Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan
Janji Cerita


__ADS_3

Dira masih memainkan tangan suaminya. Rasanya begitu berat dia mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan kepada Hans.


"Dira takut..." akhirnya hanya kalimat singkat itu yang mampu keluar dari bibirnya.


"Takut apa? Bukankah sekarang ada mas di sini?"


"Dira takut, ketika tiba saatnya Dira melahirkan nanti, akan menjadi saat terakhir Dira bisa mendampingi mas... Dira takut jika waktu itu tiba, Dira bahkan tidak sempat melihat bayi Dira lagi... hiks hiks hiks... Dira bener-bener takut kejadian lima tahun yang lalu akan terulang lagi...hiks hiks hiks..." Hans mendekap erat tubuh Dira yang tengah menangis tersedu-sedu. Rasa bersalah karena lima tahun yang lalu dia telah menelantarkan anak dan istrinya kembali datang. Apalagi saat mendengar begitu beratnya pengorbanan Dira saat melahirkan Hara... Koma selama beberapa hari, pasti sangat menakutkan bagi yang pernah mengalaminya. Ketakutan jika tidak bisa bangun dari koma pasti selalu menghantui hari-hari Dira saat ini.


"Maafkan mas ya sayang, karna mas tidak disisimu waktu itu... Tapi kali ini mas berani jamin bahwa kejadian lima tahun yang lalu itu, tidak akan pernah terulang lagi. Bukankah tadi dokter Haris juga mengatakan jika kejadian lima tahun yang lalu itu dikarenakan banyaknya tekanan dalam hidupmu saat itu. Tekanan hidup yang membuatmu stress, sehingga kamu melahirkan dalam keadaan putus asa. Dan itu tidak akan mas biarkan terulang kembali... kamu percaya sama mas kan?" Dira mengangguk pelan.


"Na kalo gitu jangan menangis lagi ya.,." Dira kembali mengangguk, Hans mencium kening istrinya.


"Jadi tadi waktu Dira mengobrol dengan dokter Haris, mas mendengarkan semua?" Hans mengangguk sambil tersenyum. "Semuanya?" Hans kembali mengangguk.


"Iya... se-mu-a-nya..."


"Kok mas nggak nyamperin kami?"


"Karena kalo mas nyamperin, mas nggak akan mendengarkan semuanya...he he he..." Hans terkekeh...


"Mas curang..." Dira memukul-mukul lengan suaminya.


"Oya mas, mumpung Dira inget... Dira mau menagih janji cerita sama mas..."


"Janji cerita? Emang mas pernah punya janji cerita padamu? Janji cerita apa?" tanya Hans bingung.


"Jangan pura-pura lupa deh..."


"Sayang, mas memang benar-benar lupa... coba kamu ingetin, kalo memang mas bener-bener janji, pasti mas akan tepati...."


"Serius?"


"Iya dong serius..."


"Cerita tentang sore itu, saat mas bersama Kak Jessica di ruang kerja mas..."


"Astaghfirullah... kamu masih mengingat hal itu?"


"Tentu saja karena mas sudah janji dan sampai sekarang mas belum menepatinya..."

__ADS_1


"Hmm... oke-oke tapi setelah mas cerita, kamu nggak boleh marah dan nggak boleh berprasangka buruk terhadap mas. Jika kamu ingin tahu sesuatu tentang mas dan Jessica, kamu harus tanya langsung kepada mas, bukan kepada orang lain, apalagi kepada Jessica... oke?" Dira mengangguk.


"Kejadian sore itu yang sebenarnya adalah kejadian paling menjijikkan yang tidak sengaja mas lakukan..." Hans pun mulai bercerita, dari mulai Jessica yang memang sengaja dia panggil untuk mengklarifikasi aduan dari Hara, hingga terjadinya kejadian yang membuat Hans menolak ciuman dari istrinya. Semua diceritakan oleh Hans, tanpa terkecuali... tidak di tambah atau pun dikuranginya. Dira terdiam tanpa ada reaksi apa-apa tapi tanpa sengaja air matanya menetes di pipinya. Hans pun buru-buru menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Sayang, jangan menangis. Demi Allah demi Rasulullah, semua kejadian itu tanpa sengaja mas lakukan... maafkan mas ya..." Dira masih diam, tangisnya pun belum berhenti, hingga membuat T-shirt Hans basah di bagian dada.


"Kejadian apa lagi setelah kejadian itu di sore itu? Dan satu lagi yang ingin Dira tanyakan, apakah mas hingga detik masih mempunyai rasa cinta kepada Kak Jessica?" tanya Dira si sela isak tangisnya.


Hans melepas pelukannya lalu kedua tangannya memegang kedua bahu istrinya.


"Denger baik-baik dan camkan dalam hatimu... tidak pernah ada kejadian apa-apa setelah kejadian itu. Kalau sampai kamu dengar dari mulut Jessica telah terjadi sesuatu yang lebih dari itu, itu adalah bohong besar. Dan jika kamu tanya apa mas masih mencintai Jessica? Jawaban mas tidak sama sekali."


