
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..."
Dira masuk sembarangan tanpa memperhatikan ada siapa saja di situ. Begitu melihat Sila,dia langsung memeluk Sila dan menangis tersedu-sedu. Tentu saja Sila bingung karna tidak tau masalah apa lagi yang telah membuat sahabatnya menangis.
"Hei ada apa ini?" tanya Sila sambil menempelkan jari telunjuknya lalu mengkibas-kibaskan tangannya,memberi kode pada Hans untuk diam dan segera keluar dari apartemennya.
Ya,tanpa Dira sadari,ketika dia masuk tadi ada Hans di situ. Karna sedari pulang kerja tadi Hans memang bersembunyi di apartemen Alex demi menghindari bertemu dengan Jesica.
Hans membalas kode Sila dengan memperlihatkan jari jempol dan kelingkingnya yang membentuk gagang telepon. Dan seketika pula Sila tanggap dan mengacungkan ibujarinya.
"Kita masuk ke kamar dulu yuk,biar enak ceritanya..." bujuk Sila sambil melepas pelukan Dira dan Dira pun mengikutinya dengan patuh.
Sampai di kamar Dira terduduk lesu di tempat tidur Sila,lalu Sila pun menarik kursi belajarnya agar bisa duduk berhadapan.
"Sekarang,cerita sama gue...apa yang telah terjadi..."
Dira menarik nafas pelan,untuk mengumpulkan kekuatan. Sementara Sila mengusap air mata Dira yang masih tersisa dipipinya dengan tisu dan seperti biasanya,tanpa sepengetahuan Dira,Sila pun menyalakan ponselnya untuk menghubungi Hans. Setelah beberapa saat,Dira pun kemudian menceritakan semua kejadian yang dia alami hari ini,setelah berpisah dengan Sila tadi. Kejadian yang sangat menyakitkan hati Dira.
"Astaghfirullah...kok bisa papa lu punya ide seperti itu. Tega-teganya meminta elu jadi tumbal dari masalah yang jelas-jelas ditimbulkan oleh adik ibu tiri lu,bukan oleh elu...Lalu kenapa bukan Angel?"
"Gue pun menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan elu itu sama papa tapi papa bilang bahwa orang itu sendiri yang langsung memilih gue untuk dipinangnya...Gue sedih Sil,kenapa nggak ada yang bisa ngerti perasaan gue? Kenapa nggak ada yang tanya apa keinginan gue? Gue benar-benar ngerasa kalo gue emang nggak berharga..." Dira tertunduk,sudah tak ada tangis memang tapi sorot mata putus asa terlihat nyata.
"Lalu apa yang akan elu lakukan?"
"Entah..."
"Tapi pastinya elu udah nolak ide gila papa lu itu kan?"
Dira menggelengkan kepalanya.
"What? Jangan bilang lu mau nekat menerima pinangan orang yang kata lu lebih cocok jadi kakek lu itu..."
"Gue nggak tau..."
"Nggak tau gimana maksud lu? Dengar Dira,daripada elu menerima kakek-kakek bau tanah itu,mending elu terima Kak Hans aja sebagai suami lu. Dengan kemapanan yang dia punya,gue yakin Kak Hans pasti mau bantu kesulitan perusahaan papa lu..."
"Perusahaan itu di rintis papa berdua dengan Almarhumah mamaku,ada sisi hatiku yang merasa tidak rela jika perusahaan itu harus gulung tikar begitu saja. Tapi...aku akan mencoba mencari jalan keluarnya.Jadi tolong jangan sebut-sebut nama orang itu lagi Sil...dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini..." ucap Dira yang langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur Sila dan memejamkan matanya.
"Gue nggak habis pikir deh sama elu,sebenarnya apa sih yang ada di otak elu itu saat ini... Elu ini udah kehilangan mahkota berharga lu tapi elu nggak mau menerima pertanggungjawaban dari orang yang udah merenggut kegadisan lu itu. Lu tau nggak,di luar sana biasanya seorang cewek yang akan mengejar-ngejar pertanggungjawaban dari orang yang telah merenggut kehormatannya,bukan kaya elu saat ini...elu malah terang-terangan menolak niat baik Kak Hans yang akan bertanggungjawab. Apalagi jika pria itu sekeren dan semapan Kak Hans. Mungkin mereka malah langsung menuntut dinikahi hari itu juga..."
"Biarin aja...gue kan bukan mereka..."
Entah apa yang terlintas di otak Dira saat itu,tiba-tiba...
