
kembali kepada dua sejoli yang baru saja saling mencurahkan isi hati mereka.
"Emm Hilda aku ingin tanya boleh?" ucap Aldo lembut saat ini sedang mengemudikan mobilnya mengantar Hilda kembali.
sekarang ia lebih menghargai wanita itu, dengan tidak ingin bersikap seenaknya saja.
"tentu saja, kenapa harus izin dulu?!"
meski Hilda masih merasa canggung atas perubahan sikap Aldo, namun ia juga merasa senang akhirnya menemukan sosok asli pria itu yang ter nyata menyenangkan dan sangat lembut memperlakukan wanita.
Aldo terlihat ragu sejenak namun ia tatap harus bertanya.
"kenapa Claudia tadi menemui mu dan apa yang dikatakan padamu?"
Hilda langsung menoleh padanya
"darimana kau tau dia menemui ku?"
tiba tiba Hilda merasa jengah mengingat wanita itu lagi yang pasti akan menjadi kerikil untuk dia dan Aldo kedepannya.
"aku tau apapun tentangmu, bahkan kau bertemu siapa saja aku tau sayang!"
"kau meminta orang menata mataiku?"
tebak Hilda merasa tidak percaya
"lebih tepatnya menjaga calon ibu anak anakku!" Aldo mengusap wajah Hilda yang terlihat melongo.
"tapi aku tidak membutuhkan itu!"
"satu hal yang harus kau catat calon suamimu ini sangat posesif terhadap apa yang menjadi miliknya.. dan anggap saja kau tidak tau, seperti selama ini kau hidup seperti biasanya."
"selama ini? jangan bilang kau sudah lama memata mataiku??"
Hilda semakin terkejut saat melihat senyum Aldo yang membenarkan ucapannya.
Waoww seperti apa sebenar nya pria yang ada dihadapannya itu.
"aku tidak memata mataimu sayang, aku hanya tidak tenang harus melihat seorang gadis yang kucintai hidup sendiri tanpa penjagaan dan pengawasan orang tuanya. yah walau aku sempat meminta orang orang ku berhenti saat aku tau sudah ada Zetno yang akan menjagamu!"
__ADS_1
Hilda hanya semakin melongo mendengar ucapan pria itu, ia merasa kesal namun entah kenapa ada kebahagian yang mendominasi di dalam dadanya.
ia yang tidak pernah diperhatikan orang tuanya, ternyata diam diam dijaga oleh seseorang. jika ia bermimpi tolong jangan bangunkan ia kembali.
"Hai... rumahmu sudah hampir sampai, jangan membuatku memutar arah lagi, jadi tolong sekarang jawab pertanyaanku tadi, apa yang kalian bahas di taman kampus tadi?"
Hilda kembali tersadar dan mendengus sambil membuang tatapannya keluar jendela.
ia merasa sedang senang saat ini, kenapa harus merusaknya dengan membahas dokter menyebalkan itu.
"seharusnya aku yang mau bertanya sedekat apa hubunganmu dengan dokter itu, sampai ia harus tinggal seatap denganmu?"
Hilda malah kembali bertanya dengan nada sarkas
"apa kau cemburu? kami berteman sejak kuliah, walau jurusan kami berbeda.
dan dia tinggal bersamaku karena merawatku, kau taukan dia dokter spesialis?!" ucap Aldo untuk menghilangkan fikiran negatif Hilda.
meski ia sendiri merasa kurang nyaman dengan Claudia yang akhir akhir ini seperti ingin melewati batas persahabatan nya.
apalagi wanita itu sekarang bersikukuh masih ingin tinggal bersamanya, padahal Aldo kemarin kemarin mengizinkannya karena ada Dokter Michael juga yang banyak kan disana untuk mengontrol kondisinya.
Hilda memang lebih tegas dan suka bicara blak blakan jika ia merasa ter intimasi dengan lawan.
apalagi dengan terang terangan Claudia mengibarkan bendera peperangan padanya.
"yahh tentu saja aku sudah sehat, dan sebenarnya Claudia juga secepatnya akan kembali ke rumah sakit mungkin besok atau paling lambat dua atau tiga hari, dia hanya ingin memastikan kondisiku benar benar sudah pulih."
Hilda malas menimpali ucapan Aldo yang menurut nya kurang tegas itu, sekarang ia ingin segara turun dari mobil, kebetulan sekarang mereka tepat didepan rumah Hilda.
baru juga bikin seneng, sekarang bikin kesal lagi!
Aldo segera menepikan mobilnya.
saat Hilda ingin turun Aldo menahan lengangnya.
"kau belum menjawab pertanyaaku,, apa yang kalian bahas tadi?" ucap Aldo lembut menatap Hilda yang juga menatap nya dengan kesal.
"tidak ada! teman baikmu itu hanya mengucap kan selamat karena kita akan segera menikah!"
__ADS_1
Hilda menekan kata teman baik untuk menohok pria didepan nya itu.
cup
mata Hilda terbelalak saat bibir mereka tiba tiba bersentuhan.
"kau berbohong?" lirih Aldo setelah berhasil mencuri satu kecupan.
"tidak! aku sudah mengatak_ humphhh_"
sekarang bukan hanya kecupan yang ia terima namun Aldo mulai menggerakan bibir dan lidahnya me lu mat lembut bi bir yang sudah menggodanya sedari tadi.
sesapan yang semakin menggebu membuat Hilda tidak berdaya untuk menolak godaan manis yang Aldo tawarkan.
ia mulai membuka mulutnya dan membalas sesapan itu walau masih sangat amatiran.
Aldo yang mendapat respon, mulai menggerakan tangannya mengelus perut dan punggung Hilda.
deru nafas keduanya semakin memburu, menikmati pertukaran saliva itu.
dan Aldo semakin tak terkontrol saat mendengar lenguhan lolos dari mulut Hilda. saat tangannya dengan lembut mengusap bongkahan padat yang tidak terlalu besar dan kecil yang pernah ia hi sap seperti bayi.
"Al.. stopphhh.." lirih Hilda menggigit bibir bawahnya untuk mempertahankan kewarasannya saat merasa Aldo semakin tak terkendali dan mulai turun menyesap leher dan dada atasnya.
Aldo yang terbuai gair aih tetap menjalankan aksinya, untuk melepas dehaganya namun yang ada ia semakin haus dan ingin merasakan hal yang lebih.
"Hilda... aku menginginkan mu sayang." lirih Aldo disela sela kegiatan nya.
"Al.hhh pleasehhh aku takut" Hilda mendorong Aldo sekuat tenaga agar pria itu sadar dan berhenti.
ia tidak munafik untuk mengingkari rasa nikmat yang ia terima namun ia masih waras untuk tidak terlalu larut saat ini. belum waktunya!
dan mereka akan dimassa warga jika ada yang melihatnya disana.
"maafhh.." Lirih Aldo dengan suara berat menyatukan kening mereka sambil mengatur nafasnya, kemudian ia merapikan baju Hilda yang terangkat karena ulahnya, dan mengusap bibir gadis itu dengan lembut.
"apa pernikahan kita dimajukan saja?" tanya Aldo dengan wajah tengiknya namun ia bersungguh sungguh.
"what? jangan bercanda ini saja sangat terburu!"
__ADS_1