"Tapi tadi pagi mas dan Kak Jessica merayakan anniversary jadian kalian kan? Dan baju itu...baju yang dipakai Kak Jessica itu adalah baju pemberian Mas Hans kan?"


"Jessica bilang begitu?" Dira mengangguk. "Ya Tuhan... dan kamu percaya?"


"Nggak tau... hiks hiks hiks..." Hans kembali menarik Dira dalam pelukannya karena Dira kembali menangis.


"Baju itu benar mas yang membelikan, tapi itu dulu waktu kami masih bersama dan itupun karena dia yang merengek minta dibelikan. Mas juga nggak menyangka dia masih menyimpannya, tapi kalau soal merayakan anniversary...itu adalah bohong. Tadi pagi mas ke cafe untuk mempertemukan antara Jessica dengan anak-anak dari Almarhum suaminya, agar urusan dia cepat selesai dan dia juga cepat pergi dari rumah kita. Karena sebenarnya sejak awal mas tidak suka dia tinggal di rumah kita, karena mas takut kehadirannya akan merusak keharmonisan keluarga kita, karena sejujurnya mas juga tidak yakin jika dia telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan kini kenyataannya semua telah terbukti kan?" Hans mencium kening Dira lalu...


"Mas mencintaimu sayang, kemarin, hari ini dan selamanya, hanya kamu satu cinta di hati mas, tidak ada dan tidak pernah ada yang lain." Hans mencium bibir istrinya dan Dira pun menyambutnya, sampai rintiknya hujan menyadarkan mereka jika saat ini mereka tengah berada di alam terbuka.


"Iya... kita lanjutkan di rumah ya..." Dira mengangguk, lalu mereka pun melangkah menuju mobil dengan badan yang sedikit basah. Seperdetik kemudian Hans pun melajukan mobilnya menuju kediaman mereka.


Sampai di rumah, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, sementara hujan pun semakin bertambah deras.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam... MasyaAllah... naik mobil kok bisa basah kuyup begini..." omel Bi Asih.


"Hara rewel nggak bi...?" tanya Dira.


"Rewel sebentar, soalnya kan dari pagi Neng Dira tinggal, untungnya ada Non Hanna yang menghibur, sekarang Hara juga tidur di kamar Non Hanna."


"Lho kok...?"


"Sudah biarkan saja, masih anak-anak ini. Sudah dulu ngobrolnya, besok di sambung lagi... ini teh panasnya di bawa naik ke atas. Neng Dira cepat ganti baju terus istirahat..."


"Iya bi... makasih buat semuanya ya...'cup'... Bi Asih juga istirahat...malem bi..."

__ADS_1


"Malem neng..."


Dira pun segera menaiki tangga menuju kamar tidurnya.


"Kok lama sih naiknya... buru bersih-bersih sana, tapi jangan lama-lama...nanti dedeknya kedinginan lagi..." titah Hans. "Emm... kira-kira butuh bantuan nggak sayang?"


"Maunya... enggak... mas minum tehnya aja...keburu dingin."


"Oke... makasih tehnya ya sayang..."


"Bi Asih yang bikin, bukan Dira..." teriak Dira dari dalam kamar mandi.


Selang seperempat jam kemudian Dira melongok keluar kamar mandi, netranya menyapu seluruh ruangan kamarnya mencari keberadaan Hans. Karena tidak melihat keberadaan suaminya maka dia pun akhirnya keluar kamar mandi hanya berbalut handuk, rupanya dia lupa membawa baju. Begitu sampai di luar, Hans yang sedari tadi ternyata sembunyi di balik gorden pun keluar dari persembunyiannya dan langsung memeluk Dira dari belakang.


"Astaghfirullah maaaasss..." Dira pun langsung lemas sambil memegangi dada kirinya.


"Akh sayang... maafin mas... mana yang sakit, biar mas obati..."


"Nggak ada kok, cuma jantungku tadi sesaat seperti berhenti... Masku sayang... diinget-inget ya... istrimu ini punya penyakit jantung lho, jangan sering-sering diisengin ya... Nanti kalau jantungku berhentinya nggak cuma sesaat gimana?"


"Jangan ngacau ah, mas jadi takut ni... maaf ya..." Dira mengangguk pelan, kemudian Hans pun membalikkan badan istrinya menghadap dirinya. "Tapi kalau isengnya begini boleh kan?" Hans pun mencium bibir istrinya, Dira kembali mengangguk lalu dia pun membalas ciuman suaminya dengan lembut.


"Nggak usah pakai baju dulu...kita lanjutkan yang di taman tadi ya....?" pinta Hans dengan nafas yang mulai memburu, Dira mengangguk pelan sambil terus memperdalam ciuman panas mereka. Perlahan Hans mendorong tubuh istrinya ke tempat tidur dengan bibir yang masih bertautan. Hujan deras di luar rumah membuat keduanya semakin terhanyut dalam suasana yang menggairahkan. Tak butuh banyak kata, keduanya pun segera menikmati malam panjang mereka.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2