Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Kambing Guling


__ADS_3

"Dira mandi dulu ya mas..." pamit Dira setelah turun dari gendongan suaminya.


"Tunggu...mas ikut..."


"Ogah ah... tar jadi lama mandinya, lagian Dira kotor sama pasir pantai ni..."


"Oke deh kalo nggak boleh... tar mas mandi di rumah aja lah, kali aja ada yang mau di ajak mandi bareng..." ucap Hans sambil berjalan perlahan menjauh dari pintu kamar mandi yang sudah di tutup oleh Dira.


"Nggak boleeh..." teriak Dira sambil membuka pintu kamar mandi dengan tubuh yang sudah sedikit basah dan terlilit handuk. "Masuk..." titahnya. Hans pun tak menunggu Dira mengucap dua kali, langsung masuk ke kamar mandi dengan senyum menyeringai penuh kemenangan.


Selang sejam kemudian keduanya keluar dari kamar mandi. Tak perlu di tanya kenapa begitu lama mereka mandi, karena pastinya Hans tidak akan membiarkan kesempatan yang telah diberikan oleh istrinya yaitu meminta jatahnya sebagai seorang suami.


Dira duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.


"Sini biar mas bantu..." Hans meraih hair dryer dan sisir dari tangan istrinya.


"Emang mas bisa?" tanya Dira nggak percaya.


"Bisa dong... mas kan suka merhatiin Hanna kalo sedang mengeringkan rambutnya. Bahkan dia pernah minta mas ngeringin rambutnya, katanya sekalian belajar biar nanti kalo dimintain tolong istrinya mas bisa. Tadinya kirain modus, nggak taunya berguna juga... he he he... Dah selesai...kamu cantik sekali sayang..." ucap Hans sambil mengamati wajah istrinya dari pantulan cermin.


"Gombal..." jawab Dira dengan wajah yang tersipu malu.


"Terimakasih ya sayang... Setelah sekian lama kita berpisah, kamu masih tetap setia sama mas. Maafkan mas jika mas selalu mengecewakanmu..." Hans menundukkan kepalanya untuk mencium pucuk kepala istrinya.


"Mas Hans tidak lupa janji mas untuk cerita kejadian yang sebenarnya malam itu kan?"


"Tentu... mas kan nggak pernah ingkar janji... tapi kita makan siang dulu ya... mas laper..." Hans mengetuk-ngetuk perutnya.


"Tapi Dira malas keluar kamar... kita delivery order aja ya... Mas Hans mau makan apa?"


"Terserah kamu aja sayang... Apa pun pilihanmu mas pasti makan..." ucap Hans sambil duduk di sofa dan menyalakan televisi.


Tak lama berselang, sebuah ketukan pintu pun terdengar.


'Tok tok tok... '


"Delivery order..." teriak seorang laki-laki. Dira hendak beranjak dari tempat duduknya, tapi Hans mencegahnya.


"Kamu di situ saja, biar mas yang terima..."


Lima menit kemudian Hans sudah masuk membawa beberapa macam makanan yang di pesan oleh Dira.


"Astaga sayang... kamu memesan makanan banyak sekali, ini buat siapa saja?"


"Ya buat kita lah..." jawab Dira enteng.


"Sebanyak ini?" Dira mengangguk.


"Udah lah mas...ayo cepat makan mas... inget mas masih punya hutang cerita sama Dira loh..."


"Iya... iya, mas nggak akan lupa sayang... ayo kita makan..."


Mereka berdua pun akhirnya menikmati makan siang mereka, setelah membaca do'a tentunya. Sesekali Hans melirik ke arah istrinya yang makan dengan begitu lahapnya, saking lahapnya sampai seperti orang yang sudah tidak makan selama seminggu.


"Sayang, pelan-pelan dong... nggak akan ada yang merebut makananmu..."

__ADS_1


"Dira lapar mas..."


"Iya mas tau, tapi pelan-pelan aja makannya nanti kamu keselek loh.,." Dan benar saja, baru selesai Hans mengingatkan.


"Uhuk...uhuk..." Dira benar-benar tersedak, Hans pun segera membantu istrinya dengan mengambilkan air minum sambil menggosok-gosok tengkuk istrinya.


"Kan apa mas bilang... makanya kalo makan tuh pelan-pelan...." ucap Hans dengan lembut.


"Jadi mas nyalahin Dira? Mas yang dari tadi ngomong terus, berisik tau... jadi aja Dira keselek... " ucap Dira sambil meletakkan sendok nya dan langsung berlari ke kamar mandi.


"Loh...kok jadi mas yang salah..." gumam Hans bingung. Dan belum terjawab rasa bingungnya, terdengar suara orang muntah di kamar mandi.


"Hoek hoek hoek..."


"Sayang... kamu nggak papa?" ucap Hans yang langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi.


"Stop...! Mas jangan ke sini... " teriak Dira.


"Kenapa?" tanya Hans bingung.


"Bau...hoek hoek hoek... Dira lagi muntah..." ucapnya melemah.


"Nggak papa, mas bantu kamu bersihin ya..." Hans dengan telaten mengguyur lantai kamar mandi sampai bersih, sementara Dira terduduk di kloset yang tertutup.


"Bau mas... jijik..." ucap Dira terengah-engah.


"Kamu diam di situ dulu ya... biar mas gosok dulu lantainya supaya bersih, biar kamu nggak terpeleset..." Dira mengangguk lemas, tapi tiba-tiba...'hoek hoek hoek...' Dira kembali muntah di lantai kamar mandi yang baru saja dibersihkan oleh Hans.


