
HAPPY READING
"sebelum scrol,, jangan lupa bagi Votenya dulu kakak 😘😘😘"
.
.
.
.
.
Devano mencoba menjernihkan fikirannya mungkin bocah labil yang sudah merampas hatinya itu mungkin sedang bersenang senang hingga lupa pulang..
Devano melangkah menuju kamar yang menjadi saksi bisu keperkasaannya saat ia menghabiskan malam malam panjangnya bergelut dengan sang istri tercinta.
mencium aroma yang ditinggalkan sang istri sedikit membuatnya tenang, ia segera mengganti pakaiannya tanpa membersihkan diri.. ia tidak ingin melakukan apapun sampai melihat wanita yang membawa separuh nyawanya itu kembali kerumah itu.
satu panggilan dari nomor baru menyadarkannya, ternyata sekarang sudah petang.
Devano segera beranjak meraih ponselnya, namun panggilan itu lolos..
saat Devano ingin meletakkan kembali ponselnya, notif pesan masuk membuat tubuh Devano seperti tersiram air panas
1 Gambar
Kiana tertidur pulas dengan tangan terikat dan mulut dibekap lakban.
belum sempat Devano menghubungi pengirim pesan.
sebuah pesan masuk kembali
"jika ingin menyelamatkannya... Di depan perusahaan Wiryawan sebuah mobil hitam palt ×××× menunggumu, jangan bawa ponsel atau meminta bantuan! aku fikir kamu mengerti maksudku!"
Devano memekik geram, tiba tiba fikiran buruk memenuhi kepalanya..
ia tidak ingin membuang buang waktu untuk mengikuti permainan orang gila yang mengiriminya pesan
ia segera menghubungi pengirim pesan namun nomor sudah diluar jangkauan.. ia ingin menelfon Aldo untuk melacak nomor itu, namun ia mengingat kembali kalimat pengirim pesan.
ia tidak berani mengambil tindakan yang bisa membahayakan istrinya.
ia semakin geram dan meninggalkan ponselnya dengan terburu buru ia mengambil kunci mobil menuju perusahaan Wiryawan.
__ADS_1
masih banyak kendaraan karyawan disana..
bagaimana penjahat sekarang bisa bekerja terang terangan?!
mata Devano tertuju pada sebuah mobil yang dimaksud..
ia bergegas berharap menemukan seorang penjahat yang bisa ia patahkan tulangnya saat membuka pintu mobil itu dengan kasar.
Kosong
namun sebuah ponsel yang ada dibangku pengemudi berdering mengalihkan perhatian Devano, dan segera menjawab panggilan itu.
"Hallo?!"
"masuk dan ikuti instruksiku!" terdengar suara yang sudah disamarkan diujung telfon
"aku tidak punya waktu untuk bermain main, cepat katakan berapa yang kamu inginkan dan lepaskan istriku!" geram Devano terbakar emosi.
"hahaha Tuan muda Djatmico memang pria muda mapan dan memiliki segalanya, namun sayang aku tidak tertarik dengan uangmu Tuan, aku lebih tertarik untuk bertemu langsung denganmu!"
"shit!! kamu kembalikan istriku atau kamu akan menyesal!"
"sakittttt tolong lepaskan,,, ini sakit lepaskan akuuu!!!" teriak Kiana menangis histeris diujung telfon membuat Devano terkejut.
seseorang dibalik telfon tertawa
" segera kemudikan mobil itu Tuan!"
Devano menggeram kesal dan akhirnya mau tidak mau ia mengikuti instruksi orang dibalik telfon.
.....
tanpa sadar kini ia sudah berada didepan sebuah rumah yang berdiri kokoh cukup besar dan mewah..
hanya ada dua penjaga yang sudah menyambutnya.
hebat yah penjahat sekarang kaya raya!
"masuk saja Tuan ikuti penjaga itu, istri anda sudah menantikan kehadiran anda!" instruksi terakhir dari balik telfon.
Devano segera masuk pintu utama rumah besar itu diantar penjaga.
ia sekarang berada dalam ruangan dimana Kiana sudah tidak sadarkan diri lagi..
"sayang..."
__ADS_1
Devano menghambur menghampiri istrinya, belum sempat menyentuh kulit Kiana.
satu hantaman benda keras mengenai tengkuknya hingga tidak sadarkan diri.
*****
menit berlalu berjam jam..
suara tangis tertahan membuat Devano tersadar dari tidurnya.
Devano melihat wanita yang sangat dicintainya menangis menatapnya dengan mulut dibekap dan tangan terikat..
wajah Kiana terlihat memar karena benturan benda keras atau seseorang telah menyakitinya.
Devano ingin merangkul sang istri untuk memberinya ketenangan namun sayang, tubuhnya terasa terbelenggu dan sulit digerakkan.
Sial... ia baru sadar tangan dan kakinya juga sudah terikat..
Kiana hanya menggeleng dan terus menangis, membuat dada Devano tercabik cabik..
sumpah demi apapun ia akan menghabisi orang yang sudah tega menyakiti istri kecilnya itu.
"please... please... diam sayang! aku janji kita akan keluar dari sini secapatnya!" ucap Devano berharap ia bisa sedikit memberi ketenangan pada wanita yang sudah ketakutan itu.
Devano tidak habis fikir siapa yang sudah berani melakukan ini..
Kiana yang dibekap hanya terus menangis seperti menahan rasa sakit yang tidak bisa tertahan..
"maafkan aku, maaf sayang..." hati Devano semakin sakit melihat itu, ingin rasanya ia mengamuk sekarang namun ia tidak ingin Kiana semakin takut dan tertekan.
ia sangat murka menatap wajah sang istri yang sudah lebam.. Devano menatap menulusuri tubuh istrinya berharap sang istri tidak memiliki luka yang lain.
DEG...
jantung Devano terasa berhenti dan tubuhnya bergetar hebat saat ia melihat cairan berwarna merah terbentang memanjang di betis sang istri yang sedang memakai celana berwarna mocca, sebetis model Pleated Pants.
Kiana semakin meringis kesakitan dan menangis..
tiba tiba Pintu terbuka!
"selamat malam Tuan.."
baritone maskulin itu membuat Devano terkejut bukan main melihat siapa yang berdiri didepannya dengan begitu angkuhnya!
"Kau?!" Geram Devano!
__ADS_1