"Astaghfirullahaladziim" teriak Dira beristighfar.
__ADS_1
"Aduh Dira...ngapain sih tiba-tiba teriak,ngagetin gue aja deh..."
Dira menggosok-gosok kasar wajahnya dengan kedua tangannya,lalu bangun dari tidurannya.
"Sil..."
"Hmm..."
"Menurut lu...gue bego ya...?"
"Kadang..." jawab Sila sekenanya sambil membolak balikkan majalah fashion.
"Sil..."
"Hmm..."
"Sil...gue serius ni..." ucap Dira kesal karna merasa dicuekin.
"Serius apaan?" Sila masih tampak acuh tak acuh.
"Gimana menurut lu,kalooo...kalo gue temuin dulu si kakek-kakek itu...?"
"What?"
"Iya,gue mo temuin dia...gue mo bilang kalo gue udah nggak perawan,karna gue udah pernah main gituan sama cowok gue...Gimana menurut lu?"
"Ya nggak gitu...Kan biar dia mundur,biarpun dia kakek-kakek tapi kalo dia masih suka daun muda pastinya dia pingin cari daun muda yang masih perawan...Na kalo gue bilang udah nggak perawan,dia kan pasti ogah sama gue,bisa jadi dia terus ngelirik ke Angel...ya kan?"
"Ya kalo tu kakek langsung ogah sama lu,lha kalo dia tetep mau sama lu dan mau menerima kamu apa adanya gimana? Terus lu mo jawab apa? Lagian...siapa yang bisa jamin kalo Angel tu masih perawan? Secara gaya pacarannya aja kaya gitu..."
"Tapi dia kan masih SMA,umurnya aja masih 18 tahun...gue aja sampe umur segini kalo nggak karna diperkosa sama si br*******k itu,gue juga masih perawan kok..."
"Diraaa...cape deh...Dengerin ya Andira Zanitha Prasetya...lu itu pura-pura bego atau emang bener-bener bego sih...Pan dulu lu pernah bilang kalo lu pernah mergokin Angel sama Damar ciuman hot di taman...Di tempat umum aja dia bisa gitu,apalagi di tempat yang nggak umum?"
"Emang tempat yang nggak umum itu tempatnya dimana? Terus menurut lu ngapain mereka kalo nggak berada di tempat umum?"
"Allahu Akbar Diraaaa...tauk ah..."
Sila pun berdiri mengambil ponselnya lalu melangkah meninggalkan Dira.
"Iih lu mau kemana...? Jangan marah dong Sil..."
"Gue tiba-tiba jadi laper kalo lu keluar begonya..."
"Iih Silaaaa...jahat amat sih...Tunggu gue dong...gue juga laper tauk..." teriak Dira sambil mengejar Sila dengan langkah panjangnya.
Sementara di apartemen sebelah Hans tersenyum-senyum sendiri mendengar obrolan dua sahabat itu.
__ADS_1
"Kamu cantik dan baik hati...Kadang terlihat dewasa,kadang juga terlihat manja...tapi yang pasti kamu lucu dan imut...Aku jadi makin jatuh cinta sama kamu..." ucap Hans sambil mengusap foto Dira dan dirinya waktu akan wisuda SMA sekolahan Dira dulu.
"Tapi...nasibmu ternyata sangat malang dan kemalanganmu pun bertambah karna kelakuanku,hingga membuat kamu sangat membenciku..." gumam Hans sedih.
Hans menutup aplikasi galery nya dan mulai mengetik sebuah pesan untuk Sila.
📤 "Sil,tolong tanyain ssma Dira,kenapa dia tidak mau menerima pertanggungjawabanku? Tar kamu telpon aku seperti biasa biar aku bisa mendengar suaranya..."
📥 "Oke...tapi...kuotaku mo habis ni kak...?"
📤 "Kirim nomor rekeningmu..."
📥 "Serius ni..."
📤 "Hmm..."
📥 "186-9974-XXXX...Maacih yaa...Saayaaang Akak...😆😆😆..."
Beberapa saat kemudian...transfer sebesar 1 juta pun dikirim oleh Hans.
📤 "Nggak usah sok imut...dah masuk belum?"
📥 "Udah,tapi kok banyak amat...?"
📤 "Nggak mau? Transfer balik..."
📥 "Eeh mau dong...Thank you...akakku yang ganteng...muach...muach...muach..."
📤 "Hmm...tapi ingat tugasmu..."
📥 "Oke siap..."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1