
Selesai sarapan,Hara dan Erik bermain di halaman samping yang sengaja di bangun oleh Prasetyo sebuah taman bermain kecil untuk cucu-cucunya. Sebelum Hara datang,Pras bisa berjam-jam duduk di teras rumah yang menghadap ke taman itu. Pras menikmati secangkir kopi sambil membayangkan cucunya bermain di taman itu. Dan kini Pras tidak hanya bisa membayangkan... karena apa yang diinginkan sudah terwujud dengan kedatangan Hara di rumahnya.
"Angel sekarang tinggal di mana mi...?" tanya Dira sambil menyuguhkan teh untuk suaminya.
"Sementara tinggal di sini... dia sedang hamil muda dan sering di tinggal Damar keluar kota. Dan dia pun pinginnya deket sama mami terus, jadi Damar mengalah untuk mengijinkan Angel tinggal di sini. Ini tadi pagi-pagi udah pingin beli bubur ayam yang mangkal di deket taman komplek, untungnya Damar pas pulang dari dinas luar kotanya... jadi tadi pagi-pagi sekali udah keluar. Paling sebentar lagi juga datang..."
"Ooo...ngidam kali ya mi..."
"Iya kayaknya... maklum namanya juga orang hamil, kalau minta apa-apa harus dituruti. Kamu tahu sendiri kan... Angel itu tidak hamil aja manjanya kayak apa, apalagi sekarang... suaminya kadang juga kerepotan tapi nggak bisa berbuat banyak. Lagi-lagi hanya bisa maklum karena Angel sedang hamil..." Sonya nyerocos bercerita tanpa titik dan koma, sementara Dira tiba-tiba terdiam. Sejenak ingatan mengembara ke masa lalu, mengingat kembali ketika dia mengandung Hara dulu... Dira juga merasakan ngidam seperti layaknya seorang ibu hamil tapi dia sering menahannya karena waktu itu tidak ada suami yang mendampinginya. Satu-satunya keinginan Dira yang tidak bisa di tahan waktu itu adalah saat dia menginginkan buah anggur hijau, yang membuat dia ribut dengan Mas Tono si tukang sayur yang sering lewat depan rumah Bi Asih. Dan karena anggur hijau itu juga membuat Dira mengenal dokter Haris, seorang laki-laki yang baik yang kini menjadi sahabatnya. Dira tersenyum getir mengingat masa-masa itu... dan tanpa sadar ada sesuatu yang terasa hangat di sudut matanya. Dira mengusapnya perlahan agar tak terlanjur jatuh ke pipinya.
Diam-diam Hans memperhatikan perubahan mimik muka istrinya itu.
"Dira bikin susu buat Hara dan Erik dulu mi... tadi belum minum susu..." dalih Dira yang saat ini hatinya terasa kacau.
"Oh iya sayang... tapi susunya apa ya...?" tanya Sonya sebab dia tidak sedia susu buat anak-anak.
"Dira sudah bawa dari rumah mi..."
"Oh syukurlah, soalnya tadi mami mau beli susu nggak tau merknya..."
"Nggak papa mi, Dira selalu bawa kok..."
"Oya... mami tinggal kalian ke papi dulu ya..."
"Iya mi..."
Setelah Sonya pergi, Dira melangkah melewati suaminya yang tiba-tiba tangannya menarik tangan Dira guna menahan langkah Dira.
"Eh.,. Kenapa mas? Mas Hans mau dibuatin minum lagi?"
Hans menggeleng pelan, terdiam sesaat sambil menatap intens wajah istrinya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Hans khawatir.
"Kenapa? Dira baik-baik saja mas..."
"Kalo ada apa-apa jangan suka di pendam sendiri..."
"Iya..." jawab Dira lirih, jelas terlihat oleh Hans jika istrinya itu sedang tidak baik-baik saja, tapi lagi-lagi Dira selalu berusaha menutupinya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
__ADS_1
"Kak Hans apa kabar?" tanya Angel.
"Alhamdulillah baik..." Angel pun bersalaman dengan Hans, demikian juga dengan Damar.
"Kak Dira mana?" tanya Angel.
"Ada... sedang membuatkan susu buat Hara."
"Sayang tolong ke piringin kuenya dong..." pinta Angel pada suaminya.
"Iya... Kak Hans, saya permisi dulu..."
"Silahkan..." jawab Hans. Seperdetik kemudian Hans pun mengobrol dengan Angel.... lebih tepatnya Hans yang mendengarkan cerita Angel, karena Hans hanya bertanya sekali tentang keadaan kandungannya tapi Angel menjawab dengan panjang kali lebar, membuat Hans merasa bosan. Beruntung tidak lama kemudian Prasetyo dan Sonya ikut bergabung, jadi Hans nggak terlalu boring.
Sementara di dapur
Dira sedang mengaduk susu untuk Hara dan Erik ketika Damar masuk ke dapur.
"Dira..." ucap Damar terkejut, melihat sosok orang yang pernah menjadi bagian hidupnya ada di rumah mertuanya. Orang yang pernah sangat dicintainya tapi sekaligus orang yang pernah disakitinya. Dira menoleh dan dia pun sama terkejutnya ketika melihat ada Damar.
"Damar..." Dira mencoba tersenyum dan menguasai diri, walaupun degup jantungnya mulai tidak beraturan.
Suasana pun menjadi canggung karena keduanya tidak menyangka akan bertemu berdua saja dalam satu ruangan.
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat...aku sehat dan baik-baik saja..." jawab Dira yang kemudian bermaksud segera meninggalkan dapur. Tapi tiba-tiba tubuh Damar menghalangi pintu. "Permisi Damar... anakku menunggu di luar..."
