
selamat membaca.
.
.
.
"Ki lo yakin kita mau kesana?"
entah kenapa Hilda merasa cemas sendiri.
"yoiii, napa lo takut?"
mereka sudah siap dengan pakaian yang sempat ia pesan melalui aplikasi di ponselnya.
pakaian yang sedikit membuat mereka kelihatan lebih dewasa dari usia mereka yang masih 19 tahun.
"bukan gitu gue khawatir sama lo!" Hilda sudah tidak punya siapa siapa yang peduli jika terjadi apa apa, tapi bagaimana dengan Kiana?
"sudah ayo, kayaknya taxi kita sudah datang."
Kiana sudah tidak peduli, ia berjalan keluar saat taxi online yang mereka pesan sudah tiba, Hilda hanya berdo'a agar tidak sampai ketahuan orang tua Kiana yang otoriter.
*****
Club malam.
"berisik banget Ki.." Hilda sedikit berteriak karena suara musik menghentak hentak membuatnya budek.
"nikmatin aja, ini menyenangkan ayo kesana!"
Kiana menarik tangan Hilda ke meja bartender dimana orang lain terlihat memesan minuman disana.
"lo mau minum apa?" bisik Kiana saat sampai di meja bartender.. karena disini sudah tidak terlalu bising.
"es teh aja!" balas hilda
__ADS_1
bartender itu sedikit terpukau dengan kedua gadis muda yang belum pernah dilihat sebelumnya di club itu, termaksud pria pria disana yang memandang kedua daun muda itu dengan punuh minat.
"mau minum apa Non?"
"Es teh sama Es jeruk!" ucapan Kiana sontak membuat pria yang tidak jauh dari sana tertawa terbahak bahak.
"dek disini bukan warung anak sekolahan!" ucap salah satu pria itu.
"yang ada apa?" tanya Hilda sambil menahan lengan Kiana yang sudah geram ingin menyumbat mulut pria yang menertawainya itu.
"biar gue yang pesanin mereka!" ucap seorang gadis yang tiba tiba menyelah percakapan mereka. yang ternyata adalah teman teman kampus yang sering mencibirnya.
"gue enggak minum alkohol!" antisipasi Kiana, ia cukup tahu dari berita, dan film jika club adalah surga minuman beralkohol.
"kamu takut?" ejek salah satunya yang sedang merangkul seorang pria.
"gue nggak takut! tapi gue masih sayang dengan lambung gue."
"cihh, alesan bilang aja lo itu takut lo kan anak mami..!"
"Kia kita pergi aja, disini enggak sehat udaranya sudah tercemar!" Hilda menarik lengan Kiana, namun Kiana menepisnya.
minum alkohol segelas mungkin enggak bikin gue sampai mati! fikir Kia yang memang penasaran dengan minuman alkohol..
"enggak gue enggak tertarik sama penawaran lo!" selama ini Hilda mampu melawan mereka yang selalu menggunggunya dikampus, jadi untuk apa menerima tawaran gila ini!
lama hidup mandiri membuat instin perlindungan diri Hilda lebih kuat daripada Kiana.
"hanya segelas, tanda persahabatan kita!" tawar Sella lagi yang melihat Kiana sudah mulai tertarik, tanpa memperdulikan Hilda yang terlihat geram.
hanya gelas kecil 20 ml, tidak akan membuatnya mabuk. fikir polos kiana!
Kiana merebut gelas kecil itu dan langsung menenggaknya.
dan seulas senyum licik terbit dibibir Sella dan teman temanya.
Polos dan Bego itu beda tipis 😥
__ADS_1
"tidak terlalu baruk!" ucap Kiana pada Hilda yang terlihat khawatir.
"oke selamat datang dipersahabatan kita!" ucap sella
"yehhh kita harus menari untuk merayakannya." salah satunya lagi menarik tangan Kiana pergi ditengah tengah orang yang menari dibawa lampu yang berkerlap kerlip itu.
"lo enggak mau ikut?" tanya sella pada Hilda.
"gue enggak tertarik!"
"ya udah.. Roy titip teman gue yah... kalau boleh tolong buatin susu hangat!" cibir Sella sebelum pergi bergabung dengan yang lainnya.
....
"nih minum" tawar roy pada Hilda, memberikan segelas minuman.
"tenang saja gue jamin itu enggak ada alkoholnya kok!" ucap Roy meyakinkan saat melihat Hilda menatapnya penuh curiga.
Hilda tidak berani menyentuh apapun dari orang yang tidak dikenalnya. yah instin perlindungan dirinya memang luar biasa.
Hilda terlihat cuek dan tidak berminat membalas ucapan Roy, dia mengawasi Kiana agar tidak hilang dari pandangannya.
tapi, Roy terus memandangi gadis itu.
"Lo mungkin enggak tau, bokap lo adalah bapak tiri gue!" ucap Roy lagi yang berhasil merebut perhatian Hilda.
sekarang mereka saling tatap.
Roy ingat gadis itu adalah orang yang dilihatnya kemarin saat mengantar mamanya kembali dari apartemen pria itu.
"ia lo saudara tiri gue! gue tahu lo karena nyokap beri tahu gue saat enggak sengaja kita berpapasan di jalan gaja mada kemarin!"
Hilda memang bekerja paru waktu di tempat londri di jalan itu.
gajinya dihitung tergantung berapa kiloan kain yang dilondri dan tidak terikat perjanjian waktu, jadi ia bebas masuk dijam dan hari apa saja.
sedangkan Roy yang bekerja sebagai bartender itu sebenarnya adalah pemilik Club malam, Papah biologisnya adalah orang yang cukup berada.
__ADS_1
Hilda hanya mengangguk, ia kemudian melihat kekerumunan orang yang menari seperti cacing kepanasan itu.
namun Kiana? sudah hilang dari pengawasannya.