
Selama Membaca.
jangan lupa ninggalin LIKE, COMEN, VOTE, DAN RATENYA YAH.
.
.
.
Dikediaman Wiryawan.
Papi Danu berdiri menghadap keluar jendela, membelakangi orang orang yang ada disana.
"suruh dia masuk ke kamarnya!" ucapnya dingin tanpa ingin melihat wajah Kiana.
Papi maupun Balqis sudah mengetahui yang telah terjadi, dari Bastian daddy Devano.
Balqis belum bicara sepata katapun sejak mengetahui berita itu, tidak ada yang tahu isi hati gadis yang duduk termenung di tengah tengah keluarga itu.
bayangan kebahagiaan didepan matanya sirna sekejap mata!
Kiana melihat orang yang dicintainya bergantian, hatinya remuk melihat Balqis yang menunduk menghindari tatapanya, apalagi Papi yang jelas sengaja berdiri disudut ruangan itu juga menghindarinya. dan Mami memilih melihat arah yang lain dengan menangkup bibirnya.
__ADS_1
suasana jadi mencekam, Mom Elle membawa Kiana yang juga terlihat sangat terluka itu masuk kekamar.
Bastian mendekati Papi Danu dan menepuk pundak sahabatnya itu untuk saling menguatkan.
"Bas apa ini karma untukku?" Lirih Danu menatap kosong dedaunan pohon yang bergerak dipermainkan angin diluar jendela itu.
"kamu jangan bicara bodoh, yang berlalu sudah berlalu! ini namanya takdir tapi jika kau merasa sangat kesal kau bisa menghajar anak nakal itu." Bastian melihat sekilas kearah Devano yang sedari tadi hanya diam di sana bersama Mami Ningrum.
sedangkan Balqis sudah pergi, mungkin sudah dikamarnya menenangkan diri.
"pernikahan mereka tinggal selangkah Bas!" Danu merasa frustasi memikirkan perasaan Balqis yang juga menjadi tanggung jawabnya, ia sudah berjanji akan memperlakukan gadis itu seperti anak kandungnya sendiri, dan memberikannya kebahagian.
"anak itu akan mendapat pria yang lebih baik, tidak mungkinkan kau membiarkan Devano tidak bertanggung jawab kepada anak kandungmu sendiri bukan?"
"tapi, bagaimana dengan Balqis? bahkan pernikahan mereka sudah terdaftar hukum negara!" yah buku nikah mereka sudah jadi, itu berarti mereka adalah suami istri dimata hukum negara!
"jangan membuatku tambah pusing, mereka itu anak anak kita!"
"bagaimana kalau mereka berdua menjadi istri Devano?" usul gila Daddy.
"jangan gila, ini bukan waktunya kau buat lelucon! cukup mereka berbagi kasih sayang orang tua, dan materi, jangan sampai mereka berbagi suami!"
"resepsinya tinggal beberapa hari lagi, kau harus memutuskan mengganti pengantin wanita atau menikahkan keduanya! aku khawatir cucu kita sudah berkembang didalam perut putrimu!" ucap Frontal Dad Bastian membuat Papi Danu tambah stres..
__ADS_1
hanya Dad Bastian yang mampu mengajak Papi berbicara terbuka seperti ini.
"apa yang harus aku lakukan Bas?"
"kau serius bertanya padaku?" debat untuk pertama kalinya setelah kejadian lama itu, papi Danu baru meminta pendapat orang lain untuk memutuskan sesuatu.
"katakan!" balas Papi datar
"okey.. menurut aku kamu harus belajar memahami putrimu sendiri dulu, aku lihat sejak kamu mengadopsi Balqis perhatianmu pada Kiana meluntur!"
"jangan ngaco kamu! aku sangat menyayangi Kiana jadi aku melakukan itu, Balqis memintanya, ia bilang Kiana sering mengeluh dengan sikapku yang otoriter dan terlalu mengekangnya!"
"lihat bahkan kamu kelihatannyanya sudah dikendalikan putri angkatmu itu!"
"bas aku minta solusimu tentang masalah anak anak kita, bukan menilai keluargaku!"
"tapi untuk mendapat solusi yang kamu mau, kamu memang harus memikirkan ucapanku barusan Dan!"
Danu semakin bingung dengan arah pembicaraan Bastian.
"pernahkah kamu bertanya langsung apa yang diinginkan putrimu? kurasa kamu juga harus memikirkan perasaan anak kandungmu sendiri... dia sudah banyak berkorban perasaan dan berbagi banyak hal dengan putri barumu itu, jadi bisakah sekarang kamu minta Balqis secara baik baik untuk berkorban buat adiknya?"
Papi Danu tidak tahu apa ia bisa melakukannya?!
__ADS_1
"aku merasa kau lebih menprioritaskan perasaan Balqis sekarang daripada perasaan putri kandungmu sendiri Dan, mungkin saat ini perasaan Balqis sangat hancur namun Kiana?? bukan hanya perasaannya yang hancur, tapi harga diri dan masa depannya hancur jika kamu tidak meminta Balqis untuk sekali ini berkorban untuknya, lagian belum ada yang tahu putrimu yang mana akan menikah dengan Devano, dan soal surat nikah aku bisa mengurusnya asal kamu mampu membujuk Balqis!"
dibalik jiwa humoris Dad Bastian, otaknya selangkah lebih maju dari pada Papi yang kaku dan otoriter.