
5 detik..
10 detik...
15 detik...
"Pi Kia minta maaf sudah banyak mengecewakan papi!" lirih Kiana masih memeluk Papi yang matanya juga sudah memerah untuk menumpahkan cairan yang tidak pernah Kia lihat selama ini.
"sudahlah semua telah terjadi, papi yang bersalah selalu menganggap kamu masih gedis kecil Papi.. papi lupa jika kamu sudah beranjak menjadi wanita dewasa!" akhirnya cairan bening itu tumpah juga.
"tidak Pi.. Kia masih tetap gadis kecilmu, dan akan tetap seperti itu.. Kia tahu yang papi lakukan hanya untuk kebaikan Kia.. Kia janji mulai sekarang Kia akan mengikuti semua keinginan Papi!"
Kiana mulai melepaskan pelukannya, sudah lama ia tak pernah merasa setenang ini.
"benarkah?" papi menatapnya dengan mata yang masih memerah.
Kiana mengangguk yakin.
"Kia akan kuliah bisnis dan akan membantu mengelolah usaha papi!"
Papi memeluk putrinya, sudah lama ia tidak melakukannya selama ini ia selalu bersikap dingin dan datar berharap putrinya akan dewasa dan disiplin namun ia sadar itu membuat hubungan mereka merenggang.
ingin rasanya Kiana berteriak betapa bahagianya papi memeluknya, hingga ia merasa sesuatu yang berbeda dengan papi.
"kenapa papi kurusan dan lingkaran hitam ini?" Kiana menunjuk pinggir mata papi.
Papi membuang nafasnya kasar.
"ada masalah diperusahaan, sedang kakakmu mengambil cuti karena kehamilanya membuatnya tidak sehat belakangan ini.. jadi papi harus bekerja keras!"
"masalah?"
__ADS_1
"ada kebocoran dana, dana menguap entah kemana... pengeluaran tidak seimbang dengan pemasukan.. padahal tidak ada masalah pada penjualan semuanya lancar dan laporannya juga sesuai!"
"Pi.. papi yang sabar yah! Kia akan berusaha membantu sebisa Kia."
meski tidak mangerti bisnis namun Kia mengikuti nalurinya saja menenangkan papi dan bertekad mengikuti keinginan papi untuk mengurus perusahaan.
keduanya lanjut dalam pembahasan yang lain membuat mereka kembali merasa kedekatan yang selama ini hilang.
Mami Ningrum yang tadinya ingin menemui Kiana disana tersenyum haru dan mengurungkan niatnya dan memberi suaminya waktu untuk lebih dekat dengan putrinya lagi.
*****
Kiana tersenyum saat masuk ke kamar, ia melihat Devano sudah terlelap ditempat tidurnya.
tiba tiba ingatannya tertuju pada Balqis, tadi Papi mengatakan Balqis belakangan ini kurang sehat ia juga ingat percakapan dok Dian dan Mommy kemarin... ia merasa memang harus melepaskan diri dari hubungan tidak sehat ini.
"aku sepertinya harus mengiklaskan mu untuk kakak, jika aku masih terikat pernikahan denganmu bukan hanya aku yang merasa terus tersakiti saat kamu bersama kakak, tapi kakak juga akan merasakan ketidak adilanmu seperti saat ini!" bukankah seharusnya sekarang Devano menemani Balqis yang hamil dan kurang sehat?!
ditengah kegundaan hatinya, Kiana mengeluarkan leptopnya dan memilih duduk di sofa..
setelah mereka basa basi sebentar saling menanyakan kabar, Kiana terlelap disofa itu
*****
pagi hari
asisten Devano menghubunginya sangat pagi meminta ia segera kekantor, entah hal penting apa sampai ia tidak sempat membangunkan Kiana.
saat sarapan.
"Mi mas Devano uda pergi?"
__ADS_1
"katanya ada urusan mendadak di kantor, jadi dia tidak sempat bangunin kamu!"
Kiana hanya mengangguk, kenapa ia merasa kecewa Devano pergi. bukankah itu yang dia inginkan??
"jadi kamu beneran mau kuliah lagi?" tanya Papi
"iya Pi, tapi dikampus Kia yang dulu saja tinggal pindah jurusan saja!" sebenarnya ada rasa khawatir untui Kia kekampus, ia tidak ingin statusnya bocor.
"kuliah atau tidak kamu akan tetap menjadi pewaris tunggal papi, jika kamu merasa tidak nyaman kekampus kamu bisa langsung keperusahaan dan belajar langsung dari orang orang kepercayaan papi, papi percaya dengan kecerdasan kamu Ki!"
Papi cukup tahu kekhawatiran putrinya, meski sejak semalam mereka semua tidak ada yang menyinggung tentang hubungan cinta segitiga putrinya.
"emang bisa pi?"
"iya... kamu juga bisa belajar dengan Devano!"
"Mas Vano itu orang sibuk Pi, aku akan belajar dengan papi dan orang orang papi saja!" minimal gue bisa mencari kesibukan agar menjauh dari maniak itu.
"uda jangan bahas pekerjaan dimeja makan... ayo sarapan dulu!" ucap Mami menengahi.
Papi hanya tersenyum mengangguk,, sudah lama ia tidak merasakan kehangatan dimeja makan ini, iapun sebenarnya merindukan Balqis yang sekarang memilih mandiri.
papi merasa ada yang sedang disembunyikan putrinya yang satu itu, meski Papi tahu selama ini Balqis memang selalu memilih memendam dan menyelesaikan masalahnya sendiri.
.....
saat sarapan perut Kiana kembali bergejolak, ia menutup mulutnya sebelum ia menyembur makanannya kewajah Papi dan Mami..
dan ia segera berlari ke toilet.
"Ki.." teriak mami.
__ADS_1
"kenapa anak itu?"
"enggak tau Pi, mami lihat dulu yah!"