
HAPPY READING
"Vie balas komen besok yah kakak.. Vie capek banget baru sampe rumah langsung up untuk kalian buat reader tersayang 😘"
.
.
.
mendengar penjelasan Devano, Kiana langsung melemparkan buku diary itu mengenai dada Devano karena kesal bercambur malu.
tidak hanya itu Kiana mengambil bantal dan menyerang Devano..
Devano hanya tertawa lepas dan menerima pukuluan itu yang tidak ada pengaruh baginya..
ia terlalu bahagia mengetahui sang istri juga mencintainya
"dasar suami tidak punya etika, tidak punya sopan santun!"
"ampun yank.. ampun.."
menyadari kondisi sang istri saat ini
Devano segera merengkuh tubuh mungil yang padat itu.. dan membuang bantal sembarangan
"lepas aku benci sama kamu!"
teriak Kiana sambil menangis..
membuat Devano yang tadi tertawa langsung diam
"yank kamu nangis?"
jelas saja hati Kiana merasa sakit..
Devano menertawainya dengan begitu enaknya tanpa tahu penderitaan Kiana memendam perasaan selama itu.
apa lagi ia juga sangat malu karena Devano sudah tahu isi hatinya, sedangkan ia mengira Devano belum mencintainya.
Devano paham perasaan Kiana.
ia akan mengatakan pada sang istri tercintanya itu tentang apa yang ia juga rasakan agar Kiana tidak perlu merasa malu..
Kiana terus merisak..
"sayang maaf.. maafin mas.. kamu dengar Mas baik baik yah!"
Kiana menggeleng dan manenggelamkan wajahnya didada sang suami.
Devano sangat merasa bersalah dengan itu
__ADS_1
"Kiana Azzalea istriku.. kamu buka lembaran terakhir diary itu yah!"
Kiana semakin meraung menangis, ia semakin malu mengingat apa yang terakhir ia tulis disana.
"sayang kok tambah nangis sih.."
Devano semakin merasa bersalah.
belum juga sempat menenangkan sang istri, dan menjelaskan yang sebenarnya.
pintu di ketuk dengan kuat sebelum Mommy Elle langsung masuk begitu saja.
"Devano!" Teriak Mommy kesal karena ia mendengar menantunya menangis
"mo..mommy kenapa langsung masuk kamar orang sembarang sih?" pekik Devano tak kalah kesal.
"apa?? coba bilang apa kamu? berani kamu sama mommy sekarang?"
"e..enggak Mom, tapi Vano kan_"
"sudah kamu diam!"
Mommy menghampiri Kiana yang masih menangis.
"sayang kenapa nangis?? ayo bilang sama Mommy dia maksa kamu yah?"
"ma..maksa apaan sih mom?" Devano sangat tanggap dengan maksud mommy.
ia sangat sensitive saat ini..
Mom Elle memukul tangan Devano yang merangkul Kiana dengan erat dan segera menarik Kiana yang sedang bersandar disana untuk beralih ke pelukannya.
"jangan paksa istri kamu macam macam yah Van dia baru keluar dari rumah sakit!"
"mommy kok ngomongnya ngaur sih!"
"iya soalnya kamu emang gitukan suka maksa dan enggak tahan kalau enggak dikelongin Kia sehari saja?"
Devano menelang salivanya kasar, memang dia seperti itu tapi bukan berarti ia akan memaksa Kiana dalam kondisi sang istri yang masih dalam perawatan jalan.
dan bukan tanpa alasan Mommy bilang begitu.
saat Devano dan Kiana tinggal bersamanya, ia sering kali mendapati kecerobohan Devano
dan Mommy selalu mendengar rintihan Kiana meminta Devano melepaskannya.
"Mommy wajarlah Kia kan istri Vano, kayak Mommy enggak pernah muda aja!"
"anak tidak tau diri!"
telinga Kiana merasa berdengung mendengar perdebatan konyol itu.
__ADS_1
"sudah cukup!!
Mom Kia mau keluar!"
teriak Kiana tidak tahan, dan memales pada Mom Elle
"iya sayang... ayo ikut Mommy dan tinggalkan maniak ini.. dibawa sudah ada Hilda!"
Mata Devano membulat kesal mendengar umpatan Mommy.
sedang mata Kiana berbinar mendengar Hilda ada disana ia seolah lupa dengan apa yang sudah membuatnya menangis.
ia keluar bersama Mommy tanpa peduli dengan Devano yang merasa kesal sendiri.
"Tuhan itu Mommy beneran ibu kandung aku bukan sih?" batin Devano menjerit.
setelah kepergian Kia dan Mommy.
Devano menatap buku diary yang tergeletak disana.
ia mengambil buku itu dan membuka lembaran terakhir.
ia tersenyum dan hatinya menghangat seolah kekesalan barusan menguap begitu saja.
"sayang kamu harus membaca lembaran terakhir ini, agar kamu tahu bukan hanya kamu yang sangat menderita.." lirih Devano.
ia juga bahkan sempat mengobrak abrik leptop sang istri dimana ia mendapati fotonya berserakan disana.
Papi sudah menjelaskan padanya betapa menderita dan sabarnya istrinya itu selama ini.
Papi juga yang mengatakan pada Devano jika sebenarnya selama ini Kiana selalu menguntitnya.
tanpa sepengetahuan Kiana dan yang lain..
Papi tidak pernah berhenti meminta orang untuk mengikuti dan mengawasi putri tunggalnya itu.
meski ia sudah tidak ingin mengekan Kiana untuk menuruti keinginanya lagi.
dan bukan tanpa alasan Papi meminta pendapat Kiana tentang lamaran Balqis saat itu, ia tahu putrinya juga mencintai Devano.
namun Papi tahu jika putrinya itu adalah wanita hebat yang bisa mengikhlas apa saja untuk orang yang disayanginya.
Papi juga tahu jika kesabaran dan keikhlasan putrinya akan terbalaskan dengan hal yang jauh lebih baik.
bahkan malam itu papi tidak tidur karena merasa bersalah, sedih dan kasihan pada putrinya, ia menjaga Kiana yang tertidur lelap hingga pagi.
namun kejadian yang menimpa Kiana di club dan hotel terlepas dari pengawasan orang suruhan Papi yang hanya manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan.
hari itu orang suruhan Papi mengalami kecelakaan kecil, ia harus dirawat semalam dirumah sakit..
ia berfikir Nona mudanya itu akan baik baik saja dirumah Hilda.
__ADS_1
ia tidak pernah berfikir jika Kiana akan nekat ke Club malam dan berakhir _