
Makan malam hari itu terasa berbeda...bukan karena Hara tidak ikut makan karena tidur, tapi ketiga orang dewasa yang berada dalam satu meja itu tidak ada yang bersuara.
"Mas, Dira mau ke kamar dulu liat Hara..." ucap Dira memecah kesunyian.
"Tapi makanmu belum selesai sayang..."
"Dira udah kenyang... Kak Jessi, Dira pergi dulu..."
"Iya... setelah selesai nyuapin Erik aku juga segera ke kamar kok" jawab Jessica... "Erik udah selesai maemnya sayang?"
"Udah mami,.."
"Cuci tangan, cuci kaki, gosok gigi terus bobok ya..."
"Iya mami... Om Hans... Hara marah sama Erik ya? Kok Hara nggak mau bobok sama Erik?"
"Bukan marah sayang... tapi Hara lagi kangen sama mamanya..."
"Ooo...begitu ya?" Hans mengangguk. "Kalo gitu, Erik pergi bobok dulu ya om..." ucap Erik dengan polosnya. Bocah laki-laki itu pun segera melangkah masuk ke kamar tidur Hara. Hans pun segera meninggalkan meja makan karena dia merasa tidak nyaman hanya berdua dengan Jessica di sana.
"Hans..." panggil Jessica lirih.
"Apa...?!" ucap Hans dengan nada ketus.
"Maaf yang kemarin..."
"Lupakan... dan jangan coba-coba kamu cerita sama Dira..."
"Tapi Hans..." Hans langsung pergi begitu saja, tanpa menghiraukan kalimat yang hendak diucapkan Jessica.
🌹🌹🌹
Hans memasuki kamarnya dengan langkah pelan karena takut mengagetkan istrinya. Di atas tempat tidur, dilihatnya Dira sedang membaringkan tubuhnya miring ke arah Hara.
"Sayang... kamu sudah tidurkah?"
"Belum mas... kenapa?" Dira terlihat mengusap kasar matanya lalu membalikkan badan ke arah suaminya sambil tersenyum dipaksakan. "Mas butuh bantuan Dira?" ucapnya sambil bangun dari tidurnya dan cepat-cepat duduk. "Apa ada yang bisa Dira bantu?"
"Eh sayang.,. kamu habis nangis ya?" Hans mengamati wajah istrinya dan hendak mengusap sisa air mata Dira yang masih ada di pipinya itu, tapi Dira menepis pelan tangan suaminya.
"Enggak...Dira nggak nangis kok. Ini tadi kena cipratan air waktu Dira nemenin Hara di kamar mandi..."
'Maaf aku bohong mas... aku hanya tidak ingin terlihat lemah di depanmu. Aku harus jadi pribadi yang lebih kuat untuk Hara... Walaupun sebenarnya hatiku sakit dengan penolakanmu tadi. Aku tidak ingin berburuk sangka kepadamu, tapi penolakanmu tadi membuat aku menjadi sedikit mempercayai ucapan Kak Jessica... Ini memang salahku... membiarkan orang di masa lalumu masuk ke dalam rumah tangga kita. Untuk itu, sudah selayaknya jika aku lah kini yang harus menanggung rasa sakit ini...'
__ADS_1
"Tapi matamu juga merah... sayang jangan bohong... kenapa kamu menangis? Apa karena penolakan mas tadi sore? Mas minta maaf ya...?" Hans memeluk Dira, tapi seperdetik kemudian Dira melepaskan pelukan suaminya.
"Jangan sok tau deh...Dira ini sudah dewasa mas, bahkan Dira juga sudah punya anak... Ngapain hanya karena tidak di balas ciumannya saja nangis..." ucap Dira berusaha menutupi kesedihannya. "Oya, mas tadi mau minta apa? Mau dikupasin buah,dibikinin kopi atau teh mungkin?" Dira terus berusaha memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja, dengan mencoba mengalihkan perhatian Hans.
"Aku mau kamu..." goda Hans. Dia kembali memeluk Dira tapi Dira pun kembali melepaskannya dengan lembut.
"Ada Hara di sini mas..." ucapnya.
"Kita ke ruang kerjaku saja yuk... kamu masih ingat kan? Ada tempat tidur di sana..."
"Lain kali aja ya... Dira takut nanti Hara bangun dan mencari Dira lagi..." tolak Dira dengan kata-kata yang halus. Hans seperti merasa ada yang berbeda dari istrinya semenjak kejadian sore tadi. Dira malam ini seolah sekuat tenaga berusaha bersikap baik-baik saja, tapi sorot matanya yang tidak bisa berbohong... ada sesuatu yang kini tengah disembunyikan olehnya..
"Sayang kamu kenapa? Jika bukan karena kejadian di ruang kerja tadi, apa ada sikap mas yang sudah mengecewakan kamu?" Hans merebahkan kepalanya di pangkuan Dira.
"Dira tidak apa-apa mas... sungguh... Dira juga baik-baik saja."
"Tapi dari tadi kamu menghindar terus dari mas, mas jadi sedih..."
"Itu hanya perasaan mas saja. Sudahlah... lebih baik kita segera tidur, besok mas harus kerja kan? Tidurlah yang betul mas..." Dira mengangkat kepala Hans perlahan ke bantal, lalu membaringkan tubuhnya menghadap ke arah Hara lagi dan memunggungi suaminya.
