
"Hild lo ngapain disini?"
Kiana menyadarkan Hilda yang masih diposisinya tanpa mempedulikan orang berlalu lalang memperhatikannya.
"Ki?" Hilda segera beranjak saat ia melihat Kiana dengan Dok Valen berdiri dihadapannya.
"lo uda bisa pulang?" tanya Hilda pada Kiana
Valen mengangguk..
"Nona Kiana baik baik saja Nona, keram diperutnya itu hal yang wajar cuman rasa khawatir dan panik yang berlebihan membuatnya tadi hampir pingsan!" Ucap Valen tersenyum, membuat Kiana malu.
"yah sudah Dok kita pulang yah!" ucap Kiana pamit dari sana.
namun langkahnya terhenti saat pria tampan yang sangat menonjol dengan berpakaian formalnya, berjalan dengan cepat kearahnya.
Kiana tersenyum melihat siapa yang menghampirinya dengan wajah yang begitu kacau.
"sayang kamu kok disini? kamu baik baik saja kan? bayi kita? semuanya amankan?" tanya Devano bertubi tubi memeriksa tubuh sang istri lalu memeluknya.
ia juga heran kenapa sang istri berada dikoridor rumah sakit bukankah seharusnya ia dalam ruang perawatan.
"mas.. aku tidak apa apa, lepas! malu dilihat orang!!"
ucap Kiana mencoba menyadarkan Devano kalau disana ada dua gadis lajang yang menjerit batinnya melihat keharmonisan mereka.
Devano melepaskan pelukannya tidak peduli dengan ucapan Kiana.
"Valen anak dan istriku baik baik saja kan?"
"semuanya baik, keram yang dirasa Nona Kiana itu adalah hal yang wajar! jadi Nona bisa pulang sekarang, kalian hanya harus mengontrol rasa khawatir dan panik yang berlebihan karena itu jutru akan menyebabkan kontraksi yang buruk untuk janin!"
"sayang kamu dengarkan kamu jangan panik ataupun khawatir itu tidak baik!"
ucap Devano mengingatkan sang istri
"itu juga berlaku untuk anda Tuan Djatmico.." ucap Valen tersenyum.
Hilda yang hanya memilih diam menyaksikan itu.
Kiana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"yah sudah saya pamit dulu yah, pasien lain menunggu!" pamit Dok Valen kemudian berlalu.
"mas ayo kita pulang! Kia capek berdiri disini"
"mas gendong yah!"
Kiana membulatkan matanya menatap tajam Devano, kemudian melihat Hilda yang tiba tiba berubah menjadi batu bernafas.
Devano paham.
"yah sudah ayo kita pulang!" ia memilih menggandeng tangan sang istri
di parkiran.
"Ki, Tuan Devanokan sudah ada... gua langsung balik yah!" sela Hilda.
"tapi_
"gua ada tugas mau diselesaiin, nih obat dan vitamin lo!" Hilda menyodorkan kantong obat yang sedari tadi di pegangnya
"kami yang anter kamu pulang!" ucap Devano mutlak membuat Hilda tidak bisa menolak.
sedang supir yang mengantar mereka sudah pulang sejak tadi atas permintaan Devano, setelah ia mengabari Tuannya tentang kondisi Kiana.
hari berlalu pekan sejak kejadian dirumah sakit Hilda sudah memantapkan hatinya untuk memberi Zetno kesempatan memperbaiki hubungannya.
ia berusaha menghilangkan fikiranya yang selalu bercabang kepada Aldo
sebenarnya Zetno dapat melihat keraguan Hilda, membuat pria itu semakin merasa khawatir.
hingga mendesak Hilda untuk menyetujui pernikahan mereka.
sekarang wanita itu sedang makan malam bersama dengan keluarga Zetno disebuah restoran.
sebenarnya Papah Lukman juga mengundang Aldo namun lagi lagi pria itu memilih menolak menghadiri acara keluarga itu.
"sayang Papa dan Mama sudah bertemu dengan Mamah dan Papa kamu.. mereka setuju kamu menikah dengan putra kami, dan atas permintaan Mamah mereka menyerahkan semua konsep pernikahan kalian kepada kita bagaimana menurutmu?" tanya Sandra lembut kepada Hilda.
"Hilda_" ucap Hilda mengambang sebenarnya ia masih ragu dengan keputusannya ini..
ia tidak bisa membohongi hatinya, dimana bayangan Aldo terus berputar putar dikepalanya.
__ADS_1
hingga
"maaf aku terlambat!" baritone maskulin itu mengalihkan perhatian mereka.
Hilda menatap lekat pria tampan yang berdiri disana ketampanan yang mampu membuat kegelisahan hatinya beberapa hari ini hilang seketika, namun hanya sesaat.. saat ia menyadari pria itu datang tidak sendiri.
"Aldo kamu datang nak? sini duduk sini..." ucap Sandra menyambut putra suaminya yang sudah dianggap putranya sendiri itu.
mengarahkan mereka duduk di kursi.
mereka duduk di melingkar disana.
Lukman sangat senang melihat kehadiran putra sulungnya, namun tidak untuk Zetno.
"wahh siapa gadis cantik ini?" tanya Sandra beralih pada Claudia yang terlihat sangat menawan dengan dandangan dan pakaiannya, membuat Hilda yang berpenampilan seadanya merasa minder sendiri.
"nama saya Claudia Nyonya, Tuan!" ucap Clau tak kalah ramah pada orang orang disana.
"oww ia Claudia, kenalin juga ini papah Aldo, yang itu adiknya Aldo namanya Zetno dan disampingnya Hilda calon menantu kami!"
Claudia menatap Hilda sesaat kemudian menatap Aldo yang terlihat santai dengan tersenyum.
makan malampun berlangsung dengan Claudia dan Mamah Sandra yang mendominasi percakapan, dan lainnya hanya menyimak sesekali tersenyum saat ada pembahasan yang lucu.
Hilda memang sangat irit bicara, dan juga papah Lukman.
sedangkan Zetno dan Aldo ia merasa tidak tahu harus membicarakan apa sekarang.
hingga Hilda yang sedari tadi menahan diri untuk ketoilet akhirnya bersuara.
"maaf Hilda pamit ke toilet dulu yah!"
mama dan papa mengangguk
"aku antar yah!" ucap Zetno menyentuh tangan Hilda.
Hilda tersenyum
"aku bukan anak kecil, aku bisa sendiri kok!" Hilda melepas tangan Zetno halus, agar pria itu tidak tersinggung.
disisi lain Aldo yang memakan makanan penutup mengeluarkan tenaga dalamnya sampai sendok ditangannya menjadi bengkok.
__ADS_1
"Aldo cari rokok dulu yah!" ucap Aldo yang juga berdiri dari sana.
Lukman hanya mengernyit tidak senang, entah sejak kapan anak sulungnya itu merokok?!