
Namaku Kiana Azzalea Wiryawan, putri tunggal dari keluarga Wiryawan.
Wiryawan adalah nama marga keluargaku, yang berarti Derajat dan kedudukannya yang tinggi.
keluargaku sangat menjunjung tinggi kehormatan dan nama baik keluarga.
karena kami termaksud salah satu dari golongan keluarga berada dan berkasta tinggi yang selalu menjadi sorotan publik.
kalian akan berfikir aku adalah gadis yang paling beruntung!
sayangnya aku sangat tidak nyaman diposisi ini, sejak kecil papi selalu memaksaku menuruti keinginannya, mengatur hidupku, dan merebut kebebasanku!
hidupku benar benar ada dalam kendali Papi..
Papi adalah aturan dalam hidupku..
padahal aku hanya ingin kehidupan normal seperti orang lain diluar sana yang bebas mengejar cita dan cintanya sendiri, menikmati hari tanpa pengawasan Papi, dan orang orang tetap bersikap normal padaku tanpa harus memandang marga keluargaku.
tapi aku bersyukur ada mami yang selalu memberi nasihat nasihat lembut dan mood bosteer padaku agar tidak lelah menghadapi sikap perfeksionis Papi.
dan satu lagi, aku juga punya seorang Dewi penolong namanya kak Balqis dia kakak angkatku yang sudah diadopsi Papi, saat usiaku masih 13 tahun dan dia lebih tua 2 tahun dariku.
aku ingat saat ayah pertama mengenalkanku padanya dia terlihat begitu gugup, dengan penampilan yang sedikit berantakan, dan lusuh, matanya bengkak karena menangis.
dia sangat pendiam dan sering menyendiri, namun semakin hari ia mulai terbuka dan berintraksi dengan kami.
hingga saat ini kamilah contoh the best sister sepanjang masa. tak pernah sekalipun kami bertengkar.
kami saling menyayangi dengan tulus layaknya seorang kakak dan adik, kak Balqis adalah wanita tercantik dimataku.
selain paras yang sempurna, kak Balqis mempunyai sifat yang lembut, santun, baik, dan yang paling aku suka dia selalu membantuku agar bisa kabur dari aturan aturan gila Papi.
dan saat Papi marah padaku kak Balqis adalah dewi penolongku.
__ADS_1
tak jarang kak Balqis mengakui kesalahanku sebagai kesalahannya di depan Mami dan Papi.
tapi, bukannya Papi marah padanya seperti saat marah padaku, justru Papi dan Mami semakin bertambah menyayanginya.
HERAN
kadang aku berfikir yang anak kandung itu sebenarnya siapa?
tapi, aku mencoba untuk tidak cemburu. kak Balqis adalah kakak dan Dewi penolongku aku rela berbagi apa saja dengannya.
....
hingga kami berdua tumbuh dewasa, aghhh tidak! aku belum layak dikatakan dewasa, kalau kak Balqis itu sudah pasti!
Sekarang kami menyukai pria yang sama, namanya Devano Edzar Djatmico.
aku sudah menyukainya sedari kecil sebelum kakak hadir dihudupku.
sedangkan kakak menyukainya sejak dia mulai bergabung diperusahaan Papi beberapa bulan lalu, dan ia bertemu dengan Devano.
selama ini aku sering keluar tanpa sepengetahuan Papi tentu dibantu kak Balqis, hanya untuk menguntit dan melihat pujaan hatiku itu dari jauh.
namun beberapa bulan lalu kakak mengatakan padaku ia menyukai seorang pria yang ternyata adalah pria yang selama ini hampir membuatku gila hanya karena ingin melihatnya, aku harus main kucing kucingan dengan Papi
meski sakit kali ini aku memilih mengalah untuk kakak, dia sudah banyak berkorban untukku selama ini.
semakin hari Papi terlihat semakin menyayangi kak Balqis dari pada aku anak kandungnya sendiri.
aku mencoba untuk tetap ikhlas dan tidak cemburu..
mungkin karena beberapa tahun belakangan ini aku lebih banyak membangkan dari Papi dan menolak untuk kuliah bisnis, dan kak Balqislah yang selalu menemani dan menuruti keinginan Papi.
POV Author.
__ADS_1
Kia bangun terburu buru, hari ini ia terlambat bangun lagi karena begadang mempersiapkan tugas kuliahnya.
sebagai mahasiswi baru, ia sangat semangat belajar apa lagi ini adalah jurusan favoritnya. ia bertekad membuat papi bangga meski papi tidak suka dengan keputusannya yang memilih kuliah tehnik.
ia berlari menurungi anak tangga setelah terlihat rapi dengan pakaian dan almamater kampusnya.
"kia sudah siap sayang?" sapa Balqis yang hari ini terlihat sangat ceria, di ikuti seulas senyum dari Mami Ningrum.
Kia hanya mengangguk ikut tersenyum, sambil sedikit melirik ke Papi Danu.
dan seperti biasa Papi hanya menatapnya acuh kemudian melanjutkan sarapannya.
sejak Kiana memilih kuliah Tehnik, daripada Bisnis Papi semakin bersikap dingin padanya, tapi walaupun begitu Papi tetap menfasilitasi Kia untuk menjaga nama baik keluarga.
"sayang sebentar malam keluarga Djatmico datang untuk makan malam, kamu pulang jangan kesorean yah!" ucap Ningrum yang sudah menyelesaikan sarapannya sambil mengusap sudut bibirnya dengan tissu.
"hemm? tumben dalam rangka apa mi?"
tanya Kia setengah acuh dengan mulut yang masih mengunya makanannya.
seingat Kia sejak Balqis diadopsi, keluarga Djatmico tidak pernah lagi makan malam bersama keluarganya.
disisi lain, Balqis tersenyum sendiri dengan fikirannya.
"mereka ingin membahas pertunangan kakak dengan Devano." balas Mami dengan seulas senyum senang akhirnya ia bisa berbesan dengan sahabatnya nyonya Djatmico,, namun
uhuk.. uhukk..
tidak untuk Kia, ia terkejut hingga menyembur makanannya.
sakit, sesak sudah pasti!
meski ia sudah bertekad untuk mengiklaskan cinta pertama, dan cinta masa kecilnya itu untuk wanita yang sudah dianggapnya dewi namun rasanya tetap ada luka yang tak berdarah didalam sana terasa sangat perih dan sesak
__ADS_1
"pelan pelan dek makannya." Balqis yang disampingnya langsung menyodorkan air putih.
dan mami disisi lainnya juga ikut mengusap punggung putrinya sambil menggeleng melihat putrinya yang selalu ceroboh ini.