hubungan gelapnya dengan Adit? Tega kau tipu aku Dira... hiks hiks hiks..."


Hans terduduk lemas sambil menangis.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


lanjut...


__ADS_2