"Maaf... hiks hiks hiks..." ucap Dira sambil menangis tersedu-sedu, seolah takut dimarahi.


"Dira ngotorin lantainya lagi... hiks hiks hiks... padahal mas udah susah-susah bersihin...maaf... hiks hiks hiks... Habisnya perut Dira mual...hiks hiks hiks..." ucap Dira di sela-sela tangisnya yang seperti anak kecil.


"Sayang tidak apa-apa... kamu masih mual?" tanya Hans sambil membersihkan sisa-sisa muntahan yang masih ada di bibir istrinya. Dira menggeleng sambil masih terisak.


"Kalo udah nggak mual mas bantu keluar kamar mandi ya... bujumu juga kotor,harus di ganti kan?" Dira kembali mengangguk. Hans kembali membersihkan lantai kamar mandi, kemudian membantu Dira keluar kamar mandi. Setelah mengambil baju ganti Dira di travel bag, Hans pun mulai membuka baju Dira yang kotor satu per satu, lalu menggantinya dengan yang baru. Sebelum mengganti baju tak lupa Hans menggosokkan minyak kayu putih yang selalu ada dalam tas jinjing Dira.


Dira hanya diam mematung sambil menatap wajah suaminya yang dengan telaten merawatnya.


'Ya Allah... haruskah aku berprasangka buruk kepada laki-laki yang maha baik ciptaan Mu ini? Alangkah berdosanya aku yang telah menuduh suamiku yang bukan-bukan...' Air mata Dira kembali menetes tapi kali ini tanpa bersuara.


"Nah sudah bersih sekarang..." ucap Hans setelah selesai memasukkan baju kotor Dira di kantong plastik. Hans pun kemudian mengambil sisir untuk menyisir rambut Dira yang berantakan tapi dia terkejut mendapati istrinya tengah menitikkan air matanya.


"Hei kenapa lagi?" Dira tak menjawab pertanyaan suaminya, dia bahkan langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya sambil kembali menangis tersedu-sedu.


"Maafin Dira ya mas... hiks hiks hiks..."


"Maaf kenapa? Selama ini bahkan mas yang terlalu banyak menyakiti hatimu..." ucap Hans sambil membelai-belai rambut Dira yang hitam legam.


"Dira yang jahat, Dira yang selalu berprasangka buruk sama mas. Padahal mas begitu baik dan begitu sabar menghadapi Dira... maafin Dira ya mas... hiks hiks hiks..." Hans tersenyum menatap wajah cantik istrinya.


"Jangan menangis terus... nanti cantiknya hilang loh..." candanya.


"Terus kalo cantiknya hilang... mas udah nggak cinta lagi? Terus mas mau cari yang lain? Mas jahat... hiks hiks hiks..." Dira kembali menangis membuat Hans akhirnya jadi kebingungan sendiri.


'Ya Allah, salah lagi... Astaghfirullah haladziim ada apa dengan istriku ini...' gumam Hans dalam hati.

__ADS_1


"Loh kok malah nangis lagi... kamu kenapa sayang...?" tanya Hans benar-benar bingung. "Dengerin baik-baik ya... Mas ini sekarang merasa menjadi orang yang paling beruntung dan yang paling bahagia di dunia ini, karena apa coba?" Dira menggerakkan kedua bahunya... "Ya karena kalian sudah kembali hadir dalam hidup mas. Kamu dan Hara adalah hidup mas, nyawanya mas... Mungkin mas akan mati jika mas harus kehilangan kalian kembali..."


"Nggak mau... mas nggak boleh mati, Dira dan Hara nggak akan ninggalin mas kok, karena Dira dan Hara juga nggak mau kehilangan mas..." Dira memeluk erat suaminya sambil mengendus-endus aroma tubuh suaminya, membuat Hans menjadi tertawa karena kegelian.


"Sayang kamu ini kenapa sih...mas geli tau..."


"Dira suka bau tubuhnya mas... mas diem dong..." rengek Dira.


"Tapi mas ini bahkan belum sempet pake parfum lho..."


"Jangan... jangan pake parfum... Dira maunya mas gini aja dan mulai sekarang mas nggak boleh pake parfum... Mas jangan pake parfum ya... ya..."


"Iya... tapi jangan begini juga dong...mas kan jadi geli..." Mendengar ucapan Hans Dira pun menghentikan endusannya tapi wajahnya seperti orang yang kecewa.


"Sayang... kenapa? Mas salah ya..." Dira menggelengkan kepalanya.


"Lalu?" tanya Hans penasaran.


"Lapeer...." jawab Dira polos.


"Ya salam... mas kira kenapa... Tapi bukannya tadi kamu sudah makan?"


"Kan udah keluar semua...."


"Oh iya ya.. Oke kalo begitu ayo kita keluar cari makan...kamu mau makan apa?"


"Kambing guling..." jawab Dira enteng.


"Harus itu ya...?" tanya Hans hati-hati.


"Iya... Dira mau kambing guling..." teriaknya seperti anak kecil yang sedang merengek minta balon.


"Oke-oke...ayo siap-siap, kita cari kambing guling terus pulang ke rumah ya... Kan kasian Hara seharian kamu tinggalkan..."


Dira mengangguk patuh sambil tersenyum bahagia.


'Ya Allah...ada apa dengan istriku ini...' gumam Hans dalam hatinya.


Mereka pun akhirnya keluar meninggalkan cottage untuk mencari kambing guling lalu pulang ke rumah mereka.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2