"Ceritakan padaku dulu apa yang terjadi hingga membuat kamu pergi begitu lama... Apa Hans menyakitimu... Apa dia melukai hatimu? Katakan padaku... apa kamu mencintai dia? Apa kamu bahagia bersama dia? tanya Damar bertubi-tubi karena penasaran.
"Apa yang terjadi lima tahun lalu adalah urusanku dengan suamiku. Mas Hans suamiku dari awal selalu memperlakukan aku dengan sangat baik. Kalau kamu tanya apa aku mencintainya...ya aku mencintainya bahkan sangat-sangat mencintainya. Untuk alasan itulah makanya saat ini aku masih berada di sampingnya. Dan kalau kamu tanya apa aku bahagia? Saat ini aku sangat bahagia, apalagi kebahagiaanku kini sudah lengkap dengan kehadiran anak kami.... Sudah jelas kan jawaban yang anda inginkan Bapak Damar yang terhormat? Sekarang saya permisi..." jawab Dira tegas. Damar menggeser tubuhnya, memberikan jalan kepada Dira.
"Tapi aku tidak bisa berhenti mencintaimu..." ucapnya lirih. Dira menghentikan langkahnya.
"Kubur saja rasa itu dalam-dalam... kamu sudah punya istri sekarang, rasanya sangat tidak pantas jika kamu masih mencintai wanita lain. Cintai istrimu dan juga calon anak kalian... mereka lebih butuh rasa itu daripada aku..." ucap Dira tanpa menoleh, lalu kembali melangkah menuju taman tempat putranya bermain.
Sedangkan Damar hanya diam mematung, menatap kepergian Dira hingga bayangan menghilang dari pandangannya.
Hans sudah kembali duduk di ruang tengah bersama keluarga Dira.
"Mas..." panggil Dira pelan. Hans menoleh menatap istrinya yang seperti memendam sesuatu.
"Yaa..." jawab Hans dengan lembut sambil mengulurkan tangannya. Dia tau jika Dira saat ini sudah merasa tidak nyaman dengan kejadian di dapur tadi.
"Habis anak-anak minum susu kita pulang ya..." ajak Dira sambil mennenggam erat tangan suaminya.
__ADS_1
"Iya..." Hans mengangguk sambil tersenyum penuh arti.
"Lho kenapa buru-buru sayang?" tanya Sonya. Dira diam bingung mau menjawab apa, otaknya kacau mengingat perlakuan Damar kepadanya tadi. Bukan karena ungkapan cinta Damar kepadanya tapi dia lebih takut jika Angel dan Hans tau kejadian tadi. Hans mungkin masih bisa menahan emosinya karena memang tidak ada kontak fisik di antara Dira dan Damar, tapi bagaimana dengan Angel? Di tambah lagi kini Angel dalam keadaan hamil, yang otomatis hormonnya tidak stabil. Makanya bukan tidak mungkin Angel bisa ngamuk histeris.
"Sebenarnya kami masih pingin lama di sini mi tapi kasihan Erik... maminya Erik tadi sudah berpesan kepada saya untuk tidak lama-lama perginya..." ucap Hans mewakili istrinya.
"Tapi ini siang aja belum...papa dan mami masih kangen sama kalian..." ucap Sonya lagi.
"Iya ih...padahal kita kan juga belum sempat ngobrol kak... Angel masih kangen tau..." ucap Angel.
"Iya lain waktu kita ke sini lagi... lagi pula mulai sekarang kan Kak Dira ada di Jakarta, jadi kapan pun kamu mau, kamu bisa main ke rumah. Pokoknya mulai sekarang Kak Hans tidak akan biarin kakakmu yang bandel ini kabur lagi dari rumah..." ucap Hans sambil memandang wajah istrinya lalu mencium tangan Dira dengan mesra. Ada rasa iri dalam benak Angel ketika melihat Hans memperlakukan kakaknya dengan begitu mesra. Satu hal yang jarang dia terima dari suaminya.
Prasetyo dan Sonya pun saling berpandangan lalu tersenyum melihat keromantisan mereka berdua.
"Bener ya... Angel boleh datang ke rumah?"
"Tentu... kapan pun kamu mau..." jawab Hans.
Dira memang sejak tadi tidak menanggapi ucapan juga pertanyaan dari Angel dan Sonya, dia lebih banyak diam dan membiarkan suaminya yang mewakilinya. Mereka tidak ada yang menyadari hal itu, kecuali Prasetyo yang tau betul sifat putrinya. Tapi dia memilih diam, agar tidak memperkeruh suasana.
"Maas, ayo pulang..." bisik Dira dengan manja.
"Iya... iya... panggil anak-anak, kita pulang sekarang..." titah Hans dengan ucapan yang lembut... Dan tanpa menunggu waktu lama lagi, Dira pun segera memanggil Hara dan Erik untuk di ajak pulang.
Memang sudah tidak pada tempatnya bagi Damar, untuk merasa cemburu dengan kemesraan Dira dan Hans. Tapi rasa cinta yang pernah dipupuknya selama bertahun-tahun begitu sulit dibunuhnya, sekuat apapun dia berusaha melupakannya. Bahkan hingga kini Damar masih tetap menggertakkan giginya menahan rasa cemburunya ketika netranya harus melihat kemesraan Hans dan Dira.
Akhirnya Hans dan keluarganya pamit pulang, ada sorot mata membunuh ketika Hans bersalaman dengan Damar, walaupun bibirnya berusaha mengulas senyuman.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1