SIMPANAN KAKAK IPARKU

SIMPANAN KAKAK IPARKU
BELUM ADA JUDUL


__ADS_3

"kita mau kemana?"


sore itu Hilda menatap bingung suaminya yang tiba tiba mengajaknya keluar namun tidak mengatakan tujuan mereka.


"nanti kamu akan tau kalau kita sampai sayang."


Hilda pasrah saja walau masih penasaran, lagian tidak mungkin suaminya itu menjualnya kan?


menjual?


tiba tiba Hilda bergidik, fikirannya tertuju pada cerita novel yang di baca nya semalam seorang suami tega menjual sang istri di tempat prostitusi.


Hilda menggelengkan kepalanya


"jangan berfikir macam macam!" Aldo mengecup punggung tangan sang istri saat melihat wajah tegang Hilda.


****


"ini rumah siapa?"


tanya Hilda saat mereka tiba di halaman luas sebuah rumah besar, lebih besar dari rumah yang mereka tinggali selama ini.


"ayo sayang masuk dulu, kau akan tau saat tiba di dalam"


Aldo menggandeng sang istri


saat tiba di pintu rumah besar itu, seorang pria paru baya menyambutnya.


"selamat datang Tuan, Nona.." sapa pria paru baya itu


"ma kasih pak Mud"


"maaf para pelayan ada di belakang, kami tidak tau Tuan datangnya hari ini, kirain besok pagi."


setelah tugas para pelayan selesai mereka memang akan kembali ke sebuah rumah khusus untuk para pekerja di belakang rumah besar itu, meski letaknya di belakang tapi mereka senang karena pemandangan disana sangat indah, taman bunga dan kebun sayur yang luas, sebuah danau dengan rakit kecil, serta lapangan golf yang luas.. benar benar rumah masa depan untuk masa tua.


" tidak apa apa pak Mud, kau juga bisa beristrahat aku akan menemani istriku melihat lihat isi rumahnya dulu!"


Hilda yang sedari tadi hanya diam mendengar kedua pria beda generasi itu berbicara langsung terperanga mendengar ucapan Aldo


"baiklah, kalau begitu saya akan kebelakang.. kalau Tuan butuh apa apa langsung memanggil kami."


yah memanggil dengan alat yang didesain langsung terhubung ke rumah belakang.

__ADS_1


"pak Mud, jangan ganggu kami sebelum aku sendiri yang meminta kalian datang!"


"Ahh iya, tentu saja Tuan."


setelah kepergian pak Mud, Hilda melepas rasa penasaran nya


"sebenarnya ini rumah siapa?" Hilda masih tidak yakin jika rumah super mewah dan besar itu rumah mereka.


"bukannya tadi kau sudah mendengarnya? ini rumahmu sayang, tempat tinggal kita dan calon anak anak kita, ayo kita lihat lihat."


Hilda hanya melongo, jadi beneran ini rumah mereka.


dan Aldopun mulai tour dadakannya itu bersama sang istri dan Aldo yang menjadi pemandunya untuk memperlihatkan setiap sisi ruangan dan fungsinya.


Hilda hanya mengerutkan keningnya, rumah ini lebih banyak ruangannya dari pada rumah sebelumnya ia tidak yakin tidak akan nyasar nantinya.


ia kembali melongo saat Aldo memperlihatkan sebuah kamar yang nantinya ditempati bayi mereka, dengan desain khusus lengkap dengan box tempat tidurnya.


Hilda hanya menggeleng, bahkan pabrik prosuksinya saja belum siap tapi wadahnya sudah jadi, sebuah fikiran konyol terlintas di benaknya dan tersenyum geli.


walau dalam hatinya ia sungguh merasa terenyuh, melihat sang suami sebegitunya mempersiapkan untuk masa depan mereka.


" tapi, bagaimana rumah kamu yang satu dan rumah pemberian orang tuaku?"


"sayang memiliki banyak rumah itu tidak apa apa, itu bisa menjadi aset kita kedepannya. tapi kita tetap akan paten tinggal disini dan memulai semuanya disini bersama."


ucap Aldo lembut memegang pipi sang istri, sekarang mereka ada di kamar utama..


kamar mereka.


Mata Hilda berbinar bukan karena kamar dengan furniture elegan yang di desain tidak terlalu mencolok agar tidak membosankan


tapi, fokus matanya melihat foto besar yang menggelantung di dinding kamar itu, foto pernikahan mereka.


Hilda tersenyum, ia tidak menyangka sekarang ia telah menjadi seorang istri dari pria luar biasa yang tidak pernah ia sangka..


hidupnya terasa seperti cinderella dalam versinya sendiri.


Hilda memejam matanya masih dengan senyuman manisnya.


jika ini mimpi jangan bangunkan aku lagi Tuhan.


sebuah harapan yang muncul didalam hatinya, desertai sebuah cairan yang berhasil lolos dari mata yang terpejam itu.

__ADS_1


Aldo ikut merasakan apa yang dirasakan sang istri.


dengan sigap ia menarik nya kedalam pelukan.


untuk beberapa saat mereka menikmati rasa nyaman yang tercipta.


kemudian Aldo memberi jarak diantara mereka menatap mata Hilda yang masih berair.


ia mengusapnya lembut kemudian mencium kedua mata itu.


"mulai detik ini aku tidak mengizinkan mu menangis lagi"


ucapnya dengan suara berat namun terlihat begitu gagah dimata Hilda.


Hilda terpaku menatap wajah yang entah kenapa setiap hari kadar ketampanan nya selalu bertambah dimata Hilda


dengan perlahan Aldo menyatukan bibir mereka dengan lembut.


diawali dengan kecupan, berubah menjadi sesapan dan lu matan yang bergelora


Hilda hanya menerima dan mulai ikut membalas, ia sudah terbiasa selama sebulan ini dengan ciuman panas dari sang suami, bahkan ia mulai menyukainya.. yah walau hanya benar benar sebatas ciuman panas.


"Hilda aku menginginkan mu?!" lirih Aldo dengan nafas memburu saat ciuman itu berakhir


mata Hilda membulat


sekarang?


kemudian ia mengingat sudah lebih sebulan pernikahan mereka, apa artinya Aldo sudah siap? apa sekarang ia benar benar akan menjadi seorang istri seutuhnya?


"jangan tegang, kata orang itu sangat nikmat!"


goda Aldo membuat pipi Hilda bersemu merah.


Aldo tersenyum gemas, rasanya ia benar benar tidak sabar mengungkung sang istri di bawanya dan membuatnya men de sahkan namanya sepanjang malam..


"aghhhh"


ia dengan sigap mengangkat sang istri yang terpekik kaget dan meletakkannya dengan lembut diatas kasur empuk berukuran king size itu.


Akhirnya abang Al bisa buka pabrik juga dan siap produksi 😂... kira kira versi bercintanya Abang Aldo kek gimana yah bestie???


dok michael kan bilang pelan pelan aja.. vie jadi kepo🤭

__ADS_1


kalau intip doang dosa enggak? 🤣🤣🤣


__ADS_2