
FLASH BACK ON
ALEX POV
Dasar si boss, seenaknya sendiri kalo ngasih tugas. Sebenarnya gue ogah ikut terlibat dalam masalah yang sedang dihadapi Jessica, tapi demi Dira adik angkat kesayangan gue, gue oke-oke aja ketika Hans ngasih tugas gue buat menemui Rico putra Tuan Hendrik. Hans ingin gue mengklarifikasi semua ucapan Jessica kepada Pak Handoyo, karena ternyata Hans juga merasa janggal dengan ucapan dan sikap Jessica ketika Pak Handoyo sempat menyarankan Jessica untuk berdamai.
Dan kini teryata semua kejanggalan itu telah terbukti... Tak ku sangka ternyata Jessica tidak pernah berubah. Ambisinya untuk memiliki Hans masih melekat dalam hatinya, tidak peduli kini dia dalam kondisi seperti apa.
📞 "Setelah mendengar penjelasan Pak Handoyo dan kesaksian gue, apa rencana lu selanjutnya Hans? Gue nggak ingin Dira terlalu lama tertekan dengan kehadiran Jessica, ya walaupun si rubah betina itu bisa masuk rumah lu atas kemauan Dira sendiri... Tapi..." tanya gue di telpon.
📞 "Aku tau, kamu begitu sayang sama istriku... Aku sudah punya rencana tapi tidak mungkin aku sampaikan lewat telpon atau WhatsApp, kita ketemu di Rainbow Cafe setengah jam dari sekarang..."
📞 "Setengah jam?! Lu mabok ya... rumah gue jauh bro dari lokasi, mana jalan protokolnya macet lagi... Bisa di gantung di pohon toge gue sama Tiara kalo gue naek mobilnya ngebut."
📞 "Halah, Tiara nggak bakalan tau deh kalo kamu ngebut... dia kan nggak ikut, cuma nungguin di rumah..."
📞 "Iya cuma di rumah tapi mobil gue kan dipasangi GPS, jadi dia bakal tau gue dimana gue berada dan laju kecepatan mobil gue berapa... Lu kan tau gimana posesifnya Tiara ama gue, ya maklumlah secara Tiara tu punya laki yang ganteng kaya gue jadi wajar aja kalo dia jadi posesif kayak gitu... he he he..."
📞 "Halah lagakmu...Tiara seperti itu bukan karena kamu ganteng tapi karena kamu pernah ketauan selingkuh kan?" ledek Hans pada gue.
Ya waktu itu memang gue pernah melakukan khilaf, untung saja khilafnya gue belum terlalu jauh udah keburu ketahuan jadi gue bisa terselamatkan.
📞 "Lex...kamu masih disitu?" Pertanyaan Hans membuyarkan lamunan gue.
📞 "Iye...gue pamit Tiara dulu, setelah itu gue langsung otw..."
Terdengar suara Hans terkekeh di seberang sana membuat hati gue tambah kesel. Gue pun langsung mengakhiri obrolan kami tanpa salam dan setelah meminta ijin istri gue, gue pun segera melaju ke Rainbow Cafe. Sebenarnya sih jarak antara apartemen gue dengan Rainbow Cafe nggak jauh, tapi macetnya jalanan ibukota membuat gue butuh waktu lebih dari tiga puluh menit.
Hans sudah sampai di sana ketika gue datang...
__ADS_1
"Lama amat sih... masak hampir satu jam baru sampe..." gerutu Hans.
"Jangan lebay deh...telat cuma sepuluh menit aja dibesar-besarkan..." omel gue. "Udah sekarang coba gue pingin denger,lu punya rencana apa?" tanya gue sambil duduk dan menyulut rokok.
Hans lalu menyampaikan rencananya, dan gue pun memberikan saran tambahan demi kesempurnaan misi penjebakan Jessica kali ini. Dan setelah rencana itu terasa pas, kami pun segera menyampaikan rencana kami itu kepada Pak Handoyo karena dia pun nantinya akan menjadi bagian dari pertunjukan kami.
Hari berikutnya gue menemui Rico, putra Tuan Hendrik untuk mengklarifikasi ucapan Jessica. Dan benar dugaan kami jika sebenarnya Jessica belum pernah datang menemuinya. Menurut Rico sebelum papanya meninggal, beliau memang telah mengetahui jika Jessica saat itu tengah mengandung tapi beliau masih meragukan kebenaran jika bayi yang di kandung Jessica itu putranya atau bukan. Untuk itu kemudian Tuan Hendrik mengutus Rico untuk mengawasi perkembangan kehamilan Jessica sampai Jessica melahirkan. Dan setelah bayi itu lahir, Rico pun langsung melakukan tes DNA kepada bayi itu untuk memastikan bahwa benar putra Jessica adalah darah daging Tuan Hendrik atau bukan. Sayang Tuan Hendrik tidak sempat melihat dan mengetahui dengan pasti bahwa bayi itu benar putranya dari Jessica, karna beliau keburu meninggal dunia.