Hans membuang nafas panjang, ada rasa sedih karna sejak sore Dira seperti mengabaikan dirinya.
"Sayang... bisa nggak menghadap ke sini? Mas kok dipunggungi sih..." rengek Hans.
"Jadi kamu nggak kasian sama mas? Lagian Hara kan juga sudah tidur..."
"Udah deh buruan mas tidur, jangan merengek terus kaya anak kecil... Minta dikasiani segala, emang mas juga kasian sama Dira...?" gumam Dira yang masih terdengar oleh telinga Hans.
'Astaghfirullah... sepertinya memang ada sesuatu pada Dira. Apa Dira sudah tau yang terjadi di antara aku dan Jessica, sebelum dia masuk ruang kerja tadi ya... Ya Allah... kenapa untuk kesekian kalinya aku selalu melakukan sebuah kesalahan yang membuat Dira tersakiti.,.'
"Sayang... mas ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi mas bingung harus memulai dari mana... Mas takut kamu marah, tapi sumpah demi Allah, mas melakukan itu tidak sengaja..." Hans pada akhirnya bermaksud ingin menceritakan semuanya dengan jujur kepada Dira. Tapi Dira diam saja tidak merespon, Hans menoleh ke arah istrinya, dilihatnya Dira masih tetap pada posisi semula memunggunginya. Namun terlihat dengan jelas jika Dira diam tidak bergerak, nafasnya pun naik turun dengan teratur. Ya...itu menandakan kalau Dira kini benar-benar sudah tertidur.
"Ya Allah... aku benar-benar dikacangin... Maafkan mas ya sayang..." ucap Hans sambil mengusap wajah istrinya..."Astaghfirullah haladziim... dalam tidurnya pun dia menangis hingga menitikkan air mata... maafkan mas sayang..." Hans mengusap air mata Dira yang menetes di pipi mulusnya, lalu sekilas diciumnya kening dan bibirnya membuat Dira menggeliat sesaat lalu kembali terlelap. Padahal Hans berharap Dira terbangun dengan ciuman bibirnya tadi, tapi di luar dugaan justru Hara yang terbangun hingga dia melihat papanya tengah menciumi mamanya.
"Pa... papa sedang apa?" tanya Hara yang langsung duduk.
"Eh, Hara kok bangun... kenapa?" Hans terkejut dan malah langsung balik bertanya kepada putranya.
"Hara lapar pa..." Hans melirik jam dinding yang terpasang di kamarnya... pukul setengah dua belas malam.
"Ayok kita turun pelan-pelan, ati-ati jangan sampai mama terbangun..." Hara mengangguk lalu perlahan dia turun dari tempat tidur. Hans menyelimuti istrinya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia dan putranya keluar kamar dan akhirnya turun menuju dapur.
"Kamu mau makan apa?" tanya Hans setelah mendudukkan putranya di kursi bar.
__ADS_1
"Apa aja yang ada pa... Pak Mus nya kan juga sudah tidur pa... Hara makan apa aja deh yang penting jangan bangunin Pak Mus ya pa... kasian..."
'Masya Allah...anak ini benar-benar tumbuh dengan sangat baik, bukan hanya baik lahirnya tapi juga baik bathinnya. Dira memang istri dan ibu yang sangat hebat...'
"Pa... Hara mau roti dan susu kayak tadi aja deh, biar papa nggak repot...pa... papa... papa kok malah bengong..." Panggilan Hara pun membuyarkan lamunannya.
"Memangnya sebenarnya Hara mau makan apa?"
"Sebenarnya sih Hara pengen makan spaghetti bolognese buatan mama, tapi sayangnya mama sudah bobok..." ucap Hara.
"Kalo cuma masak itu mah papa juga bisa..."
"Serius papa bisa masak?" Hans mengangguk sambil tersenyum, kemudian dia mulai menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan dari kulkas. Hans begitu terampil merebus mie spaghetti lalu memotong-motong bahan untuk membuat saus bolognese yang di campur dengan daging cincang.
Dan tidak sampai satu jam masakan yang dimaui oleh Hara pun selesai di masak dan terhidang di hadapan Hara.
"Hara cobain ya pa... kira-kira enakan mana ya kalo di banding sama masakan mama..." goda Hara dengan mimik muka yang lucu.
"Ayo buruan icipin dong..." ujar Hans tidak sabaran. Hara pun kemudian segera memasukkan satu suapan masakan papanya ke dalam mulutnya lalu dia pun mengernyitkan dahinya.
"Gimana?" tanya Hans penasaran. Hara terdiam sejenak lalu...
"Waaah papa hebat... ternyata masakan papa dan mama itu sama-sama enaknya....."
"Serius?" Hara menjawab pertanyaan papanya dengan anggukan karena dia sibuk menikmati masakan yang dihidangkan oleh papanya. Hans pun tersenyum sambil mengelap saus yang belepotan di sekitar bibir putranya.
Dan tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada sepasang mata indah tengah mengamati keasikan mereka berdua sambil menangis terharu. Ya... sepasang mata itu adalah sepasang mata milik Dira.
'Mas Hans begitu manis memperlakukan Hara, begitu lembut juga begitu sayang kepada Hara tapi apakah Mas Hans juga akan memperlakukan aku setulus dia memperlakukan Hara? Entahlah...'
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...