
acara 7 bulanan Kiana
"Mi Kiakan sudah bilang enggak usa ada acara beginian.. Kia kelelahan Mi, mana Kia kalau kemana mana harus bawa perut buncit begini!"
protes Kiana atas ritual 7 bulanan yang disiapkan Mami Nigrum dirumah besar Wiryawan yang dihadiri keluarga dan kerabat yang ikut mendoakan kesehatan ibu dan calon bayinya.
Mom Elle dan Hilda hanya tersenyum melihat kekesalan Kiana.
sejak hamil Kiana memiliki sifat yang tidak sabaran, suka marah marah, merajuk tidak jelas, manja, jail dan yang paling parah sangat boros!
"sayang.. ini sudah adat istiadat dari oma kamu, dan waktu Mami hamil Kia, Mami juga adaiin acara 7 bulanan ini" bujuk Mami dengan sabar
"tapi Mi, Kia sangat lelah!
hufft.. jika baby girl ini lahir dan kelak ia hamil cucu Kia, Kia tidak akan adakan lagi acara seperti ini, sungguh menyiksa jiwa dan raga!" ucap kia bersungut mengelus perut buncitnya
Mom Ellena semakin tertawa dengan ucapan menantunya, sebenarnya ia juga kasihan melihat Kiana..
bahkan sampai saat ini Kiana belum mengadakan resepsi pernikahan karena Devano mengkhawatirkan keadaan sang istri, dan Kiana juga mengatakan ia tak masalah tidak ada resepsi cukup ia tahu Devano mencintainya, apalagi semua orang juga sudah tahu siapa istri Devano Djatmico, serta alasan kenapa belum ada resepsi semua diterima dengan baik oleh publik.
"astaga Ki... anak lo bahkan belum lahir, lo uda bahas cucu?!, emang sarap yah lo!" ledek Hilda yang juga ikut terhibur dengan ucapan Kiana, dan sedikit dapat mengobati lukanya beberapa minggu ini.
"Ki, kalau acara 7 bulanan ini selesai dengan baik hari ini, besok Mommy akan temani Kia keliling belanja apapun yang Kia mau!"
Kiana yang sejak tadi suntuk seperti kehabisan daya, kini lamgsung terlihat segar dengan mata yang berbinar
"benarkah?
"kalau perlu Mami tambahin juga satu kartu un limited!" timpal Mami Nigrum yang ingat cara ampuh membujuk putrinya itu, yang sekarang tiba tiba berubah menjadi matrealistis itu.
"oke!" ucap Kia cepat dengan wajah sumringa
"ohh my god.. seperti apa nanti bentuk cucuku!" gumam Daddy dan Papi dalam hati bersamaan saling bersitatap, sejak tadi menjadi penonton kaum hawa itu.
__ADS_1
"yah sudah sekarang kita kembali menemui tamu dan melanjutkan prosesinya!"
*
*
*
Kiana kembali melakukan beberapa ritual bersama Devano yang sejak tadi menunggunya sambil berbincang dengan kerabat, dipandu oleh MC.
sedang disisi lain ruangan terbuka itu, Hilda menatap pria yang tak pernah ia temui selama beberapa minggu ini, Aldo.
ada rasa senang bisa melihat pria itu kembali sehat seperti sedia kala, dan semakin tampan.
namun hatinya juga terasa semakin sakit melihat Dokter Claudia yang selalu terlihat bersama pria itu, seperti hari ini!
bukan itu saja Hilda tahu dari mulut dokter cantik itu, jika Aldo dan Clau masih dalam atap yang sama, siapa yang akan tau apa yang akan terjadi diantara mereka mengingat Aldo yang suka seenaknya pada dirinya, dan Clau yang terlihat jelas sangat mengharapkan Aldo.
hati Hilda semakin teriris saat ini
jangankan tersenyum Aldo justru selalu menatapnya dengan tajam, dan juga sangat irit berbicara.
"sayang.. hai.. Hilda..." sapa mam Sandra yang sudah keberapa kalinya, membuat Hilda terkejut
"ta.. tante!?"
"Mama!!"ucap Sandra meralat ucapan Hilda
"ehh.. i..iya Ma. maaf Hilda tadi nggak lihat" ucap Hilda tidak enak hati telah ketahuan melamun.
dan sebenarnya Hilda sangat sungkan memanggil Sandra dengan embel Mama, apalagi setelah pembatalan pernikahannya dengan Zetno.
"mau dilihatin sampai kapan sayang? sana di samperin!" ucap Mam Sandra
__ADS_1
"eehh??"
Mam Sandra mencubit pipi Hilda yang terlihat bingung dengan gemas
"kamu mau samperin Aldo atau mama panggil dia kesini?"
"enggak usa ma.. enggak usa!" tolak Hilda cepat, ia tidak mau terlihat semakin bodoh dihadapan Aldo dan Claudia.
membuat Mam Sandra hanya menghembuskan nafasnya dengan berat
meski sebenarnya Mam Sandra sangat mendukung ia dengan Aldo tapi mengingat Mam Sandra sendiri tidak bisa menembus batas yang Aldo bangun diantara dirinya yang dianggap sebagai ibu tiri, Mam Sandra tidak bisa bercerita layaknya ia bercerita kepada Zetno.
padahal Mam Sandra tahu jika anak dari suaminya itu sebenarnya juga punya rasa dengan Hilda namun entah karena alasan apa yang membuat Aldo seperti menghindari Hilda.
*
*
*
setelah serangkaian acara 7 bulanan itu berlangsung semua tamu terlihat sudah meninggalkan keluarga inti di rumah besar Wiryawan.
dan kini Kiana kembali kekamarnya untuk beristrahat, sedang yang lainnya masih di ruang keluarga bercengkerama masih membahas seputar kehamilan Kiana.
dan juga kesepakatan agar Kiana tinggal di rumah itu sampai ia melahirkan mengingat Devano yang semakin disibukkan pekerjaan karena perusahan Djatmico semakin berkembang pesat, dan beberapa perusahan cabang harus segera diresmikan pembukaannya.
ditambah Aldo yang juga berencana mendirikan perusahannya sendiri, membuat Devano semakin pusing karena harus segera mencari pengganti tangan kanannya itu.
ada rasa tak rela Devano ditinggal Aldo, karena tidak mudah mencari orang yang bisa dipercaya seperti Aldo. namun ada rasa bangga karena sahabatnya itu akhirnya membuka peluang untuk dirinya sendiri mencoba sesuatu yang baru.
dan Devano berjanji akan selalu mensupport sahabatnya itu baik dalam bentuk ferbal, ataupun material
yah walaupun Aldo tentu akan menolaknya.
__ADS_1
"Aldo..."
teriak wanita yang membuat Aldo menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke mobilnya bersama Claudia..