
HAPPY READING
"jangan lupa dukungannya yah kakak, demi kalian pembaca setia Vie akan begadang up 😘"
.
.
.
.
diwaktu yang sama ditempat yang berbeda.
"Tuan kau bisa menurunkanku didepan!" ucap Hilda pada Aldo yang fokus menyetir.
ia merasa sangat tidak enak sudah merepotkan Aldo, apa lagi pria itu sedari tadi hanya diam Hilda yakin pria itu terpaksa mengantarnya karena paksaan Mommy.
"aku akan mengantarmu sampai kerumahmu!"
memangnya lo tau rumah gue? dari tadi lo diem doang enggak bertanya!
"terima kasih Tuan tapi, sebaiknya tidak usa! aku bisa pulang sendiri kok.."
cittt..
Aldo langsung berhenti, membuat tubuh Hilda tersungkur kedepan.
untung pakai seltbet
kentara bangetkan lo enggak ikhlas!
"ma kasih Tuan!"
Hilda ingin turun namun dengan cepat Aldo menahanya lengangnya.
"Maaf Tuan!"
dengan cepat Hilda menepis tangan kekar itu
"siapa yang mengizinkanmu untuk turun?" Aldo kembali mengeratkan pegangannya.
Hilda menatap mata tajam pria itu, beberapa detik mata mereka saling menyelam satu sama lain..
"tampan!" satu kata yang terbesit dikepala Hilda.
sayang masih ada Zetno yang bersemayam didalam hatinya.
__ADS_1
"Tuan!"
ucap Hilda membuat Aldo tersadar dari lamunannya.
Aldo langsung melepaskan cengkramannya dengan perasaan nano nano, dan membuang tatapannya kedepan.
"aku akan mengantarmu, aku tidak ingin Mommy meminta Daddy atau Dev memecatku!"
ucap Aldo sebelum kembali menyalakan mesin mobil, Hilda hanya menurut ia tidak ingin ada drama seperti di novel novel..
🤣🤣 so iki opo yah gaezz?
sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan, Aldo yang pertama kalinya tadi bersitatap dengan wanita dengan jarak begitu dekat membuat sesuatu disudut hatinya terasa digelitik dengan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
sedangkan Hilda hanya merasakan kecanggungan saja karena duduk berdua berbagi udara dalam satu ruang bersama pria asing.
Hilda bahkan tidak berani berkomentar kenapa Aldo sama sekali tidak bertanya dimana alamatnya, namun sepanjang perjalanan Aldo mengarah sesuai jalan menuju rumah kecil Hilda.
hingga mobil Aldo berhenti didepan rumah Hilda.
Hilda cukup terkejut bagaimana pria itu tahu alamatnya, namun Hilda tidak ingin ambil pusing.
apasih yang tidak bisa dilakukan orang yang punya kekuasaan
"Terima kasih Tuan.." ucap Hilda kemudian turun segera dari mobil.
tanpa sadar kedua ujung bibirnya melengkung
💚💚💚
"Nona sudah bisa pulang tapi ingat untuk tetap menjaga kondisi yah.. apa lagi sekarang Nona Kiana sedang membawa nyawa malaikat kecil didalam sini.." ucap Dok Casey Valencia ramah sambil mengusap perut Kiana yang masih rata.
meski Kiana merasa kesal mengingat kejadian kemarin, namun hatinya menghangat saat dokter itu mengingatkannya pada malaikat kecilnya didalam sana.
Mami juga disana mengemas barang Kiana, sedangkan Devano mengurus administrasi karena Aldo ditugaskan mengurus perusahaan.
mata Kiana menangkap jari manis Dokter Valen yang mengenakan cincin pernikahan.
"Dokter sudah menikah?" tanya Kiana penasaran.
Dokter Valen mengangkat jarinya dan menatap cincin itu sambil tersenyum.
"belum Nona, kami masih bertunangan.. tolong do'akan agar kami dimudahkan melangsungkan pernikahan kami!"
Kiana tersenyum lega mendengarnya.
yah meski Valen dulu sempat mengagumi suaminya namun Dokter cantik itu sekarang sudah menemukan pelabuhan terakhirnya.
__ADS_1
💚
Kiana, Devano dan Mami keluar dari rumah sakit...
saat sampai di lobi rumah sakit..
baritone maskulin menyapa Kiana, menghentikan langkah mereka
"Kiana..." sapa Geral..
iya Geral akan memanggil nama Kiana saat ada Mami, ia tidak ingin dianggap lancang jika memanggil Kiana dengan sapaan princes
"kak Geral..."
Devano yang melihat itu merasa geram sendiri..
"sayang langsung kemobil yah, kasihan bayi kita.. kamukan belum pulih betul!"
mulut Geral terbuka mendengar ucapan Devano..
"bener kata suami kamu sayang..!"
timpal mami membuat Devano menyeringai, Kiana tidak bisa berbuat apa apa sekarang.
sedangkan Geral merasa pusing..
laki laki dihadapannya ini kemarin dikenalkan Kiana padanya adalah suami kakaknya..
Geral menggaruk tengkuknya...
ingin meminta penjelasan Kiana, namun ia melihat kondisi Kiana tidak memungkinkan, apa lagi kehadiran mami membuatnya sungkan.
"Kak Geral.. Kia duluan yah!"
ucap Kia yang juga merasa kikuk, kemudian berlalu bersama mami dan Devano.
Geral hanya mengangguk dalam kebingungan menatap punggung Kiana dengan rasa kecewa.
"kamu sudah datang?" tanya Dok Valen mengagetkan Geral.
"Kakak?"
"lihat apaan sampai segitunya??" Dok Valen mengikuti arah tatapan Geral
"enggak ada... ayo Geral harus kembali kekantor setelah cek up.."
Valen membuang nafasnya kasar.. adik semata wayangnya ini sangat keras kepala.
__ADS_1
meski ia memiliki penyakit mematikan dan harus dirawat intensif, Geral tetap bersikap biasa layaknya manusia normal lainnya, seolah tidak ada yang harus ia khawatirkan atau takutkan.