Namun sebelum beliau meninggal dunia, beliau sudah memberikan wasiat bahwa tes DNA itu nantinya membuktikan bahwa bayi itu benar putranya, maka bayi itu berhak atas sebagian dari harta warisannya.
"Ini surat wasiat dari papa kak... Surat ini resmi karna ditandatangani oleh almarhum, disaksikan oleh saya, kedua adik saya dan Pak Boy ini sebagai pengacara keluarga kami. Dan saya serta kedua adik kandung saya sudah menyetujui isi dari surat wasiat itu..."
"Syukur Alhamdulillah..." jawab gue lega... karena masalah Jessica ini mulai menemui titik terang. "Lalu kenapa kalian tidak memberitahukan kepada Jessica?" Rico tersenyum penuh arti.
"Kakak dan Tuan Hans adalah sahabat Jessica sejak jaman SMA dulu, pastinya tau betul bagaimana sifatnya. Harta adalah hidup dan obsesinya. Uang tabungan dari papa saya saja yang jumlahnya ratusan juta,habis dalam waktu sekejap, tidak butuh bertahun-tahun lamanya. Dan sesuai dengan laporan dari anak buah saya bahwa Erik putranya itu sampai dititipkan kepada baby sitternya, hanya karena tabungannya telah menipis dan dia ingin menikah lagi setelah dia tidak bisa mendapatkan cinta Tuan Hans."
"Memang betul... tapi apa hubungannya dengan hak waris yang sudah seharusnya di terima oleh Erik?" tanya gue heran.
"Akh iya...gue sampe blank mendengar cerita lu...he he he..." kata gue sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal, seolah tak percaya dengan semua penuturan Rico.
"Kami bertiga saya, Reno dan Reni, sangat menyayangi papa kami maka InsyaAllah kami pun akan selalu menjaga semua amanat papa..."
"Oke, gue percaya sama lu, lu dan adik-adik lu emang anak-anak yang hebat,salut gue... Oya... besok lu bisa nggak kosongin jadwal lu nggak? Buat ketemu sama Jessica dan menjelaskan semuanya ini...?" tanya gue setelah gue menceritakan semua kelakuan Jessica di rumah Hans dan rencana penjebakan buat Jessica.
"InsyaAllah bisa kak...jam berapa, dimana dan saya nanti harus bagaimana?" Gue menjelaskan semua rencana yang sudah kami susun. Rico dan Pak Boy pun tersenyum sambil manggut-manggut mengerti. Dan setelah semuanya clear, gue pun pamit.
FLASH BACK OFF
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jessica turun dari mobil Hans, senyum manisnya mengembang melihat cafe yang mereka datangi adalah cafe yang pernah menjadi tempat kenangan mereka.
"Hans..." panggil Jessica dengan mesra yang membuat Hans ingin muntah rasanya. Hans hanya menoleh ke arah Jessica tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Terimakasih telah mengajakku datang kembali ke sini..." ucap Jessica sambil menggelayut manja di lengan Hans. Jika adegan ini terjadi 10 tahun yang lalu mungkin Hans akan merasa sangat senang tapi ketika ternyata adegan itu terjadi saat ini ketika Hans sudah menyerahkan semua hatinya kepada Dira, membuat Hans begitu muak dengan tingkah laku Jessica itu.
"Hmm..." jawab Hans. 'Andai ini bukan bagian dari skenario gila gagasan Alex,aku nggak akan sudi tanganmu menyentuh lenganku...' gerutu Hans dalam hati.
"Oh Tuan Hans... dan ini...bukannya ini Nona Jessica atau...nyon..."
"Dia bukan istri saya..." jawab Hans cepat, seolah tau apa yang akan ditanyakan selanjutnya oleh manager itu.
"Oh maaf... selamat pagi... selamat datang kembali di cafe kami..." ucap manager cafe itu dengan rasa canggung dan merasa bersalah.
"Selamat pagi... terimakasih..." jawab Hans dingin.
"Eh sekali lagi maaf tuan..." Hans mengangguk... "Reservasi ruang VVIP atas nama Tuan Alex...?" Hans kembali mengangguk, lalu manager cafe itu pun mengantar sendiri Hans bersama Jessica sambil menceritakan jika ruang VVIP yang mereka punya adalah ruangan baru dan Hans adalah pengunjung pertamanya. Karena Hans cuek diam saja, maka Jessica yang juga kenal sang manager pun lalu mengobrol sepanjang jalan menuju ruangan yang di maksud.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...